
HEY KALIAN IYA KALIAN YANG LAGI BACA CERITA INI JANGAN LUPA LIKE AND COMEN YAH
JADI LAH PEMBACA YANG BAIK
...~β’.π§π·π¦©.β’~...
Seperti biasa jam istirahat sekolah berbunyi dan semua murid pun langsung pergi ke kantin.
Begitu pula dengan Fauza dan para sahabatnya. Mereka segera ke kantin sebelum rasa lapar membunuh mereka secara perlahan.
"Woy tunggu bentar, zaa itu kek Satya, lagi main basket, dia gk makan?" Tanya Nandia.
"Gk tau gw biarin aja, ntar kalo laper juga nyariin makanan sendiri, dia bukan anak kecil lagi," ucap Fauza yang langsung pergi ke kantin.
"Aduh gimana yah ini bestie kalo gini terus gk baik, mereka juga kan udah nikah," ucap Aprilia.
"Iya mau gimana lagi, salah kak Satya juga, gw malah ngerasa kalo Fauza lebih cocok sama Gibran deh dari pada kak Satya," ucap Nur.
"Gw juga mikir gitu, karena Lo liat aja tadi Fauza sampe ketawa puas gitu sama Gibran, eh sama suaminya sendiri malah makan hati," ucap Nandia.
"Gk ada yang bisa kita lakuin selain berdoa untuk Fauza, semoga dia bisa sabar dan di kasih yang terbaik yah," ucap Aprilia.
"Aamiin,"
Di kantin Fauza sedang asik makan, dia tidak memperdulikan semua hal yang akan membuat kepala nya sakit, tidak lagi sudah cukup ia akan memikirkan dirinya sendiri kali ini.
"Sendian aja nih neng? Mau Abang temenin gk?" Tanya Gibran yang duduk di samping Fauza.
"Lo lagi! Iss kenapa si! Gada manusia lain tah!" Cibir Fauza.
"Kenapa si emang nya, salah emang kalo Lo ketemu gw?" Tanya Gibran.
"Salah pake banget!"
"Lo marah-marah terus kenapa si za? Lo ada masalah? Lo gk mau cerita ke gw?" Tanya Gibran lembut.
Fauza pun menatap nya, ada apa dengan nya kenapa bertanya seperti itu?
"Udah lah Gibran Lo diam aja,"
"Oke oke gw akan diam, tapi gw mau ngomong sesuatu sama Lo,"
"Apa?" Tanya Fauza yang menatap Gibran penasaran.
"Lo tau kan Satya tuh KETOS, pasti banyak banget yang ngincar dia, dan udah dari dulu banget si Reniva itu ngejar-ngejar Satya tapi dia gk pernah respon tuh jamet, dan gw gk tau kenapa hari ini dia respek sama tuh perempuan, dia bahkan makan makanan yang di buatin sama Niva itu," jelas Gibran.
"Tau dari mana Lo?" Tanya Fauza.
"Gw punya banyak kenalan za, gw akan tau berita yang emang gw cari, dan gw gk mau aja Lo sampe tersakiti lebih jauh sama Satya," ucap Gibran.
"Yaudah lah biarin aja, gw pusing banget Gibran mikirin semua ini," ucap Fauza yang langsung bad mood.
"Hmm, gw tau ini gk mudah, tapi akan jauh lebih mudah lagi kalo Lo jauhin Satya, lupain dia,"
"Gw tau itu hal terakhir yang bisa gw pilih, makasih yah udah mau ngasih info ini ke gw," ucap Fauza yang langsung bangkit.
"Mau kemana za?"
"Ke kelas,"
Gibran pun menatap punggung gadis itu yang perlahan menjauh dari nya, ia sebenarnya tak ingin Fauza sedih tapi jika dia berlama-lama dengan Satya pun tak akan baik bagi dirinya.
