
Hari H dimana Zanita akan wisuda dan Andra akan melakukan premiere film. Tim TCD pun akan ikut menyaksikan wisuda Zanita. Bagi mereka Zanita bukan hanya sekedar rekan kerja, mereka sudah seperti saudara. Maka dari itu mereka juga ingin ikut mengantar Zanita dalam acara kelulusannya tersebut.
Jangan lupakan Sekar yang sudah heboh dari tadi pagi. Ia sungguh sibuk mempersiapkan sang menantu agar tampil cantik. Sebuah kebaya berwarna mocca ia persiapkan untuk Zanita. Sekar juga memanggil seorang MUA untuk mendandani Zanita. Semua orang berkumpul di apartemen Andra. Termasuk Sella sang sahabat.
" Cantik banget sih menantu bunda yang satu ini."
" Jadi sekarang kami sudah tidak cantik bund?"
Sebuah suara membuat semua orang melihat ke arah pintu. Muncul dari sana Silvya dan Hasna bersama putra mereka Yasa dan Nataya. Kedua bocah berusia 3 tahun itu tiba-tiba berlari menuju ke arah Zanita. Semua orang tentu sedikit terkejut. Pasalnya baik Yasa dan Nataya belum pernah bertemu dengan Zanita.
" onti, apa dicini ada adiknya?"
" onti adiknya cewek apa cowok."
Meledaklah tawa semua orang melihat kelakukan dua bocah tersebut. Dika dan Radi hanya bisa menepuk kening mereka masing-masing.
" Sayang, nanti cewek apa cowok kalau sudah lahir mau diajak main emangnya?"
Yasa dan Nataya mengangguk. Mereka terlihat antusias, bahkan keduanya terlihat mengusap perut Zanita yang masih rata. Tatapan tajam langsung ditujukan sekar kepada Andra.
" Apa lagi bund?"
" Itu?"
" Belum bund, belum ngisi. Lagian bunda para krucil aja dipercaya."
Wawan dan Milah yang juga berada di sana, sunggu senang melihat bagaimana keluarga Dwilaga tesebut memperlakukan Zanita. Semua terlihat sangat baik dan saling menyayangi. Bahkan kakak dan kakak ipar Andra pun langsung datang menyalami dan mencium tangan Wawan dan Milah, sedikit terkejut sebenarnya karena mereka begitu humble dan sopan.
Tadinya baik Wawan dan Milah sudah over thinking terhadap keluarga kaya dan terpandang tersebut. Tapi semuanya berhasil dipatahkan saat melihat interaksi antar keluarga.
" Wisudanya orang kaya begini ya, rame banget kayak mau resepsian," celetuk Liam kepada Dio dan Bian.
" Lo bayangin aja, ini menantu pemilik universitas sama pemilik rumah sakit. Rame nggak tuh, heboh juga nggak tuh. Dan lo lihat itu dua menantu terdahulunya, yang satu CEO dan yang satu pemilik beberapa pusat perbelanjaan yang lo biasa suka tongkrong di sana."
Ucapan Bian hanya ditanggapi dengan anggukan kepala Liam dan Dio. Mereka sungguh takjub terhadap keluarga ini. Mereka bukan orang sembarangan tapi sikap mereka begitu low profile.
Semua sudah siap dan mereka mulai berangkat. Setidaknya ada 5 mobil yang keluar dari kawasan apartemen tersebut. Jangan ditanya mobil seperti apa yang mereka miliki, intinya mereka saat ini sudah berangkat menuju Universitas Nusantara.
Rupanya Aryo sudah berada di depan gedung yang digunakan untuk acara wisuda. Dia bersiap menjemput istri beserta anak menantu dan cucunya. Beberapa orang bertanya siapa gerangan yang ditunggu oleh si empunya kampus. Namun mereka hanya bisa diam dan tidak berani bersuara.
Rombongan mobil yang membawa keluarga Aryo itu pun sampai juga. Yasa dan Nataya langsung berlari menghampiri Aryo.
" Eyaaaang."
