My Haters To Be My Wife

My Haters To Be My Wife
HW 30. Sorry, Gue Jahat



" Apa yang kamu inginkan? Aku tidak ada waktu untuk meladeni mu."


" Aku hanya ingin memperbaiki hubungan kita Za, bisakah kita bertemu?"


Zanita membuang nafasnya kasar. Akhirnya ia memenuhi permintaan Vanka untuk bertemu. Ya saat dikamar tadi Zanita menjawab panggilan telepon Vanka yang berulang kali masuk ke ponselnya. Awalnya ia mengabaikannya, namun Zanita berpikir mungkin ini akan jadi terakhir kalinya ia berurusan dengan mantan sahabatnya itu.


Ia pun mengendarai motornya sendiri dan keluar dari lingkungan apartemen. Vanka memintanya bertemu di sebuah kafe yang terletak tidak jauh dari apatemen milik Raffan.


Zanita memarkirkan motornya tepat di depan kafe. Sebenarnya lebih ke coffee shop karena di sana tertulis tempat itu buka 24 jam. Zanita bisa melihat Vanka di dalam sedang menikmati minumannya. Ia mengambil nafas dalam-dalam dan membuangnya perlahan. Zanita benar-benar menyiapkan dirinya untuk menemui mantan sahabatnya itu.


" Hai Za, long time no see? Bagaimana kabar mu?"


" Seperti yang kamu lihat. Aku baik-baik saja."


Vanka mencoba menelisik wajah Zanita. Dan memang benar, Zanita terlihat baik-baik saja. Harapannya Zanita akan terlihat buruk pasca ditinggal menikah oleh Raffan namun sepertinya tidka begitu. Vanka tidak melihat tanda-tanda depresi sama sekali, sungguh membuat Vanka kesal setengah mati. Tapi wanita itu berusaha untuk bersikap biasa. Lagi, dia tidak boleh kalah dari Zanita.


Vanka pun memulai berkisah pasca pernikahannya. Mengatakan betapa bahagianya dia bisa menikahi Raffan. Bagaimana Raffan memperlakukan dirinya bak seorang ratu dan lain sebagainya. Berharap dengan cerita nya itu Zanita akan marah. Tapi zonk, Zanita tidak bereaksi apapun. Gadis itu hanya mengangguk-anggukkan kepalanya sambil menikmati cappucino dingin kesukaannya.


" Bagus deh kalau gitu, aku ikut seneng dengernya. Kalau udah aku mau balik."


" Tunggu."


" Tck, apa lagi."


" Bisakah kau mengantarku Za."


Zanita menaikkan satu alisnya. Ia merasa aneh dengan permintaan Vanka. Pertemuan ini saja dia sudah merasa aneh. Pasalnya semenjak kelulusan SMA mereka sama sekali tidak pernah berinteraksi. Dan ini, tiba-tiba meminta untuk mengantarkan pulang? Fix, wanita licik itu pasti sedang merencanakan sesuatu, begitulah isi pikiran Zanita. Tapi sepertinya Zanita akan mengikuti permainan Vanka.


" Oke, mari ku antar. Tapi maaf aku hanya pakai motor. Kamu tahu dong aku bukanlah seorang yang kaya, jadi tidak bisa mengantarmu memakai mobil."


" Tidak masalah."


Vanka tersenyum, senyum yang menyiratkan sebuah kemenangan dan kelicikan akan rencana yang ia sudah susun dengan baik.


Setelah ini aku yakin Raffan akan benar-benar membencimu dan kau akan merana sampai gila.


Zanita menyalakan motornya, dan Vanka duduk di belakang. Vanka berpegangan pada pinggang Zanita. Sudah lama tidak membonceng motor membuatnya sedikit takut juga. Berkali-kali Vanka mengumpat kesal dalam hati saat Zanita mengerwm mendadak.


Hihihi, rasain. Taut kan lo. Gue pengen lihat apa yang lo rencanakan. Katanya hamil, tapi kok perutnya tipis gitu ya. Nggak ada kelihatan kalau dia hamil beneran. Bodo amat mau beneran apa bohongan tetep aja jijik gue lihat pasangan mereka.


Bruuum ciiit


Zanita memarkirkan motornya di basemen sesuai keinginan Vanka. Setelah Vanka turun Zanita segera ingin pergi dari tempat itu. Namun karena satu hal membuat Zanita tinggal untuk sesaat.


