
" Sayang, aku ingin makan martabak manis. Bisakah kau mencarikannya."
Suara manja itu kembali terdengar di telinga Raffan. Ya Vanka dan Raffan tinggal besama di apartemen Raffan. Besok adalah hari pernikahannya. Dan entah bagaimana besok akan terjadi tapi yang jelas ia besok pun akan menikahi Vanka.
Jadwal dari KUA, Raffan akan menikahi Zanita sekitar pukul 08.00. Sedangkan waktu yang ia dapat untuk menikahi Vanka pukul 07.00 pagi, satu jam lebih cepat dari acara ijab qabulnya dengan Zanita.
Entah apa rencana yang disusun Raffan untuk hari besok. Saat ini pria itu tengah berjalan menuju luar apartemen mencari makanan yang diinginkan Vanka. Vanka bilang bayinya yang menginginkan, Raffan tentu tidak bisa menolak.
" Bagaimana besok aku akan melakukannya ya."
Rupanya Raffan tengah berpikir mengenai acara besok. Sepertinya pria itu akan menikahi dua wanita sekaligus dalam satu hati. Sungguh hal yang gila. Ia benar-benar memperrmainkan pernikahan, menyakiti hati wanita yang baik dan membodohi keluarga yang sederhana.
" Aku bisa melakukannya. Satu jam sangat cukup untuk berjalan dari gedung ke rumah Zanita.
Lain Raffan lain pula Raffandra alias Andra. Ia tentu tahu bahwa besok hari pernikahan Zanita. Tapi entah mengapa ia tidak kunjung tidur malam itu. Padahal waktu sudah menunjukkan pukul 12 malam.
Andra dari tadi hanya gelisah sambil membolak-balikkan tubuhnya. Ia pun akhirnya berjalan keluar kamar dan mencari sesuatu di dapur. Biasanya Juned menyimpan makanan tapi tampaknya hari ini tidak. Ia pun membuka lemari kecil dan mengambil mie instan dari sana.
Ceklek
Andra mulai menyalakan kompor nya. Mengisi panci kecil dengan air dan memasukkan beberapa lembar sawi. Tak lupa cabe rawit favoritnya. ia juga menambhakan sosis dan bakso ke dalam panci tersebut bersama mienya. Sambil mengaduk mie nya pikiran Andra menerawang. Akan seperti apa pernikahan Zanita besok.
" Kampreeet, kenapa gue yang nggak bisa tidur sih. Kan yang mau married mereka."
Andra menggelengkan kepalanya. Mie yang dia masak sudah matang. Ia pun mengambil mangkok lalu menuangkan mie tersebut kedalam mangkok.
" Bang belum tidur, laper ya. Sorry Juned nggak nyiapin makanan tadi sore."
" Nggaka apa-apa, ini cukup kok buat ngeganjel otak biar tetep waras."
Jawaban asal Andra membuat juned bingung. Juned yang tidur di kamar sebelah tentu mendengar kegiatan Andra didapur. Apartemen Andra memang memiliki dua kamar dan Juned memang tinggal bersama Andra.
Juned hanya menggelengkan kepalanya dan kembali masuk kamarnya melanjutkan tidur. Sedangkan Andra dia menikmati mie instannya yang dia beri cabe rawit 5 buah itu namun sama sekali tidak pedas di mulutnya.
" Kita lihat besok, semoga semuanya lancar Za. Aku benar-benar berharap kau bahagia."
Sama halnya dengan Andra, Zanita juga tidak bisa tidur malam itu. Tadi di luar dekorasi pelaminan final sudah selesai dikerjakan. Bunga putih dan merah muda mendominasi pelaminan yang dibuat di halaman rumah Zanita. Cantik dan elegan, bahkan Zanita sangat menyukainya. Padahal ia tidak mengatakan apapun untuk dekorasinya tapi Andra seakan tahu apa yang Zanita inginkan.
Hati gadis itu benar-benar berpacu cepat saat ini mengingat pernikahannya yang akan digelar beberapa jam lagi. Meskipun ini sudah tengah malam, tapi jika dihitung maka dia akan menikah dalam waktu tidak kurang dari 8 jam lagi.
" Besok statusku sudah berubah, Ya Allah semoga ini memang jalan yang terbaik untukku. Sella, aku lupa mengabari gadis itu. Untung saja ingat, jika tidak maka dia pasti akan meledak seperti bom atom Hirosima."
