My Husband

My Husband
Bab 40



#MY_HUSBAND


#PART_40


بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم


Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh


Hay Gaeyss ....


Vote+komen ya😁


___________________


🌻Happy reading🌻


Jam 08:30 pagi di apartemen Zhafran dan Aza.


“Kapan kalian ke pesantren?” tanya Ali pada Zhafran dan Aza.


“Besok sore, in syaa Allah,” jawab Zhafran.


“Ning selesai ujiannya?” tanya Ali.


Saat ini mereka berada di depan mobil Ali yang sudah siap untuk berangkat ke pesantren.


“Alhamdulillah, udah,” sahut Zhafran.


“Ndk nunggu kelulusan,” tanya Ali lagi.


“Malas,” jawab Aza. “Lu mau pulang atau mau nanya-nanya lagi?”


Zhafran dan Ali hanya terkekeh kecil mendengar perkataan Aza.


“Ya udah, Ane berangkat dulu, Gus, Ning."


“Al, jangan ngebut bawah mobilnya,” pesan Zhafran pada sahabatnya.


“In syaa Allah, Gus."


“kalo ngantuk lebih baik berhenti,” sambung Aza.


“In Syaa Allah, Ning.”


“Aza titip salam ama umi dan Abi, bilang ke mereka besok sore menantu cantiknya akan datang,” tutur Aza tersenyum.


"In syaa Allah, Ning,"


"In syaa Allah, mulu," geram Aza pada Ali.


"Astaghfirullah aladzim," lirih Ali memijat pelipisnya. "Ane berangkat, assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh."


"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh," jawab Zhafran dan Aza bersamaan.


Tanpa membuang waktu lagi, Ali masuk kedalam mobilnya meninggal Pasutri yang menurutnya tidak jelas.


Sedangkan Zhafran hanya senyum-senyum karena mendapatkan hiburan gratis pagi-pagi seperti ini.


"Ngapain senyum-senyum gitu?" tanya Aza pada Zhafran saat melihat suaminya itu tersenyum padahal gak ada yang lucu.


"Lucu," jawab Zhafran.


"Apa yang lucu?" tanya Aza sembari menatap kearah Suaminya.


"Adek lucu." Zhafran mencubit pipi Aza membuat sang empu meringis kesakitan.


"Ih ... sakit." Aza menepis tangan Zhafran. "Mas pikir ini gak sakit apa."


"Emangnya sakit?" tanya Zhafran.


Mereka tidak menyadari kalo saat ini mereka masih ada di parkiran.


"Bangett! mau coba?" tanya Aza dengan tersenyum.


"Boleh." Zhafran mendudukkan dirinya agar wajahnya sejajar dengan wajah istrinya.


Aza yang mendapatkan kesempatan untuk balas dendam langsung mencubit kedua pipi Zhafran.


"Rasakan ini!" serang Aza membuat Zhafran sedikit kesakitan.


"Ternyata sakit juga," batin Zhafran.


"Akhhh ...!" pekik Zhafran saat merasakan cubitan istrinya semakin kencang. "Sayang, udah, udah."


"GAK MAU ...!" teriak Aza membuat orang-orang yang berlalu lalang menatap heran dan jijik.


"Khmmm ...!" deheman seseorang membuat Aza dan Zhafran menoleh pada sumber suara tersebut.


"Raja!" lirih Aza saat melihat siapa yang sedang berdiri di belakang mereka.


"Kalo mbaknya dan mas-nya mau romantis, jangan disini, kasihan yang jomblo," lanjut Raja meninggalkan mereka yang masih mematung saat menyadari tempat dan posisinya sekarang.


"Astaghfirullah aladzim." Zhafran melepaskan tangan istrinya yang masih berada di kedua pipinya. "Ayo, Sayang, kita masuk."


"Hmmm." Aza langsung memeluk Zhafran dan menyembunyikan wajahnya didada suaminya itu karena malu.


"Anak jaman sekarang memang gak tau malu," ujar ibu-ibu yang sedari tadi melihat kelakuan Aza dan Zhafran.


"Belum jadi suami-istri udah berani terang-terangan seperti itu," lanjut ibu yang memakai baju ketat berwana merah.


"Untungnya anak saya gak kaya mereka," bisik ibu-ibu yang pertama.


"Minimal nika lah, jangan main om-om,"


Aza yang mendengar itu langsung naik pitam dan berjalan kearah ibu-ibu tersebut.


Sedangkan Zhafran yang menyadari istrinya sedang kepancing dengan omongan ibu-ibu tersebut tidak bisa menahan Istrinya yang tiba-tiba berjalan kearah ibu-ibu tersebut.


Zhafran hanya diam, dia ingin tau seperti apa Istrinya menyelesaikan masala ini. Dengan santainya Zhafran melipat kedua tangan di dadanya dan menyimak aksi Istrinya.


"Aza vs ibu-ibu," lirih Zhafran terkekeh kecil, dia jadi ingat kejadian waktu di pesantren.


Dengan cepat Zhafran mengikuti Istrinya saat mengingat kejadian itu, dia takut Aza akan apa yang dia lakukan pada angkasa.


