My Husband

My Husband
Bab 38



#MY_HUSBAND


#PART_38


بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم


Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh


Hay Gaeyss ....


Vote+komen ya😁


___________________


🌻Happy reading🌻


Hari ini hari terakhir Aza ujian dan sesuai yang dikatakan sang kepala sekolah kalo masala kemarin tidak akan dibahas lagi, terbukti saat Aza dan Zhafran turun dari mobil bersama dan saling bergandengan tangan.


Tatapan yang kemarin menatap sinis, kini menjadi tatapan kagum dan baper melihat betapa perhatiannya Zhafran saat membukakan pintu untuk istrinya saat mereka akan turun dari mobil.


"Belajar yang benar," ujar Zhafran pada Aza setelah sampai didepan kelas gadis itu.


"In syaa Allah, Mas."


"Semalam Adek masih bisa lolos, tapi lain waktu tidak akan lolos lagi," tutur Zhafran membuat Aza menggidik ngeri, pasalnya semalam suaminya itu meloloskan dirinya dari tanggungjawab karena memiliki alasan yang bangus, yaitu ujian.


"Aza masuk dulu." Aza meraih tangan suaminya untuk salim. Dia ingin menghindari suaminya yang tiba-tiba aneh seperti ini.


" ... Dah." Aza masuk kedalam kelasnya meninggal Zhafran yang masih berdiri di luar kelas dengan tersenyum tanpa sadar banyak siswi yang menatap dan meleleh karenanya.


Sedangkan disisi lain, Ali baru saja terbangun dari tidurnya. Pria tampa itu kembali tertidur setelah melakukan solat subuh di kamar tamu milik Zhafran.


"Astaghfirullah aladzim," ujarnya saat menyadari kalo dirinya ketiduran.


Ali langsung melirik jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 07:30 pagi.


"Pasti Gus ama Ning udah berangkat," ucapnya.


Ali beranjak dari tempatnya dan masuk kedalam kamar mandi untuk melakukan ritualnya mandinya.


Pagi ini dia akan kembali ke pesantren, tugasnya pasti sudah menunggu kedatangannya.


"Ane mandi lagi deh," ujarnya berjalan kearah kamar mandi.


Sebenarnya dia sudah mandi sebelum subuh, tapi karena ketiduran dia harus mandi ulang, karena perasaannya belum mandi sama sekali.


Setelah beberapa saat pria tampan itu sudah melakukan ritual mandinya dan sudah mengganti pakaiannya bersiap untuk kembali ke pesantren, tapi sebelum itu dia sarapan dulu, mana mungkin dia berangkat dengan perut keroncongan.


Saat berjalan kearah dapur, Ali melihat sebua kertas kecil diatas meja makan.


Dia langsung meraih dan membacanya ternyata ini untuknya dari pasutri tersebut.


"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Al, selamat pagi, semoga tidurmu nyenyak. Afwan, Al, kami sudah berangkat lebih dulu, tapi kamu jangan khawatir, Ana sudah menyiapkan sarapan untukmu, hehehehe.


Salam Aza cantek sejagat raya, istirnya Gus Zhafran yang tampan.


Awalnya Ali terharu karena pasutri itu perhatian padanya. Namun, dia langsung ingin muntah setelah membaca kalimat terakhir.


"Cantikan Uswa kemana-mana," ujarnya sembari duduk di kursi bersiap untuk makan.


"Sekarang gadis itu lagi ngapain iya,"


Ali ingin menghubungi Uswa, tapi ponselnya keburu berdering menandakan panggilan masuk.


"Mama ...!" lirihnya saat melihat siapa yang sudah meneleponnya.


Ali menghentikan niatnya untuk menghubungi Uswa dan menjawab panggilan dari sang Mama.


"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Mah," salam Ali setelah mengangkat panggilan tersebut.


"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh, Al, kamu bisa kesini nanti malam?" tanya Rena tanpa basa-basi meminta Putra sulungnya untuk datang kerumahnya.


Ali terdiam sejenak untuk berpikir. Alamat orang tuannya tidak jauh dari apartemen Zhafran jika naik kendaraan.


''Al?" panggil Rena saat tidak mendapatkan respon dari sang putra.


"Hah ... iya, Mah?" tanya Ali.


"Kamu lagi sibu iya, Nak?" tanya Rena.


"Alhamdulillah tidak, Mah," jawan Ali.


"Kamu bisa ke rumah mamah nanti malam?" tanya Rena.


"In syaa Allah, boleh, Mah, lagian Ali ada di apartemen Gus Zhafran untuk silaturahmi, tidak jauh dari alamat Mama," jawab Ali seadanya.


"Alhamdulillah kalo gitu Mama tunggu iya," ujar Rena dengan terdengar sangat bahagia.


"In Syaa Allah, Mah."


"Mama tutup dulu, assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh," salam Rena mengakhiri panggilannya.


"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh," jawab Ali.


Tut ....


Tut ....


Tut ....


Sambungan terputus.


Ali menatap ponselnya. "Jalan-jalan ke rumah Mama gak apa-apa kali, Ane juga mau liat seperti apa rumah yang akan Ane tempati nanti."


***


Uswa meneteskan air matanya saat mengingat perkataan terkahir ayahnya tentang perjodohannya dengan Azka yang sudah di putusan Rena dan pak Riyan yang akan di langsungkan besok pagi, karena hari ini Azka masih melakukan ujian terakhir.


