
#MY_HUSBAND
#PART_50
Ini part terpanjang. Pelan-pelan aja bacanya biar mewek ๐ sama kaya author, kalo kalian kagak nangis sungguh terlalu, author aja nangis sambil ngetik.
ุจูุณูู ู ุงููููู ุงูุฑููุญูู ููู ุงูุฑููุญูููู
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
Hay Gaeyss ....
Vote+komen ya๐
___________________
๐ปHappy reading๐ป
Hal yang sangat menyakitkan adalah disaat orang yang kamu cintai sudah tidak ada lagi di dunia ini, air mata pun tak mampu mengalir lagi disaat hatimu hancur. Hanya ada rasa sakit yang sangat menyesakkan rongga dada yang tak mampu di ceritakan pada siapapun.
Itulah yang Zhafran rasakan saat ini, sesak dan sakit yang sangat menyiksa saat melihat tubuh Istrinya terbaring diatas ranjang rumah sakit.
Dengan gemetar Zhafran berjalan kearah Aza. Senyuman tipis terbit di bibirnya saat melihat wajah istrinya yang terlihat sangat damai seolah-olah dia sedang tertidur pulas seperti di pagi hari di saat di terbangun pertama kali.
Zhafran meraih tangan Aza yang mulai sudah terasa dingin.
"H-humaira ...!" bisik ke telinga Aza dengan sangat lembut dengan harapan wanita itu akan terbangun seperti biasanya saat membisikkan nama yang Istrinya sukai itu.
Zhafran sering melakukan ini pada saat akan membangunkan istrinya untuk solat tahajud ataupun solat lainnya.
"Humaira ...!" bisiknya yang kedua kali. Namun, hasilnya tetap nihil.
"Humaira nya mas Zhafran ...!" bisik Zhafran sekali. Namun, hasilnya tetap nihil.
Pria itu mengecup seluruh wajah sang istri dengan mengharapkan sebuah jawaban.
Hati Umi Halimah terasah teriris-iris melihat putranya seperti itu dengan berderai air mata Halima memeluk suaminya. Sungguh dia tidak sanggup melihat putranya seperti itu.
"Adek!" panggil Zhafran sekali lagi, tapi tidak ada jawaban.
"Apa Adek tidak mau melihat mereka?" tanya Zhafran sekali-kali mendaratkan bibirnya ke punggung tangan sang Istri.
"Mereka sepasang, Humaira, sesuai keinginan kita," lanjutnya.
"Jangan tinggalkan kami, Humaira, kami sangat membutuhkan mu. Mas mohon, kembali lah!" lirihnya dengan mata yang sudah basa.
"Ya Allah, hamba mohon, kembali kan dia padaku, hamba tau dia miliki-Mu, engkau bisa mengambil kapan saja, tapi jangan sekarang, ya Allah, sungguh, Hamba tidak sanggup. Kembalikan pada ku ya Allah, jangan engkau ambil dari ku."
"Zhafran, sadar lah, Nak, Aza sudah tiada," ujar Zaid ayahnya Aza. "Bukan kamu saja yang merasa kehilangan, kami semua merasa kehilangan, tapi kita tidak boleh berlebihan seperti ini."
Zhafran tidak memperdulikan apa yang dikatakan ayah mertuanya.
"Zhafran, mari kita pulang dan mengurus jenazah Aza untuk segera di kebumikan, Nak."
"Aza belum meninggal, Ayah!" lirih Zhafran sembari menatap wajah Aza yang sudah terlihat sangat pucat.
"Zhafran, kamu jangan seperti ini, Aza sudah tiada, jadi iklhas dia," ujar Kiai Rasyid.
"TIDAK ...! teriak Zhafran tidak menerima kenyataan bawah Aza sudah tiada. "Istri Zhafran masih hidup, Bi, dia tidak mungkin meninggalkan kami, dia tidak mungkin meninggalkan anak kami, dia sangat menyayangi anaknya, istri Zhafran hanya tidur karena lelah habis melahirkan si kembar."
Kiai Rasyid mendekap tubuh putra. "Istighfar, Zhafran, ikhlaskan."
"Aza belum meninggal, Abi!" bentak Zhafran tanpa sadar. "Jadi jangan bilang kalo istri Zhafran sudah meninggal, dia hanya tidur."
"Iya ... Istri Zhafran hanya tidur, sebentar lagi dia akan bangun!" lanjutnya dengan tersenyum.
PLAK ....
Kiai Rasyid melayangkan tangannya kearah pipi Zhafran agar putranya itu tersadar dari hanyalan nya.
"Mas!" teriak Umi Halimah saat melihat suaminya pertama kali mengangkat tangannya untuk memukul putra mereka.
"Sadar Zhafran, sadar, istighfar, nak, istighfar." Kiai Rasyid meletakkan tangannya ke pundak Putranya untuk menyadarkan.
