
Zanita membuang nafasnya kasar melihat Raffan sudah ada di depan gedung JDA. Zanita benar-benar enggan bertemu dengan pria yang sudah mengkhianatinya itu. Terlebih sepertinya Raffan ingin berbicara banyak. Tapi Zanita acuh, setelah memarkirkan motornya ia bergegas masuk.
" Za tunggu!"
" Lepas, kita sudah tidak punya hubungan apapun. Lagian Anda juga seorang pria beristri, tidak baik jika terlihat bersama wanita lain. Bukankah begitu?"
" Za, please. Biarin aku jelasin dulu."
" Nyonya bos, eh Za. Mau masuk ke dalam yok bareng."
Juned datang tepat waktu. Ia langsung menarik tangan Zanita dan membawanya masuk ke gedung JDA. Zanita menghela nafas lega. Beruntung ada Juned jadi dia bisa terlepas dari Raffan. Tapi Zanita sedikit heran, mau apa Juned pagi-pagi itu sudah di sana. Mana sendirian lagi. Biasanya dia dan Andra kan satu paket.
" Kok sudah di sini pagi-pagi?"
" Ada urusan dikit. Kan Juned sekarang managernya bang bos. Lupa ya?"
Zanita menepuk keningnya pelan. Ia lupa fakta itu. Gadis itu pun mengangguk paham, keduanya berjalan bersama masuk ke ruang tim TCD. Namun sebelum masuk dia memperingatkan Juned jangan sampai keceplosan soal pernikahan kemarin.
" Awas ya, jangan bocor!"
Juned mengangguk sambil membuat gerakan mengunci di depan bibirnya. Ia tentu tahu akan hal itu, kalau sampe bocor bisa dirajam sama si bos juga. Double kill, sungguh Juned tidak mau.
" Selamat pagi."
" Selamat pagi manten baru, cie-cie penganten baru. Biasanya datangnya pagi eh ini telat. Tahu lah ya kita mah. But btw, selamat ya Za. Sorry kita kemarin nggak ada yang bisa hadir."
" Nggak apa-apa Kak Liam, Bang Bian, terimakasih untuk doanya."
Mereka langsung terlibat obrolan seru. Di sana Juned langsung membicarakan pekerjaan dengan Bian juga lalu ia jumping ke tim NO. Juned sungguh cepat tanggap menyelesaikan pekerjaan manager yang baru diembannya itu. Pada dasarnya Juned adalah seorang pemuda yang cerdas jadi dia tidak kesusahan menyesuaikan diri dengan pekerjaan barunya itu.
" Oh iya, harus ngabarin bang bos soal pria kutu kupret itu."
Juned baru ingat hal yang penting. Soal Raffan yang menemui Zanita tadi pagi. Apalagi tadi Raffan terlihat menarik tangan Zanita. Ia harus segera melaporkan hal tersebut.
" Hallo bos, tadi mantannya nyonya bos kesini ke JDA."
" Mau ngapain dia?"
" Kayaknya mau bicara gitu. Tapi Za nya nggak mau. Untung ada Juned tadi, langsung Juned ajak masuk si Za nya."
" Oke good. Sementara di sana kawal Za dulu. Jangan sampai si kampret itu deketin Za lagi."
Andra yang sedang ada di KUA terlihat khawatir terhadap Zanita. Ia tahu mantan Zanita itu pasti akan terus mengejar Zanita.
" Ini tidak bisa dibiarkan. Aah nyewa orang aja buat melindungi Zanita."
Andra menuliskan sebuah permintaan di surat elektronik. Ia tujukan surat elektronik itu kepada Wild Eagle, detektif swasta sekaligus jasa pengamanan.
" Oke beres."
Raffan sungguh kesal. Pria itu masuk ke ruangan kerjanya dengan muka yang sangat masam. Sekretarisnya pun tak berani menyapa saat melihat wajah Raffan yang terlihat marah.
" Siaaal, brengseeek!!!"
Raffan mengumpat kesal. Ia duduk di kursi kerjanya sambil mengusap wajahnya dengan kasar. Tak terasa air matanya luruh. Ia menangisi kesalahannya. Tapi semuanya sudah terlanjur, nasi sudah menjadi bubur. Tidak bisa lagi dikembalikan ke wujud nasi, yang ada ditambahi sambel, kuah, ayam dan komponen yang lainnya agar bisa dimakan dengan nikmat.
