
#MY_HUSBAND
#PART_22
بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
Hay Gaeyss ....
Vote+komen ya😁
___________________
🌻Happy reading🌻
Zhafran membuka matanya saat mendengar suara alarm berasal dari ponsel milik istrinya yang ada diatas nakas.
Pria 25 tahun itu mengumpulkan nyawanya sebelum melakukan aktivitasnya seperti biasa, solat tahajud.
Semalam sebelum dirinya benar-benar menuju ke alam mimpi, Zhafran menyetel alarm di ponsel Aza, karena ponselnya masih belum bisa menyala sama sekali.
Setelah nyawanya sudah terkumpul dan membaca do'a bangun tidur, Zhafran menengok kearah istrinya yang masih tertidur pulas di sampingnya.
"Dek?" panggilannya dengan suara pelan dan lembut. "Bangun yuk, Kita solat."
"Lima menit lagi, Mas." Bukannya bangun, Gadis itu mala melingkarkan tangan mungilnya ke pinggang Suaminya yang tak memakai baju.
Ini sudah menjadi kebiasaan Zhafran semenjak menikah dengan Aza.
Dia akan tertidur tanpa memakai atasan dengan alasan panas padahal AC ada, entah itu hanyalah alasan Zhafran atau memang panas.
Zhafran meraih ponsel Aza yang ada diatas nakas dengan susah payah, karena Aza membatasi gerakannya.
"Bangun, Dek," ucap Zhafran setelah melihat jam yang ada di ponsel tersebut yang sudah menunjukkan pukul 03:00 subuh.
Bukannya bangun, Gadis cantik itu malah semakin mengeratkan pelukannya dan membuat Zhafran tersenyum tipis.
Rasanya Zhafran ingin menghajar istrinya sampai mampus sekarang juga, tapi perkataan Ali selalu terngiang-ngiang di kepalanya.
'ingat, istri Ente masih sekolah, jangan sampai hamidun sebelum lulus.' Zhafran menggeleng saat mengingat sahabatnya.
"Astaghfirullah aladzim," ucapnya.
Sebenarnya Aza sudah bangun, tapi dia masih pengen berada diposisi seperti ini.
Menurutnya posisi yang paling nyaman adalah berada di dada suaminya yang tak tertutupi apapun, Aza dapat menghirup aroma khas Zhafran yang bisa membuat Dirinya mabuk dan tidak mau beranjak secepatnya dari posisinya.
"Mas tau kalo Adek sudah bangun." Zhafran menjepit hidung mungil istrinya dengan jari telunjuk dan jadi jempolnya hingga gadis itu membuka matanya karena sulit bernafas.
"Ihh ...." Aza langsung menepis tangan Suaminya dengan pelan dari hidungnya. "Gak bisa nafas."
"Gak sopan," ucap Zhafran bercanda pada Aza.
"Biarin, daripada Aza meninggal kan bahaya." Gadis itu kembali melingkarkan tangannya ke pinggang suaminya sambil tersenyum dengan pandangan sedikit mendongak keatas agar bisa melihat wajah suaminya dengan jelas.
Pandangan mereka saling bertemu dan memancarkan kerinduan. Iya, mereka saling merindukan satu sama lain.
Mata Aza berkaca-kaca. "Aza sangat bersyukur pada Allah, karena Allah selalu melindungi Mas Zhafran."
Zhafran tersenyum dan mengelus pipi istrinya. "Yuk, kita solat tahajud, keburu waktunya habis."
"Ayo." Dengan semangat Aza beranjak dari tempatnya. Satu minggu menjadi istri seorang Gus Zhafran membuat dirinya sedikit demi sedikit berubah.
Biasanya bangun jam lima subuh untuk sekedar solat kemudian lanjut tidur, sekarang jam tiga pagi dia harus bangun untuk solat tahajud, mengaji sambil menunggu masuk waktu subuh. Hidupnya benar-benar ada berubah.
•••
Aza tersenyum saat masuk ke dapur dan melihat Umi Halimah sedang menyiapkan sarapan, seperti biasa wanita paruh baya itu akan menyiapkan sarapan untuk keluarganya tanpa bantuan santriwati.
"Selamat pagi, Umi." Aza langsung memeluk Umi Halimah dari arah belakang dan membuat Umi Halimah sedikit terkejut kemudian tersenyum saat tau siapa pelakunya.
"Selamat pagi, menantu Umi," balas Umi Halimah.
Aza meletakkan dagunya ke pundak Umi Halimah.
