My Haters To Be My Wife

My Haters To Be My Wife
HW 32. Ada Yang Janggal



Dika sungguh terkejut dengan jawaban Andra. Sempat tidak percaya bahwa gadis yang ada di kamar itu adalah adik iparnya hingga Andra mengambil buku nikah dan menunjukkan kepadanya.


Dika bahkan sampai membungkam mulut nya sendiri saking tidak percayanya. Satu demi satu Andra menjelaskan apa yang terjadi. Ia menceritakan semuanya kepasa sang kakak sehingga Dika mengerti.


Berasa dejavu saat gue nikahin Sisi. Ini kasus nya mirip nih, nikah dulu baru lapor ke ayah sama bunda. Haish, macem-macem bae sih cerita nikahannya anak Aryo Dwilaga.


Dika bergumam pelan. Ia jadi teringat akan pernikahannya yang dulu juga dadakan. Bukan menggantikan seperti adiknya itu tapi digerebek warga. Jika mengingatnya Dika masih sering tertawa.


" So, kenapa nggak lo bawa ke bunda sama ayah. Abis lo pasti nanti diomelin bunda sama ayah."


" Za nya belum mau?"


" Kenapa?"


" Dia masih belum terima gue sebagai suaminya. Dia masih benci sama gue mas. Mas Dika lihat kan kita tidur di kamar terpisah."


Dika mengangguk paham,ia bisa melihat itu. Gadis itu memang tidur terpisah dari Andra. Ia pun menepuk pelan bahu sang adik.


" Lo harus punya usaha kuat buat ngeluluhin hati dia. Terlebih doi habis sakit hati, akan sedikit susah percaya kembali sama orang. Mau gue bantu nggak?"


Andra memiliki firasat yang tidak baik saat mas nya berkata begitu. Ia yakin itu bukanlah tawaran bantuan. Pasti bukan benar-benar membantu seperti hakikat arti kata membantu dalam KBBI.


" Apa emang bantuannya?"


" Nataya biar disini. Kalian berdua pasti tambah deket kalau ngurusin Nataya bareng-bareng."


" Yee, itu mah maunya elo mas biar bisa mesra-mesra an sama kak Silvya."


Dika tertawa terbahak-bahak melihat wajah masam sang adik. Rupanya Andra tidak bisa ditipu dengan trik receh seperti itu. Ia pun langsung memberikan nasihat kepada sang adik untuk segera mempertemukan Zanita kepada kedua orang tuanya. Andra juga harus segera membawa kedua orang tuanya bersilahturahmi kepada kedua orang tua Zanita.


" Iya mas, gue paham. Tapi untuk sementara ini please rahasiain dulu ya. Gue akan mencoba buat bujuk Za agar mau ketemu sama ayah dan bunda."


" Oke, ya udah gue cabut dulu. Jangan lupa obatnya. Usahakan jangan makan-makanan yang pedas dan berminyak dulu. Besok lo buatin bubur deh buat Za. Salam buat dia kalau udah bangun."


" Thanks mas, hati-hati."


Andra mengantarkan Dika hingga ke depan pintu apartemen lalu kembali masuk saat Dika sudah menghilang ke dalam lift. Andra kembali ke kamar Zanita memastikan bhwa gadis itu benar-benar tidur dengan lelap.


" Spertinya besok dia harus ijin buat nggak kerja dulu deh, tapi gimana ya cara bilang ke Bian. Nggak mungkin kan gue yang ngomong. Nanti pada curga."


" Ah, ponsel. Aku bisa mengirim pesan kepada Bian melalui ponsel Zanita. Semoga nggak di password."


Andra mengambil ponsel Zanita yang ada dia tas nakas. Ia tersenyum lebar saat ponsel milik istrinya itu tidak terpassword. Ia pun mencari nama Bian dan menuliskan pesan bahwa Zanita meminta izin untuk tidak masuk karena sakit. Tak berselang lama jawaban dari Bian pun masuk, produser TCD itu mengatakan untuk Zanita beristirahat saja dulu hingga sembuh.


" Bagus, haissh kamu ini Za benar-benar membuat ku khawatir. lain kali akan langsung ku buang itu makanan-makanan begitu kalau kamu masih berani membelinya."


