My Haters To Be My Wife

My Haters To Be My Wife
HW 61. Sambutan Pulang Honeymoon



Sepasang pengantin baru yang tengah menikmati mada-masa indah berdua itu sedang berada di atas ranjang. Sang suami memeluk erat istrinya dan begitu enggan untuk melepaskan. Padahal dari pagi istrinya terus bersungut-sungut. Ia kesal karena beberapa hari ini hanya dikurung di kamar saja tanpa berjalan-jalan ke luar.


" Namanya juga honeymoon kan."


" Tapi nggak gini juga bang."


Zanita mengerucutkan bibirnya yang malah membuat Andra semakin gemas ingin menciumnya. Tapi Andra menahan itu, mereka baru saja selesai dengan sesi panas pagi. Jika Andra kembali mencium bibir sang istri, maka bisa dipastikan akan terjadi sesi panas selanjutnya.


" Baiklah, ayo kita jalan-jalan ke luar. Tapi mandi dulu dong."


" Beneran, okeh! Eh no, mandi sendiri-sendiri aja."


" Bareng aja, biar cepet sayang."


" No way, bukannya cepet tapi yang ada tambah lama. Nggak ada."


Andra langsung mengangkat tubuh Zanita dan membawanya ke kamar mandi. Wanita itu ( a ciyeee, bukan lagi gadis sekarang mah) membulatkan matanya. Tapi rupanya dugaannya salah. Mereka benar-benar mandi tanpa tambahan apapun.


" Apakah sudah siap pulang besok? Nggak terasa ya udah mau seminggu aja."


Zanita mengangguk, keduanya berjalan sambil bergandengan tangan. Ya, waktu seminggu ini begitu cepat berlalu. Sepertinya baru kemarin mereka berada di tempat itu dan besok sudah akan pulang.


" Terimakasih bang untuk segalanya."


" Sama-sama sayang. And then, do you love me?"


Zanita menghentikan langkahnya. Ia lalu menghadap ke arah sang suami lalu menatap lekat wajah suaminya itu. Tampan, jelas hal itu tidak diragukan. Hangat, pastinya ia selalu bisa merasakan kehangatan Andra di setiap tingkah dan perilakunya. Jika ditanya, maka jawaban Zanita sebenarnya tidak ada alasan untuk tidak mencintai suaminya itu. Singkat memang, tapi setiap sikap Andra memang membuat hatinya merasakan hal tersebut.


" Maybe yes. And now, i love you."


" I love you too istriku Zanita Yufarani."


Andra memeluk erat Zanita, keduanya tersenyum. Mereka kembali berjalan menikmati keindahan tempat itu. Menghabiskan hari karena besok sudah harus kembali ke rutinitas


***


" Abaaang, ayoo ih, nanti ketinggalan pesawat."


" Kalau ketinggalan ya bagus, nginep lagi di sini."


hari kepulangan Zanita dan Andra ke tanah air harus diwarnai omelan Zanita yang panjang karena Andra yang susah sekali bangun. tumben sekali, padahal biasanya Andra selalu bangun lebih pagi. Entah pria itu sungguh enggan kembali ke tanah air. Rasanya seminggu masih kurang untuk berbulan madu dengan ang istri.


Satu hal yang Andra sekarang sadari yakni Zanita benar-benar sedikit cerewet. Sepertinya jiwa bundanya sedikit menurun kepada menantunya ini.


" Apakah Zanita adalah titisan bunda, waah ngeri dong. Diteriakin mulu nggak ya nanti gue."


Andra bergumam pelan, namun dia tersenyum. Andra sungguh suka melihat Zanita yang sekarang. Istrinya itu benar-benar menunjukkan keaslian dirinya. Yang tadinya seperti seorang yang introvert siapa sangka Zanita sebenarnya sangat extrovert.


Perjalanan yang lumayan lama itu akhirnya berakhir juga. Di bandara Juned sudah melambaikan tangan. Andra memang meminta Juned untuk menjemputnya. Namun sungguh sial, Andra lupa memakai atributnya. Masker dan lain-lainnya itu tertinggal di resort.


" Apa aku jalan duluan bang?"


" Nggak perlu. Biarin aja. Paling heboh dunia persilatan, eh dunia per-sosmed-an."