"Umi buat apa?"
Meskipun sudah tau, gadis itu tetap bertanya. Ini sudah jadi kebiasaan di negara kita, walaupun kita sudah tau mereka melakukan apa, masih aja kita bertanya.
"Seperti biasa, Sayang."
"Nasi goreng?" tanya Aza. Gadis itu melepaskan pelukannya dan pindah ke samping Ibu mertuanya.
"Hmmm." Umi Halimah mengangguk.
"Aza boleh bantu, Umi?" tanya Aza pada Umi Halimah.
Rasanya dia seperti ada dirumahnya sendiri karena Umi Halima memperlakukannya kayaknya seorang putri bukan menantu dan itu membuat Aza sangat-sangat bersyukur.
Umi Halima menggeleng lalu tersenyum. "Tidak ada, Nak."
"Iya, Aza telat dong." Aza memasang wajah cemberutnya.
Ini bukan kali pertamanya dia telat ke dapur, ini kesekian kalinya, jangan salahkan dirinya, tapi salahkan suaminya karena selalu mengundur waktu.
Umi Halimah terkekeh geli. "Kata siapa Aza telat?"
"Buktinya pekerjaan udah selesai, Umi," jawab Aza.
"Tapi teh untuk Suamimu belum ada lho."
"Oh, iya." Aza menepuk keningnya.
Gadis itu selalu lupa, kalo setiap pagi Suaminya itu minum teh sebelum melakukan aktivitasnya yang lain.
"Iya udah, sana buatkan sebelum dia datang."
Dengan cepat Aza membuatkan teh untuk Zhafran sebelum pria itu datang dari lari paginya bersama Ali.
"Umi," panggil Aza sambil mengandung teh buatannya.
"Iya, Sayang," sahut Umi Halimah.
"Apa mereka sudah pergi?" tanya Aza.
Gadis itu menengok kearah Umi Halimah yang sedang menyiapkan sarapan.
Umi Halimah menghentikan kegiatannya dan menatap kearah menantunya. Dia tau siapa yang Menantunya maksud.
"Alhamdulillah, mereka sudah pergi tadi subuh,"
"Alhamdulillah, semoga kejadian ini tidak terulang lagi, Umi. Aza takut."
Halimah berjalan kearah Aza kemudian meraih tangan menantunya itu.
"In Syaa Allah kejadian ini tidak akan terulang lagi, Nak. Namun, ujian dalam rumah tangga itu akan selalu ada. Jadikan ini awal pelajaran dalam rumah tangga kalian, Umi yakin, walaupun kamu masih kecil, tapi Kamu bisa menghadapi semuanya dengan izin Allah."
"Aza udah gak kecil lagi, Umi," ujar Aza dengan nyengir kuda.
"Iya-iya, Umi tau, kalo gitu beri Umi cucu."
"Aza sih mau-mau aja, Umi, tapi ...." Aza sengaja menggantungkan ucapan karena melihat suaminya datang.
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Umi," salam Zhafran menyalami tangan Uminya, kemudian mengecup kening istrinya.
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh," balas Umi Halimah dan Aza bersamaan.
"Ko gak ketuk pintu dulu baru masuk?" tanya Aza.
"Mas udah ketok pintu, Sayang, tapi dua bidadari Mas ini gak dengar, lagi cerita apa, ko salamnya Mas gak di dengar? hmm." Tanpa malu Zhafran kembali mengecup pipi kanan istrinya.
"Ihh, Mas Zhafran, malu." Wajah Aza seketika memerah karena menahan rasa malu. Aza tidak percaya kalo Zhafran bisa melakukan hal memalukan di depan Umi Halima.
"Malu ama siapa?" tanya Zhafran menggoda istrinya. Sedangkan Umi Halima hanya terkekeh dan melanjutkan aktivitasnya yang sempat tertunda.
"Ama Umi," bisik Aza.
"Umi, katanya Aza malu sama Umi ...!" teriak Zhafran.
Pria itu sengaja meninggikan nada suaranya agar wajah istri kecilnya semakin memerah dan itu membuat dirinya semakin gemes.
"Gak usah malu, Nak. Umi juga pernah mudah ko," sahut Umi Halimah dengan tersenyum.
"Tuh, dengerin kata Umi," bisik Zhafran.
"Ihh ...! Mas Zhafran bau asem." Aza pura-pura menutup hidung karena bau, padahal Zhafran tidak bau sama sekali, hanya saja gadis itu mencoba mengalihkan percakapan.