Andra mengusap wajah Zanita dengan handuk kecil. Pria itu memberanikan diri untuk mencium kening Zanita sesaat. Malam ini Andra akan tidur di kamar Zanita, khawatir kalau tiba-tiba istrinya itu bangun dan membutuhkan sesuatu. Biarlah jika besok Zanita akan marah, tapi yang penting malam ini Andra harus menjaganya.


*


*


*


Lain Andra lain pula Raffan. Pria itu duduk di balkon apartemennya sambil menikmati secangkir ekspresso dan melihat pemandangan kota yang dipenuhi lampu-lampu. Kata-kata Zanita tadi sungguh terngiang di pikiran Raffan. Sesaat ia meragukan kehamilan Vanka. Tapi melihat Vanka yang begitu kehilangan, Raffan sangat iba dan merasa semuanya benar.


Akan tetapai hati kecil Raffan merasa gamang. Dia memang yang pertama untuk Vanka saat pertama kali mereka melakukannya Vanka masih tersegel. Tapi hubungan mreka yang berjalan selama 6 bulan itu begitu aman-aman saja. Dan tiba-tiba Vanka mengaku hamil sebelum Raffan menikah. Hal ini lah yang sedikit mengganggu pikiran pria yang gagal jadi ayah karena Vanka dinyatakan keguguran.


Raffan juga mengingat kata-kata Zanita yang mengatakan bahwa Vanka adalah mantan sahabat baiknya. Raffan tentu tidak pernah tahu akan hal itu. Rasanya pria itu ingin sekali menanyakannya kepada Vanka, tapi Vanka bahkan baru saja tidur setelah menangis seharian ini.


" Apa sebelumnya mereka saling kenal? Za mengatakan Vanka adalah mantan sahabat, apa sebenarnya mereka dulu sangat dekat? Apa Vanka juga tahu bahwa aku adalah tunangan Zanita sahabatnya? Kenapa sepertinya banyak hal yang terlewatkan. Aku harus bertanya pada Vanka tapi tunggu setelah dia kembali normal. Apa aku harus bertanya pada Za?"


Raffan mengacak rambutnya kasar. Ia merasa ada sesuatu yang tersembunyi. Dia, Vanka dan Zanita, mereka seperti ada keterkaitan satu sama lain.


Vanka yang tiba-tiba muncul dihadapanya dan menawarkan hubungan. Padahal waktu itu Raffan mengatakan bahwa dirinya sudah memiliki tunangan namun Vanka seakan tidak peduli. Bahkan Vanka secara terang-terangan menawarkan tubuhnya yang membuat Raffan kehilangan kendali atas dirinya.


Tapi seperti yang sudah dikatakan, nasi sudah menjadi bubur. Ia harus menikmati apa yang dia tanam, ia harus memanen hasil tanamannya selama ini.


" Aku ikhlas jika memnag ternyata Vanka memanglah yang jadi istriku dan aku akan melepaskan Zanita. Hanya saja masih ada suatu hal yang terasa janggal. Aku ingin meluruskan hal ini sebelum aku benar-benar menerima kehidupanku tanpa kamu Za."


Rupanya rencana Vanka untuk membuat Raffan membenci Zanita karena telah membuatnya keguguran nyatanya tidak berhasil. Bahkan sampai malam ini Raffan lah yang merasa bersalah terhadap Zanita. Bukannya membenarkan tindakan yang dituduhkan Vanka kepada Zanita, akan tetapi hati Raffan benar-benar tidak bisa membenci Zanita.


Alih-alih membenci, Raffan beranggapan apa yang terjadi pada Vanka mungkin adalah takdir yang Tuhan persiapkan. Seperti apa yang dikatakan oleh Zanita, mungkin anak Raffan dan Vanka yang masih berbentuk embrio itu tidak ingin dilahirkan dari hasil hubungan terlarang. Hubungan yang belum sah sehingga mungkin dia meminta kepada Tuhan untuk tidak dijadikan di dunia ini.


Tanpa Raffan tahu memang anak itu tidak pernah ada sebelumnya. Bagaimana mau keguguran, lha wong janinnya saja tidak ada. Tentu saja semuanya hanyalah akal-akalan Vanka.


TBC