My Husband

My Husband
Bab 26



#MY_HUSBAND


#PART_26


بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم


Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh


Hay Gaeyss ....


🌻Happy reading🌻


"Tempat paling indah adalah surga, dan kita butuh nakhoda yang tepat untuk bisa sampai kesana."


(AZA SHAKILA)


"Pagi, Yah," sapa Uswa. Gadis 15 tahun itu sedang sibuk menyiapkan sarapan ala kadarnya, nasi goreng dan telur dadar.


Setelah solat subuh, Gadis itu bergegas ke dapur dan membuat sarapan sederhana tersebut.


"Uhuk ... uhuk ..., Pagi, Nak," jawab firman.


"Ayo duduk, Yah. Kita sarapan dulu." Uswa menarik kursi kayu yang biasa mereka gunakan untuk duduk saat sarapan.


"Uswa, uhuk ... uhuk," panggil Firman setelah duduk.


"Iya, Yah," jawab Uswa tanpa melihat kearah Ayahnya.


"Ayah sudah bicara dengan pak Alwi, kepala sekolah madrasah Aliyah tentang kamu semalam, dan dia setuju dan menerima kamu, uhuk ... uhuk ..., untuk sekolah di sekolahnya."


Uswa menghentikan gerakan tangannya yang ingin meraih piring setelah mendengar perkataan Ayahnya.


"Uswa tidak mau sekolah, Yah," ujar gadis itu setelah terdiam beberapa menit. "Uswa akan cari pekerjaan."


"Pendidikan itu penting, Nak. Kamu gak boleh berhenti begitu saja."


"Pendidikan memang penting, Yah, tidak harus memaksakan keadaan seperti ini. Uswa bisa berjalan tanpa duduk di bangku sekolah, Yah."


Uswa mencoba tersenyum ke arah ayahnya untuk meyakinkan kalo dirinya benar-benar tidak membutuhkan sekolah, walaupun hati kecilnya menjerit menolak keputusannya, tapi mau bagaimana lagi, keadaannya saat ini sangat tidak mendukung. Makan sehari-hari aja sangat sulit, jadi dia memutuskan untuk bekerja paru waktu.


"Maafin ayah, Nak." Mata firman berkaca-kaca menatap putri. "Ayah bukan orang tua yang baik."


"Udah, Yah. Sebaiknya kita sarapan, nanti nasgornya dingin."


"Kapan kamu mau cari kerja, Nak?" tanya Firman.


"Mulai hari ini, Uswa akan mencari pekerjaan, Yah."


"Jangan cari pekerjaan yang terlalu berat, nanti kamu gak punya waktu untuk belajar."


"In Syaa Allah, Yah."





"Syukron katsiron, Mas Zhafran ganteng, baik, soleh." Senyum Aza mengembang


"Makin pintar aja, siapa yang ajarin?" tanya Zhafran sembari tersenyum dan melepaskan sabuk pengaman mobil, seat belt di tubuh istrinya.


"Suaminya Aza."


Zhafran menatap istrinya dengan tatapan berbinar setelah melepaskan sabuk pengaman. "Kenalin dong ke Mas suaminya."


"Hmmm, namanya ABIDZAR ZHAFRAN AL-GHIFARI, nama panggilannya di pesantren Gus Zhafran, tapi aku manggilnya Mas, orangnya ganteng, tinggi, putih mancung, matanya agak-agak sipit, tapi gak terlalu, alisnya tebal, pipinya agak tirus, tapi gak terlalu, hmm ... apa lagi iya." Gadis itu meletakkan jari telunjuknya ke bibirnya sembari menatap wajah suaminya yang masih berada di hadapannya sangat dekat, saking dekatnya Dia dapat merasakan nafas Suaminya dan aroma mit.


"Apa lagi?" tanya Zhafran menatap mata istrinya. "Hmmmm."


Aza mengangkat tangannya dan mengelus blbir Suaminya seraya tersenyum menggoda membuat pipi Zhafran seketika memerah hanya karena senyum. "Ini bikin candu."


"Astaghfirullah aladzim." Zhafran langsung mundurkan badannya agar kembali pada posisinya.


