
" Nih buat kamu."
Andra memberikan sebuah paper bag kepada Zanita saat mereka tengah makan malam di apartemen. Zanita menerima dan membuka isinya. terlihat mata gadis itu berbinar melihat pemberian Andra. Ada jaket dan beberapa pakaian lain di sana.
" Terimakasih," ucap Zanita singkat sambil tersenyum. Ia tahu itu pasti untuk dipakai besok saat berada di Jatim. Entah tempat mana yang akan dikunjungi oleh Andra, tapi jika melihat apa yang diberikan pria itu mereka pasti akan datang ke daerah dingin seperti Dieng dan Papandayan kemarin.
" Tadi Raffan ke JDA."
Andra tersenyum saat mendengar Zanita mengatakan hal tersebut. Tentu saja dia sudah tahu terlebih dulu saat orang yang ia minta untuk melindungi Zanita melapor. Sebenarnya ini di luar ekspektasinya. Andra tidak menyangka bahwa Zanita akan bicara mengenai kedatangan mantannya tersebut.
" Biarin aja, jangan ditanggepi."
" Tapi tadi aku ngomong kalau aku udah nikah, takutnya dia kepo terus nyari tahu."
" Lah, emang kita udah nikah kan. Ngapain takut biarin aja kalau dia mau nyari tahu. Aku malah pengen bilang ke semua orang kalau kita udah nikah."
Zanita langsung melayangkan tatapan tajamnya ke arah Andra. Andra hanya menanggapi hal tersebut dengan senyuman khasnya. Pria itu bangkit dari kursinya lalu berjalan memutari meja dan duduk di sebelah Zanita. Ia langsung meraih tangan Zanita.
" Za, kita memang sudah menikah. Apakah kamu tidak mau belajar menerimaku? Pernikahan ini memang bukanlah pernikahan impianmu. Mungkin aku merupakan bagian dari mimpi buruk mu. Akan tetapi saat ini kita sudah sah secara agama dan negara menjadi suami istri, apakah kamu tidak ingin menjadikan pernikahan ini indah? Menjadikan pernikahan ini sakinah, mawadah, warohmah."
Deg
Jantung Zanita berdetak lebih kencang. Ia bisa merasakan ketulusan dalam diri pria yang bertatus sebagai suaminya itu. Apa yang dikatakan Andra tentu semuanya benar. Pernikahan mereka tentu bukan keinginan siapapun. Tapi mungkin ini adalah takdir yang digariskan oleh Tuhan bagi keduanya.
Zanita melihat ke dalam diri, Ia sekarang posisinya adalah sebagai istri. Banyak hal yang menjadi tanggung jawab dan haknya. Setiap pasangan memiliki peran masing-masing dalam kehidupan berumah tangga. Dan mungkin mulai sekarang Zanita harus bisa menrima itu.
Dipaksakan? Ya, tentu harus dipaksakan. Bukan orang lain yang memaksa tapi kesadaran diri sendiri.
" Maafkan aku. Abang disini juga korban."
" Tidak, kamu tidak salah. Semua ini tidak ada yang salah dan aku bukan korban. Semua ini atas keinginanku sendiri. Menikahimu, menjadi pengantin pengganti, menjadi suami dadakan, semua adalah keputusanku sendiri tanpa ada yang memengaruhi."
Andra kali ini memberanikan diri untuk memberlai wajah Zanita. Mengangkat dagu Zanita yang sedari tadi wajahnya menunduk itu. Cup, sebuah ciuman singkat ia layangkan ke bibir ranum sang istri membuat Zanita sedikit terkejut.
" Lihat mataku, apakah ada kebohongan di sana? Apa yang aku katskan benar-benar dari hati. Ayo jalani pernikahan ini dengan sebaik mungkin. Ayo belajar saling mencintai. Aku tahu kamu masih sulit menerima orang baru di hatimu dan aku tidak akan memaksakan hal tersebut. Mari kita jalani dengan pelan-pelan saja."
Hati Zanita menghangat saat Andra mengucapkan kata demi kata yang menurutnya sangat manis. Ia pun mengangguk setuju. Mungkin saat ini memang dia harus mulai belajar menerima semuanya ini.
