
#MY_HUSBAND
#PART_44
بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
Hay Gaeyss ....
Vote+komen ya😁
___________________
🌻Happy reading🌻
Jam 09:00 pagi.
Aza mendudukkan dirinya di kursi besi yang ada di taman sembari mengelus tenggorokannya yang tertutupi oleh kain berwarna hitam menjulur ke dada.
"Mas, Aza haus," ujarnya pada sang suami dengan wajah lelah karena baru saja jalan-jalan keliling taman.
"Mau mas belikan minum?" tanya Zhafran yang kini telah duduk di samping sang istri dan melayangkan tangannya ke atas kepala Aza dengan lembut.
"Iya lah, Mas!" kesal Aza. "Kan Aza haus. Ngapain tanya lagi.
"Ya udah, Humaira jangan marah-marah tidak baik. Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu berkata, seorang lelaki berkata kepada Rasulullah, 'Berilah aku wasiat.' Kemudian Beliau menjawab, 'Janganlah engkau marah.' Lelaki itu mengulang – ngulang permintaannya. Namun, Nabi selalu menjawab, 'Janganlah engkau marah (HR. Bukhari)"
Aza terdiam mendengar hadits yang di bacakan suaminya itu.
" ... Mas tidak melarang Adek untuk marah, karena marah itu sifat alami manusia jika dia tidak suka sesuatu yang terjadi padanya membuatnya terganggu dan tersakiti, tapi menahan amara itu lebih baik." Zhafran mengelus pipi istrinya.
"Maaf, Mas!" lirih Aza merasa bersalah karena sudah berkata kasar pada suaminya. "Aza memang istri yang buruk."
"Jangan ngomong seperti itu, Mas gak suka." Zhafran menatap istrinya dengan lembut. "Tunggu disini, Mas beli air untuk Adek."
Aza mengangguk. "Hati-hati, Mas."
Pria tinggi 1,85 itu beranjak dari duduknya untuk beli air minum. Sebenarnya mereka bawah air minum sendiri, tapi sudah habis. Jadi, mau gak mau dia harus beli air untuk sang istri.
Setelah beberapa menit kemudian Zhafran kembali dengan dua botol air mineral ditangannya.
Matanya memicing saat melihat siapa pria yang sedang berbincang-bincang dengan istrinya.
"Ck ... baru juga ana tinggal sebentar sudah ada yang berani mendekatinya, Dia tidak tau apa itu istri ana,"
Setelah mengatakan itu Zhafran mempercepat langkahnya agar cepat sampai pada sang istri.
"Assalamu'alaikum, Humaira," salam Zhafran tersenyum dan langsung melayangkan kecupannya di kening sang istri.
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh, Mas Zhafran," balas Aza sedikit terkejut saat mendapatkan kecupan ringan di keningnya.
"Ini airnya, Sayang." Zhafran menyodorkan satu botol air mineral kearah sang istri.
"Bukain," rengek Aza saat melihat botol tersebut masih tersegel kuat.
Zhafran mengalihkan pandangan setelah memenuhi permintaan istrinya kearah pria yang tadi bersama istrinya dan ternyata pria itu adalah raja.
"Khmmm ...!" Zhafran berdehem saat melihat tatapan raja tidak lepas dari istrinya yang sedang minum. "Allah berfirman dalam surah An-Nur ayat 30 sampai 31 yang artinya: “Katakanlah kepada orang-orang mukmin laki-laki: hendaklah mereka itu menundukkan sebagian pandangannya dan menjaga ***********.”
Raja langsung tersadar saat mendengar ayat yang disebut Zhafran tentang perintah menuduhnya pandangan.
"Astaghfirullah aladzim." Raja langsung menunduk.
***
"Mas, Aza masuk duluan iya?" izin Aza pada sang suami yang masih sibuk berbincang-bincang dengan beberapa pengurus santri saat mereka baru pulang dari taman.
Padahal dia dan Zhafran belum sampai ke rumah, tapi para pengurus pesantren menghalangi langkahnya, katanya ada hal yang penting dan ini darurat.
Mau gak mau Zhafran berhenti untuk melihat dan mendengar apa yang penting.