Aza melipat lengang bajunya sampai kesitu dan melilitkan jilbabnya lehernya agar tidak menghalanginya.


Melihat itu Zhafran langsung bertindak. "Sayang, jilbabnya jangan kaya gitu."


"Mas, gak usah ikut campur ini masalah ibu-ibu,"


"Aurat, Sayang." Zhafran melepaskan ikatan jilbab tersebut dan menggulung lengan baju Aza kembali seperti semula.


Aza tidak perduli apa yang dilakukan suaminya dia tetap akan memberikan pelajaran pada ibu-ibu ini.


"Heh ...." Aza menatap tajam kearah ibu-ibu yang sudah mengatainya barusan.


" ... Lu ngomong apa barusan?" tanya Aza tidak sopan.


" ... Coba di ulang, Gue mau dengar."


Ibu-ibu tersebut menatap Aza dengan tatapan jijik.


"Lihatlah, selain tidak malu, kamu juga tidak sopan," ibu berbaju merah meledek Aza dengan menampilkan senyuman sinis nya.


Aza yang mendengar itu membalas senyuman sinis ibu-ibu tersebut tak kalah sinis nya.


"Maaf ibu-ibu, ini suami saya, kalian mau kenalan?" tanya Aza membuat ibu-ibu tersebut terdiam.


"Gue memang gak sopan, karena ibu-ibu yang s3ksi dan cantek membuat saya tidak sopan," lanjut Aza.


" ... Oh iya, Buk, bajunya kekecilan, mau saya beliin yang lebih gede, supaya lemak-lemak ibu itu tidak kelihatan, kasihan lemaknya sesak nafas."


"Ayo, Bu, kita pergi aja dari sini," ujar ibu-ibu yang lemaknya sesak nafas.


"Sebelum pergi, ingat satu hal ...! jangan langsung mengomentari hidup seseorang sebelum tau yang sebenarnya," ujar Aza.


Ibu-ibu tersebut pergi meninggalkan Aza dan Zhafran.


"Tarik nafas, buang," instruksi Zhafran pada Istrinya saat melihat Aza masih kesal. "Istighfar, Sayang, astaghfirullah aladzim, astaghfirullah aladzim, astaghfirullah aladzim."


Aza mengikuti perkataan Suaminya, dia menarik nafasnya dan mengucapkan kalimat istighfar.


"Astaghfirullah aladzim, astaghfirullah aladzim, astaghfirullah aladzim!" lirih Aza.


"Ayo masuk,"


"Hmmm."


***


"Padahal Ane mau ketemu Uswa, gagal sudah!" lirih Ali.


"Ane telpon aja kali," lanjutnya.


Ali meraih ponselnya dan menghubungi nomor Uswa, berdiri tapi tidak diangkat.


"Coba lagi." Ali mencoba menghubungi nomor Uswa. Namun, hasilnya nihil.


"Mungkin dia sibuk!" lirih Ali. "Nanti Ane hubungi lagi."


Sedangkan disisi lain, Uswa menatap pantulan dirinya melalui cermin.


Mata gadis itu berkaca-kaca saat melihat penampilan menggunakan baju pengantin berwarna putih.


"Ya Allah, jika ini yang terbaik untukmu, maka mudahkanlah!" lirih Uswa.


Dia sudah pasrah dengan takdir yang Allah berikan untuknya. Meskipun didalam hatinya ada penolakan.


KREEK ....


Uswa langsung menoleh kearah pintu yang dibuka dari luar.


"Maa Syaa Allah, cantik banget mantu, Mama," puji Rena setelah membuka pintu dan melihat Uswa.


Uswa hanya tersenyum tipis setelah mendengar pujian itu.


"Ayo, Kita turun, ijab kabul nya sebentar lagi," tutur Rena bahagia terlihat dari raut wajahnya yang berseri-seri.


Melihat kebahagiaan yang terpancar dari wajah Rena membuat Uswa semakin tidak mampu menolak perjodohan ini.


"Mah," panggil Uswa pada Rena.


"Iya, Sayang, ada apa?"


"Uswa takut!" lirih Uswa merasa takut sekaligus cemas dan khawatir.


"Takut kenapa?" tanya Rena dengan lembut.


"Uswa takut tidak bisa mencintai Azka seperti yang mama harapan," jujur Uswa menundukkan kepalanya.


"Hanya kamu yang bisa membantu Putra Mama untuk menjadi lebih baik, Nak." Rena menatap Uswa dengan tatapan bermohon.


Tidak masalah jika dirinya dikatain egois dengan orang lain, yang penting Azka bisa menjadi lebih baik lagi dari sebelumnya.


Uswa menatap Rena dengan mata berkaca-kaca. "Mah."


"Ayo," acaranya akan segera di mulai." Rena menarik tangan Uswa dengan lembut.


Wanita paruh baya itu tidak memikirkan keadaan Uswa yang sedang menahan agar air matanya tidak mengalir.


***


"Kita ke rumah bunda, gimana?" tanya Zhafran pada Aza.


"Boleh, tapi kita nginap sekali kita pamit besok ke pesantren," jawab Aza.


