My Husband

My Husband
Bab 46



#MY_HUSBAND


#PART_46


بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم


Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh


Hay Gaeyss ....


JANGAN JADI MEMBACA GELAP DONG


___________________


🌻Happy reading🌻


Hari berlalu, minggu berlalu bahkan bulan pun berlalu tanpa terasa kehamilan Perempuan cantik yang berstatus istri Gus Zhafran itu sudah memasuki bulan ke 4.


Perutnya sudah mulai membesar, mungkin karena dia mengandung anak kembar, makanya perutnya terlihat lebih besar dari perut bumil lainnya.


Memasuki bulan ke 4, mual Aza sudah berkurang, tapi masalah lain muncul. Akhir-akhir ini Aza merasa sering kepanasan dll.


"Maa syaa Allah, Mas mereka bergerak," girang Aza saat merasakan pergerakan bayinya.


Zhafran yang mendengar perkataan Istrinya langsung mengehentikan kegiatannya membacanya dan berjalan kearah Aza yang kini bersandar diatas ranjang mereka.


"Mereka bergerak?" tanya Zhafran setelah duduk.


"Iya, Mas. Aza merasakannya." Aza tidak dapat menahan senyuman bahagianya.


"Jagoan Ayah!" lirih Zhafran sembari mengelus perut buncit Aza dengan lembut.


Baik Aza maupun Zhafran tidak ingin mengetahui jenis kelamin anak-anak mereka, biarkan jadi surprise untuk mereka berdua.


Rasanya tidak seru jika mereka sudah mengetahuinya.


Meskipun Zhafran belum mengetahui Jenis kelamin anak-anak, tapi entah kenapa hatinya mengatakan sang calon bayi adalah seorang laki.


"Cepat keluar." Zhafran kembali mengelus perut Istrinya. "Abi sudah tidak sabar melihat mu."


"Akkkh ...!" pekik Zhafran kesakitan.


Calon Abi itu langsung meringis kesakitan saat merasakan tangan mungilnya istrinya mendarat dengan sempurna di punggungnya.


"Jangan minta mereka cepat keluar, Mas," ujar Aza tidak terima dengan perkataan suaminya yang ingin Anak-anak mereka cepat keluar.


Aza heran, kenapa kebanyakan orang berkata seperti suaminya, menyuruh anaknya cepat keluar dari perut ibunya, meminta anaknya akan cepat tubuh.


Padahal mereka akan keluar di waktu yang tepat.


"Mas sudah tidak sabar, Sayang." Zhafran tersenyum dan mengangkat tangannya dari perut Aza untuk pindah ke pipi sang istri yang semakin chubby.


Semenjak Aza hamil, tubuhnya semakin berisi termasuk pipi.


"Padahal Mas yang sering ajarin Aza agar sabar, kenapa sekarang mas yang tidak sabaran?" tanya Aza.


"Ini bedah, Humaira." Dengan gemes Zhafran mencubit pipi Aza hingga memerah.


Aza yang mendapatkan cubitan itu meringis kesakitan. "Ihh ... sakit, Mas."


"Cantik banget si Istrinya Zhafran." Pria tampan itu tersenyum membuat hati Aza bergemuruh tak karuan dan pipinya memerah karena malu.


"Mas Zhafran sering minum madu iya?" tanya Aza.


"Tidak, emangnya kenapa?" tanya Zhafran menatap istrinya tak berkedip.


Lagi dan lagi Dirinya jatuh cinta pada sosok Istrinya ini.


"Mulut Zhafran sangat manis!" lirih Aza menunduk malu.


Mendengar gombalan receh istrinya membuat Zhafran terkekeh kecil dan langsung meletakkan kedua telapak tangannya ke pipi kana dan kiri Aza hingga gadis itu terlihat semakin gemes.


"Maa syaa Allah, bidadari nya Mas." Dengan gemes dia menghujani wajah sang istri dengan kecupan ringan, kening pipi, hidung, mata, dagu dan terkahir bibir.


Namun, benda kenyal itu belum sempat mendarat sempurna di pelabuhannya karena Aza meringis ngilu saat bayinya menendang sangat kita membuat Zhafran terkejut mendengar ringisnya istrinya.


"Kenapa sayang, mana yang sakit?" tanya Zhafran saat melihat raut wajah Aza kesakitan.


"Mereka menendang terlalu kuat, Mas," ujar Aza sembari mengelus perutnya.


Dengan wajah pura-pura marah Zhafran mendekatkan wajahnya ke area perut Istrinya. "Kalian sudah menyakiti Istri Abi. Awas ...! aja."


Duk ....


Zhafran terkejut saat melihat perut Aza bergerak. Pria tampan itu tidak dapat menahan senyumnya dan rasa kagumnya saat melihatnya secara langsung.


Sungguh besar ciptaan Allah yang telah menciptakan mahluk hidup di dalam rahim seorang wanita.


Zhafran langsung mengelus perut Aza sembari tersenyum. "Maa syaa Allah. Mereka bergerak, Dek."


Zhafran menatap Aza dengan tatapan haru dan berbinar. Sungguh, dirinya tidak dapat berkata-kata selain memuji kebesaran Allah.


"Mereka cemburu sama mas Zhafran," kekeh Aza.


"Masa?" tanya Zhafran heran dan bingung.


"Mereka tidak mau Uminya di cium oleh Mas Zhafran,"


Zhafran tertawa kecil mendengar jawaban Istrinya lalu kembali mengelus perut Aza dengan lembut.


