
#MY_HUSBAND
#PART_24
بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
Hay Gaeyss ....
Vote+komen ya😁
___________________
🌻Happy reading🌻
Setelah beberapa jam menempuh perjalanan, akhirnya Zhafran dan Aza telah sampai di kediaman Zaid, Ayah Aza.
Pasutri itu disambut bahagia oleh Zaid dan istrinya, Haliza.
Terlihat dari raut wajah Haliza yang selalu memancar senyumannya saat melihat putri dan menantunya keluar dari mobil.
"Azaaa ...!" teriak Haliza tidak sabar untuk bertemu dengan putri semata wayangnya itu. Satu minggu tidak melihat putrinya membuat dirinya sangat merindukan gadis kecilnya itu.
"Bunda," lirih Aza setelah melihat Bundanya yang sedang berlari kecil kearahnya.
"Aza, putri bunda." Wanita paruh baya itu langsung memeluk putrinya. "Bunda kangen tau."
"Hehehe, Aza juga kangen, Bun," jawab Aza.
"Bohong." Haliza melepaskan pelukannya.
"Seriussss." Aza mengangkat dua jaringan membentuk fix kerah Haliza. "Aza gak bohong."
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Bunda." Zhafran menyalami tangan Haliza.
"Wa'alaikumussalam, maa syaa Allah, menantu bunda ganteng banget, soleh lagi," puji Haliza.
"Iya dong, suami Aza gitu loh," sombong Aza.
"Dulu aja nangis-nangis gak mau nikah," sindir Haliza.
"Ihh, Bunda, gak boleh ungkit-ungkit masa lalu," ujar Aza.
"Mau ngobrol di sini atau didalam?" tanya Zaid yang baru saja datang dan berdiri disamping istrinya.
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Ayah." Zhafran menyalami tangan Ziad disusul Aza.
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh," jawab Zaid. "Bagaimana kabarnya, Nak?"
"Alhamdulillah baik, Yah. Ayah apa kabar?" tanya Zhafran.
"Alhamdulillah, Allah masih memberi Ayah nikmat sehat, Nak, seperti yang kamu liat," ujar Ziad. "Oh iya, bagaimana kabar Abi dan Umimu?"
"Alhamdulillah, mereka baik, Yah. Mereka titip salam buat Ayah," sahut Zhafran.
"Alayka wa'alayhis Salaam warahmatullaahi Wabarakatuh," jawab Zaid. "Ayo masuk." lanjutnya.
••••
Setelah mereka ngobrol, kini Zhafran dan Aza istirahat didalam kamar milik Aza dan kini menjadi kamar Zhafran juga.
"Istirahat aja, Mas," ujar Aza. "Nanti Aza bangunin kalo udah zuhur."
"Hmmm." Zhafran menjatuhkan tubuhnya keatas tempat tidur milik istrinya yang berwarna biru itu.
Tanpa menghitung menit pria itu sudah berada di alam mimpinya. Sedangkan Aza sibuk membereskan barang-barangnya kedalam lemari, gadis itu tidak capek ataupun mengantuk karena tertidur selama perjalanan.
Ting ....
Aza melirik ponselnya yang menyala saat pesan masuk.
"Raja," lirihnya saat melihat siapa yang mengirimkan pesan.
Ini bukan kali pertamanya cowok yang bernama Raja itu mengirimnya pesan, semenjak dirinya tidak masuk sekolah.
Aza meraih ponselnya dan membaca chat nya bersama raja di WhatsApp.
RAJA✉️:
'Za, kapang Lho masuk sekolah?'
Aza mematikan ponselnya setelah membaca pesan dari Raja. "Gue gak tau apa reaksi kak raja kalo dia tau gue udah nika."
Gadis itu tidak ada niatan untuk membalas pesan dari cowok itu.
Memang tidak tau diri si Aza, kalo bukan Raja, pasti suaminya sudah diapa-apain sama Rahma.
Setelah semuanya udah beres, Aza ikut menyusul suaminya ke alam mimpi.
Sedangkan disisi lain, Ali mengejar Uswa.
"Uswa ...!" teriaknya saat melihat Uswa akan menaiki sebuah bis.
Uswa yang mendengar teriakkan itu langsung berhenti dan menengok kearah sumber suara yang tak asin baginya, dan benar saja, dia melihat pria yang begitu dia kenali berlari kearahnya dengan keringat membasahi wajah pria itu.
"Ustad?" tanya Uswa tidak percaya. "Kenapa ustad ada disini?"
"Kamu tidak akan kembali lagi?" tanya Ali.
"Iya, Ustad," sahut Uswa menunduk.
"Kenapa?" tanya Ali lagi.
"Ana ingin fokus merawat Ayah," jawab Uswa.
"Bukannya ibu kamu yang merawat Ayahmu?"
"I-ibu, ibu ana sedang pulang kerumah ibunya, Ustad. Makanya ana yang harus merawat Ayah. Bohong Uswa.
"Bagaimana dengan sekolah kamu?" tanya Ali.
"Saat ini, Ana ingin fokus dulu merawat ayah Ana, Ustad."