"Iya, Sayang," sahut Zhafran memberikan izin untuk Aza masuk duluan. Dia tau istrinya sudah sangat gerah habis dari taman. "Langsung mandi."
"In Syaa Allah." Aza pun melanjutkan langkahnya menuju ke Ndalem.
Namun, belum sampai di depan rumahnya, Aza teringat sesuatu yang ada di belakang rumah, mangga muda. Tiba-tiba keinginannya untuk menyantap mangga muda menggebuk-gebuk.
Membayangkan saja Aza sudah tidak tahan. Tanpa berpikir panjang dia langsung berjalan kearah belakang dengan semangat.
"Hari ini, kita akan berburu mangga, Sayang." Aza mengelus perutnya.
Aza menatap pohon mangga yang kini ada di depannya dengan buah yang begitu banyak membuat bibir Aza melengkung.
"Maa syaa Allah, rezeki istri solehah," ujarnya.
"Kalian mau memetik mangga dengan cara apa, Sayang?" tanya Aza sembari mengelus perutnya.
"Mau di lempar pake batu, dijolok atau di petik, Sayang?" tanya Aza dengan konyolnya.
"Apa? kalian pengen Umi manjat," kekeh Aza. "Baiklah, Umi akan memanjat demi kalian."
"Kalian tenang aja, Umi jago kok manjat nya." Aza melepaskan koas kakinya dan meraih ujung gamisnya kemudian dia ikat ke pinggangnya agar tidak jadi penghalang saat melakukan aksinya. Tak lupa pula jilbabnya dia lepaskan karena masih ada ciput yang menutupi rambutnya.
Pohon mangga yang ada didepannya tidak terlalu tinggi, bayangkan aja buahnya bisa di petik langsung. Namun, bumil kita yang satu ini memang beda.
***
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, salam Zhafran sebelum masuk kedalam rumah dan langsung di balas Umi dan Abi-nya yang sedang duduk di teras sambil menikmati secangkir teh.
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh," balas Halimah dan Rasyid.
Zhafran menyalami tangan mereka bergantian.
"Nak, istri kamu mana?" tanya Halima saat tidak menemukan menantunya.
"Aza belum sampai, Umi?" tanya Zhafran balik. "Tadi dia izin untuk pergi duluan."
"Umi dari tadi di rumah, tapi gak dengar Aza pulang," tutur Umi Halimah.
"Mungkin dia langsung ke kamar, Umi," ucap Zhafran.
"Mungkin aja, coba cek."
"Zhafran masuk dulu, Mi, Bi,"
Dengan langkah sedikit lebar Zhafran menuju kearah kamarnya.
Krek ....
Kosong, hanya kekosongan yang Zhafran dapatkan saat pintu sudah terbuka lebar, tidak ada tanda-tanda Aza berada di kamar tersebut.
"Sayang?" panggil Zhafran masih tenang.
KREK ....
Zhafran kembali membuka pintu kamar mandi berharap Aza ada didalam, tapi hasilnya nihil, tidak ada jejak Aza di kamar mandi.
"Dia gak ada di rumah!" lirih Zhafran sudah mulai panik.
Bagaimana tidak panik, Istrinya saat ini hamil, bukan satu bayi, tapi dua bayi yang ada dikandungnya.
"Humaira ...!" teriaknya berharap Aza menyahut.
"Ya ... Allah, istri hamba kemana?" tanya Zhafran dengan lirih.
Dengan cepat Zhafran meraih ponselnya dan menghubungi nomor Aza. Berdering, tapi tidak di angkat.
Zhafran mulai panik, dia langsung berlari keluar kamar dan menuju dapur untuk mencari Aza. Namun, di dapur hanya ada beberapa santriwati yang sedang melakukan aktivitas piketnya.
"Gus Zhafran!" lirih salah satu santri putri saat melihat Zhafran masuk kedalam dapur dengan wajah panik dan rambut acak-acakan.
"Ada yang bisa kami bantu, Gus?" tanya santriwati pada Zhafran.
"Apa kalian melihat istri saya?" tanya Zhafran.
"Tidak ada, Gus."
Zhafran pergi tanpa pamit dan mencari Aza di setiap sudut rumah, tapi dia tidak menemukan keberadaan istrinya.