Ya, Vanka tiba-tiba menjatuhkan dirinya sendiri. Zanita tentu terkejut melihat hal tersebut. Ia dengan jelas melihat Vanka menyeringai, namun seringainya berubah menjadi tangisan dan ekspresi kesakitan saat seseorang memanggil namanya.


Raffan, pria tersebut muncul dari depan lift dan langsung berlari sambil meneriakkan nama Vanka. Tampak raut khawatir dati wajah pria itu.


" Van, kamu kenapa. Ya Allaah darah. Van."


" Sakit Raf, perutku sakit banget."


" Za, apa yang kamu lakuin. Aku tahu kamu marah tapi nggak gini juga. Ini nyawa Za."


" Tck tck tck, war byasaah. Berasa nonton sinetron nggak sih. Lu emang keren Van, mantan sahabat baikku. Emang layak dapat julukan artis. Akting lu sungguh luar biasa. Ya, ya, ya. Disini gue adalah tokoh antagonisnya. Wanita jahat yang menyakiti wanita lain. Bodo amat lah ya, tapi satu hal sih buat lo berdua. Kalau benar dia hamil, mungkin janin kalian ogah lahir dari orang tua yang bejat macam kalian. Tapi kalo bener dia hamil ya. So, sorry kalau gue jahat. Daah."


Skak mat


Vanka seperti baru saja ditembak oleh fakta. Namun dia berusaha memperdalam drama nya agar Raffan tidak curiga dan memikirkan kata-kata Zanita lebih jauh lagi.


" Ayo kita ke rumah sakit Van?"


" Tidak! Maksudku kita ke klinik dekat sini saja. Aku sudah tidak tahan dengan sakit nya Raf."


Raffan mengangguk mengerti. Ia segera menggendong Vanka dan memasukkan ke dalam mobil menuju klinik terdekat. Jujur Raffan begitu khawatir, terlebih melihat darah yang merembes di kedua kaki Vanka. Ada rasa takut di sana, takut jika benar-benar Vanka keguguran.


Sampai di klinik seorang tenaga medis datang mendekat dan meminta Raffan untuk membawa Vanka ke ruang perawatan. Raffan diminta menunggu di luar.


Setelah Raffan ke luar, Vanla langsung bangkit dari posisi tidurnya membuat tenaga medis itu terkejut. Bagaimana bisa seorang wanita yabg pendarahan terlihat biasa saja.


" Nyonya, anda."


" Diam. Aku ingin kau mengatakan hal ini pada suamiku."


" Tapi nyonya, saya tidak bisa."


" Kau bukan pemilik tempat ini kan? Kau hanya pekerja bukan? Akan ku berikan bayaran yang mahal jika kau mau mengikuti kemauanku."


Orang tersebut berpikir sejenak. Kebutuhan dirumahnya sedang sangat banyak, dan tawaran menggiurkan dari Vanka bagai oase di padang pasir yang gersang nan tandus. Akhirnya orang tersebut pun menyetujui keinginan Vanka.


Setelah sekitar 15 menit berada di dalam dengan Vanka, tenaga medis tersebut keluar dari ruang rawat dan mengatakan apa yang diminta oleh Vanka.


" Maaf tuan, istri Anda keguguran. Kandungan yang lemah mengakibatkan benturan pelan saja bisa membuat janin tidak selamat. Hanya itu yang bisa saya sampaikan."


" Apakah aku bisa menemuinya?"


Tenaga medis itu pun mengangguk. Ia membiarkan Raffan masuk ke dalam. Vanka terlihat sangat lesu, matanya sembab dan ia masih menangis. Raffan lalu memeluk Vanka dan mencium kening istrinya itu.


" Anak kita Raf, hu hu hu. Anak ku sudah pergi Raf."


" Maafkan aku. Maafkan aku yang tidak bisa melindungi kalian. Za benar-benar keterlaluan. Bisa-bisa nya dia berbuat seperti ini kepadamu."


" Jangan silahkan dia Raf, dia mungkin marah dengan ku karena sudah merebut mu darinya."


" Tapi bukan begini caranya. Aku sungguh tidak menyangka Za tega melakukan hal ini. Sudah ya, mungkin masih belum rejeki kita. Masih ada waktu untuk kita memilikinya lagi."


Raffan memeluk Vanka lagi. Disana senyuman lebar terbit di bibir Vanka. Rencananya berhasil. Kehamilan palsu berakhir disertai kebencian Raffan terhadap Zanita. Sungguh dua hal yang membuatnya sangat bahagia saat ini.


TBC