My Haters To Be My Wife

My Haters To Be My Wife
HW 34. Bukan Cinderela



" Ada apa Res?"


Rupanya Restu mampir ke CA dulu sebelum ke rumah sakit lagi. Paling tidak dia harus minta izin kepada Gibson untuk bisa menjaga ibu nya beberapa hari dan absen dari CA. Meskipun begitu ia tetap bisa mengontrol pekerjaan dari rumah. Dia bisa mengingatkan artis-artis nya melalui grup chat yang sudah ia buat.


Akan tetapi sebenarnya bukan itu alasan utama Restu menemui Gibson. Ia ingin meminta bantuan Gibson. Restu hendak meminjam uang untuk biaya operasi Ibu Aisyah.


Uang 50 juta pemberian Andra waktu itu sudah ia gunakan untuk membeli tempat tidur yang layak bagi adik-adiknya. Dan sebagian lagi ia gunakan untuk merenovasi bagian-bagian rumah yang bocor. Sekarang sedang musim hujan, adik-adik nya selalu kerepotan membereskan rumah jika hujan lebat berlangsung. Maka dari itu ia langsung merenovasi bagian rumah yang rusak saat mendapat uang dari Andra.


" Gibson, sebenarnya ada yang ingin ku sampaikan. Bisakah aku meminjam uang untuk biaya operasi ibu ku? Aku sungguh membutuhkannya sekarang."


Gibson menaikkan satu alisnya. Restu baru saja bekerja seminggu dan sudah berani meminjam uang, pikiran pria itu seketika menjadi ragu terhadap Restu.


Apa dia sering melakukan ini, gumam Gibson curiga terhadap Restu. Ia sesaat berpikir apakah akan meminjamkan uang pada restu atau tidak.


" Memang berapa yang kau butuhkan?"


"75 juta."


" Apa, woaah yang benar saja Res. Uang segitu banyak tentu gue nggak punya. Seandainya ada, uang itu milik perusahaan. Sorry Res gue nggak bisa bantu."


Restu mengangguk mengerti. Ia tentu sadar akan hal tersebut. Tidak mungkin orang dengan mudahnya memberikan pinjaman secara cuma-cuma. Akhirnya Restu pun pamit undur diri setelah mendapatkan izin libur dari Gibson untuk merawat Ibu Aisyah beberapa hari.


" Kemana aku harus mencari jangan sebanyak itu."


Restu mengendara dengan sedikit melamun. Ia benar-benar bingung saat ini. Ibu Aisyah harus segera dioperasi. Mungkin ini terlihat sedikit drama seperti sinetron-sinetron di layar kaca. Tapi apa yang dia alami memang benar adanya.


Siapa sangka hidupnya tidak jauh dari pekerjaan yang ia lakoni. Menjadi manager artis tentu ia sering sekali melihat banyak drama entah yang real atau tipu-tipu di dunia entertainment tersebut.


Pikiran pria itu berkecamuk, hingga wajah seseorang terlihat jelas pada baliho yang ada dia temui di jalan. Wajah yang sangat ia kenal. Andra Suma, sepertinya ia harus menemui Andra dan mengesampingkan rasa malu yang membalut hatinya.


*


*


*


" Za,gimana perutnya? Udah enakkan?"


" Alhamdulillah bang. Terimakasih ya udah manggil dokter buat aku. Maaf ngerepotin."


" Santai, dia kakak kandungku. Dokter yang semalam ke sini adalah Mas Dika."


Mata Zanita langsung membulat sempurna. Ia tentu baru tahu mengenai fakta tersebut. Za yang sedang memakan buburnya kembali berlari ke kamar dan mengambil ponsel. Entah mengapa dia tidak kepikiran dari kemarin mencari informasi suami artisnya itu.


Andra yang melihat Zanita pun hanya menggeleng pelan. Baru semalam gadis itu meringis kesakitan dan pagi ini dia sudah bisa berlari dengan lincah.


Breebeeeeet


Banyak sekali artikel yang muncul di sana. Zanita pun meng-klik salah satunya dan membacanya dengan seksama.