"Umi, Bi, Aza gak ada di rumah ...!" lirihnya saat melihat Abi dan Uminya berjalan kearah dengan tatapan penuh tanya.
"Udah cari ke setiap sudut?" tanya Halima dibalas Zhafran dengan anggukan kepala.
"Seharusnya Zhafran gak biarin dia pergi sendiri," sesal Zhafran.
Pria itu meremas rambutnya frustasi. "Bodoh."
"Nak, jangan seperti ini, tenang, Nak. Sebaiknya kita cari Aza sampai ketemu, Umi yakin, dia tidak akan pergi jauh dari pesantren." Umi Halimah mengelus pundak sang putra.
"Zhafran gak bisa tenang Umi." Pria itu menyapu wajahnya dengan telapak tangannya. "Zhafran harus cari Aza, sekarang!"
"Istighfar, Nak. Percaya sama Umi Aza akan baik-baik saja,"
"Bagaimana kalo Aza di bertemu dengan Rahma ataupun Rani, Umi?" tanya Zhafran semakin panik. Dia tidak tau apa yang akan terjadi jika kejadian beberapa tahun yang lalu terulang kembali.
Pria itu berlari keluar dari rumah mencari Aza dengan penampilan acak-acakan. Sedangkan umi Halimah dan Kiai Rasyid ikut mencari dan meminta setiap santri yang di temuinya meminta tolong untuk mencari Aza, menantunya.
Satu pesantren sibuk mencari keberadaan Aza, baik santri putra maupun santri putri, Ustazah dan ustaz pun ikut mencari.
Termasuk Angkasa yang kini berjalan malas mencari Aza. Jika bukan karena Kiai dia tidak akan ikut mencari Aza.
"Ck ... Dia yang berulah satu pesantren yang kerepotan," decak Angkasa merasa jengkel.
"Kok pada sibuk? apa terjadi sesuatu?" tanya Ali yang mengangetkan Angkasa dari ocehannya.
"Lu balik lagi?" tanya Angkasa tidak sopan.
"Kalo di tanya, iya di jawab, jangan bertanya balik," sindir Ali.
Angkasa menatap Ali tidak suka. "Sesungguhnya orang yang paling utama di sisi Allah adalah mereka yang memulai salam. hadist Abu Dawud dan Tirmidzi,"
"Alhamdulillah, Ente sudah ada perubahan." Ali menepuk-nepuk punggung Angkasa.
"Dan Lu, makin tidak sopan, karena tidak mengucapkan salam,"
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, calon Ustad Angkasa," salam Ali mengalah.
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh," jawab Angkasa malas.
"Ini kenapa pada sibuk?" tanya Ali penasaran.
"Cewek gil4 itu hilang entah kemana," ujar Angkasa membuat Ali terkejut.
"Ning Aza hilang?"
"Hmmm."
"Ya, Allah."
***
"Humaira ...!" teriak Zhafran disetiap jalannya memanggil Aza berharap gadis itu mendengar panggilannya dan menyahut.
Namun, itu hanyalah harap Zhafran karena sampai saat ini Aza tidak menjawab panggilannya.
"Ya, Allah!" lirih Zhafran.
"Bi, Zhafran lapor polisi aja iya,"
"Jangan dulu, Nak, Aza belum cukup satu jam menghilang," tahan Kiai Rasyid.
"Tapi, Bi, istri Zhafran hilang dan tidak di temukan di manapun."
"Berdoalah, minta sama Allah agar Aza baik-baik saja."
Mata Zhafran berkaca-kaca.
Sedangkan di belakang rumah Aza sudah berada diatas pohon dengan posisi sangat nyaman dan aman, dia tidak takut jatuh.
Bumil itu mengigit satu mangga muda yang ada di tangannya tanpa takut terkena getahnya.
"Hmmmm ...." Aza menutup matanya menikmati mangga muda yang dia gigit. "Enaknya."
Lima menit menikmati kunyahnya membuat Aza mengantuk dan tampan sadar gadis itu sudah menutup matanya secara berlaha-lahan menuju ke alam mimpi dengan posisi memeluk batang mangga. Untung perutnya belum buncit.
Pegangannya masih kuat erat karena gadis itu masih memiliki kesadaran.
TBC.