My Husband

My Husband
Matematika yang merumitkan



HEY KAMU... IYA KAMU YANG LAGI BACA CERITA INI, JANGAN LUPA LIKE & COMEN


JADILAH PEMBACA YANG BAIK


...~•.🐣🐣🐣.•~...


Entah ada apa dengan matematika, kenapa ia sangat sulit di mengerti, yah seperti itu lah yang terjadi di kelas Fauza, sekarang mereka sedang pusing mengerti matematika.


"Kadang gw berpikir kenapa matematika sulit di mengerti apa karena dia belum menemukan cinta nya," ucap ucap Fauza.


"Atau dia introvet gk si? Makanya menuruti diri begini," sahut Aprilia.


"Bener woy gw capek memahami nya tapi gk paham-paham," ucap Nandia.


"Mungkin akan lebih baik gk di pahami aja gk si dari pala sakit mikirin nya dia nya aja gk perduli gitu," ucap Nur.


"Iyanya dah lah biarkan aja," ucap Fauza.


"Apanya yang di biarkan Fauza?" Tanya Bu Susi.


Fauza dan para sahabatnya pun saling menatap satu sama lain. Bagaimana ini?


"E-engak Bu tadi tuh saya liat daun-daun itu jatuh, jadi yaudah di biarkan aja,"


Bu Susi pun menatap Fauza, "Oh ya? Tugas kamu cepetan di kerjain Fauza! Kalian tuh yah berempat ngobrol terus, ngomongin ibu yah?!"


"Ehh enggak Bu kata siapa?" Tanya Aprilia.


"Kata ibu lah,"


"Nah itu gk bener Bu, orang kita gk ngomongin ibu kok," ucap Nandia.


"Iya Bu bener, kita lagi ngomongin ini Soal matematika," ucap Nur.


"Yaudah kerjain, awas kalian ngobrol lagi ibu hukum kalian," ucap Bu Susi.


Fauza dan sahabatnya pun hanya diam, lebih baik mencari aman bukan? Akan sangat merepotkan jika mereka harus di hukum hanya kerena matematika.


Fauza pun mulai mengerjakan soal nya, gadis itu berpikir keras, dan para sahabatnya pun menatap Fauza.


"Emang Lo bisa za?" Tanya Aprilia.


Dan Fauza pun menggelengkan kepalanya. Sontak hal itu membuat para sahabatnya tertawa.


"Hmm! Tadi ngobrol! Sekarang ketawa! Udah! Kerjain itu soal nya cepet!!!" Ucap Bu Susi.


"Iya Bu," sahut Nandia.


"Nyontek za," ucap Nur.


"Sabar geh, tapi gw gk tau yah ini bener apa enggak, kalo salah jangan salahin gw!" Sengut Fauza dan mulai fokus mengerjakan tugas.


"Tumben tuh bocah rajin," ucap Aprilia.


"Saya juga sebenernya rajin bestie cuman gk ngerti aja," ucap Nandia.


"Udah diam lagi, ntar di marahin, kita nyontek aja kasian otak kebanyakan mikir, ntar ngebul," ucap Nur.


Lihat lah sahabatnya itu bukanya mengerjakan soal malah sibuk berbicara. Dan Fauza tak ingin mempedulikan itu semua, ia hanya ingin fokus mengerjakan tugas agar seger selesai meskipun ia tak tau itu benar atau salah.


"Nih cepetan," ucap Fauza yang memberikan buku nya kepada semua sahabatnya.


"Makasih Fauza,"


Dengan kekuatan super cepat, Aprilia, Nur, dan Nandia menulis jawaban Fauza dengan cepat.


"Okee udah yah, Fauza kamu kumpulin semua buku nya ayo ikut ibu bawa ke meja ibu yah," ucap Bu Susi dan Fauza pun mengangguk.


"Udah woy, cepetan yang belom nyontek aja kelamaan ntar keburu marah ibu Susi nya," ujar Fauza dan sekarang satu kelas sedang sibuk menyontek.


Setelah selesai Fauza pun mengumpul kan semua buku matematika milik teman nya dan membawa nya keruangan Bu Susi.


"Ini udah semua Fauza?" Tanya Bu Susi.


"Udah kok Bu,"


Tiba-tiba ada suara ramai-ramai tak jauh dari meja Bu Susi, ternyata ada anak OSIS yang sedang di berikan arahan oleh pak Dani.


Mata Satya dan Fauza bertemu, lihat itu di samping Satya ada perempuan! Yah Fauza ingat betul dia adalah perempuan yang terus menerus mengejar-ngejar Satya.


"Oh iya Fauza sampaikan ke temen-temen kamu yah, Minggu depan kita ulangan harian," ucap Bu Susi.


"Iya Bu nanti saya sampai kan,"


"Ibuuu Susi yang baik, selamat pagi Bu," ucap Satya yang tiba-tiba datang kemeja Bu Susi.


Fauza hanya diam dan menatap nya, kenapa ia justru ke meja bu Susi bukan nya dia masih diberikan arahan oleh pak Dani?


"Pagi Satya, lagi sibuk yah ngurusin 17 san?" Tanya Bu Susi.


"Iya Bu sibuk banget nih,"


Satya pun menatap Fauza, "Kamu ngapain di sini? Ada masalah?" Tanya Satya pada Fauza.


