My Haters To Be My Wife

My Haters To Be My Wife
HW 55. Hasil Ulah Sendiri



Sepanjang perjalanan pulang Andra sungguh kesal mengingat apa yang Vanka coba lakukan terhadapnya. Juned bisa melihat ekspresi kesal Andra tersebut.


" Kenapa bang?"


" Itu Si Nenek Gayung ternyata ikut main di film Hunang. Mana kelihatan banget mau deketin gue lagi. Gue kerjain aja sekalian. Kayaknya gue bakal bilang ke Hunang buat nge-cut bagian dia pas ndiriin tenda. Ya, ide bagus tuh kayaknya.


" Cewek yang udah ngrebut calon suami nya Za?'


Andra mengangguk, benar-benar ia sangat kesal dengan Vanka. Terlebih saat ingat bagaimana Zania sakit perut malam itu gara-gara meluapkan kekesalannya kepada si Vanka tersebut.


Setelah sekitar 3 jam berkendara akhirnya mereka sampai juga di apartemen. Keduanya berjalan menuju apartemen. Andra mengatakan untuk meninggalkan barang-barang di mobil saja baru besok dibereskan. Sesampainya ia di depan pintu apartemen Andra baru ingat. Dia seharusnya pulang ke rumah mertuanya karena sang istri akan menginap di sana. Tapi badannya terlalu lelah untuk kembali mengemudi.


" Besok pagi-pagi aja lah ke sananya."


Ceklek


Andra membuka pintu apartemen dan berjalan masuk ke dalam. Ia sedikit terkejut saat melihat Zanita yang tidur di sofa depan TV. Andra berjalan mendekat dan melihat wajah istrinya dengan seksama.


" Apa kamu menungguku? Kupikir kamu pulang ke rumah bapak ibu. Haish, kenapa juga tidak tidur di kamar hmmm? Pasti dingin, mana nggak pake selimut lagi."


Andra berbicara sendiri sambil mengangkat tubu Zanita dan membawanya ke kamar. Rasa lelah yang ia rasakan seketika hilang saat melihat wajah sang istri.


Andra membaringkan tubuh Zanita secara perlahan di atas ranjang. Ia mencium kening sang istri sedikit lebih lama.


" Terimakasih sudah menungguku istriku."


*


*


*


Adzan subuh berkumandang, Zanita menggeliat pelan. Ia sedikit terkejut saat sebuah tangan kekar melingkar di perutnya. Ia pun menoleh ke samping. Dilihatnya Andra tertidur di sana. Wajah pria itu terlihat begitu lelah.


" Apa abang yang memindahkan ku? Terimakasih."


Zanita dengan hati-hati mengangkat tangan Andra dari atas perutnya agar tidak terbangun. Dengan perlahan ia turun dari tempat tidur dan berjalan ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Zanita lalu membentangkan sajadahnya dan melaksanakan kewajiban 2 rakaat. Doa tulus ia panjatkan sebelum ia kembali melipat mukena dan sajadahnya.


Zanita berjalan keluar kamar menuju ke dapur. Ia akan memasak pagi ini. Menu sederhana saja, nasi goreng. Setelah selesai ia kembali ke kamar untuk membangunkan sang suami. Zanita tahu Andra pasti baru sampai larut malam, tapi ia tetap harus membangunkannya agar tidak terlewat subuhnya.


" Bang, bangun. Subuhan dulu. Bang."


" Ehmmm. Ya."


Andra bangkit dari tidurnya dan berjalan dengan gontai ke arah kamar mandi. Terlihat sekali ia masih mengantuk. Tapi benar kata Zanita ia harus melaksanakan kewajibannya terlebih dulu.


Zanita menunggu Andra yang sedang sholat. Ia duduk di atas ranjang memperhatikan Andra. Ada rasa damai di hatinya saat Andra melantunkan ayat suci tersebut. Seketika Zanita merasa bersyukur bertemu dengan Andra. Pria yang dulu begitu ia benci itu kini menjadi pria yang mulai mengisi relung hatinya.


Setelah Andra selesai dengan sholat nya, Zanita meraih tangan Andra dan menciumnya. Andra membalas dengan mencium pucuk kepala Zanita dan juga keningnya.


" Terimakasih sudah membangunkan ku."


" Terimakasih juga sudah mindahin dari sofa ke kamar."


" Aku antar ya."


" Nggak usah bang. Pasti masih ngantuk dan capek. Aku bisa sendiri."


" Nggak apa, sekalian aku mau ketemu Adit."


