
" Za, apa kamu sungguh tega membiarkan aku tidur di lantai?"
Andra menatap Zanita dengan tatapan tidak percaya saat gadis yang baru berapa jam dinikahinya itu memberi tikar dan bantal untuknya tidur. Andra mengerucutkan bibirnya lalu mengedip-ngedipkan matanya membentuk wajah kasian. Namun sepertinya itu tidak mempan kepada Zanita. Baru kali ini wajah tampannya benar-benar tidak laku di depan seorang wanita.
" Kalau abang keberatan, silakan kembali ke apartemen. Di sana pasti lebih nyaman bukan."
Andra mendengus, ia tentu tidak bisa melakukan itu. Ia harus di sini malam ini, setidaknya hal itu ia lakukan untuk menunjukkan keseriusannya kepada kedua orang tua zanita.
" Tidur ya tidur saja, aku udah biasa juga tidur di tanah kalau naik gunung. ini bahkan lebih baik karena masih pakai bantal, hoaaam."
Benar saja, Andra dengan santainya tidur di lantai beralaskan tikar. Zanita pikir si tuan magicom itu akan menyerah dan memilih untuk pulang ke apartemen. Tapi rupanya prediksi Zanita meleset. Andra tidur dengan santainya di lantai, bahkan hanya dengan hitungan menit pria itu sudah terlelap.
" Buseet, ini orang cepet bener tidurnya. Aku pikir bakalan minta pulang. Ternyata doi langung lelap."
Zanita menggeleng pelan. Ia pun ikut membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Tapi sebelumnya ia memberi Andra selimut.
Sejenak ia memandang wajah pria itu. Tidak dipungkiri Andra memiliki wajah yang sangat tampan. Pantas saja banyak wanita yang mengaguminya. Tapi entah mengapa dirinya tidak seperti yang lain. Melihat Andra, dia tidak memiliki ketertarikan sama sekali. Yang ada dianya kesal setiap Andra membuat ulah.
Zanita membaringkan tubuhnya, namun matanya masih enggan terpejam. Ia mereview hal-hal yang terjadi dalam hidupnya belakang ini. Lebih tepatnya sebulan ini. Banyak hal yang terjadi sebulan ini. Mulai dia dari diterima kerja hingga akhirnya dia menikah dengan orang yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya.
" Ya Allaah, Seperti apa pernikahanku kedepannya. Apa aku bisa menerima dia sebagai suamiku?"
Zanita berucap lirih, dia akan berusaha untuk menerima pernikahan ini. Tapi bagaimana dia menghadapi pria yang dia benci itu. Dalam benaknya itu berkata, andaikan Andra bukan seorang artis maka mungkin dia akan lebih bisa menerima.
" Tapi masih memang sudah jadi bubur, mungkin juga inilah yang namanya takdir. Sekeras apapun kita menolak dan menggalak pasti dia akan datang juga. Sudahlah jalani saja apa yang terjadi besok ya tinggal lakuin aja."
Zanita menarik selimutnya hingga batas dada. Ia memejamkan matanya dengan perlahan dan lambat laun gadis itu tertidur.
Andra yang rupanya belum tidur pun bangkit dari posisi berbaringnya. Dia berdiri dan mendekat ke arah Zanita. Pria itu menyingkirkan surai rambut di wajah gadis yang sekarang menjadi istrinya itu.
" Za, Aku nggak tahu mengapa kamu bisa sangat benci kepada profesi artis. Tapi aku akan buktikan bahwa aku benar-benar tulus. Mungkin kita belum ada cinta saat ini, namun pelan tapi pasti aku akan membuat cinta itu ada di antara kita. Tidurlah Za, hari ini sungguh berat untukmu. Kau sungguh tidak pantas mendapatkan penghinaan dan pengkhianatan itu."
Andra memajukan wajahnya, hendak mencium kening Zanita tapi dia urung. Ia memilih tidur di sebelah Zanita. Ya, Andra tidak kembali tidur di lantai. Ia memilih tidur di ranjang bersama istrinya.
" Aku yakin besok kau pasti akan sangat marah padaku, tapi bodo amat. Sakit tahu tidur di lantai. Akan ku nikmati omelan istriku ini hahaha."