"A-aza!" lirih Zhafran dengan air mata menetes.
***
"Bagaimana?" tanya Angkasa pada Raja setelah sampai di rumah sakit tempat Raja membawa Rahma untuk segera di rawat.
"Dia sedang ditangani dokter," jawab Raja. "Sorry, gue ninggalin Lu berdua."
"Gak apa-apa, santai aja, iya kan, ustad Ali." Angkasa melirik ke arah Ali.
"Iya," jawab Ali malas.
"Apa polisi tidak datang bersama kalian?" tanya Raja saat tidak mendapatkan satupun polisi datang bersama Angkasa dan Ali.
"Kalo dia udah sadar dan udah sembuh total, kita akan mengantarnya ke kantor polisi," tutur Ali.
"Biar gue yang urus, gak usah melibatkan polisi," ujar Raja membuat Angkasa dan Ali sedikit terkejut dan curiga.
"Ja," panggil Angkasa pada Raja.
"Hmmm," sahut Raja dengan malas.
"Jangan-jangan Lu kerja sama ama si nenek lampir itu?" tanya Angkasa penuh selidik pada Raja.
"Kalo ngomong difilter dulu," ujar Raja dengan sinis. "Mana mungkin gue kerja sama dengan dia, gak guna."
"Gue pantas curiga sama Lu, karena Lu itu terlihat sangat cemas tadi," tutur Angkasa.
"Dengan alasan apa Lu curiga sama gue?" tanya Raja sembari menatap kearah Angkasa dengan tatapan memicing.
"Siapa tau aja Lu mau hancurin hidup Gus Zhafran, kan Lu suka Ning Aza, sedangkan si Rahma-rahma itu suka ama Gus Zhafran, jadi Lu berdua kerja sama, iyakan Ustad?"
"Jangan libatkan Ane dengan urusan kalian," ujar Ali pusing mendengar tuduhan palsu Angkasa. Memang palsukan, mana mungkin Raja mau mau membahayakan nyawa gadis yang dia cintai.
"Tuduhan Lu tak berfaedah sama sekali, belajar gak Lu di pesantren tentang fitnah lebih besar daripada pembunuhan, dan Lu sudah fitnah Gue," geram Raja tidak habis pikir dengan Angkasa. "Anak santri tapi tukang fitnah, Lu."
"Heh ...! jangan bawa-bawa nama Anak santri dong, tidak semua juga kali," sewot Ali. "Kamu juga, kalo ndk ada bukti jangan nuduh, merusak nama baik anak santri aja, Kamu."
"Sorry, Ja, gue cuman tebak doang kok, ndk nuduh, santai aja kali."
" ... Lu kenapa?" lanjutnya bertanya pada Ali saat melihat raut wajah pria itu berubah.
"Ada apa dengan Aza?" tanya Raja memotong perkataan Ali.
"Aza sudah tiada!" lirih Ali membuat Angkasa dan Raja terkejut bukan main.
"Rumah sakit mana?" tanya Raja.
"Rumah sakit Rajasa," ujar Ali saat membaca nama rumah sakit yang Umi Halimah kirim padanya.
"Si4lan, kenapa Lu gak bilang kalo Aza di rawat rumah sakit Gue?" tanya Aza pada Angkasa dan Ali.
"Mana gue tau kalo Rajasa itu rumah sakit Lu," ujar Angkasa membela diri.
Raja meraih ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Cari tau siapa yang menangani pasien atas nama Aza shakila, semua yang terlibat dalam operasi itu pecat semuanya, mereka tidak berguna sama sekali!"
Tutut ....
Tutut ....
Tutut ....
Raja memutuskan sambungan telepon dengan sepihak. Dan berlari kearah ruangan Aza. Dia tau dimana letak ruangan operasi di rumah sakit ini, sedangkan Ali dan Angkasa ikut berlari mengejar Raja.
***
Zhafran menatap bayi kembar yang ada didalam tempat khusus untuk bayi.
"Zhafran, azani putramu," ujar Haliza.
Zhafran merendahkan tubuhnya dengan berjongkok dan melantunkan suara azan ditelinga putranya.
Setelah selesai Zhafran menoleh pada putrinya. Bibirnya langsung melengkung keatas membentuk sebuah senyuman saat melihat wajah Putrinya yang sangat putih dan bersih.
"Humaira!" lirihnya saat mengingat istrinya.
Kening Zhafran mengerut saat melihat tubuh putri kecilnya terdapat alat-alat medis.
"Jantungnya mengalami sedikit masalah," ujar Haliza.
"Subhanallah!" lirih Zhafran.
Zhafran menatap nanar kearah putrinya. Kemudian melantunkan suara azan dan iqamah.
"Mereka sangat tampan dan cantik," ujar Zhafran.