" Uhhh cucu-cucu eyang yang ganteng."
Aryo langsung memeluk lalu mencium Yasa bergantian. Semuanya turun dari mobil dan bergantian mencium tangan Aryo tak terkecuali pasangan pengantin baru tersebut.
" Cantik sekali menantu ayah."
" Astaga kak Silvya dari tadi hanya Zanita yang dipuji cantik. Kayaknya kita sudah tidak berlaku lagi."
" Hasna dan Silvya juga cantik. menantu Ayah cantik semua kecuali suami Rinjani."
Lagi, tawa mereka kembali meledak saat itu. Tentu saja apa yang diucapkan oleh Hasna dan Silvya hanya sekedar bercanda. Rombongan pengantar wisuda tersebut sungguh sangat ramai. Seseorang muncul dari dalam gedung dan memberitahu bahwa acara akan segera mulai. Keluarga pemilik universitas tentu memiliki tempat tersendiri di dalam. Radi kemudian memisahkan diri dari keluarganya dsn masuk kedalam jajaran profesor di sana. Sedikit terlambat memang tapi ia segera meminta maaf.
Rangkaian acara wisuda satu demi satu terlaksana. Hingga tiba saatnya nama-nama wisudawan dipanggil dan naik ke atas panggung untuk memindahkan tali toga sebagai tanda mereka sudah menyelesaikan pendidikan di bangku perkuliahan ini. Terlihat rasa bangga dan haru di wajah-wajah para orang tua yang menyaksikan putra-putrinya berhasil menyelesaikan pendidikan. Tak terkecuali Wawan dan Milah. kedua orang tua Zanita itu sungguh sangat bangga kepada putrinya yang dinyatakan sebagai lulusan terbaik.
" Ada satu hal yang ingin saya sampaikan di depan sini,"
Aryo meminta staf nya untuk menahan Zanita terlebih dahulu di atas panggung. Zanita tentu terkejut pun dengan semua orang.
" Dalam kesempatan kali ini, saya akan mengumumkan sebuah pengumuman resmi kepada seluruh hadirin. Di samping saya ini, ananda Zanita Yufarani adalah menantu saya. Dia adalah menantu saya dari putra ketiga saya Rafandra Suma Dwilaga."
Suasana menjadi sedikit ramai. Mereka tentu tahu kabar yang beredar di dunia maya. Tapi mereka tidak menyangka pemilik universitas akan memberikan pengumuman tersebut di atas panggung. Bukan tanpa alasan hal tersebut dilakukan , Aryo tidak ingin ada omongan buruk yang ditujukan kepada menantunya tersebut. Setelah Andra melakukan konferensi pers waktu itu Aryo mendengar omongan yang tidak enak di kampus. Dan pria paruh baya tersebut tidak menyukainya.
" Saya harap doa tulus dari anda semua untuk pernikahan putra dan putri kami."
***
Rupanya hari ini benar-benar akan diselesaikan dengan sangat lelah. Setelah usai acara wisuda kini Zanita dan Andra bersiap menuju ke bioskop tempat premiere film Mendadak Traveling. Zanita terlihat begitu lelah, Andra sedikit khawatir tapi Zanita mengatakan bahwa ia baik-baik saja. Juned pun bisa melihat wajah nyonya bos nya itu kelelahan.
" Sayang, di rumah aja lah. Nggak usah ikut ya."
" Aku nggak apa-apa bang. Beneran. Aku udah janji buat temenin abang."
Andra pasrah, ia akhirnya membiarkan Zanita untuk ikut. Juned kemudian melajukan mobilnya menuju ke bioskop yang sudah ditentukan. Tampak di dalam bioskop sudah ramai. Ada Vanka dan Raffan juga di sana. Zanita menemui Vanka dan mereka saling memeluk satu sama lain.
Film Mendadak Traveler di putar. Semua orang tampak puas melihat hasil dari film tersebut. Terlebih para kru dan pemainnya. Suara riuh tepuk tangan membahana di dalam gedung bioskop saat kata selesai muncul di layar bioskop.