Duk ....


Seakan mengerti, bayi mereka kembali menendang membuat Aza meringis.


Zhafran menoleh pada sang istri yang meringis. "Mereka terlalu kuat menendang iya, Sayang."


"Itu berarti bayi kita sehat, Mas. Coba mas Zhafran bacakan sholawat," pinta Aza.


"Sholawat apa, Sayang?" tanya Zhafran bingung.


"Coba tanya pada mereka?"


Zhafran mengelus lembut perut Aza. "Kalian mau sholawat apa, Baby?"


" ... Sholawat nariyah, bagaimana?" tanya Zhafran memutuskan sholawat nariyah yang akan dia lantunkan untuk sang bayi.


Seakan-akan bayi mereka setuju dengan perkataan Abi-nya mereka kembali menendang.


"Dia setuju, Mas," ujar Aza tersenyum.


"Baiklah." Zhafran menariknya nafasnya sebelum bersholawat.


"Allâhumma shalli shalâtan kâmilatan wa sallim salâman tâmman 'alâ sayyidinâ Muḫammadinil-ladzi tanḫallu bihil-'uqadu wa tanfariju bihil-kurabu wa tuqdlâ bihil-ḫawâiju wa tunâlu bihir-raghâ’ibu wa ḫusnul-khawâtimi wa yustasqal-ghamâmu biwajhihil-karîmi wa 'alâ âlihi wa shaḫbihi fî kulli lamḫatin wa nafasin bi'adadi kulli ma'lûmilak(a)."


Aza tersenyum harus saat melihat suaminya, Zhafran dengan lembut mengelus perutnya dan melantunkan sholawat nariyah beberapa kali.


Dengan lembut Aza mengelus rambut lebat Zhafran kini sedang berada di permukaan perutnya.


Suaminya ini masih melanjutkan sholawat dengan sholawat yang lain dan terkadang pria itu melayangkan bibirnya ke permukaan perut Aza membuat sang empu merasa sedikit geli.


"Allaahu Akbar Allaahu Akbar," suara azan zhuhur mengejutkan Aza dari lamunannya, begitupun dengan Zhafran.


Pria itu langsung menghentikan kegiatannya dan menjawab azan tersebut.


Sejak kecil Zhafran diajarkan untuk menjawab azan, walaupun sunnah, tapi memiliki pahala.


Saat suara azan di kumandangkan, kita sebagai seorang muslim disunnahkan untuk menjawabnya, karena seruan azan itu panggil untuk beribadah pada Allah.


Setelah beberapa saat azan pun selesai.


Zhafran menatap Istrinya. "Mau wudu sekarang?"


Aza mengangguk. "Iya, Mas."


"Mari, Mas bantu." Zhafran beranjak dari tempatnya dan membantu Aza untuk turun dari ranjang dengan hati mengingat istri cantiknya ini sedang hamil anak mereka.


"Pelan-pelan, Sayang." Zhafran menuntun Aza masuk kedalam kamar mandi untuk berwudhu.


"Syukron katsiron, Zawji." Aza tersenyum lebar pada Zhafran.


"Waiyyaki', Humaira," balas Zhafran. "Wudu lah, Mas keluar dulu. Kalo Adek butuh sesuatu panggil Mas aja."


"In Syaa Allah, Mas."


***


"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh," salam Zhafran menyelesaikan solat zuhur bersama Aza yang sudah berada di belakangnya sebagai makmumnya.


Zhafran memutuskan untuk solat di rumah, dia tidak mau meninggalkan Aza sendiri dikamar, dia takut terjadi apa-apa pada sang istri.


Setelah salam ke kanan dan ke kiri, Zhafran melanjutkan zikir dan doa kemudian memutar tubuhnya untuk menghadap kearah Istrinya setelah berdoa.


Pria itu mengulur kan tangannya kearah sang istri dan disambut hangat oleh Aza.


Wanita hamil itu meraih tangan suaminya untuk salim dan menciuminya.


Begitupun dengan Zhafran, pria itu mendapatkan kecupannya di kening sang istri dan mengelus perut buncit itu dengan lembut dan tersenyum manis.


"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, jagoan," salam Zhafran.


"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh, Abi," jawab Aza dengan suara yang dibuat-buat seperti anak kecil.


"Sehat-sehat, iya, jangan buat Umi sedih dan kesakitan, oke!"


"Oke, Abi."


Zhafran menatap wajah Aza sembari tersenyum. "Adek lapar?"


Aza menggeleng. "Tidak, Mas."


"Kalo lapar bilang sama, Mas."


"Iya, Mas."


" ... Mas gak mengajar lagi?" tanya Aza.


Sudah beberapa hari ini Zhafran mulai jarang masuk untuk mengajar dengan alasan dia tidak ingin meninggalkan Aza sendiri di rumah. Walaupun Abi dan Uminya ada di rumah, tapi mereka tidak selalu ada di samping Aza 24 jam.


Beberapa minggu yang lalu Zhafran meminta Ali untuk mengambil alih separuh tugasnya, dan pria itu yang kini menjabat sebagai CEO di perusahaannya menerima dengan baik.


Katanya dia cukup rindu dengan suasana pesantren. Pria itu kini sedikit berubah, larat bukan sedikit, tapi cukup banyak perubahan. Yang dulunya hangat dan mudah tersenyum, sekarang dingin dengan wajah kaku dan tatapan tajam.


"Mas masih mengajar, tapi cuman hari senin dan kamis, Sayang."


"Ohh ...!"


TBC ....