Zhafran menjepit kepala Aza dengan ketiaknya membuat Aza memberontak minta dilepas, tapi Zhafran tidak mendengarkannya.
"UMI ...!" teriak Aza pada Umi Halimah yang sedang tertawa melihat tingkah putra dan menantunya.
"Umi gak ikutan iya," ujar Umi Halimah.
"ABI ...!" teriak Aza saat melihat Kiai Rasyid memasuki area dapur.
"Astaghfirullah aladzim, ZHAFRAN ...!" pekik Kiai Rasyid saat melihat Menantunya tersiksa.
Pria paruh baya itu menjewer daun telinga putranya. "Lepasin."
Seketika Zhafran melepaskan kepala Aza. "Aduh ... Abi, Zhafran cuman bercanda doang, iya kan, Sayang."
Aza memasang wajah sedihnya. "Abi, kepala Aza sakit gara-gara Mas Zhafran."
Seketika mata Zhafran membulat mendengar perkataan istrinya. "Tidak, Bi. Zhafran tidak ... ARRHGH ...!"
Zhafran menjerit kesakitan saat merasakan jeweran Abi-nya semakin kencang hingga membuat daun telinga memerah dan panas.
"Kamu jangan macam-macam sama menantu Abi, dengan susah payah Abi menemukannya untukmu," tutur Kiai Rasyid pada putranya.
"Abi, telinga Zhafran sakit," rintih Zhafran.
"Ini belum seberapa sakit yang dirasakan menantuku karena kebodohanmu." Kiai Rasyid semakin mengeratkan jeweran nya. "RASAKAN INI."
"AWWWW ...!" pekik Zhafran. Sedangkan Aza mengulurkan lidahnya mengejek kearah suaminya.
"Sayang," lirih Zhafran pada Aza.
Pria itu memasang wajah imutnya dan berdoa dalam hatinya agar istri cantiknya itu lulu dan melepaskannya.
"Ayo kita sarapan, nanti nasi gorengnya dingin," ajak Umi Halima. "Mas, udah, kasihan Putra kita."
Kiai Rasyid langsung melepaskan tangannya dari telinga Zhafran kemudian berjalan kearah meja makan. "Mari kita sarapan."
"Aw ...." Zhafran mengelus daun telinga yang terasa panas.
"Sakit iya, Mas?" tanya Aza.
"Sakit banget, Sayang." Pria itu mengambil kesempatan dengan menyandarkan kepalanya di pundak istrinya.
"Maafin Aza, Mas," ucap Aza merasa bersalah setelah melihat daun telinga suaminya yang memerah. "Mas duduk dulu, Aza ambilkan sarapan dulu."
Zhafran tersenyum tipis saat mendapatkan perhatian kecil dari sang Istri. "Mas mau sarapan dikamar, Sayang."
"Hah ...." Aza mengalihkan pandangannya kearah mertuanya yang juga menatap kearahnya dengan tatapan melongo tidak percaya mendengar permintaan putranya barusan.
"Sayang." Dengan manja Zhafran menggoyang-goyangkan tangan Aza seperti anak kecil meminta permen pada Ibunya. "Ayo ke kamar."
"Khmmm ...." Semua mata mengarah pada Kiai Rasyid setelah mengeluarkan suara deheman nya. "Eh ..., Nak Aza sebaiknya kamu ikutin aja kemauan bayi besar mu itu."
Aza hanya mengangguk mengiyakan perkataan ayah mertuanya.
••••
Bibirnya tertarik keatas saat melihat suaminya sedang duduk didepan televisi yang sedang menayangkan sebuah program tausyiah dari Buya Yahya.
Gadis itu berlari kecil kearah suaminya dengan tersenyum manis.
"Mas Zhafrannnnnn," panggilannya setelah berdiri di depan Zhafran dan tentu saja menghalangi pandangan Zhafran dari tivi.
Bukannya marah karena terganggu, Zhafran malah tersenyum dan meraih tangan Istrinya agar duduk di atas pangkuannya. "Udah bangun?"
"Kalo belum bangun, mana mungkin Aza ada disini," jawab Aza sambil mengelus Milo.
Mendengar jawaban istrinya Pria itu hanya terkekeh. "Kapan masuk sekolahnya?"
"Hmmm, dua hari lagi," jawab Aza.
"Kita pulang besok pagi."
"Aza masih mau disini."
Zhafran mengelus rambut Istrinya. "Setelah Adek lulus, Kita akan menetap disini."