Zanita mengambil ponselnya, ia lau menelpon sang sahabat. Memberi kabar bahwa besok dia akan melaksanakan ijab qabul. Sella tentu terkejut, sumpah serapah gadis itu tujukan ke Zanita. Bukan marah karena Zanita akan menikah, tapi marah karena dia baru dikasih tahu.
" Ya udah sih stop ngomelnya, ntar dikiranya lo kesurupan lagi. Besok datang lebih awal ya temenin gue."
" Siap. Dasar lo nyet. Bisa-bisa nya lo lupa ngabarin gue."
" Sorry semua serba mendadak."
Sella akhirnya pasrah mendengar setiap cerita dari Zanita. Gadis itu berjanji akan datang selepas subuh.
*
*
*
" Semoga pernikahanmu diberkahi Allah ya Nduk. Bapak hanya bisa berdoa untukmu."
" Ibu juga hanya bisa mendoakan semoga kamu selalu bahagia bersama nak Raffan."
" Aamiin pak, buk, hanya doa yang Za inginkan dari bapak ibu. Maafin za ya pak, buk kalau selama ini Za banyak salah sama bapak dan ibu."
Periaa pengantin sudah datang bersamaan dengan Sella. Gadis itu langsung membawa Zanita untuk mulai dirias. Zanita menginginkan riasan yang sederhana. Karena tema pernikahannya nasional maka Zanita ingin make up yang flawles saja jangan berlebih tapi tetap elegan saat dipandang.
" Apa gugup?"
" Tentu, gila aja bentar lagi status gue berubah jadi istri. Gimana nggak gugup coba."
Sella tersenyum, ia sendiri tidak menyangka jika sahabatnya akan menikah secepat ini. Ia pun menemani Zanita di dalam kamar hingga MUA selesai merias gadis itu.
Di tempat lain Vanka dan Raffan juga sudah bersiap. Vanka mengenakan kebaya putih dan Raffan mengenakan beskap selaras dengan Vanka. Gadis itu tersentum lebar saat melihat tampilannya di kaca.
" Apakah aku cantik?"
" Ya, kau sangat cantik. Kau pengantin tercantik saat ini."
Entah tulus atau tidak apa yang Raffan keluarkan dari mulutnya. Tapi yang jelas pria itu saat ini pikirannya bercabang. Bahkan ia sedang membayangkan seperti apa Zanita dengan gaun yang mereka pilih waktu itu.
" Apakah kamu sedang menungguku Za sayang?"
Raffan bergumam sangat pelan. Ia tidak ingin Vanka mendengarnya. Mood ibu hamil itu bisa rusak jika mendengar dirinya menyebut nama Zanita.
" Ayo, sudah siap. Kita akan berangkat ke gedung sebentar lagi."
" Sudah sangat siap. Ayo berangkat."
Kedua sejoli itu meninggalkan apartemen sekitar pukul 05.30 menuju gedung pernikahan yang awalnya adalah gedung yang akan digunakan Raffan menikah dengan Zanita. Sesaat Raffan merasa penuh dengan penyesalan dengan apa yang sudah ia lakukan.
Di apartemennya, Andra pun nampak bersiap. Ia mengenakan tuxedo hitam dan menata rambutnya. Berkali-kali ia melihat tampilannya di depan cermin. Juned yang melihat Andra begitu rapi tentu terkejut.
" Bang mau kemana?"
" Kondangan, kan hari ini Za nikah."
" Weeeh, ngalahin pengantin laki nih Bang Andra. Awas entar ada yang salah kira lagi dikiranya abang adalah mempelai pria nya."
Andra tertawa terbahak mendengar penuturan Juned. Ya kali orang salah negenalin penganten. Andra sama sekali tidak mempedulikan ocehan Juned. Rupanya Juned pun tidak mau ditinggal, ia juga akan ikut Andra kondangan ke tempat Zanita.
" Bang, asli, abang kayak penganten."
" Berisik, ayo nanti keburu telat."
Andra dan Juned meninggalkan apartemen dengan pakaian yang sangat rapi. Benar kata Juned, Andra lebih terlihat seperti pengantin pria dari pada tamu undangan. Andra benar-benar menampilkan tampilan sempurnanya pagi itu untuk menghadiri pernikahan Zanita.
" Aku siap Za, semoga kamu bahagia."
TBC