"Hahahaha, Mas Zhafran lucu, liat tuh wajah udah kaya tomat, merah banget." Tawa gadis itu seketika pecah dan menghiasi ruang mobil mereka sembari menunjuk kearah wajah suaminya.


"Masuk sana, udah jam tujuh, nanti telat," usir Zhafran.


"Iih, gitu aja ngambek." Aza menyodorkan tangannya meminta sesuatu.


"Ini." Zhafran meletakkan selembar uang ketangan Istrinya.


"Aza gak minta uang," ujar Aza.


"Terus?"


"Salim, Gus Zhafran yang soleh."


"Ohh." Zhafran menyambut tangan Istrinya.


"Dah, Aza sekolah dulu pak suami, baik-baik iya di rumah, jagain kitti," ujar gadis itu sambi membuka pintu mobil.


Zhafran menurutkan kaca mobil setelah Aza sudah diluar.


"Belajar yang baik, jangan dekat-dekat sama laki-laki manapun, ingat, kamu udah jadi istri."


"Aza gak janji," ujar gadis itu dengan sengaja, dia ingin mengerjai suaminya itu. "Soalnya mereka ganteng-ganteng, apalagi raja."


"Sayang ...!"


"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Suaminya Aza, dahhhhh ...." Gadis berlari kecil sambil melambaikan tangannya pada Zhafran.


"Jangan lari-lari, nanti jatuh, De—"


Bruk ....


Belum juga Zhafran menyelesaikan ucapannya gadis itu sudah terjatuh.


Melihat istrinya merintih kesakitan membuat Zhafran ingin buru-buru menghampiri sang istri.


Namun, pergerakannya berhenti saat melihat seseorang yang sudah membantu istrinya, tapi dia langsung memasang wajah masamnya saat melihat siapa yang sudah membantu istrinya.


"Dasar, bocah ingusan, awas aja!" geram Zhafran.


Dengan malas Zhafran mengamati apa yang terjadi diluar sana.


Sedangkan ditempat yang sama diwaktu yang sama. Aza meringis kesakitan karena kecerobohannya.


"AWWWW ...!" ringis Aza saat merasakan bok0ngnya menyentuh permukaan tanah.


"Kamu gak apa-apa?" tanya cowok yang sudah berdiri di hadapannya dengan penampilan yang berantakan seperti biasa.


"Raja ...!" lirih Aza.


Gadis itu langsung menoleh kearah mobil suaminya yang masih terparkir.


'Semoga Mas Zhafran gak marah,' batin Aza merasa cemas. 'jangan sampai ada masalah lagi, masalah rahma aja belum kering. Ujian pernikahan emang bedah,' lanjutnya dalam hati.


Tanpa sadar Aza sudah bangun dari duduknya dibantu oleh raja.


"Za, ada yang luka gak?" tanya Raja sekali lagi.


Cowok tampan yang digemari seantero jagat sekolah ini menatap Aza penuh intens dan itu membuat hati seseorang terbakar api cemburu.


"Eh ... astaghfirullah aladzim." Aza langsung mundur kebelakang setelah menyadari kalo posisinya dan Raja sangat dekat.


'adu ...! mampus Lu Za,' batin Aza.


Aza langsung pergi meninggalkan Raja yang kebingungan.


"Aneh banget sih," ucap Raja setelah melihat Aza pergi gitu aja.


"Seperti biasa, Bos kita ditolak," ujar Devan sembari menepuk-nepuk pundak Raja. "Sabar, dia akan lulu, tapi butuh waktu."


"Ngapain sih Lo ngejar dia mulu, emang gak ada cewek lain gitu?" tanya Azka.


"Kalo hati sudah menemukan pelabuhannya, sangat sulit untuk kembali berlayar," ujar Raja penuh penghayatan.


"Di luar sana masih banyak cewek cantik, apalagi di club', Lo bebas, tinggal tunjuk mau yang mana," tutur Azka seraya tersenyum.


Diantara sahabat Raja yang suka main ke club' adalah Azka, jadi mereka tidak perlu heran lagi saat sahabatnya ini sering mengeluarkan kata-kata kot0r dan menjij1kan di dunia kelam itu.


"Cantik, tapi kaya SCTV, satu untuk semua," timpa Zean, Sahabatnya Raja yang paling soleh.


"Salome," ujar Arga sebelum beranjak dari tempatnya.


