My Haters To Be My Wife

My Haters To Be My Wife
HW 33. Restu dan Ibu Aisyah



Restu yang masih tidur subuh itu tiba-tiba tubuhnya digoyang-goyangkan oleh beberapa anak. Ia hanya bergerak dan mengubah posisi tidurnya. Namun anak-anak itu semakin keras menggoyangkan tubuhnya sambil memanggil nama Restu.


" Bang, Bang Restu bangun bang. Bang bangun!"


" Bang Restu bangun, ibu bang. Ibu pingsan bang!"


" Baaaang banggguuuun!"


" Astagfirullaah."


Restu langsung bangun, ia sejenak mengucek matanya untuk menghilangkan rasa buram saat melihat. Ia lalu mengarahkan pandangan ke arah bocah-bocah di sebelahnya.


" Ada apa dengan ibu?"


" Ibu Aisyah pingsan bang. Ia jatuh di lantai, tadi saat kami mau ngebangunin ibu dia udah ada di lantai."


Seorang anak mulai terisak. Restu pun langsung bangkit dan berlari menuju ke kamar wanita yang dipanggil ibu Aisyah tersebut. Terlihat dua orang remaja yang sedikit lebih besar tengah berusaha membangunkan Ibu Aisyah tapi sepertinya tidak berhasil. Remaja seusia anak SMP dan SMA itu terlihat sudah menangis ke arah Restu.


" Bang, ibu bang. Ibu Aisyah nggak bangun-bangun."


" Nia, Nisa, Angkat ibu ke punggungku aku akan membawa ibu ke rumah sakit."


Remaja yang bernama Nia dan Nisa itu mengangguk mengerti. Dengan sedikit berusaha keduanya mengangkat tubuh Ibu Aisyah ke punggung Restu. Restu kemudian berlari menuju mobil dan memasukkan wanita paruh baya tersebut ke dalma mobil.


" Kalian berdua urus adik-adik, biar abang aja yang bawa ibu ke rumah sakit."


" Tapi bang,"


" Nggak pake tapi, tenangkan adik-adik. Mereka snagat ketakutan. Tetap siapkan keperluan mereka. semua tetap harus sekolah. Mengerti!"


Nia dan Nita mengangguk patuh. Nia remaja SMA kelas 11 itu menjadi yang bertanggung jawab sekarang ia lalu bersama Nita remaja SMP kelas 9 itu membawa adik-adik nya yang berjumlah 7 orang kembali masuk ke rumah sesuai perintah Restu.


Di dalam mobilnya Restu berkali-kali melirik ke arah wanita paruh baya yang ada di sampingnya. Air mata Restu seketika luruh, ia tidak akan sanggup jika terjadi apa-apa kepada wanita yang telah merawatnya itu.


" Bu, aku harap ibu baik-baik saja. Jangan tinggalkan aku bu. Jangan tinggalkan kami. Kami selalu butuh ibu di dalam hidup kami."


Restu menambah laju mobilnya. Beruntung ini masih subuh jadi jalanan di ibu kota tersebut belumlah ramai. Restu bisa menempuh perjalanan ke rumah sakit hanya sekitar 30 menit.


" Dokter tolong!"


Restu berteriak sambil menggendong Ibu Aisyah memasuki ruang IGD. Beberapa tenaga medis dengan sigap langsung mengambil brankar dan meminta Restu untuk menaruh Ibu Aisyah di sana.


" Anda tunggu di sini ya pak. Kami akan memeriksa ibu anda terlebih dulu."


" Baik dokter."


Restu sungguh khawatir, ia sampai lupa belum menjalankan kewajiban 2 rakaatnya. Restu pun lalu berlari mencari mushola dan melaksanakan kewajiban yang tertunda tersebut.


" Ya Allaah, semoga ibu tidak apa-apa. Berikan kesembuhan pada ibu, angkat semua penyakitnya. Aamiin."


" Apakah anda keluarga pasien?"


" Ya dokter saya. Bagaimana keadaan Ibu Aisyah dokter?"


" Begini ... "


*


*


*


Restu tertunduk lesu bahkan dia sudah menangis. Ia kini duduk di sebelah wanita paruh baya dengan hijab lebarnya tersebut. Wajah yang biasanya tersenyum cerah itu kini terlihat begitu pucat. Namun Ibu Aisyah masih saja bisa memberikan senyum terbaiknya kepada Restu.


