My Husband

My Husband
Bab 53



#MY_HUSBAND


#PART_53


بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم


Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh


Hay Gaeyss ....


Vote+komen ya😁


___________________


🌻Happy reading🌻


Dengan refleks Aza membuka matanya saat mendengar suara seseorang melantunkan ayat suci Al-Qur'an di alama bawah sadarnya seolah-olah menuntun jalan untuk kembali pulang.


"M-mas ...!"


Mendengar itu Zhafran langsung mengehentikan bacaannya dan menutup Al-Qur'an kecilnya lalu di letaknya keatas nakas samping ranjangnya.


"H-humairah!" lirih Zhafran.


Tanpa berpikir panjang, Zhafran langsung menghubungi sang dokter agar segera datang untuk memeriksa keadaan Istrinya.


Setelah menghubungi Dokter Zhafran kembali menatap Aza yang hanya menatap keatas atap-atap langit kamarnya.


Zhafran berlari kearah ruang tamu untuk memanggil Umi dan Abi-nya.


"U-umi, A–aza sudah membuka matanya," ujar Zhafran dengan wajah bahagianya.


Semua yang ada diruang tamu langsung berdiri dan berjalan kearah kamar Aza. Dan benar saja, gadis itu sudah membuka matanya, tapi tidak merespon apapun.


"Sudah menghubungi dokter?" tanya Kiai Rasyid.


"Sudah, Bi, dia akan segera datang."


"Bundanya Aza?" tanya Umi Halimah.


"Alhamdulillah, udah juga."


Setelah beberapa saat kemudian Dokter pun datang.


"Saya akan memeriksanya," ujar sang dokter langsung memeriksa keadaan Aza.


Setelah beberapa saat kemudian Dokter pun selesai memeriksa Aza.


"Alhamdulillah, ibu Aza sudah sadar sepenuhnya. Dia sudah bisa merespon perkataan dan sebagainya, tetap ajak pasien berkomunikasi agar pasien semakin merespon," tutur sang Dokter.


"Apa kami bisa menemuinya?" tanya Zhafran.


"Alhamdulillah, bisa, pak. Kalo begitu saya permisi, mari Bu, pak, assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh," jawab mereka.


Setelah dokter sudah tak terlihat, Zhafran pun masuk kedalam kamarnya dan duduk di kursi yang dia gunakan berapa saat yang lalu.


"M-mas Zhafran ...!" lirih Aza dengan mata berkaca-kaca.


"Husstt ...! kamu baru sadar, Dek." Zhafran meraih tangan istrinya dengan lembut.


"Anak kita dimana, Mas?" tanya Aza saat menyadari sesuatu.


"Mereka akan segera datang," tutur Zhafran. "Mau duduk?"


Aza mengangguk dan Zhafran pun membantu Aza agar duduk menyandar pada kepala ranjang.


"Ada yang sakit?" tanya Zhafran lagi dan di jawab Aza dengan menggeleng.


"Tidak ada, Mas, tapi rasanya kaki Aza terasa kaku."


"Wajar, karena Adek tidur terlalu lama, saking lamanya hampir membuat Mas mati berdiri," canda Zhafran pada sang istri.


"Lama?" tanya Aza menaikan alisnya. "Perasaan Aza baru kemarin, Mas."


"Dua tahun, Humaira."


Aza langsung membulatkan matanya terkejut mendengar perkataan Zhafran. Dia tidak percaya akan tidur selama itu.


"J-jadi m-mereka sudah dua tahun?"


Zhafran mengangguk. "Iya, dua tahun tanpa melihatnya, tapi mereka selalu melihatmu setia saat."


Di kamar ini hanya ada Zhafran dan Aza, yang lainnya ada diluar memberikan waktu pada pasutri itu untuk berdua. Sedangkan Raja dan Azzima si tuan putri yang lucu dan menggemaskan belum pulang dari jalan-jalannya.


"Adek tau, saat dokter mengatakan Adek sudah pergi-"


"Tidak tau, emang apa yang terjadi, mas?" tanya Aza sembari menatap kearah wajah tampan milik suaminya itu.


" ... Mas Zhafran ganteng banget!" lanjut Aza dengan lirih.


Ingin rasanya Zhafran tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan istrinya. Akhirnya Aza-nya telah kembali, Humaira nya telah kembali.


Zhafran tidak tau harus mengucapkan apa selain bersyukur pada Allah yang telah melimpahkan rahmat yang begitu banyak untuknya.


Lihatlah, baru beberapa menit aja istrinya sadar sudah membuat Dirinya ingin tersenyum terus.


"Rasanya Mas tidak bisa hidup lagi, Sayang." Zhafran menggerakkan jari jempolnya mengusap pipi Aza. "Tapi mas percaya kalo Humaira nya Mas Zhafran tidak akan pernah meninggalkan kami bertiga."


Mata Zhafran kembali berkaca-kaca saat mengingat kejadian dua tahun yang lalu.


FLASHBACK 2 TAHUN YANG LALU.


PLAK ....


Kiai Rasyid melayangkan tangannya kearah pipi Zhafran agar putranya itu tersadar dari khayalan nya.


