My Husband

My Husband
Bab 42



#MY_HUSBAND


#PART_42


بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم


Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh


Hay Gaeyss ....


Vote+komen ya😁


___________________


🌻Happy reading🌻


Tiga bulan kemudian.


"Huek ... huek ... huek ...."


Zhafran terbangun saat mendengar suara didalam kamar mandi miliknya bersama sang Istri.


Pria tampan tersebut langsung turun dari ranjang dan berjalan kearah kamar mandi yang tertutup rapat.


Tok ....


Tok ....


Tok ....


"Sayang," panggil Zhafran setelah mengetuk pintu berwarna biru tua yang terbuat dari kayu tersebut.


Ini bukan kali pertamanya Zhafran mendengar suara istrinya didalam kamar mandi, sejak Istrinya hamil 9 minggu Zhafran sering mendengar dan mendapatkan Aza lemes di dalam kamar mandi.


Iya, Aza sudah hamil 9 minggu, itu artinya kehamilan Aza sudah memasuki bulan ke dua lebih satu minggu.


Tiga bulan yang lalu mereka kembali ke pesantren dan memutuskan untuk menetap di pesantren karena Zhafran memiliki kewajiban untuk mengurus pesantren mengingat Abi-nya sudah tidak muda lagi, sedangkan Ali, pria itu memilih tinggal di apartemen milik Zhafran saat mengetahui Adek iparnya ternyata gadis yang dia cintai, Uswa.


Bukannya Ali tidak mampu membeli apartemen atau rumah sendiri, tapi prinsipnya jika ada yang gratis kenapa tidak.


Ali ingin kembali ke pesantren, tapi Mamanya langsung memberikan tanggung jawab untuk mencari CEO di perusahaannya, sedangkan Uswa dan Azka tinggal di rumah mama Rena karena sang mama tidak menginginkan mereka untuk pergi atau tinggal terpisah rumah dengan mereka.


"Sayang, mas masuk iya," izin Zhafran sebelum membuka pintu kamar mandi.


KREK ....


Zhafran langsung panik saat melihat Istrinya terduduk di atas lantai menangis.


"Dek." Zhafran langsung berjalan tergesa-gesa kearah Istrinya saat melihat sang istri duduk dilantai kamar mandi yang dingin dengan menyembunyikan wajahnya di atas lututnya.


"Sayang." Dengan panik Zhafran menyingkirkan anak rambut Istrinya yang menutupi wajahnya.


"Hiks ... hiks ... hiks ..., Aza gak kuat!" lirih Aza yang masih bisa ditanggap oleh indera pendengaran Zhafran.


Zhafran mengangkat Aza ala bridal style dan membawanya ke dalam kamar, kemudian meletakkan diatas ranjang dengan hati-hati takut istrinya tersakiti.


"Anak-anak, Abi." Zhafran mengelus perut Aza.


Calon bayi mereka memang kembar, tapi bukan kembar tiga seperti yang Aza inginkan.


Zhafran sangat bersyukur karena Allah telah mempercayakan pada mereka untuk memiliki seorang anak.


"Jangan buat Humaira nya ayah kesakitan," ujar Zhafran. "Awas aja kalo kalian buat Humaira nya Abi nangis lagi!"


Mendengar perkataan suaminya Aza terkekeh. Semenjak dia hamil, dia ingin di panggil Humaira dengan Suaminya dan Zhafran menyanggupinya.


Mendengar tawa Istrinya Zhafran langsung tersenyum dan menatap wajah sang istri yang terlihat semakin cantik semenjak hamil.


"Adek mau sarapan apa?" tanya Zhafran.


"Hmm, Aza mau makan nasi goreng buatan Angkasa," ujar Aza.


Masih ingat Angkasa? cowok yang pernah Aza jambak rambutnya. Pria itu masih bertahan di pesantren walaupun dia tidak suka, tapi Aza liat cowok itu mulai ada perubahan, tidak kaya dulu saat pertama kali pertemuan mereka yang kurang mengenakan.


"Humaira, Mas yang buatin, bagaimana?" tanya Zhafran dengan lembut takut menyakiti hati Aza yang akhir-akhir ini sangat sensitif.


"Dede bayinya pengen Angkasa yang masak," lirih Aza membuat Zhafran menghembus nafasnya dengan kasar melalui mulutnya.


Selalu seperti ini, kemarin Ali sekarang Angkasa entah besok siapa lagi, semoga buka Raja.


Mengenai Raja, pria itu melanjutkan perusahaan Ayahnya. Dia sering berkunjung ke pesantren dengan alasan ingin belajar ilmu agama, dan itu membuat Zhafran was-was jika pria itu datang berkunjung.


"Ya udah, Mas panggil Angkasa dulu iya," ujar Zhafran mengalah sembari tersenyum dan mengecup kening sang istri sebelum keluar dari kamar.


"Iya, Mas Zhafran my husband," ujar Aza membalas senyuman sang suami.


"Assalamu'alaikum," salam Zhafran.


"Wa'alaikumussalam,"


***


"Gue gak mau!" tolak Angkasa saat Zhafran tiba-tiba datang dan menariknya keluar dari kamarnya dengan alasan Aza ingin makan nasi goreng buatannya.


"Anak Ana mau makan nasi goreng buatan Kamu," ujar Zhafran, tapi Angkasa tetap menolak.


"Lu kan bapaknya kenapa harus Gue yang masak untuk mereka," tola Angkasa.