Sedangkan Uswa mengurung dirinya didalam kamar tamu dikediaman ibu Rena.


"Ya, Allah ...!" lirih Uswa memeluk lututnya sembari menangis diatas ranjang.


Uswa tidak tau harus berbuat apa saat ini. Dia ingin menolak perjodohan konyol ini, tapi keluarga Azka sudah sangat bahagia tidak sabar menyambut pernikahan ini membuat Uswa tidak enak untuk menolaknya.


Tok ....


Tok ....


Tok ....


Dengan cepat Uswa menghapus air matanya dan turun dari ranjang kemudian berjalan kearah pintu.


KREK ....


Uswa membuka pintu tersebut dan langsung bertatapan muka dengan Rena yang sedang berdiri diambang pintu menampilkan senyuman bahagianya dan membawa sebuah nampan berisi roti dan segelas susu hangat.


"Tante!" lirih Uswa.


Rena tersenyum kemudian masuk kedalam. "Sarapan dulu, Nak."


Uswa tidak tau harus berperilaku seperti apa, sejak kemarin Ibu Rena memperlakukan layangnya seorang putri.


"Sini," panggil Rena saat melihat Uswa masih berdiri di ambang pintu tidak bergeming sedikitpun.


Uswa berjalan kearah Rena dengan sedikit kaku, bagaimanapun Rena adalah majikan, ini semua terasa aneh bagi Uswa.


Rena tersenyum tipis dan menuntun Uswa agar gadis 15 tahun itu duduk di pinggir ranjang.


"Mama buatkan sarapan untuk kamu, dimakan iya, kalo tidak Mama sedih loh."


"I–iya, Tan—"


"Bukan Tante, sayang, tapi Mama, mulai sekarang kamu harus memanggil Tante sebutan Mama," potong Rena.


"T–tap—"


"Tidak ada tapi-tapian, sekarang waktunya sarapan."


Uswa hanya mengangguk dan meraih roti yang piring dan memakannya.


"Uswa," panggil Rena sembari duduk di samping Uswa.


"Iya, tan ... eh, Mah."


"Mama tau ini sangat sulit untukku." Rena mengelus kepala Uswa yang tertutupi jilbab. "Tapi, cobalah menerima takdir Tuhan yang sudah takdirkan untukmu."


Uswa menghentikan kunyahan setelah mendengar perkataan Ibunya Azka.


"Putra Mama memang agak berbeda!" lirih Rena dengan wajah sedihnya. "Tapi percayalah, Sayang, dia akan menyayangimu lebih dari hidupnya."


"T–tapi, Mah, Uswa tidak mencintai Azka!" lirih Uswa yang masih di dengar oleh Rena.


"Mama tau, mana mungkin gadis sebaik dirimu mencintai cowok seperti Azka." Rena terkekeh kecil.


Uswa langsung tertunduk. "Uswa gak sebaik itu, Mah. Uswa masih banyak kekurangan yang harus Uswa perbaiki.


"Mama melihat perubahan Azka saat kamu ada di rumah ini. Perubahan yang cukup besar, dulunya dia tidak pernah pulang kerumah, tapi sekarang dia jarang keluar rumah." Rena menghapus air matanya yang tiba-tiba terjatuh dari pelupuk matanya saat mengingat kelakuan putranya selama ini.


"Uswa." Rena meraih tangan Uswa. "Mama mohon, terima Azka menjadi suamimu."


***


Jam 12:00 siang.


"Ali belum balik ke pesantren?" tanya Aza saat melihat mobil Ali masih terparkir di tempatnya.


"Mungkin," jawab Zhafran. "Ayo masuk."


Suami-istri itupun masuk kedalam lift dan memencet tombol untuk sampai ke tempatnya.


"Bagaimana ujiannya terkahir nya?" tanya Zhafran pada Aza.


"Alhamdulillah, lancar."


"Masalah yang kemarin?" tanya Zhafran lagi.


"Hmmm selesai,"


"Adek mau ikut acara kelulusan nanti?" tanya Zhafran.


"Malass, mending kita ke pesantren, Aza udah kangen ama Umi dan Abi," tutur Aza sembari menyenderkan kepalanya ke lengan Zhafran.


Zhafran hanya tersenyum dan mengecup kepala sang istri.


Setelah beberapa detik merekapun sampai.


Krek ....


Aza langsung membuka pintu apartemennya dan ternyata Ali masih ada di apartemen ini saat Aza melihat siapa yang sedang menonton tv sambil ngemil.


"Astaghfirullah aladzim, ustad masih disini?" tanya Aza.


"Wa'alaikumussalam," sindir Ali membuat Zhafran terkekeh dan Aza sedikit geram.


"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh," salam Zhafran.


"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh," jawab Ali.


Tanpa membuang waktu Aza langsung kedalam kamarnya untuk mengganti pakaiannya, sedangkan Zhafran duduk sebentar di sofa bersama Ali.


"Kenapa belum balik, Al?" tanya Zhafran heran karena Ali semalam memutuskan untuk balik pagi ini, tapi ternyata tidak jadi.


"Enteh ngusir Ane?" tanya Ali.


"Astaghfirullah aladzim, tid—"


"Jahat banget Ente, Gus."


Zhafran hanya menggeleng.


" ... Mama Ane nelpon, dia meminta Ane untuk datang ke rumahnya malam ini," lanjut Ali dengan wajah kusutnya.


"Kamu tau dimana alamatnya?" tanya Zhafran.


"Alhamdulillah, tau."


TBC