" Kenapa ibu nggak bilang. Kenapa ibu diam saja. Kenapa ibu selama ini sakit tapi nggak pernah ngomong sama Restu."


" Maafin ibu nak. Ibu nggak mau kamu tambah susah. Kamu sudah banyak bekerja keras untuk adik-adik mu. Ibu tidak mau menambah beban mu lagi dengan penyakit ibu ini."


Restu menggeleng cepat. Ia menggenggam tangan wanita paruh baya tersebut. Meskipun dia tahu bahwa wanita yang tengah terbaring lemah tersebut bukanlah ibu kandungnya tapi rasa sayang Restu terhadap nya tentu tidak diragukan lagi. Bagi nya Ibu Aisyah adalah bidadari dan malaikat yang Tuhan kirimkan kepadanya.


" Bu, ibu mau ya dioperasi."


" Tidak usah nak, biaya nya mahal. Mana kita nggak punya jaminan kesehatan lagi. Kamu akan semakin lelah bekerja."


Restu terdiam sesaat. Ia tentu tahu hal tersebut. Tapi pekerjaannya kali ini ia yakin akan mendapatkan uang yang lebih banyak. Dan Restu juga yakin akan bisa memenuhi kebutuhan adik-adiknya di panti asuhan " Mentari Senja".


Dokter tadi menjelaskan bahwa Ibu aisyah terkena peritonitis. Peritonitis adalah radang membran yang melapisi dinding perut dan menutupi organ-organ perut. Peritonitis memerlukan tindakan operasi, Ini disebabkan oleh kebocoran atau lubang di usus, seperti dari usus buntu pecah. Pantas saja Ibu Aisyah sering mengalami mual, muntah, perut kaku dan nyeri. Sesekali dia juga demam.*


Ibu Aisyah harus segera menjalani laparotomi eksplorasi, yakni operasi bedah umum di mana perut dibuka dan organ perut diperiksa. Setelah itu akan dilakukan tindakan drainase bedah yakni tabung yang digunakan untuk mengeluarkan nanah, darah, atau cairan lain dari luka, rongga tubuh, atau organ.*


(* sumber google)


" Nggak bu, Restu nggak merasa terbebani. Ibu baik-baik di sini ya. Ibu harus di operasi secepatnya. Oh iya Restu pulang bentar ya mau ambil baju ibu. Sekalian ngasih tau ke adik-adik biar tidak khawatir."


" Hati-hati nak."


Restu mengangguk, setelah mencium tangan Ibu Aisyah ia pun keluar dari ruang tersebut. Ibu Aisyah seketika menangis. Iya tak lagi bisa menahan air mata nya sekarang. Restu Adi, nama yang ia berikan saat menemukan anak itu 20 tahun lalu. Kehilangan buah hatinya yang sakit keras lalu menemukan seorang anak kecil membuat hati Ibu Aisyah menghangat.


Restu bagaikan pelipur lara. Dikhianati sang suami dan ditinggal meninggal sang putri, dunia Aisyah seakan runtuh saat itu. Di saat hatinya yang sakit seorang bocah kecil tergeletak di bantaran sungai ketika Aisyah sedang berada di kampung halaman kedua orang tuanya. Aisyah muda membawa bocah kecil itu dan memutuskan merawatnya hingga ia sebesar sekarang. Tumbuh menjadi pemuda yang tampan dan baik.


Setelah kehilangan buah hatinya dan menemukan Restu, ia kemudian memutuskan untuk merawat beberapa anak dan mendirikan panti asuhan. Dia yang seorang pegawai negeri sipil itu mendedikasikan seluruh gajinya untuk anak-anak yang ia rawat.


Meskipun begitu rupanya gaji nya tidak bisa memenuhi seluruh kebutuhan panti asuhannya. Hingga Aisyah kerja sambilan membuat kue untuk dititipkan di pasar. Dimana itu bisa menambah uang belanja dan kebutuhan sehari-hari. Bahkan di pasar dia juga sudah memiliki langganan untuk belanja kebutuhan pokoknya. Tak jarang Aisyah akan mengambil dulu baru setelah menerima pensiun akan dibayar. Beruntung pemilik kios sembako tersebut sangat baik mengizinkan Aisyah untuk membayar di kemudian hati.


TBC