"Gw harap lo akan bahagia za, gw gk akan biarin siapa pun nyakitin Lo termasuk Satya,"
Di koridor kelas Fauza bertemu para sahabatnya.
"Ehh mau kemana Lo? Ayo ke kantin?" Ajak Aprilia.
"Gw udah makan, kalian pergi aja ke kantin gw mau balik ke kelas,"
"Lo kenapa Za?" Tanya Nur.
"Apanya? Keliatan yah kalo lagi hancur? Gw akan cerita nanti guys, tapi gk sekarang gw lagi mau sendirian," ucap Fauza yang segera pergi.
"Fauza kenapa yah," ucap Nandia.
"Gatau gw juga, yaudah nanti aja kita tunggu dia siap untuk cerita," ucap Aprilia.
Di kelas Fauza hanya duduk diam, keadaan nya semakin memburuk, apa yang harus Fauza lakukan? Apa kah ia harus menyerah? Menyerah untuk mempertahankan hubungan ini? Jika Satya saja bersikap seperti itu kepada nya apa ia akan kuat?
Tidak! Dia harus menyelamatkan pernikahan mereka itu, bagaimana nanti kedua orang tua mereka jika tau bahwa hubungan anak nya sedang tidak baik-baik saja?
Fauza bangkit dan berjalan ke lapangan, "Kak gw mau ngomong,"
"Gw sibuk!"
"Kak plis! Lo bisa gk si hargain gw sedikit aja!!!"
"Hargain gimana lagi si? Mau di bayar berapa emang nya? Harga Lo betapa?!"
Ucapan yang sangat menyakitkan itu telah sangat melukai hati Fauza, apa maksud Satya? Harga?
PLAKKK
Fauza menampar pipi Satya dengan kuat, semua murid langsung berkumpul dan melihat kejadian itu.
"HARGA? LO NANYAIN BERAPA HARGA GW HAH?! SAMPAI KAPAN PUN LO AKAN BISA BAYAR BERAPA HARGA GW! GW GK NYANGKA INI DARI LO KAK! APA SALAH GW? KENAPA LO KAYAK GINI KE GW? HAH APA SALAH GW!!!"
"TADINYA GW MAU MEMPERTAHANKAN HUBUNGAN KITA! TAPI LIHAT APA YANG LO LAKUIN LO NGELUKAIN GW KAK! AMBIL CINCIN BUSUK LO INI! GW GK BUTUH!!!"
Fauza berteriak sambil menangis, hatinya begitu terluka mendengar ucapan Satya, bukan kah maksud Fauza baik lalu kenapa Satya bersikap seperti itu kepadanya?!
Fauza melemparkan cincin pernikahan nya dengan Satya, harga dirinya sudah sangat terluka mendengar ucapan Satya, dan hal ini tidak akan bisa ia maafkan sampai kapan pun.
Gadis itu berlari dan meninggalkan semua orang yang berkerumun itu.
"Fauza?" Panggil para sahabatnya.
"Kita biarin aja dulu, dia butuh waktu sendiri," ucap Nandia.
"Brengsek Lo Satya! Mau Lo apa si Sat? Hah? Mau Lo apa? Apa Lo pikir Lo pantes ngomong kayak gitu sama Fauza?" Ucap David.
"Dia cuman mau ngomong sebentar sama Lo! Dan Lo malah bersikap kayak gini? Lo nanyain harga dirinya? Otak Lo di mana?!!" Bentak Brian.
"Lo kalo mau udahan sama Fauza gk gini caranya! Mending Lo langsung talak dia sekarang juga!" Ucap Galang yang berbisik pada Satya.
"Gw gk nyangka ini dari Lo Satya, Lo udah ngelukain Fauza, sekarang Lo tanggung semua akibat nya! Emosi Lo yang cuman sesaat itu akan jadi sebuah penyesalan selamanya untuk Lo!!!" Ucap Gibran yang segera berlari mencari keberadaan Fauza.
