
#MY_HUSBAND
#PART_39
بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
Hay Gaeyss ....
Vote+komen ya😁
___________________
🌻Happy reading🌻
Ali menatap rumah mewah bak istana yang ada didepannya.
Setelah solat isya Ali pamit pada pasutri yang sedang dimabuk asmara itu untuk kerumah mamanya, dan disinilah dia sekarang.
"Kok rame, apa ada acara iya?" tanya Ali setelah melihat rumah ibunya yang sudah dihias berbagai bunga dan orang-orang sibuk berlalu lalang menyiapkan yang masih ingin di siapkan.
"Ane gak salah alamat 'kan." Ali menatap alamat yang ada di ponselnya. "Ini udah benar."
Ali berjalan masuk kedalam dan benar saja dia langsung di sambut oleh ibu dan papanya.
"Maa Syaa Allah, putra Mama akhirnya datang juga." Rena langsung memeluk putranya sedangkan Ali masih merasa canggung, tapi dia harus belajar agar terbiasa.
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Yah, Mah," sapa Ali setelah melepaskan pelukannya.
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh," jawab Rena dan Riyan bersamaan.
Ali langsung meraih tangan Ayah dan mamanya untuk salim.
"Ayo masuk," ajak Riyan sembari menepuk pundak putranya.
"Ayo, Sayang, Mama akan memperkenalkan mu dengan adek mu," lanjut Rena bahagia.
"Adek? Ali punya adek?" tanya Ali tidak percaya.
"Hmmm." Rena mengangguk, kelihatannya wanita paru baya itu sudah tidak sabar untuk mempertemukan kakak-adik ini.
Rena tersenyum lebar Rena beranjak dari tempatnya dan berjalan menaiki tangga menuju kamar Azka yang ada di lantai dua.
Sedangkan Ali menatap sekelilingnya memperhatikan setiap sudut rumah orangtuanya yang sangat luas dan mewah.
"Ini mah, lebih luas dari pesantren!" lirih Ali.
" ... Kalo Ane udah sukses Ane akan buat pesantren seluas ini," lanjutnya dalam batin.
"Silahkan di minum, Tuan," ujar sang pembantu yang baru saja datang dan meletakkan secangkir teh di atas meja dan beberapa cemilan.
"Iya, terima kasih," balas Ali tersenyum rama.
Sedangkan di sisi lain, Rena sedang membujuk Putra agar bertemu dengan sang kakak.
"Azka, Mama boleh masuk?" tanya Rena setelah mengetuk pintu kamar sang putra. Namun, tidak ada jawaban.
"Sayang," panggil Rena sekali lagi, tapi nihil.
"Azka kemana iya? kok gak ada jawaban."
Rena meraih genggaman pintu dan ternyata tidak terkunci sama sekali.
Dengan pelan-pelan, Rena mendorong pintu tersebut sampai terbuka dan ternyata kamar itu kosong.
"Azka," panggil Rena.
Rena langsung menyalakan ponselnya untuk menghubungi Azka, putranya.
Setelah beberapa kali melakukan panggilan, akhirnya diangkat juga oleh Azka.
"Halo," sapa Azka disebrang sana.
Rena langsung mengelus dadanya lega saat mendengar suara putranya. "Kamu kemana, Nak?"
"Azka di rumah raja, mah, gak usah khawatir," jawab Azka jujur.
"Kenapa masih berkeluyuran, besok 'kan kamu nikah, Sayang," tutur Rena menginginkan Azka bawah besok pernikahannya dengan Uswa.
"Bentar lagi Azka pulang," sahut Azka terdengar bahagia.
"Baiklah, kalo gitu Mama tutup dulu, ingat! jangan pulang larut malam," pesan Rena.
"Hmmm."
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh," salam Rena mengakhiri panggilannya.
"Wa'alaikumussalam."
Tut ....
Tut ....
Tut ....
Sambungan terputus dan Rena pun kembali ke ruang keluarga dimana Ali dan suaminya sedang berada sekarang.
***
"Dek," panggil Zhafran pada isteri, Aza.
"Iya, Mas," sahut Aza yang sedang duduk di kursi riasan.
"Buat Zhafran junior yuk," ajak Zhafran dengan santai, sedangkan Aza sudah ketar-ketir karena perkataan Suaminya barusan.
Aza langsung menoleh kearah Zhafran. "B-buat zh-zhafran junior."
Zhafran tersenyum lebar. "Iya, Sayang."