Uswa tidak tau seperti apa nasibnya setelah ini, yang terpenting dia harus merawat ayahnya dulu.
"Uswa, ada yang ingin saya katakan," ujar Ali.
"Apa, Ustad?" tanya Uswa.
"Sebenarnya, ana mencinta-"
"Afwan, Ustad, ana harus pergi, assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh," pamit Uswa sebelum masuk kedalam bis.
"Wa'alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh," jawab Ali menatap Uswa yang sudah masuk kedalam bis.
"Mari bertemu di waktu yang tepat, Uswa." Ali menatap bis yang ditumpangi Uswa yang sudah jauh dari pandangannya.
"Ini mungkin terlalu cepat, tapi hatiku sudah memilihmu, Allah maha membolak-balikkan hati seseorang dan aku salah satunya," lanjut Ali.
•••
"Sayang ...!" teriak Zhafran memanggil Aza yang ada didalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya sebelum melaksanakan solat zuhur.
"Ada apa sih, Mas," sahut Aza yang ada dikamar mandi. "Kenapa teriak-teriak."
"Hape kamu bunyi," ujar pria itu sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil milik Aza.
"Angkat aja, Mas," ujar Aza.
"Beneran nih," ucap Zhafran untuk memastikan. Walaupun dirinya adalah suaminya Aza bukan berarti dia bebas menyentuh barang pribadi Isterinya, termasuk ponsel.
Dalam rumah tangga itu harus ada kepercayaan satu sama lain, bagaimana bisa hubungan rumah tangga bisa bertahan jika tidak saling mempercayai, dan Zhafran sangat percaya Aza, Istirnya.
"Iya, Mas!" teriak Aza kesal pada suaminya itu.
"Oke," ujar Zhafran sebelum meraih ponsel milik istrinya.
Pria itu menarik kearah atas tombol hijau berbentuk telpon rumah tersebut kemudian mengarahkan ke telinganya.
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh," salamnya untuk memulai percakapan.
"Wa'alaikumussalam," jawab orang yang ada disebrang sana.
Zhafran menaikan satu alisnya merasa heran mendengar suara laki-laki tersebut. "Kaya kenal, tapi dimana?"
Zhafran langsung melihat nama si penelpon, betapa geramnya saat melihat nama Raja.
"Halo," sapa raja. Zhafran yang mendengar itu langsung mengejeknya dengan bentuk mulut yang dibuat-buat karena kesal.
"Halo," jawab Zhafran dengan nada suara yang dingin.
"Ini siapa iya?" tanya raja.
Sedangkan Zhafran kembal meniru nada bicara Raja dengan mengejek.
"Zhafran, kalo kamu siapa?" tanya Zhafran pura-pura tidak kenal.
"Raja, teman sekolahnya Aza. Oh iya, Aza dimana? kok lho yang angkat."
"Ngapain bocil ini nyari-nyari istri saya, kurang kerjaan banget," lirih Zhafran sambil menatap kearah layar ponsel istrinya.
"Halo, Om," sapa Raja lagi. "Om masih hidupkan?"
"Kurang aja banget kamu, panggil saya Om, saya tidak pernah menikah dengan Tante kamu," geram Zhafran. Pria itu langsung memutuskan panggilan secara sepihak.
Tut ....
Tut ....
Tut ....
Sedangkan disisi lain, Raja mengerutkan keningnya heran.
"Sensi banget ni, om-nya Aza," ujarnya.
"Pms kali, makanya sensi," sahut Azka.
"Iya kali," timpa Zean. "Ehh ..., tapi cowok gak pernah pms."
"Gue jadi kangen ama tuh cewek," lontar Azka dengan tiba-tiba.
"Si jal*ng itu?" tanya Zean.
"Bukan,"
"Terus?"
"Cewek yang kita liat di rumah om-nya Aza," ujar Azka sambil membayangkan wajah cantik Uswa. "Kalo Gue ketemu ama tuh cewek, akan ku jadikan milikku."
"Biasanya, cewek kaya gitu, gak mau diajak pacaran, maunya ta'aruf terus nikah," tutur Zean.
"Kalau itu maunya, Gue bakalan lakuin, asalkan dia menjadi milik Gue," ucap Azka penuh percaya diri.
"Hahahaha, seorang Azka mau menikah? gue gak mimpi kan?" ujar raja tak mampu menahan tawanya.
"Gue serius," ucap Azka dengan serius membuat sahabatnya langsung terdiam. "Gue benar-benar jatuh cinta sama dia, selama ini gue gak pernah merasakan detak kan seperti ini."
"Lo serius?" tanya Raja.
"Gue gak pernah seserius ini, Ja, dan Lu tau sendiri seperti apa gue selama ini."
Raja mengangguk, dia percaya pada sahabatnya. "Gue percaya sama Lu, tapi apa Tante Rena mau menerima dia sebagai menantunya?"
"Mau gak mau, mami harus terima, lagian, gue gak butuh mereka, mereka hanya fokus pada putra sulung mereka yang entah dimana sekarang."
TBC ....