" Mungkin aku harus bisa menerima ini. Semua ini adalah kesalahanku. Za, aku sungguh ingin minta maaf denganmu. Aku benar-benar jahat sudah melakukan hal ini padamu."
Sadarkah Raffan? Hanya dirinya yang tahu. Tapi yang pria itu rasakan kali ini adalah ia sangat merasa bersalah. Ia tahu Zanita adalah gadis yang baik dan dia dengan jahatnya melukai gadis itu.
" Entah mau kamu terima atau tidak, aku akan tetap meminta maaf kepadamu Za," ucap Raffan lirih.
Berbeda dengan sang suami, Vanka terlihat begitu bahagia saat ini. Senyum cerah merekah sepanjang kedatangannya ke kantor Clubstar Agency. Hari itu ia benar-benar siap untuk kembali bekerja.
Vanka masuk ke dalam sebuah ruang rapat. Rupanya disana sudah ada Gibson, Dixon, dan Riana. Riana Jilian adalah seorang aktris pendatang baru. Usianya mungkin baru sekitar 20 tahunan. Rupanya hari itu Gibson meminta 4 orang termasuk Vanka untuk melakukan pertemuan.
Vanka melihat satu orang yang tidak asing, tapi ia baru menyadari bahwa orang tersebut tadinya tidak ada di kantor agensi itu. Vanka duduk disalah satu kursi dengan penuh pertanyaan. Tapi ia memilih diam menunggu Gibson menjelaskan. Ia cukup tahu karakter Gibson yang tidak suka melihat orang terburu-buru dalam keingintahuan akan sesuatu.
" Oke, kalian bertiga aku minta ke sini untuk memperkenalkan manager kita yang baru. Restu Adi. Restu akan menjadi manager kita yang baru. "
" Pagi semuanya. Perkenalkan aku Restu, mohon kerjasamanya."
Semua orang yang ada di ruangan tersebut tentu senang. Reputasi Restu sangat baik sebagai seorang manager. Ya, Restu akhirnya memutuskan bergabung dengan CA setelah ia berpikir dengan matang. Tapi Restu memiliki syarat. Sebagai awal karirnya di CA dia tidak ingin langsung memanage banyak artis, paling banyak dia akan mengasuh 5 orang saja.
Gibson tentu menyambut gembira. Ia langsung menyetujui apa yang jadi keinginan Restu. Dan disinilah mereka berada.
" Oke Res, bagaimana jadwal mereka untuk bulan ini?"
" Aku ada tawaran untuk series. Vanka permah main film jadi mungkin Vanka bisa ikut casting. Pun dengan Riana. Dan untuk Dixon ada sebuah tawaran iklan deodorant, bukan sebagai model utama sih karena model utamanya adalah BA dari produk tersebut. Tapi masih oke juga kok ini."
Semua mengangguk mengerti baik Dixon maupun Riana akan mengikuti apa yang dikatakan Restu. Tapi rupanya Vanka tidak begitu. Gadis itu menolak mentah-mentah apa yang diaturkan Restu.
" Tck, casting? Yang benar saja. Masa aku harus ikutan casting sih. Memang mereka nggak tahu aku siapa. Seharusnya kau bisa dapat peran di series itu tanpa harus repot-repot casting."
Deg
Restu terkejut saat mendengar Vanka berteriak kepadanya. Baru kali ini dia mendapati orang seperti Vanka. Restu pun mengambil nafas dalam-dalam dan membuangnya perlahan.
" Nona Vanka, anda memang pernah bermain disebuah film tapi peran yang Anda mainkan bukanlah peran center. Anda bahkan tidak masuk di kategori peran pendukung. Saat itu Anda masih masuk dalam tahap cameo. Jadi nama Anda tidak diperhitungkan untuk bisa langsung membintangi series. Nona, dunia peran itu tidak hanya berpatok pada Anda yang pernah main film, mereka butuh orang yang kompeten untuk melakonkan peran yang mereka inginkan."
Skak mat!
Gibson tersenyum lebar saat Restu dnegan mudah menjatuhkan argumen egois Vanka. Selama ini belum ada yang bisa mengontrol wanita itu dan Restu benar-benar orang yang tepat untuk jadi manager Vanka.
TBC