"A-aza, Aza gak tau cara buatnya," ucap Aza kembali menatap pantulan dirinya didalam cermin dengan berbohong, dia bukan gadis 13 tahun yang tidak tau apa-apa tentang ini.
Rasanya Zhafran ingin tertawa terbahak-bahak saat ini tapi dia tidak ingin Istrinya tersinggung.
Zhafran melipat bibirnya kedalam untuk menahan tawanya.
Melihat suaminya menahan tawa membuat Aza geram. "Kalo mau ketawa, ketawa aja, Mas, ndk usah di tahan."
Zhafran terkekeh kecil lalu memanggil istrinya agar duduk di sampingnya. "Sini, Mas mau ngomong sesuatu."
"Gak mau!" tolak Aza.
"Kenapa gak mau?" tanya Zhafran heran.
"Mas Zhafran aneh tau gak!"
"Aneh apanya, Sayang?"
"Mas Zhafran gak kaya dulu lagi,"
"Bedahnya dimana, coba?" tanya Zhafran menggoda Istrinya.
"Dulu mas Zhafran gak minta yang aneh-aneh."
"Emangnya sekarang mas minta yang aneh-aneh iya?" tanya Zjau melanjutkan aksinya.
"Iya,"
"Minta apa coba?" tanya Zhafran sembari menatap intens kearah istrinya yang sedang menatapnya dari pantulan cermin.
"Dulu mas Zhafran gak minta buat Zhafran Junior, sekarang kok minta!" lirih Aza masih di dengar oleh Zhafran.
"Sini." Zhafran melambaikan tangannya meminta Aza agar datang padanya.
"Ihh ... gak mau!" tolak Aza.
"Ya udah, Adek tidur di situ aja," tutur Zhafran membuat Aza melebarkan matanya.
Aza langsung menoleh kearah Zhafran yang sedang tersenyum lebar memamerkan gigi rapinya. "Kok gitu? Mas Zhafran gak sayang lagi sama Aza iya? jahat."
"Adek yang gak sayang sama Mas," tutur Zhafran dengan wajah cemberutnya.
"Kata siapa coba?" tanya Aza tanpa sadar berjalan kearah Zhafran.
Aza duduk di samping Zhafran. "Aza sayang mas Zhafran."
"Kalo sayang, ayo buat Zhafran junior." Zhafran langsung memeluk istrinya.
Aza langsung membeku saat menyadari posisinya sekarang.
"Mampus Lu, Za," batinnya.
"Sayang?" panggil Zhafran saat tidak mendapatkan respon dari Istrinya.
"Hah ...!" apa, Mas?" sahut Aza dengan bertanya.
"Adek gak mau iya?" tanya Zhafran melonggarkan pelukannya. "Iya udah kalo gak mau, mas gak masalah kok, maaf, Dek."
Zhafran melepaskan pelukannya dan memperbaiki posisinya. "Yuk tidur, ini udah malam."
Setelah mengatakan itu Zhafran mengubah posisi tidurnya menjadi memunggungi Aza yang masih mematung mendengar keinginan suaminya.
Zhafran menutup matanya pura-pura tidur. Dia marah pada dirinya sendiri karena sudah membuat Aza tidak nyaman karena ucapannya.
"Maaf, Mas, Aza belum siap akan hal itu!" lirih Aza setelah ikut membaringkan tubuhnya dan menatap punggung Zhafran.
Saat mengambil keputusan untuk menikah dengan Zhafran, dirinya tidak sedikitpun memikirkan hal itu.
Namun, akhir-akhir ini Aza memikirkan hal ini akan terjadi suatu saat nanti, tapi Aza tidak menyangka akan secepat ini.
Tanpa sadar Aza meneteskan air matanya karena sudah menolak ajakan suami, padahal dia sudah tau seorang Istri akan dilaknat oleh Allah jika menolak ajakan Suaminya, tapi mau gimana lagi, dirinya benar-benar belum siap mengingat umurnya yang masih 17 tahun.
Setelah beberapa menit gadis itu sudah terlelap dengan nyenyak sedangkan Zhafran belum tidur sama sekali.
Dengan pelan-pelan Zhafran membalikkan badannya menghadap ke arah Aza.
Betapa merasa bersalahnya saat melihat wajah istrinya yang sudah terlelap menghadap kearahnya dengan mata yang masih basa sisa-sisa air matanya.
"Maaf, Dek." Zhafran menggeser tubuhnya agar lebih dekat dengan Istrinya. "Maafkan, Mas."