"Woi ..., Ga, artinya apa?" teriak Devan.


"Satu lob4ng rame-rame," ujar Azka enteng tanpa beban.


"Astaghfirullah aladzim," yang Zean.


'Sepertinya saya salah jalur, iya Allah, maafin Zean. Abi, Umi, telinga Zean sudah tidak suci lagi," batin Zean.


"Ka' Lo udah ke tempat itu?" tanya Raja pada Azka.


"Udah, tapi dia udah pergi," jawab Azka.


"Maksudnya?" ujar Raja tidak mengerti.


"Dia sudah keluar,"


"Ciee ... wakil ketua galau ni," ejek Devan.


"Siapa?" tanya Zean menatap kearah Azka. "Jangan bilang Lu ke pesantren nyariin Uswa?"


"Wah ... gila Lu, Az."


"Cinta memang gila, Bro," ujar Azka. "Saking gilanya Gua gak tahan lagi untuk pergi ke club'."


Zean melipatkan tangannya ke dadanya sembari menatap tajam kearah Azka. "Gue yakin 100% kalo gadis itu tidak akan mau sama Lu."


"Kenapa?" tanya Azka tidak terima dengan perkataan Zean.


"Lu bukan anak kecil lagi, pasti Lu tau maksud Gue."


"Maksud Lo, Gua gak pantas gitu?" tanya Azka marah pada Zean.


Krik ....


Krik ....


Krik ....


Bel masuk berbunyi, semua siswa berhamburan masuk ke gedung sekolah untuk menuju kelas.


"Lu berdua gak usah bertengkar, no udah masuk," lerai Devan.


"Gue mau bolos," ujar Azka.


"Oke lah, terserah Lu," sahut Devan. "Ayo, Zean, kita masuk."


"Ayo,"


Dua sahabat itupun pamit dari Raja dan masuk kedalam.


Sedangkan Raja yang sedari tadi diam menyimak pertengkaran Sahabatnya itu menepuk pundak Azka. "Perkataan Zean ada benarnya."


"Maksud Lu, gue gak pantas gitu sama Uswa?" tanya Azka.


"Gue belum pernah liat Uswa kaya gimana, secantik apa, tapi Gue yakin Uswa bukan gadis yang sering kamu bawah ke hotel," tutur Raja. "Lo kenal Zean kan? Dia yang paling faham tentang agama diantara kita, gue yakin, dia tau betul tipe cewek kaya Uswa itu gimana."


Azka hanya diam mendengar ucapan Raja.


"Gue tau, Lu kaya gini agar nyokap dan bokap Lu sadar kalo Lu butuh kasih sayang mereka, bukan hanya uang mereka."


"Gue mau bolos, gak usah izinin Gue."


"Oke."


•••


Ali duduk termenung di dalam mushola. Pertemuan dengan Anak remaja yang pernah membantunya dalam masalah Zhafran masih terngiang-ngiang di kepalanya.


••••Flashback••••


Ali menatap kearah cowok yang baru saja turun dari motornya besarnya dengan pakaian layaknya seorang preman pasar tapi masih terlihat sangat tampan tidak seperti preman yang sebenarnya.


"Lu cowok itu kan?" tanya Azka setelah berdiri di depan Ali.


"Iya, Ente teman sekolahnya Aza kan?"


"Iya,"


"Oh, Aza udah gak disini lagi, dia sudah pergi ke rumahnya bersama sua—"


"Gue datang bukan untuk itu," potong Azka.


"Ayo masuk dulu, kita ngobrol di dalam aja, gak enak ngobrol di luar," ajak Ali


"Gue cuman mau nanya, cewek yang bernama Uswa di mana iya?" tanya Azka.


Ali langsung menatap kearah Azka penuh curiga dan bertanya-tanya tentang cowok yang ada didepannya.


"Ente tau dimana nama itu?" tanya Ali.


"Gue tau dari Aza," ujar Azka tidak berbohong.


Dia mengetahui nama Uswa sejak malam itu dia langsung menghubungi Aza lewat chat dan menanyakan nama Uswa.


"Istrinya Zhafran benar-benar ...!" geram Ali dalam hati.


"Ente ada hubungan apa dengan Uswa?" tanya Ali.