Aza melepaskan Mika, agar hewan berbulu halus itu bebas mau kemana asalkan tidak keluar dari rumah.
"Serius?" tanyanya sambil menoleh kearah wajah Suaminya yang ada di sampingnya.
"Serius, Sayang." Zhafran menyingkirkan anak rambut milik Istrinya yang menghalanginya.
"Yeessss ....!" pekik Aza bahagia. "Aza akan hubungi Bunda kalo besok pagi kita berangkat kesana."
Zhafran mengangguk. "Hmmm."
"Ali ndk ikutkan?" tanya Aza.
"Tidak, Sayang. Mana mungkin dia meninggalkan tugasnya di pesantren."
"Kalo Mas sendiri?" tanya Aza pada zhafran. "Mas gak ada tugas gitu, kaya ngajar atau apalah."
"Ada, tapi Mas lagi cuti."
"Kok cutinya lama?"
"Hmmm ..., udah, jangan dipikirkan." Zhafran langsung melingkarkan tangannya ke pinggang Istrinya.
"Baiklah."
'maaf Sayang, Mas gak jujur, kalo sebenarnya Mas sudah diterima jadi guru di sekolah kamu,' batin Zhafran.
Iya, tanpa sepengatahuan Istrinya, Zhafran diterima sebagai guru pengganti di sekolah Aza.
••••
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh," salam Ali setelah mengetuk pintu pintu kelas.
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh," salam semua santriwati yang ada didalam kelas tersebut.
Pria tampan itu berjalan masuk kelas dengan menampilkan senyuman manisnya.
"Sobahul Khair," sapanya setelah duduk.
"Sobahunnur, ustad," jawab mereka.
Ali duduk di kursinya dan membuka buku yang di bawah dari ruangannya.
Tanpa diminta, semua santriwati membaca do'a belajar sebelum memulai pelajaran mereka.
"Bismillahirrahmanirrahim," lirih Ali sebelum memulai aktivitasnya mengajar.
"Hari ini kita akan belajar hukum bacaan nun sukun dan tanwin,"
Pria itu membawakan mata pelajaran bahasa arab kelas 10.
Ali menjelaskan pengertian nun sukun (نْ) dan tanwin dengan serius.
"Nun sukun adalan huruf NA (ن) yang ditandai seperti (نْ) ini, diberi tanda bulatan kecil di atasnya," jelas Ali setelah menulis diatas papan tulis. "Kalian faham?"
Mereka yang ada didalam ruangan mengangguk. "In syaa Allah faham ustad."
"Oke, mari kita lanjut." Ali kembali menulis di atas papan tulis.
Kenapa mereka tidak menggunakan bahasa Arab saat berkomunikasi, itu karena kelas ini masih kelas 10 mereka hanya belajar dasar-dasar saja.
"Sedangkan tanwin adalah baris tanda bunyi "an". "in" atau "un" sebagai tanda huruf hidup. Harakat tanwin ada tiga macam yaitu tanwin fathah dengan dua baris di atas huruf ( ً- ), tanwin kasrah dengan dua baris di bawah huruf ( ٍٍ- ) dan tanwin dhammah dengan dua dhammah di atas huruf ( ٌ- )," jelas Ali setelah menulis diatas papan tulis. "Kalian mengerti?"
"In Syaa Allah, Ustad."
"Hukum bacaan nun sukun dan tanwin ada berapa, ada yang tau?" tanya Ali.
Ali menatap kearah santrinya satu bersatu. Bibirnya langsung melengkung keatas saat melihat Gadis cantik yang sangat dia kenali sedang duduk menatap kearah luar jendela, sejak tadi gadis itu tidak menyadari kedatangannya. Sepertinya gadis itu tidak memperhatikan pelajarannya sejak tadi.
"Uswa?" panggil Ali, tapi tidak di dengar oleh Uswa. Seusai dugaannya kalo gadis itu tidak memperhatikan pelajaran.
Ali berjalan kearah Uswa dan mencoleknya paket spidol miliknya. "Uswa."
Uswa langsung terkejut saat merasakan lengannya terasa sakit.
"Astaghfirullah aladzim, Ustad, ngapain Ustad ada disini?" tanya Uswa.
Semua mata mengarah pada mereka.
"Saya sedang mengajar,"
"Di kelas ana?" tanya Uswa masih tidak sadar.