Andra benar-benar sangat jahil. Ada saja idenya dia untuk menjahili Zanita. Andra selalu suka ekspresi marah, cemberut dan kesal dari gadis itu.
🍀🍀🍀
Seperti prediksi Andra. Zanita bangun tidur dengan marah-marah saat menjumpai Andra di tempat tidurnya. Terlebih gadis itu memeluk Andra layaknya guling. Malu campur marah pastinya. Gadis itu tak berhenti mengomel bahkan sampai ia ingin berangkat kerja.
" Stop ngomelnya. Mau sampai kapan hmmm? Oke aku salah maaf, tapi Za dilantai memang sakit."
" Katanya udah biasa tidur di gunung, masa tidur di lantai aja komplain."
Zanita memutar bola matanya malas. Ia mengehentikan perdebatan tersebut karena ia merasa tidak akan menang melawan si magicom itu.
Andra menawarkan untuk pergi ke JDA bersama tapi Zanita menolak. Ia tidak ingin semuanya nanti jadi ketahuan. Andra pun pasrah, tapi dengan satu syarat mulai malam ini Zanita akan tinggal di apartemen bersama dengan Andra. Awalnya Zaniya menolak, tapi nasihat bapak dan ibunya untuk mengikuti kemana suaminya tinggal pun membuat gadis itu menurut.
" Kapan kamu siap ku ajak ke rumah menemui keluargaku."
Zanita terdiam, untuk saat ini belum bisa memutuskan hal tersebut. Semuanya serba dadakan dan keluarga Andra, sungguh dia tidak punya gambaran tentang mereka semua. Zanita saja belum tahu siapa keluarga Andra.
" Aku belum bisa."
" Tidak masalah, aku akan tunggu sampai kamu siap walaupun nanti aku pasti yang dibejek oleh bunda."
" Kenapa?"
" Eh nggak apa-apa. Ya sudah, berangkatlah hati-hati, aku hari ini akan mengurus buku nikah kita ke KUA. Dsn satu lagi."
Andra meraih tangan Zanita, mengambil cincin yang ada di jari manis gadis itu dan melemparnya jauh-jauh. Zanita tentu hanya diam saja, ia sama sekali tidak protes.
" Buang semua tentang dia, akan ku ganti cincin itu dengan cincin pernikahan kita."
Zanita mengangguk. Kata-kata Andra bagai magnet buatnya. Tapi memang benar, apa yang dikatakan suaminya itu. Hasis, sudah mengakui rupanya kalau Andra suaminya. Ia harus membuang semua hal yang berkaitan dengan Raffan. Tidak ada hal yang harus disimpan. Pengkhianatan yang dilakukan oleh pria itu, rasa sakit yang saat ini ada di hatinya sudah cukup untuk menghapus nama Raffan dari cerita hidupnya.
" Aku mengerti, lagi pula tidak ada tempat bagi pengkhianat."
" Bagus."
Zanita mengulurkan tangannya. Andra seketika mengambil dompetnya dan memberikan sebuah kartu atm pada gadis itu. Zanita pun mendengus kesal.
" Tck, aku bukannya minta uang suami magicom. Aku mau salim."
" Eh."
Andra seketika menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia lalu menyerahkan tangannya, dan Zanita menariknya pelan lalu mencium tangan Andra. Meskipun Zanita masih belum bisa terima pernikahan itu tapi ia tetap harus menghormati Andra sebagai suaminya.
Sedangkan Andra, ia merasa sedikit kikuk saat bibir lembut Zanita menempel di punggung tangannya. Selama ini hanya dua ponakannya yang melakukan itu. Jadi Andra merasa ada getaran lain di hatinya.
" Atm itu pegang aja. Setiap bulannya akan aku isi, itu sebagai nafkahku untukmu. Mungkin itu bukan black card layaknya cerita novel fiksi tapi isinya cukup untuk sehari-hari."
" Terimakasih."
Keduanya kemudian menaiki kendaraan masing-masing dengan tujuan yang berbeda. Zanita dengan motornya menuju JDA dan Andra dengan mobilnya menuju KUA. Kehidupan pernikahan mereka akan dimulai hari ini.
TBC