"Mas!" teriak Umi Halimah saat melihat suaminya pertama kali mengangkat tangannya untuk memukul putra mereka.


"Sadar Zhafran, sadar, istighfar, nak, istighfar." Kiai Rasyid meletakkan tangannya ke pundak Putranya untuk menyadarkan.


"A-aza!" lirih Zhafran dengan air mata menetes saat melihat dan mendengar bunyi monitor EKG yang masih terhubung dengan tubuh istrinya menandakan jantung pasien kembali berdetak.


Semua yang ada disana menangis dan mengucapkan rasa syukur pada Allah. Termasuk Raja, Ali dan Angkasa yang baru saja datang.


Dokter yang mengatakan Aza telah tidak kembali bergegas memeriksa keadaan pasien.


Sedangkan Zhafran menjatuhkan tubuhnya diatas lantai yang dingin saat melihat istrinya kembali. Tiada kata yang dia ucapkan selain rasa syukur dan doa pada Allah yang maha mengetahui segala sesuatu.


Setelah beberapa saat Dokter pun keluar dan mengatakan kalo Aza mengalami koma.


"Kapan istri saya akan sadar, dokter?" tanya Zhafran setelah dokter menjelaskan keadaan Aza.


"Kita tidak tau kapan dia akan sadar, kita cuman bisa menunggu," jelas Dokter.


Zhafran menghapus sisa air matanya. Ini lebih baik bukan, daripada Istrinya pergi meninggalkan dirinya.


"Nak, sebaiknya kamu mengadzani anak-anakmu, setelah itu kamu pulang mandi dan ganti pakaianmu, pasti kamu juga belum solat kan?" tanya Kaia Rasyid pada putranya.


"Zhafran gak bisa meninggalkan Aza sendirian, Bi," ujar Zhafran.


"Ada Abi disini, ada Umi juga, ada mertuamu juga, jadi sebaiknya kamu bersihkan dirimu, lihatlah, wajahnya mu sangat jelek, kalo Aza tiba-tiba bangun dan melihat mu seperti ini gimana?" tanya Kiai Rasyid sembari terkekeh kecil.


"Iya, Gus, sebaiknya Gus ke pesantren dulu untuk mandi dan solat, kami akan antar," ujar Ali.


Zhafran tersenyum, dia tidak mau jika Aza membuka matanya dan melihat dirinya seperti ini. "Zhafran akan pulang Humaira. Mas akan segera kembali."


"Sebelum pulang, kamu azani anak-anak mu dulu, sini Umi antar."


Zhafran mengangguk dan mengikuti Uminya kesebuah ruangan.


Zhafran tersenyum lebar saat melihat putra dan putrinya yang terlihat sangat mungil, sungguh tampan dan cantik.


"Lihatlah Humaira!" lirih Zhafran dalam hati.


"Mereka akan tumbuh dengan baik, sayang, mas janji."


"Ayo kita pulang, Nak," ajak Umi Halima. "Mereka sudah menunggu kita, kamu juga harus segera melakukan tugasmu."


Zhafran mengangguk mengiyakan perkataan Umi Halimah, lagian Ali, Raja dan Angkasa sudah menunggu di parkiran.


Setelah melakukan kewajiban Zhafran pun pulang untuk membersihkan dirinya sekalian menunaikan kewajibannya atau tugasnya yang sempat tertunda karena kejadian ini.


"Kami sudah mengetahui siapa pelakunya, Gus," ujar Ali.


Saat ini mereka ada didalam mobil menuju ke pesantren.


"Siapa pelakunya?" tanya Zhafran menatap tajam kearah Ali yang ada di sampingnya.


"Rahma," jawab Ali dengan menyebut satu nama yang membuat darah Zhafran mendidih karena marah, tangannya terkepal kuat sampai urat-urat tangannya menonjol jelas.


"Bawah saya menemuinya!" pinta Zhafran dengan suara dinginnya.


"Kamu gak usah mengotori tanganmu demi cewek si4lan itu, biar Saya yang mengurusnya," tutur Raja. "Percayakah sama saya."


Zhafran menatap kearah Raja yang sedang serius mengemudi. Zhafran dapat melihat raut wajah pria itu berusaha untuk menahan amarahnya agar tidak meledak.


Setelah beberapa saat mereka sudah sampai di kediaman Kiai Rasyid.


Zhafran langsung masuk kedalam kamarnya.


Matanya kembali berkaca-kaca saat membuka pintu kamarnya. Belum cukup satu hari dia tidak bersama istrinya sudah membuat rindu berat seperti ini.


Setiap sudut kamarnya ada kenangannya bersama Istrinya membuat air matanya menetes.


Pria itu berjalan ke sisi ranjang dan memeluk bantal yang biasa istrinya gunanya.


Matanya tidak sengaja menemukan sebuah buku diary berwarna biru langit, Zhafran yakin buku diary ini adalah milik istrinya dan benar saja itu benar milik istrinya saat melihat tulisan tangan sang istri.


Setelah beberapa saat kemudian Zhafran membersihkan dirinya dan menunaikan sholat yang sempat tertunda dan setelah itu dia akan kembali ke rumah sakit untuk menemani sang istri.


Flashback end





TBC