My Husband

My Husband
Bab 49



#MY_HUSBAND


#PART_49


بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم


Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh


Hay Gaeyss ....


Vote+komen ya😁


___________________


🌻Happy reading🌻


Dor ....


Suara tembakan mengejutkan seorang wanita yang sedang memasukkan barang-barangnya kedalam tas berniat untuk kapur setelah melakukan aksi jahatnya.


"Si4l, mereka sudah datang! gue harus cepat kabur, gue gak mau masuk penjara," geramnya.


"Ane tau, kamu didalam Rahma, keluar sekarang!" teriak Ali dari arah luar.


Mereka sudah ada didepan pintu rumah Rahma.


"A-ali ...!" lirih Rahma. "Si4lan ...!"


"Gua hitung sampai tiga, kalo Lu gak buka pintunya, Gue bakalan dobrak," ujar Raja. "Dan gua pastiin Lu gak akan hidup lama."


"TEMPAT INI SUDAH KAMI KEPUNG, JADI SEBAIKNYA ANDA MENYERAHKAN DIRI SEKARANG!" teriak salah satu polisi.


Seketika Rahma gemetar saat mendengar teriakkan dari luar. "tidak-tidak, Gue gak mau masuk penjara, lebih baik Gue mati daripada gue masuk penjara."


Gadis itu berjalan dengan pelan-pelan kearah pintu dapur dan berniat kabur melalui pintu tersebut. Namun, niatnya terhenti saat melihat polisi sudah berada di setiap sudut rumahnya, dirinya benar-benar sudah terkepung.


"Si4l ...!" lirihnya. "Lebih baik gue mati, dari pada masuk penjara, lagipula pasti gadis si4lan itu sudah ada di alam baka." Rahma tersenyum lebar saat mengingat bagaimana dia menabrak Aza yang sudah hamil tua itu.


Tanpa pikir panjang Rahma meraih pisau dapur dan diarahkan pada pergelangan tangannya tepat di nadinya.


"Aaarrrghh ...!" rintih saat benda tajam itu mengiris bergelangan tangannya.


Perempuan itu terduduk lemas diatas lantai dengan darah yang sudah berceceran.


Mendengar teriakkan itu Raja langsung menendang pintu tersebut dengan kekuatan yang dia miliki agar pintunya langsung terbuka.


Betapa terkejutnya mereka saat melihat Rahma sudah tergeletak lemah diatas lantai dengan tersenyum puas, seolah-olah gadis itu baru saja melakukan perbuatannya yang membanggakan.


"Gadis si4lan!" teriak Raja. "Dia gak boleh mati gitu aja, sebelum Dia bertanggungjawab apa yang sudah Lu lakuin ke Aza."


Pria itu langsung membawa tubuh Rahma kedalam mobil Ali dan menyalakan mobil itu seperti kesetanan.


"Ck ..., kita di tinggal," decak Angkasa saat tersadar kalo Raja sudah pergi dengan memakai mobil Ali.


"Kita nebeng di mobil pak-pol aja," usul Ali.


"Apa sebaiknya kita ke rumah sakit?" tanya Angkasa pada pak-pol.


"Hmm, begini, pak, biar kami yang mengurus ini, jika si pelaku sudah sembuh kami akan mengantarkan langsung ke pihak polisi," usul Ali dan di iyakan oleh sang polisi.


***


KREK ....


Suara pintu terbuka dan Zhafran berjalan keluar bersama salah satu perawat.


Dengan tatapan kosong Zhafran berdiri di depan keluarganya. Pria 26 tahun itu terlihat tidak memiliki semangat hidup. Dia sudah seperti mayat hidup.


"Nak." Kiai Rasyid menyentuh pundak Putranya. Namun, tidak ada respon sedikit pun.


"Apa yang terjadi, Sus?" tanya Zaid.


Beberapa menit yang lalu, orang tua Aza telah tiba setelah menerima telpon dari Umi Halimah yang mengatakan kalo Aza masuk kedalam rumah sakit karena mengalami kecelakaan.


"Maaf, Bu, pak, saya tidak bisa mengatakan apapun, karena saat ini dokter masih menangani pasien, sebaiknya ibu dan bapak berdoa ama sang pencipta agar pasien selalu di lindungi Allah." Setelah mengatakan itu sang perawat pun masuk ke dalam ruangan operasi.


"Zhafran!" panggil Zaid pada menantunya.


Namun, tidak ada jawaban karena Zhafran hanya menatap kearah depan dengan tatap kosong dan wajah yang sangat lelah.


Melihat putranya seperti itu membuat Umi Halimah kembali menetes air matanya. Baru kali ini dia melihat anaknya seperti ini.


Dia menarik anaknya untuk duduk di kursi dan meraih tangannya dengan lembut. "Nak."


Zhafran masih tidak merespon, kejadian beberapa menit yang lalu sungguh membuatnya hilang akal.


Zhafran menoleh pada Uminya yang ada di sampingnya. Tangisnya langsung pecah dan memeluk Uminya dengan erat.