Zhafran menggantikan bantal Aza dengan lengannya. Dengan pelan-pelan Zhafran membawa Aza kedalam dekapannya.
"Maaf, Sayang." Zhafran mengecup kening Istrinya.
"Mas tidak akan membicarakan ini lagi sampai Adek sendiri yang bersedia."
Zhafran tersenyum tipis. "Mas akan menunggu sampai adek bersedia, satu tahun, dua tahun, tiga tahun, Mas gak masalah, asalkan Adek gak ninggalin Mas."
"Maaf, Khumaira nya Mas Zhafran." Zhafran tersenyum lebar.
Tanpa Dirinya sadari Aza mendengar semua apa yang dia ucapkan. Gadis itu terbangun saat merasakan bantalnya di ganti.
Air mata Aza menetes tanpa sadar dan mengenai lengan Zhafran yang tak tertutupi apa-apa karena pria itu biasanya tidur tanpa menggunakan atasan.
Zhafran yang merasa sesuatu menetes ke-lengangnya sedikit terkejut ternyata istrinya belum tertidur.
"Adek belum tidur?" tanya Zhafran.
"Hmm." Aza menenggelamkan wajahnya ke dada bidang suaminya.
Zhafran kembali tersenyum tipis. "Tidurlah."
Aza mengangguk didalam dekapan Suaminya.
"Mau mas bacain sholawat?" tanya Zhafran sebab selama menikah dengan Aza, gadis itu sering meminta membaca sholawat, surah dalam Al-Qur'an, melantunkan lagu-lagu religi dan menceritakan beberapa kisah islami.
Aza menggeleng menolak pertanyaan Zhafran.
"Iya udah, sekarang tidurlah, udah jam 09:00," tutur Zhafran.
Aza mengangguk.
***
"Nak, kamu nginap disini aja iya, Mama udah siapin kamar untukmu," tutur Rena pada putra.
"Ali gak bisa nginep, Mah, soalnya besok pagi, Ali harus berangkat ke pesantren," tolak Ali dengan sopan.
"Besok adikmu menika, masa kamu gak hadir," ujar Rena.
"Hmm, maaf, Mah, Ali benar-benar gak bisa,"
"Baiklah, Mama faham kok, Sayang, tapi ingat ...! satu bulan lagi, kamu harus tinggal di sini."
"In syaa Allah, Mah."
" ... Kalo gitu Ali, balik dulu." Ali menyalami tangan orangtuanya bergantian.
"Kamu hati-hati bawah mobilnya, Nak," pesan Riyan.
"In Syaa Allah, Pah, assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh," salam Ali.
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh."
***
Ali menatap pintu apartemen milik Zhafran yang sudah terkunci rapat.
Beberapa menit yang lalu dia sampai di depan apartemen milik sahabatnya ini yang ternyata sudah terkunci.
"Masa Ane harus tidur diluar."
"Gak ..., gak." Ali mengambil ponselnya dan langsung menghubungi Zhafran.
"Halo, assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Gus," salam Ali saat panggilan di angkat oleh Zhafran.
"Halo, wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh, Gus, Gus, Aku Aza bukan Gus," ujar Aza sedikit sebel karena tidurnya terganggu oleh deringan ponsel suaminya.
"Astaghfirullah aladzim, Ning, saya ada diluar," ujar Ali.
"Kalo gitu masuk, ngapain hubungi Saya,"
"Pintunya terkunci,"
"Ohh ...!"
"Buka, Ane takut diluar,"
"Penakut Lu. tunggu bentar," tutur Aza.
Aza menggoyang-goyangkan lengan Zhafran agar pria itu terbangun dari tidurnya.
"Mas, mas, bangun!"
Zhafran langsung terbangun. "Ada apa, sayang?"
"Ali ada di luar,"
"Di luar?" ulang Zhafran.
"Iya, ni dia nelpon." Aza menyodorkan ponsel milik Zhafran.
Zhafran meraih ponsel tersebut. "Halo, Assalamu'alaikum, Al."
"Halo, Gus, cepat buka pintunya!" pinta Ali di sebrang sana.
"Tunggu."
Tut ....
Tut ....
Tut ....
Zhafran langsung memutuskan sambungan dan beranjak dari tempatnya.
"Mau kemana, Mas?" tanya Aza saat melihat suaminya turun dari tempat tidur.
"Mau bukain, Ali, kasihan dia."
"Gak usah, biar kapok."
TBC