Zanita mengangguk mengerti. Jika sudah bicara tentang Adit berarti ada urusan pekerjaan diantara keduanya. Zanita masih tidak tahu kalau Adit adalah teman Andra juga. Hubungan mereka bukan hanya sebatas rekan kerja.


Di lokasi syuting, para pemain sudah bangun dari sejak subuh tadi untuk melanjutkan syuting. Badan Vanka terasa remuk saat ini. Terlebih kemarin sehari semalam ia benar-benar melakukan banyak adegan.


Tapi jika apa yang tertulis di skripnya benar, maka hari ini menjadi hari terkahir ia syuting. Vanka sudah tidak sabar ingin segera selesai.


" Aku pengen cepetan pulang."


" Baru ge segini Van. Kamu udang ngerasa lelah. Katanya mau jadi artis top. Asal lo tahu Van, artis-artis yang udah ngetop itu mereka bekerja bagai kuda. Bukan hanya setahun dua tahun tapi bertahun-tahun untuk bisa mengukuhkan namanya di dunia entertainment. Setelah itu barulah mereka menikmati hasil kerja kerasnya. Kamu baru syuting selama seminggu aja udah ngeluh."


Kicep


Vanka tidak bisa berbicara apapun untuk menanggapi omongan Restu. Apa yang dikatakan Restu tentu benar semuanya. Tapi meskipun begitu Vanka sungguh kesal dengan Restu. Pria yang menurutnya biasa-biasa saja itu selalu bisa membungkam mulutnya dengan kata-kata yang memang masuk akal.


Vanka semakin kesal saat melihat Riana ada di sana. Yang ia tahu Riana sedang syuting sebuah series. Lalu mengapa gadis itu ada di lokasi syuting Film Mendadak Traveling.


" Tia, kenapa tuh bocah ada di sini?"


" Oh Riana, katanya ada peran tambahan dan Riana cocok untuk peran tersebut."


" Sial, bocah itu mendapat perhatian lebih dari pada ku."


" Sudahlah Van, jangan selalu membenci orang. Van aku harap kamu bisa memperbaiki attitude mu. Jika kau terus seperti ini maka kau akan segera tenggelam. Tidak ada gunanya menjadi sombong dan angkuh. Semua hanya akan mengandalkan diri sendiri nanti."


Tia melenggang pergi setelah menyampaikan hal tersebut. Tampaknya asisten dari Vanka itu mulai gerah dengan kelakuan Vanka dan apa yang terlontar dari bibir wanita itu. Tia yang semula selalu sabar menanggapi Vanka kini kehilangan kesabarannya. Tia berharap Vanka bisa berubah tapi sepertinya akan sulit dilkaukan oleh wanita itu.


" Kenapa Tia?"


" Eh Bang Restu. Huft, itu si Vanka ngeselin. Selalu saja iri terhadap pencapaian orang lain."


" Karena Riana disini?"


Tia mengangguk, Restu pun paham. Seeprtinya Vanka itu memang wanita yang sangat susah diatur. Tia adalah asisten artis paling sabar di CA. Tapi rupanya kesabaran Tia juga tidak bisa untuk menghadapi Vanka.


" Apa kamu mau menemani Riana?"


Tia mengangguk dengan cepat. Ya lebih baik dia menemani Riana ketimbang menghadapi Vanka. Restu pun berjalan menuju tempat Vanka berada. Terlihat wanita itu masih bersungut-sungut. Kesal karena Riana akhirnya jadi satu project film dengannya dan kesal karena Tia malah pergi tanpa membereskan barang-barang nya.


" Sekarang kamu lakukan sendiri semua pekerjaanmu. Tia sudah ku tarik. Jangan protes, Gibson memberiku wewenang lebih soal ini. Belajarlah untuk menghormati orang lain dan hilangkan star syndrome mu itu. Jika tidak kau akan hancur Van. Ini terakhir kali aku memperingatkanmu. Gibson menceritakan semuanya kepadaku tentang pernikahan dan keguguranmu. Jadi hati-hatilah."


Satu kalimat terakhir Restu ucapkan dengan mendekatkan bibirnya di telinga Vanka. Wanita itu lantas terdiam tanpa berani menatap Restu. Aura kepemimpinan dan mendominasi pria itu membuat Vanka tak berkutik sama sekali.


" Kenapa jadi begini. Kenapa semua berbalik kepadaku. Drama keguguran itu. Kenapa itu malah menjadi ancaman buat ku. Arggghhh!"


TBC