"Ehh Lo gapapa kan Satya? Ya ampun pipi Lo jadi merah gini, ayo kita ke UKS yah," ucap Reniva
"Minggir!!!" Ucap Satya yang menepis kasar tangan Revina.
Di rupftop sekolah Fauza sedang menangis sekencang-kencangnya, hatinya begitu sakit dan terluka mendengar semua ucapan Satya.
"Salah gw apa kak hiksss... Kenapa Lo jahat banget sama gw... Kenapa Lo berubah hikss..."
"Lo gk salah za, semua ini salah Satya dan bukan salah Lo," ucap Gibran yang menghapus air mata Fauza.
"Kita pulang aja yah? Gw udah izizin Lo, yuk pulang bareng gw, biar gw yang jelasin ke orang tua Lo, percaya sama gw okee," ucap Gibran yang menggenggam tangan Fauza.
Fauza pun mengangguk, ia hanya ingin kembali kerumah orang tua nya.
Gadis itu pulang kerumah bersama Gibran, 15 menit perjalanan dan akhir nya mereka sampai dirumah Fauza.
"Assalamualaikum,"
"Wa'alaikumussalam ehh Fauza kenapa sayang? Kamu kok udah pulang? Ini kamu habis nangis? Kamu kenapa?" Tanya Mira panik.
Fauza hanya diam dia tak mampu untuk menceritakan segala yang telah terjadi antara nya dan Satya.
"Biar saya yang jelasin Tante," ucap Gibran.
"Ehh Gibran, yaudah ayo kita masuk dulu," ajak Mira dan mereka pun duduk bersama di tuang tamu.
"Ini Fauza kenapa Gibran?"
"Jadi Tante tadi Fauza mau ngomong sama Satya, tapi Satya malah marah-marah, bahkan dia mempertanyakan berapa harga nya Fauza, satu sekolah bahkan menyaksikan itu semua Tante, padahal saya liat sendiri Fauza udah minta dia baik-baik tapi Satya malah marah-marah," ucap Gibran.
"Sayang, apa itu bener?" Tanya Mira pada Fauza.
Dan Fauza pun menangis di pelukan mamahnya, "Salah Fauza apa mah, kenapa kak Satya jahat sama Fauza,"
Hati Mira ikut sakit mendengar semua itu, "Kamu gk salah sayang, semua nya salah Satya, kamu gk salah," ucap Mira yang mengelus lembut rambut Fauza.
"Mulai sekarang kamu gk usah lagi berhubungan sama Satya! Mamah gk akan biarin dia nemuin kamu lagi! Gk akan pernah!!!" Ucap Mira.
"Gibran Tante minta tolong yah, tolong jagain Fauza terus, jangan pernah biarin dia ketemu sama Satya lagi, Tante Gamau Satya nyakitin Fauza lagi,"
"Iya Tan, saya akan jagain Fauza, yaudah Tan kalo gitu saya permisi dulu yah, saya masih harus sekolah," ucap Gibran.
"Iya makasih yah,"
"Sama-sama Tante,"
Gibran pun pergi dari rumah orang tua Fauza dan kembali kesekolah.
"Mamah akan ngomong sama keluarga Mahendra! Apa apan ini! Kenapa Satya bersikap gk sopan kayak gitu! Mamah gk terima anak mamah di giniin dan kalo emang pernikahan kalian gk bisa di pertahankan lebih baik kalian Pisah!!!" Ucap Mira.
"Maafin mama yah sayang, mama sama papa yang udh maksa kamu untuk nikah sama Satya," ucap Mira yang menciumi Fauza.
Tak ada lagi yang bisa Fauza katakan selain hanya air mata nya yang mengalir deras.
...~β’.β¨ππΏπΎ.β’~...
HEY YOU JANGAN LUPA LIKE AND COMEN YAH
LIKE & COMEN
THANKS
SEE TOU