"Iya,"
Uswa menatap sekelilingnya. Mata gadis itu melotot saat melihat papan tulis sudah penuh dengan tulisan tangan Ali.
Gadis itu langsung menunduk karena malu. " Maaf ustad."
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Ali khawatir.
"Tidak Ustad."
"Alhamdulillah, kalo kamu sakit, lebih baik kamu istirahat aja."
"Iya, Ustad.
Ali kembali pada tempatnya sambil tersenyum.
"Seharusnya dia istirahat saja," batin Ali.
Sedangkan Uswa kembali menatap kearah luar jendela.
Perkataan Orang tua tadi pagi sangat mengganggu pikirannya.
•••Flashback•••
"Uswa, Ayah kamu menelpon," ujar Ustazah Amina sambil menyodorkan ponselnya kearah Uswa.
"Syukron, Ustazah." Uswa meraih ponsel tersebut.
"Na'am." Ustazah Aminah tersenyum lalu melanjutkan aktivitasnya dan meninggalkan Uswa yang sedang berbicara dengan ayahnya melalui telpon.
"Assalamu'alaikum warahmatullahi Wabarakatuh, Ayah," salam Uswa setelah mendekatkan ponsel ke telinganya.
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi Wabarakatuh, uhuk ... uhuk ...,"
Air mata Uswa menetes saat mendengar suara ayahnya yang terdengar sakit.
"Ayah, ayah tidak apa-apa?" tanya Uswa.
"Seharusnya kamu ada disini merawat Ayahmu, bukannya ada di pesantren,"
Uswa langsung menjauhkan ponsel dari telinganya saat mendengar suara Ibu tirinya.
"Ibu, jangan seperti itu, dia disana untuk belajar, bukan bersenang-senang, uhuk ... uhuk ...."
Uswa dapat mendengar suara Ayahnya dengan jelas
"ANAK KAMU ITU TIDAK TAU DIRI, SUDAH TAU HIDUP KITA KAYA GINI MASIH AJA NGOTOT MAU MASUK PESANTREN, DIA PIKIR PESANTREN ITU GRATIS? HAH ...!"
Air mata Uswa semakin mengalir saat mendengar teriakkan Ibu tirinya.
"Bu, uhuk ... uhuk ..., jangan keras-keras nanti Uswa dengar."
"Biarin, biarin dia dengar agar dia sadar."
Uswa menutup mulutnya agar tangisannya tidak terdengar.
"Halo, Uswa," sapa Ayahnya.
"H–halo, Yah," sahut Uswa.
"Kamu jangan dengerin Ibu kamu iya, Sayang. Ayah tidak apa-apa, kok. Kamu fokus aja belajarnya."
Uswa mengangguk. "In syaa Allah, Yah. Ayah juga harus sehat."
"Iya, Nak. Ayah tutup dulu iya, Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi Wabarakatuh."
•••Flashback end•••
Uswa duduk diatas rumput sambil menatap kearah kolam ikan yang ada di belakang mushola. Gadis itu langsung ke mushola dan melakukan solat duha setelah pelajaran selesai beberapa jam yang lalu.
Entah sudah berapa lama Uswa berada disini. Gadis itu juga tidak tau karena yang hanya di pikirannya saat ini adalah Ayahnya.
"Assalamu'alaikum, Uswa." salam Aza. Entah dari mana dia tau kalo Dirinya ada disini.
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh, Ning," jawab Uswa sedikit terkejut. "Kok Ning ada disini?"
"Ali yang ngasih tau, hehehe." Aza ikut duduk di samping Uswa.
"Kok ustad Ali tau kalau Ana ada disini?"
"Tadi dia lewat, dan melihat mu ada di sini." Bohong Aza. Ali tidak lewat, tapi pria itu sengaja mengikuti Uswa, karena takut gadis itu kenapa-napa.
"Oh."
"Kamu ada masalah?" tanya Aza.
"Hmm, tidak ada, Ning," boong Uswa.
"Yakin?"
"In syaa Allah."
"Alhamdulillah, kalo gitu."
Merekapun terdiam beberapa menit kemudian terdengar suara yang memanggil Uswa.
"USWA ...!" teriak seseorang. Uswa yang mendengar itu langsung berdiri.
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Ning, Uswa," salam Gadis itu dengan nafas ngos-ngosan karena berlari mencari Uswa dan untung berpapasan dengan Ali.
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh, ada apa Ratna," tanya Uswa.
"Ibu kamu menelpon, katanya Ayah kamu masuk rumah sakit."
DEG ....
TBC.