" Alhamdulillaah, terimakasih saya ucapkan untuk semua orang yang terlibat dalam film ini. Terimakasih saya ucapkan sebesar-besarnya untuk Andra Suma karena beliau berkenan tampil di film ini. Apakah mau mengucapkan sesuatu."
Semua tim film Mendadak Traveling saat ini berdiri di depan. Termasuk Andra juga. Hunang memberikan mikrofon kepada Andra.
" Tidak banyak yang saya ingin ucapkan. Terimakasih sebelumnya kepada semua yang sudah bekerja keras. Dan sebenarnya saya bisa ikut andil dalam film ini karena satu orang. Istri saya, Zanita. Dia lah yang membuat saya mau ikut bermain di dalam film milik sahabat saya Hunang Tyobrahma. Terimakasih istriku."
Semua mata tertuju pada Zanita. Riuh tepuk tangan kembali membahana. Terlebih saat Zanita diminta berdiri. Tapi seketika semua orang pun terkejut. Zanita yang saat berdiri tiba-tiba pingsan. Beruntung ada Juned di sebelah Zanita. Andra panik, ia pun langsung berlari membawa Zanita ke luar. Suasana di bioskop berhasil ditenangkan oleh Hunang.
" Ned langung ke rumah sakit. Telpon mas Dika. Dia kayaknya jaga malam. sayang ... Kamu kenapa. Aishhh tadi bener nggak usah ikut Za."
Juned mengikuti perintah sang bos. Juned pun ikutan panik. Tapi pria berusaha tenang. Jika semua panik nanti malah terjadi hal yang tidak diinginkan.
" An, Za kenapa?"
" Nggak tahu mas. Tiba-tiba aja pingsan."
Sesampainya di rumah sakit Dika langsung membawa Zanita ke ruang penanganan. Tadi saat menerima panggilan Juned kebetulan Dika sedang ada di ruang IGD. Jadi ia langsung menghadang adik dan adik iparnya tepat di depan pintu depan ruang IGD.
" Mas gimana Za. Nggak kenapa-napa kan. Laah malah senyam-senyum nggak jelas. Istriku itu kenapa pingsan. Malah cengar-cengir."
" Hahaha, seneng bener gue ngerjain lo gini. Sorry. Bentar lagi Nataya sama Yasa punya temen baru."
Andra masih tidak mengerti apa yang diucapkan oleh Dika. Otak Andra sedang loading saat ini, hingga sesaat kemudian pria itu berteriak. Terang saja Dika langsung membungkam mulut sang adik.
" Bener mas?"
Dika mengangguk lalu menyuruh Andra untuk masuk ke dalam. Andra langsung memeluk Zanita dan menciumi seluruh wajah sang istri. Tak lupa ia juga mencium perut istrinya yang masih rata itu.
" Terimakasih sayang. Terimakasih banyak."
" Kita akan jadi orang tua bang. Beberapa bulan lagi."
" Ya, aku tahu sayang. Terimakasih. Aku mencintaimu istrimu."
" Aku juga mencintaimu suamiku."
Andra kembali mencium kening istrinya. Keduanya tampak sangat bahagia. Hidup mereka berubah selama 3 bulan. Waktu yang begitu singkat tapi juga sungguh banyak yang terjadi. Rupanya Tuhan punya cara tersendiri untuk menjalankan takdir para hambanya.
Kebencian, pengkhianatan, penyesalan, kebahagiaan, semuanya berjalan silih berganti. Tidak ada yang abadi. Roda itu berputar, kehidupan pun sama seperti itu. Selalu ada hikmah dalam setiap kejadian.
...SELESAI...
Yeaaay akhirnya selesai juga. Terimakasih untuk semua readers yang sudah mendukung author. Semoga puas dengan akhir ceritanya.
See you readers. Sampai jumpa di karya othor yang lainnya.
Terimakasih, matursuwun, hamsaimnida.
...SALAM SAYANG...
...AUTHOR IAS...