"Angkasa!" lirih Zhafran dengan tatapan memohon pada Angkasa hingga membuat cowok 17 tahun itu iba dan mau mengikuti Zhafran ke rumah Ndalem untuk membuat nasi goreng.


"Iya udah, ayo," ujar Angkasa menyerah.


"Alhamdulillah."


"Tapi gak gratis, harus ada imbalannya,"


"Jika kamu iklhas, in syaa Allah imbalannya lebih besar apa yang kamu inginkan," ujar Zhafran membuat Angkasa terdiam.


"Oke, Gue ikhlas lillahi ta'ala," ujar Angkasa setelah beberapa menit terdiam.


***


Setelah beberapa menit bertempur dengan dapur akhirnya nasi goreng ala Angkasa sudah tersaji di atas meja di depan Aza.


"Wah ... kelihatannya sangat enak," ujar Aza memuji masakan Angkasa yang terlihat cukup menggugah seleranya.


Namun, nyatanya nasi goreng tersebut terlihat sangat buruk, Zhafran tidak yakin dengan rasanya, begitupun dengan Angkasa.


Mendengar pujian itu Zhafran menatap Angkasa dengan tatapan tajam dan tidak suka. Rasanya dia ingin menendang cowok itu ke ke rawa-rawa sekarang juga.


"Ck ... enak apanya, acak-acakan gitu," batin Zhafran. "Semoga aja Istri ana dan Dede bayi gak kenapa-napa."


"Semoga Lu dan anak Lu suka," ujar Angkasa. "Gue boleh balik gak, soalnya hari ini gue mau nyetor hafalan."


"Tunggu dulu," tahan Aza.


"Kenapa? tugas Gue kan udah kelar,"


"Kamu dan mas Zhafran yang makan, Aku udah kenyang."


Zhafran dan angkasa melongo dengan mulut sedikit terbuka mendengar perkataan Aza.


"Humaira," panggil Zhafran mengelus kepala istrinya. "Makan yuk, kasihan Angkasa udah bela-belain buat nasi goreng demi kamu dan bayi kita."


"Jadi Angkasa gak ikhlas?" tanya Aza dengan mata melotot kepada Zhafran.


"Gue ikhlas banget, tapi Gue gak bisa makan, Gue udah kenyang soalnya, bagaimana kalo Suami Lu aja yang makan, kelihatannya dia belum makan, kasihan." Angkasa menatap Zhafran dengan tatapan kasihan dan itu membuat Zhafran sangat geram dengan Santrinya yang tidak sopan ini.


"Benar juga, Mas Zhafran pasti belum makan 'kan." Aza mengangkat tangannya dan menyentuh rahang bawah Zhafran dengan lembut.


"Gue mau balik dulu, assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh," salam Angkasa terburu-buru. Cowok itu langsung pergi tanpa menunggu jawaban salamnya dari Pasutri tersebut.


***


"Mas Zhafran, maaf!" lirih Aza pada Zhafran yang sudah duduk di samping sembari memegang purut.


Calon Abi itu terlihat sangat pucat membuat Aza semakin merasa bersalah karena sudah memaksanya untuk menghabiskan nasi goreng buatan Angkasa dan berujung sang suami mondar-mandir ke wc gara-gara nasi goreng tersebut yang ternyata rasanya sangat pedas sampai kebun-kebun.


"Mas gak apa-apa, Humaira." Zhafran meraih dagu istrinya agar sang Istri menatap kearahnya.


"Sungguh, mas tidak apa-apa, tapi Mas merasa sesak saat melihat Humaira nya mas menangis seperti ini." Zhafran menghapus air mata Aza yang sudah mengalir ke pipinya.


"Sudah, nanti Dede bayinya ikut sedih karena Uminya sedih," lanjut Zhafran.


Aza mengangguk dan masuk kedalam pelukan Suaminya yang terasa hangat dan nyaman.


"Mas," panggil Aza.


"Apa, Humaira?"


"Abi sama Umi kemana?" tanya Aza sejak tadi pagi dia tidak melihat kedua Mertuanya tersebut.


"Mereka sedang jalan-jalan pagi, Humaira," jawab Zhafran.


"Kok Aza gak diajak? Aza kan juga pengen jalan-jalan, Aza bosan di rumah terus,"


"Adek juga mau jalan-jalan?" tanya Zhafran.


"Mau," jawab Aza kegirangan.


"Nanti sore kita jalan-jalan,"


"Yessss ...! Mas gak ngajar?" tanya Aza saat menyadari ini sudah jam 08:00 pagi waktunya Mas Zhafran untuk mengajar para santrinya.


"Tunggu Abi sama Umi datang dulu, baru mas pergi," jawab Zhafran tersenyum. "Mas ndk mau Adek sendirian di rumah."


"Gak apa-apa, Mas, Aza baik-baik aja kok,"


"Mas tau, Adek gak apa-apa, tapi sebagai suami, mas gak akan membiarkan Adek sendiri dalam kondisi seperti ini," tutur Zhafran lembut membuat hati Aza terasa damai dan bahagia.


"Syukron katsiron, Mas Zhafran." Aza kembali memeluk suaminya dengan erat.


Aza berharap ini tidak akan pernah berkahir.


Namun, Aza tidak tau kedepannya seperti apa, dirinya hanya meminta agar Allah selalu mempersatukan dirinya dan Zhafran, baik di dunia maupun di akhirat.


TBC


MAAF TYPO MASIH BERSEBARAN DIMANA-MANA.


TANDAI YANG TYPO.