Zanita membuang nafasnya berat. Ia tahu suatu saat ini akan terjadi. Pernikahan mereka tentu tidak dapat disembunyikan lagi, tapi sungguh Zanita belum siap untuk itu.


" Eh liat, bukanya itu Andra ya."


" Waah serasi juga ya cocok."


" Gilaaa ganteng banget Andra!"


Mulai gaduh, suasana bandara malam itu yang tadinya biasa saja menjadi begitu ramai. Melihat adanya Andra di bandara dengan Zanita membuat semua mata menatap kearahnya. Terikan para fans pun seketika memenuhi tempat itu.


Juned terkejut, ia tidak akan mengira akan seramai itu. Andra dan Zanita jadi tidak bisa bergerak maju. Bahkan Zanita hampir saja terhimpit oleh para fans Andra. Andra yang tahu tentu langsung sigap meraih tubuh Zanita dan membawa ke pelukannya. Ia tentu tidak ingin sang istri kemana-mana.


Tak lama Juned membawa beberapa security untuk mengamankan Andra dan Zanita menuju mobil. Beruntung mereka berhasil sampai ke mobil dnegan selamat.


" Gilaaa Juned nggak nyangka bakalan crowded gini. Bang bos dan nyonya bos nggak apa-apa kan?"


Zanita dan Andra mengangguk tapi tiba-tiba Zanita meringis saat andra mendekap lengannya.


" Kenapa?" Andra lalu memeriksa lengan Zanita yang kebetulan Zanita tidka mengenakan baju lengan panjang. Terlihat sebuah bekas cakaran kuku di sana bahkan sedikit berdarah. Andra mendengus kesal.


" Jangan marah, mereka nggak sengaja. Mereka hanya ingin melihat dekat idola mereka."


" Maaf."


" Jangan minta maaf. Bukan salah abang juga. Udah aku nggak apa-apa. Dikasih obat ge sembuh. Ini bukan hal besar."


Andra tentu tahu ini adalah salah satu resiko dari public figure. Tapi Andra sungguh tidak bisa menerima itu, kekhawatiran Andra semakin besar saat ini. Ia berpikir untuk kembali meminta jasa pengamanan dari Wild Eagle untuk menjaga istrinya.


" Bos, medsos rame. Si bos tranding topik."


" Biarin lah Jun. Bodo amat. Gass pulang. Pengen buru-buru istirahat."


Juned mengangguk patuh. Mood sang bos sepertinya seketika buruk saat istrinya mendapat luka cakaran tersebut. Bahkan Andra sama sekali tidak melihat ponselnya. Ia malah mematikan ponsel miliknya. Alhasil ponsel Juned lah yang berdering terus menerus.


" Bang gimana nih, banyak yang telpon?"


" Matiin aja dulu. Nggak usah terima telpon sampe gue bilang terima."


Zanita merasa sungguh tidak enak. Dia berpikir semua ini adalah gara-gara dia. Zanita jadi ingat kata-kata Liam agar tidak membuat skandal dengan public figure karena urusannya akan panjang . Tapi apakah ini juga termasuk skandal. Mereka pasangan yang sah kok. Entahlah, saat Zanita tidak bisa berpikir dengan jernih saat ini.


Sesampainya di apartemen baik Zanita dan Andra sudah mengganti baju mereka. Andra langsung mengambil obat untuk mengobati luka di lengan sang istri.


" Maaf ya."


" Nggak apa-apa bang. Aku yang maaf, kayaknya jadi rame karena aku juga deh."


" Sayang, kalau aku banting setir apakah tidak masalah?"


Zanita mengerutkan kedua alisnya. Ia tidak paham apa yang dikatakan oleh suaminya itu. Andra pun menjelaskan maksudnya yang membuat Zanita mengangguk paham.


" Satu hal yang ingin aku katakan. Apapun yang akan abang lakukan aku harap abang nyaman melakukannya dan bukan karena keterpaksaan. Aku yakin semuanya akan ada jalannya sendiri."


" Iya, aku paham kok. Dan ini sebenarnya sudah aku pikirkan dari lama. Hanya menunggu momen yang pas. Dan mungkin ini merupakan momen yang pas."


Zanita mengangguk, ia lalu mencium dan memeluk sang suami. Menyalurkan energi positif dan mengatakan semuanya akan baik-baik saja.


TBC