Raffandra Suma Dwilaga merupakan putra ketiga dari pasangan Aryo Dwilaga Suseno dan Sekar Arum. Diketahui bahwa Aryo Dwilaga adalah pemilik Universitas Nusantara dan Sekar Arum adalah ketua komite Rumah Sakit Mitra Harapan yang didirikan oleh orang tua Sekar.


Raffandra memiliki memiliki dua kakak laki-laki dan satu adik perempuan. Kakak pertama bernama Radian Nareen Dwilaga, salah satu dosen terbaik di Universitas Nusantara dan Radika Tara Dwilaga yang juga merupakan dokter bedah terbaik yang dimiliki negeri ini. Istri Radian diketahui sebagai pemilik beberapa mall dan istri Radika adalah seorang CEO LT.


Bruuuk


Zanita menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang. Ia tidak sanggup membaca lebih banyak lagi mengenai fakta tersebut. Zanita pun memukul-mukul pelan kepalanya.


" Gilaaa, ini benar-benar gila. Ternyata Tuan Magicom bukan orang sembarangan. Kampus tempat gue kuliah punya bokap nya. Ya Allaah takdir apa ini. Mana kedua menantunya juga bukan orang biasa lagi. Wait apakah gue adalah cinderella modern. No, bukan gue bukan cinderella."


Zanita mengacak rambutnya dengan kasar. Bukannya senang, gadis itu malah semakin ingin menjauh dari Andra. Yang tadinya ia mau berusaha menerima Andra kini niatnya seketika ia urungkan. Rasanya ia sungguh tidak pantas untuk berdampingan dengan seorang Raffandra Suma Dwilaga.


" Apa ini Ya Allaah, berasa si buluk berdampingan sama pangeran nggak sih. Ini keluarga Tuan Magicom bagaikan kue Balck Forrest dari Jerman yang dibuat dari coklat pilihan lah gue berasa remahan biskuit doang."


" Za, are you oke?"


Sudah beberapa saat Zanita di kamar membuat Andra sedikit khawatir. Andra takut jika Zanita sakit kembali seperti semalam. Namun kekhawatiran Andra tidak terbukti, ia melihat Zanita keluar dari kamar dalam kondisi baik-baik saja. Tapi gadis itu hanya diam dan berjalan lurus menuju sofa depan tivi.


Jujur dalam hati Zanita saat ini berkecamuk. Dia bukannya senang mengetahui identitas Andra, Zanita malah semakin takut. Ia merasa tembok keduanya sangat tinggi.


" Kenapa abang nggak bilang siapa abang sebenarnya?'


Andra mengerutkan kedua alisnya mendengar ucapan Zanita. Ia tentu tidka paham," Apa maksudmu?"


" Ini," jawab Zanita sambil menunjukkan artikel yang baru saja di abaca. Andra pun mendengus pelan. Ia kemudian meraih tangan Zanita dan menggenggamnya erat.


" Za, dengerin aku. Za apa yang tertulis di artikel itu memang benar adanya. Tapi itu semua bukan aku. Itu adalah kedua ornag tuaku. Itu adalah kakak-kakak ku. Aku ya aku, kamu lihat kan siapa aku. Aku Andra Suma, hanya seorang traveler yang kerjaannya menikmati alam dan kebetulan aku dibayar dengan apa yang aku kerjakan itu. Aku bukan Kak Radi yang seorang dosen hebat, aku juga bukan Mas Dika yang seorang Dokter hebat. Aku hanya aku Za."


" Tapi,"


Cup


Andra mengecup singkat bibir Zanita. Ia menatap intens wajah cantik alami istrinya itu. Sedetik kemudian Andra meraih tengkuk Zanita dan kembali mengecup bibir ranum sang istri. Bukan hanya mengecup tapi Andra melumaatnya dengan perlahan.Andra menggigit bibir Zanita pelan agar istrinya itu mau membuka mulutnya.


Ini adalah hal pertama bagi Andra maupun Zanita. Keduanya masih sama-sama kaku. Mereka hanya mengikuti insting masing-masing. Sesaat keduanya larut dalam ciuman tersebut. Zanita merasakan kenyamanan dan kemanan dalam setiap belitan lidah Andra. Pun dengan Andra, ia merasa getaran dalam dirinya saat bibirnya melumaat bibir ranum sang istri.


" Bos, dicari Mas Restu! Ups sorry."


TBC