"Kalian pacaran yah?" Tanya Bu Susi.


"Itu ibu tau, Fauza pacar saya jangan di apa apain yah Bu," ucap Satya yang menetap Bu Susi.


"Hmm gk akan ibu apa apain kalo pacar kamu gk bandel, kerjaan nya ngobrol aja terus juga ngeles terus kek bajai, udah gk ngobrol nih ntar malah ketawa-ketawa gk jelas sama Aprilia, Nur dan Nandia,"


Tamat lah riwayat Fauza, Bu Susi membongkar semua aib nya di depan suami nya sendiri, apa jadinya jika Satya tau, maka Fauza akan di hukum oleh nya.


"Ohh gitu yah Bu... Hmm saya yang akan kasih tau dia biar gk gitu lagi," ucap Satya yang menatap tajam Fauza.


"Ini kan urusan syaa udah selesai kan Bu, kalo gitu saya permisi dulu yah, misi Bu," ucap Fauza yang segera berlari menyelamatkan dirinya sendiri dari Satya.


"Aduh mampus gw ya ampun, lari Fauza lari hidup Lo aman ihhh Bu Susi mah make acara di kasih tau segala ke kak Satya, kalo gini cara nya gw bisa dihukum abis abisan," ucap Fauza yang berlari sambil megoceh..


"Awwww!!!"


Lihat gadis itu menabrak seseorang, "Ehh maaf kak saya gk sengaja,"


"Kamu gk papa kan?" Tanya nya


"Enggak kok, maaf yah,"


"Iyaa, jangan panggil saya kak, panggil saya pak aja, saya guru agama baru di sini," ucap nya


Pak? Yang benar saja ia terlihat sangat muda, dan tampan, bahkan aura nya saja sudah sangat berbeda, begini lah jika orang paham agama.


"Ehh emang iya kakak jadi guru di sini? Ehh maksud nya bapak," cengir Fauza.


"Iyaa, kamu kelas berapa?"


"Saya pak?"


"Ya siapa lagi kan cuman ada kamu sama saya di sini,"


Benar juga dasar Fauza bisa bisa nya memperlakukan dirinya sendiri.


"Saya kelas 11 IPS 3 pak,"


"Ohh oke, kalo gitu bapak permisi dulu yah, assalamualaikum," ucap nya dengan senyuman.


"Wa'alaikumussalam pak,"


"Manis banget ya Allah gk kuat, kok baru ketemu sekarang si kenapa gk dari dulu aja ya ampun," ucap Fauza yang tersenyum manis sambil menatap punggung guru baru itu.


Di kelas Fauza sedang menyuruh semua teman kelas nya agar diam dahulu karena ia kan menyampaikan sesuatu.


"Ada pesen dari Bu Susi, kata dia Minggu depan kita akan ulangan harian, jadi tolong belajar,"


Semua teman kelas Fauza langsung lesu mendengar ucapan Fauza.


"Gw tau kalian sedih kan tapi mau gimana lagi, belajar belajar aja dulu meskipun gk nyambung,"


Fauza sangat tau apa yang di rasakan oleh para teman nya itu, tapi tak ada yang bisa mereka lakukan lagi bukan selain mengikuti ujian dengan baik.


Jam istirahat datang, dan lihat sekarang Satya masih sibuk berunding dengan para anggota OSIS.


"Kebiasaan banget, nanti sakit kalo gk makan," gumam Fauza yang membawakan bekal untuk Satya yang sudah ia siapkan tadi pagi.


"Nih kak,"


"Ini aja Satya,"


Fauza dan Reniva sama-sama memberikan makanan untuk Satya. Apa apaan perempuan itu! Ia pikir ia siapa? Satya adalah suami nya lalu kenapa dia ikut-ikutan memberikan nya makanan.


"Makasih sayang," ucap Satya yang menerima makanan dari Fauza dan mencium kening nya di depan semua orang.


Astaga apa yang Satya lakukan, pipi Fauza memanas dan sudah di pastikan pipi nya itu seperti kepiting rebus yang sangat merah.


"Kita bahas lagi nanti, gw mau makan dulu sama cewe gw," ucap Satya dan pergi bersama Fauza.


Sementara itu Reniva terbakar hebat melihat Satya yang lebih memilih Fauza dari pada dirinya.


"Gw kasih tau sama Lo! Mending Lo mundur sekarang sebelum Lo makin sakit lagi, mereka gk akan pernah bisa Lo pisahin sampai kapan pun, inget terus kata-kata ini di otak Lo," ucap Galang dan ia pun pergi ke kantin.


Mencintai tanpa di cintai adalah hal yang sangat menyakitkan, kenapa cinta itu datang jika memang tidak bisa di miliki.


Dan jika rasa itu hanya menimbulkan rasa sakit lalu untuk apa ia masih ada, kenapa rasa itu tak hilang langsung, justru dengan adanya rasa itu akan membuat hati semakin sakit.


Sangat di sayangkan bukan, kita bisa mencintai seseorang dengan begitu cepat tapi tidak bisa melupakan orang itu dengan cepat.


...~•.🍬🍬🍬.•~...


HEY TERIMAKASIH SUDAH MEMBACA


TAPI TOLONG LIKE AND COMEN NYA YAH


THANKS


SEE YOU