"Oke, siap-siap geh,"


"Siap, Pak Zhafran," tutur Aza tersenyum lebar.


30 menit kemudian Aza sudah selesai membereskan barang-barangnya yang akan mereka bawah ke pesantren besok.


Tidak terlalu banyak, karena sebagian barang mereka sudah ada di pesantren, Mereka hanya membawa barang-barang yang penting saja.


"Mas," panggil Aza pada Zhafran yang sedang duduk di sofa.


"Apa, Sayang," sahut Zhafran menoleh pada istrinya dan memberikan isyarat agar sang istri duduk di pangkuannya.


"Apartemen ini gimana?" tanya Aza setelah duduk di atas pangkuan suaminya.


"Mas akan nyewa orang untuk membersihkan apartemen kita setia hari minggu," jawab Zhafran. "Agar apartemennya selalu bersih."


"Bagaimana kalo kita jual aja, Mas, atau di sewakan," usul Aza.


"Hmmm ... boleh, nanti kita pikirkan."


" ... Udah selesai?" lanjut Zhafran bertanya.


"Alhamdulillah, udah tinggal berangkat, Aza udah kangen ama Kitty."


***


"Saya terima nika dan kawinya Uswatun Hasanah binti Rahmat dengan maskawin seperangkat alat sholat, emas 100 gram, uang tunai 50 miliyar, serta satu unit rumah dibayar tunai," ujar Azka lantang tanpa hambatan sedikit pun.


"Bagaimana para saksi, sah?" tanya penghulu.


"SAH ...!"


"SAH ...!"


"SAH ...!"


"Alhamdulillah ...!"


Cowok 17 tahun itu tersenyum manis memperlihatkan gigi rapinya setelah para saksi mengucapkan kata sah, dengan wajah berbinar dia menoleh pada Uswa yang sudah duduk di sampingnya dengan tertunduk.


"Nak Azka, silahkan cium istrin—" ucapan penghulu terpotong saat melihat Azka langsung meraih wajah istrinya dan mengecup bibir sang Istri tanpa melihat keadaan.


Cup ....


Uswa yang mendapatkan serangan mendadak hanya bisa terdiam dan mematung seperti batu.


"Khmmm ... maaf, Nak Azka, maksud saya kening bukan bibir," tutur Pak penghulu pada Azka yang masih mempertahankan senyumannya.


"Jadi di ulang iya, Pak?" tanya Azka tanpa dosa.


"Sila—" lagi dan lagi perkataan Pak penghulu terhenti saat melihat Azka mengecup kening istrinya, Uswa.


Melihat tingkah putranya Rena hanya geleng-geleng kepala sedangkan Riyan mengalihkan pandangan kearah lain.


"Playboy kita udah tobat!" bisik Devan pada Raja.


"Semoga dia benar-benar tobat," lanjut Zean.


"Semoga aja,"


"Gue kasian ama Uswa, gadis sebaik dia malah dapet suami dajj4l kaya Azka,"


***


"KITTY ...!" teriak Aza setelah membuka pintu utama.


"Astaghfirullah aladzim, Sayang, assalamu'alaikum dulu,"


"Astaghfirullah, maaf, Mas." Aza terkekeh kecil kemudian mengucapkan salam bersamaan dengan Zhafran.


"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh," salam mereka.


Haliza yang mendengar teriakkan dan salam dari putri dan menantunya langsung menuruni anak tangga dengan Kitty di gendongannya.


"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh, maa Syaa Allah, Kalian datang? kenapa gak ngasih tau Bunda kalo kalian datang?" tanya Haliza bertubi-tubi setelah berdiri di hadapan Putri dan menantunya.


"KITTY ...!" pekik Aza saat melihat kucing kesayangan, dia langsung meraih kucing tersebut dari gendongan sang bunda.


" ... Lu makin gemoy aja, kit."


Mereka langsung menyalami tangan Haliza bergantian.


"Ayah mana?" tanya Aza saat tidak melihat keberadaan Ayahnya.


"Kerja, Sayang, ayo masuk," ajak Haliza.


Merekapun masuk dan duduk di sofa ruang keluarga.


"Bagaimana kabar bunda?" tanya Zhafran.


"Alhamdulillah, baik, Nak, kalo kalian gimana kabarnya?" tanya Haliza.


"Alhamdulillah baik, Bun," balas Zhafran sedangkan Aza jangan di tanya lagi, gadis 17 tahun itu sedang sibuk dengan kucingnya.


"Udah ada kabar baik belum?" tanya Haliza dengan tersenyum.


Zhafran menggaruk tengkuknya yang tidak gatel sama sekali setelah mendengar pertanyaan Ibu mertuanya.


Heh ... Dia pria dewasa yang sudah mengerti dengan pertanyaan sederhana seperti itu.


"Belum, Bun," jawab Zhafran.


"Jangan bilang ...." Haliza memicingkan pandangan ke arah Zhafran.


Mendapatkan tatapan seperti itu Zhafran hanya mengangguk.


"ASTAGHFIRULLAH ALADZIM, AZA ...!" teriak Haliza.


TBC


Mohon maaf jika ada typo.


Jangan lupa tinggalkan JEJAK.