"U-umi, hiks ... hiks ... hiks ..., I-istri, Istri Mas ...." Zhafran tidak sanggup melanjutkan perkataannya dan pelukannya semakin erat.


"Istighfar, Nak." Umi Halimah mengelus kepala Putra dengan lembut.


"U-umi, Aza, Aza tidak akan meninggalkan Zhafran kan? hiks ... hiks ... hiks ...." Zhafran tidak melepaskan pelukannya sedikit pun.


Melihat keadaan menantunya membuat Haliza menangis dalam pelukan suaminya.


"Mas, putri kita!" ujarnya dengan lirih. Dia tidak tau harus berbuat apa jika apa yang dia pikirkan telah terjadi.


"Putri kita baik-baik aja, dia gadis kuat. Ingat, saat dia terjatuh dari pohon mangga? bukannya menangis dia mala tersenyum dan berkata, 'Bunda jangan sedih, Aza gak kenapa-napa kok, Aza kan kuat,' dia akan baik-baik saja!" lirih Zaid di akhir ucapnya.


"Sekarang bukan waktu untuk menangis, sekarang waktunya untuk berdoa dan meminta pada Allah agar Aza bisa melewati ujian ini," ujar Kiai Rasyid.


"Zhafran, bagaimana dengan cucu Bunda?" tanya Haliza saat mengingat kalo Puteri nya itu sedang mengandung delapan bulan.


Zhafran hanya terdiam, dia tidak tau dimana anaknya sekaran terkahir dia menyadari hal itu disaat Aza masih sadar.


Disaat mereka semua terdiam pintu kembali terbuka dan keluar dua perawat membawa dua bayi yang sudah bersih.


Zhafran langsung berdiri dan berjalan kearah perawat tersebut. "A-apa mereka anak-anak ku?"


"Iya, Pak, tapi kami harus membawanya ke ruangan khusus bayi, karena salah satu bayi bapak jantungnya sedang bermasalah," jelas sang sang perawat.


"B-bagaimana dengan keadaan istri saya,?" tanya Zhafran.


"Berdoalah, semoga istri bapak selamat."


"Boleh saya ikut? saya ingin tau dimana cucu saya akan di rawat," tanya Haliza pada sang suster.


"Boleh, Bu, mari."


Haliza menoleh pada Umi Halimah. Umi Halimah mengerti dan mengangguk.


Meskipun ada suster yang merawat bayi itu, tapi lebih baik lagi kalo ada salah satu keluarganya yang menemani.


Saat suster dan ibu mertuanya sudah pergi, Zhafran kembali duduk di kursi dengan air mata mengalir.


"Ya Allah, lindungi istriku, hamba mohon, jangan ambil dia dari ku disaat seperti ini. Hamba tidak sanggup ya Allah!" lirih Zhafran dalam hatinya.


***


"DOKTER ...!" teriak Raja sembari menggendong tubuh Rahma ala bridal style masuk kedalam rumah sakit.


"Tuan muda Raja," ujar salah satu dokter yang baru saja datang saat mendengar teriakkan tersebut.


"Bagaimana pun caranya selamat kan dia, dia tidak boleh meninggalkan, FAHAM!" tekan Raja diakhir kalimatnya.


"B-baik, tuan."


"Ini bukan permintaan, ini adalah perintah, kalo dia meninggal, Kalian semua akan saya pecat."


"I-iya, tuan."


Semua dokter yang ada di rumah sakit tersebut kalah kabut mendengar ancaman Raja, putra tunggal memiliki rumah sakit tersebut.


Kedua tangan Raja terkepal kuat hingga menampilkan tonjolan tulang-tulang tangannya dan urat-uratnya.


"Lu pikir bisa mati gitu saja, setelah apa yang Lu lakukan pada Aza." Dengan tatapan tajam Raja menatap Rahma yang sudah di tangani dokter terbaik yang ada di rumah sakit tersebut.


"Lu sudah membuat gadis yang kucintai terluka gadis si4lan!" tutur Raja dengan penuh amarah. "Akan kubuat hidupmu seperti di neraka."


***


Pintu ruang operasi kembali terbuka dan seorang Dokter berjalan keluar dengan raut wajah lelahnya.


Zhafran langsung beranjak dari tempatnya dan menghampiri sang dokter.


"Dokter, bagaimana dengan Istri saya?" tanya Zhafran.


"Kami mohon maaf. Kami sudah melakukan yang terbaik, tapi Tuhan berkehendak lain."


Deg ....


Seketika jantung Zhafran berhenti berdetak saat mendengar perkataan sang dokter tentang istrinya.


Tanpa sadar air mata yang tadinya berhenti menetes kini kembali menetes membasahi kedua pipi Zhafran, begitupun dengan Umi Halimah.


Sedangkan kiai Rasyid dan Zaid hanya mengusap wajahnya sambil mengucapkan kalima istighfar, kalimat yang dibaca seorang muslimin saat mendengar atau mendapatkan musibah.


TBC