"Lihatlah, Humaira!" lirihnya dalam hati.
"Mereka akan tubuh dengan baik, Sayang, mas janji."
"Ayo kita pulang, Nak," ajak Umi Halima pada Zhafran. "Mereka sudah menunggu kita, kamu juga harus melakukan tugasmu."
Zhafran mengangguk mengiyakan perkataan Umi Halimah, dia tidak boleh lemah, masih ada dua malaikat kecil yang masih membutuhkan dirinya.
"Sayang, Abi akan kembali, Abi pergi dulu, assalamu'alaikum, anak Ayah dan Umi."
***
KREK ....
Zhafran mematung ditempatnya setelah membuka pintu kamarnya bersama Aza selama ini, kamar yang memiliki begitu banyak kenangan kini terasa hamba dan tak memiliki penghuni.
Dengan langkah pelan, tapi pasti Zhafran berjalan masuk. Tatapan menatap sekeliling ruangan yang memiliki begitu banyak bayangan kenangan Aza.
"Mas, Aza harus pake yang mana? ini atau yang ini?" tanya Aza sembari mengangkat jilbab berwarna hitam dan coklat kearah Zhafran.
Senyuman Zhafran melengkung membentuk sebuah senyuman saat melihat istrinya ada didepannya sekarang.
Namun, senyuman itu seketika hilang saat bayangan itu menghilang begitu saja saat Zhafran akan mendekatinya.
"Mas, kaki Aza kok bengkak gini?" tanya gadis itu yang sedang bersandar di kepala ranjang sambil mengeluh pada Suaminya.
Bibir Zhafran kembali tersenyum. Namun, seperti diawal, senyuman itu akan luntur saat menyadari kenyataan yang ada.
Zhafran langsung duduk di pinggir ranjang, dia menatap bantal yang biasa di gunakan sang istri saat tertidur.
"Humaira ...!" lirih Zhafran. Sungguh dia tidak sanggup berada di posisi seperti ini. Namun, bagaimana lagi ini sudah takdir yang dia harus terima.
Pria itu meraih bantal yang biasa di gunakan istrinya kedalam pelukannya, aroma khas Aza masih menempel di bantal itu membuat Zhafran kembali meneteskan air matanya.
"Mas merindukanmu, Humaira!"
Mata Zhafran tak sengaja melihat sebuah buku berwarna biru langit di depannya. Dia baru menyadari kalo ada sebuah buku setelah dia meraih bantal tersebut.
Dengan gemetar Zhafran meraih buku berbentuk diary itu.
Sampulnya foto pernikahan mereka membuat Zhafran semakin sesak nafas karena merindukan Istrinya.
Zhafran memberanikan diri untuk membuka buku tersebut dan dia menemukan tulisan di lembaran pertama GUS ZHAFRAN MY HUSBAND'
Pria itu kembali membuka lembaran kedua, lagi dan lagi dia menemukan tulisan tangan istrinya yang begitu rapi.
Zhafran membaca kata demi kata yang telah di tulis Istrinya. Dimana tentang dirinya. Zhafran tersenyum lebar ternyata Istrinya sangat mencintainya.
Tanpa Zhafran sadari pria itu hampir habis membaca buku diary tersebut, dan dia berada di lembaran terkahir.
"Gus Zhafran my husband, hay ..., Apa kabar Gus ku? aku sangat mencintaimu, pasti kamu sudah tau, hehehe. Mas, aku tidak tau ini hanya firasat ku atau hanya kecemasan ku saja. Aku merasa sesuatu akan terjadi, tapi aku tidak tau.
Jika suatu saat nanti terjadi sesuatu yang buruk pada kami, dan dokter memintamu untuk memilih salah satu dari kami, makan pilih Anak kita, Mas. Pilih Habibi Azzam Al-ghifahri dan Habibah Azzima shahira.
Hehehehe ... maaf, mas Zhafran, aku memiliki nama anak-anak kita tanpa diskusi denganmu, nama itu sangat Aza suka, Mas. Aza tau mereka sepasang karena Aza USG tanpa mas tau, jangan marah, soalnya Aza sudah tidak sabar melihat mereka.
Terimakasih banyak karena sudah hadir dalam hidup Aza selama ini, memberikan Aza cinta yang begitu besar saking besarnya aku tidak sanggup mengukurnya, terimakasih karena udah menjadi suami idaman Aza. Aza sangat beruntung karena Allah mengirim Mas Zhafran menjadi imam Aza yang mengajarkan banyak hal dalam kehidupan.
Mas, titip malaikat kecil kita, didik mereka dengan baik, cintai mereka, Mas Zhafran, sayangi mereka sebagai Mas Zhafran mencintai Adek.
Ana uhibbuka fillah, Gus Zhafran my husband ๐"
Air mata Zhafran semakin mengalir dari pelupuk matanya.
TBC