"Hmmm, Gue gak punya hubungan apa-apa," jawab Azka santai.


"Terus, kenapa Ente mencarinya?"


"Gus naksir ama tuh cewek."


"N–naksir?"


"Iya, Gue mau dia jadi pacar Gue, kalo perlu Gue jadiin Istri."


Seketika hati Ali terbakar api cemburu, rasanya dia ingin memukul wajah Azka sampai babak belur agar tidak dikenali lagi, tapi dia tahan agar tidak merusak nama baik pesantren.


"Dia sudah tidak tinggal disini," ujar Ali tiba-tiba dingin.


"Lo tau die kemana?" tanya Azka.


"Gak," jawab Ali singkat dan jelas.


'kalo pun Ane tau, gak akan ngasih tau Ente, enak aja, uswa itu milik Ane,' batin Ali.


"Geu cabut dulu, dah," pamit Azka


"Hmm."


•••Flashback end•••


"Bismillahirrahmanirrahim, semoga aku dapat pekerjaan," ujar gadis 15 tahun itu sebelum keluar dari rumahnya. "Semangat, Uswa."


Gadis itu menyemangati dirinya sebelum keluar dari rumahnya untuk mencari pekerjaan.


"Uswa?" Panggil Firman. "Kamu udah mau berangkat?"


"Iya, Yah. Doain Uswa biar dapat pekerjaan yang bagus."


"Ayah selalu mendoakan kamu, Nak."


"Uswa pergi dulu, Yah, assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh," salam Uswa.


"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh."


Uswa mengayuh sepedanya dengan semangat, dia yakin kalo Allah tidak akan membiarkan hamba-Nya mengalami kesulitan untuk mencari nafkah.


Sedangkan disisi lain, kelas Aza gempar karena kabar kalo guru killer yang bernama pak Pardi tidak akan masuk, tapi di gantikan oleh seseorang.


"GAYSSS ...!" teriak Dewi, salah satu gadis bar-bar dan cerewet di kelas Aza sekaligus admin grup lambe turah di sekolahnya.


Semua yang ada dikelas seketika terkejut mendengar teriakan Dewi yang tiba-tiba datang.


"Dewi yang cantik dan s3ksi, Lu bisa gak usah teriak? suara Lu itu bikin telinga Gue rusak," ujar Devan.


Dewi berjalan kearah Devan lalu duduk diatas meja sembari melipatkan kaki jenjangnya.


"Gue emang cantik, tapi sayangnya sahabat Lu gak naksir ama Gue."


Gadis itu melirik kearah Arga. Pria itu dingin itu tidak mempedulikan sekitarnya dia hanya sibuk dengan handphonenya.


"Lo turun dari meja Gue, merusak pemandangan aja Lu."


"Gue bawah berita baik," ujar Dewi, gadis itu berjalan kearah depan. "Pak Pardi tidak masuk, tapi ...."


Semua orang menatap Dewi yang sengaja menggantungkan ucapannya.


"Woi ... Wi ...!" teriak Aza kesal dengan sahabatnya itu.


Iya, Dewi adalah sahabatnya selain safha sekaligus teman sebangkunya.


"Sabar, Za."


"Lama-lama Gue patahin ginjal Lu."


"Tapi, dia sudah digantikan oleh guru baru," ujar Dewi.


"Iyaaaaahhh ...!" seru semua siswa yang ada di dalam kelas.


"Kirain kita gak belajar," ujar Devan. "Lain kali, Lu gak usah bawah berita kaya gini."


"Ini kabar baik untuk para ciwi-ciwi yang suka coga—"


Tok ....


Tok ....


Tok ....


"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, anak-anak?" salam seorang guru sembari berjalan kearah meja guru. Sedangkan Dewi langsung duduk di kursinya.


"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh, Pak," jawab semua murid kecuali Arga.


"Baiklah, pasti kalian sudah tau, kalo kak Pardi mengambil cuti karena istrinya akan melahirkan, tapi kalian tenang aja, kalian tetap belajar ko, karena sudah ada guru yang akan menggantikannya, Pak silahkan masuk."


Semua mata menatap kearah pintu, termasuk Aza. Gadis itu juga penasaran siapa yang akan menggantikan pak Pardi sementara.


TBC.