" Siip kalau begitu, mulai malam ini kamu pindahke kamarku."
" Laaah kok gitu."
Bubar sudah semua momen manis yang tercipta saat Andra mengatakan hal tersebut. Zanita seketika memanyunkan bibirnya mendengar alasan Andra. Dengan alasan agar hubungan mereka semakin baik, Andra terus mebuat Zanita akhirnya menyetujui usul sang suami.
" Laah lagian kan kita udah sah ini. bebas aja mau ngapain aja."
" Baaaang!!!"
Zanita menghembuskan nafasnya penuh dengan kelegaan. Ia tahu melayani sang suami adaah kewajiban seorang istri tapi sungguh Zanita belum siap. Mengenal Andra yang belum genap sampai 2 bulan membuat ia masih merasa memiliki banyak jarak. Terlebih setiap mengingat profesi dia sebagai artis, Zanita sungguh merasa sedikit kesal.
Andra tersenyum lebar saat Zanita benar-benar mau tidur di kamarnya. Gadis itu langsung berbaring di sebelah Andra dan membungkus tubuhnya dengan selimut. Andra terkekeh geli saat Zanita menutup seluruh tubuhnya bahkan sampai kepala.
" Za?"
" Hmmm."
" Buka dong selimutnya, suami mau bicara nih."
Terdengar hembusan nafas kasar dari gadis itu. Tapi ia tetap membuka selimutnya dan menatap tajam ke arah Andra. atatapan itu jika diartikan kurang lebih 'apa?' namun dengan intonasi yang tinggi. Andra semakin gemas melihat tingkah istrinya itu.
" Aku mau tanya, aku harap kamu bisa jawab yang jujur. Mengapa kamu isa sebenci itu pada profesi artis. Bahkan bukan hanya satu atau dua melainkan semua orang kamu benci termasuk aku. Aku lho nggak ada salah sama kamu."
Zanita tidak langsung menjawab, ia terlebih dulu membenarkan posisi tubuhnya dari berbaring lalu duduk dan bersandar pada head board ranjang king size milik Andra.
" Penipu, kamuflase, ditinggalkan, dan sejenisnya. Vanka, istri Raffan adalah sahabat baikku. Aku sama Vanka bersahabat mulai dari SMP dan ... "
Zanita menceritakan semuanya keadan Andra tanpa terlewat. baru kali ini dia bisa bercerita dengan los nya kepada orang lain. Bahkan dengan Sella saja dia tidak pernah membicarakan hal tersebut. Andra tidak berkomentar apapun sepanjang Zanita bercerita. ia memilih mendegarkan hingga selesai.
" Huft, maka dari itu aku selalu menganggap profesi aris itu penuh kepura-puraan. Tersenyum di depan banyak orang tapi mencaci di belakang. Baik di depan kamera tapi tidak saat dibelakang kamera."
Andra paham apa yang dirasakan oleh Zanita. Dan kebencian yang sudah tertanam bertahun-tahun itu tidak akan mudah luntur dalam waktu sesaat.
" Tapi Za, tidak semua nya begitu. Itu hanya segelintir orang saja yang memiliki sikap sombong dan angkuh."
" Entahlah bang, bagiku semua sama."
Andra tersenyum, benar apa yang ia pikirkan tadi. Tidak akan mudah melunturkan kebencian Zanita terhadap profesi artis. Ia benar-benar harus pelan-pelan mengubah maindset Zanita tentang artis.
" Baiklah jika seperti itu pendapatmu. tapi bisakah membuat pengecualian?"
" Maksud abang, pengecualian apa."
" Iya pengecualian. Pengecualian benci mu untukku. Hei aku ini hanya seorang selebgram dan model. Aku bukan artis. Dan yang utama adalah aku suami mu."
Lagi, Andra mengecup bibir Zanita singkat. Dia selalu tidak tahan melihat bibir ranum sang istri terlebih saat manyun begitu. Sedangkan Zanita, ia selalu terkejut saat mendapat serangan tiba-tiba dari Andra.
" Baiklah, mari kita tidur. Besok kita harus berangkat pagi. Istirahatlah."
" Terimaksih bang."
TBC