
Gibson menghubungi Restu, ia meminta Restu untuk menghandle CA untuk sementara waktu. Tentu Gibson tidak mengatakan hal yang sebenarnya. Bagaimana pun keluarga Gibson bukanlah keluarga yang biasa, ayahnya anggota dewan dan Gibson tahu apapun yang terjadi pada keluarga nya akan menjadi sorotan publik.
" Tapi Gib, aku nggak bisa ."
" Res, gue yakin lo bisa. Gue tahu lo punya kemampuan untuk itu. Please bantu gue. Gue saat ini bener-bener nggak bisa kemana-mana."
Akhirnya Restu pasrah. Ia setuju dengan permintaan Gibson tersebut. Ia memiliki pemikiran bahwa Gibson mungkin punya permasalahan sendiri yang tidak bisa diceritakan.
Di sebuah ruangan, Fetisia terlihat marah saat mengetahui dirinya berada di rumah sakit. Ia bahkan mencabut selang infus yang masih menancap di tangannya hingga darah nya tercecer.
" Kak, Apaan sih. Kok aku di rumah sakit. Kak aku mau pulang, pacarku sedang menungguku."
Gibson merasa sedih dengan kondisi adiknya. Mungkin ini adalah teguran dari tuhan kepada keluarganya. Mereka semuanya sibuk dan sedikit melupakan sang adik yang masih labil dan butuh perhatian. Soal materi tentu tidak perlu ditanyakan lagi. Fetisia jelas berkecukupan tapi soal perhatian gadis itu sangat kurang.
Ia mulai tertarik dengan Andra saat melihat unggahan-unggahan pria itu di sosial media. Banyak kata-kata motivasi yang Andra katakan membuat Fetisa seperti menemukan kembali hidupnya yang sepi. Ia mulai mengagumi Andra, mengoleksi foto-foto pria tersebut hingga keinginan memiliki Andra begitu besar. Fetisia mulai tidak rela jika ada orang yang memuji Andra terlebih itu perempuan.
" Fet, kita mau berlibur. Kamu mau ya, nanti kakak penuhi apa yang kamu meu."
" Benar? oke, tapi pulang dulu. Ada yang mau aku ambil."
" Tidak perlu, semua sudah disiapkan. Tidak ada yang perlu kamu ambil."
Fetisia hendak memberontak, namun seorang dokter sudah terlebih dulu memberikan suntikan obat penenang kepada gadis itu. Gibson benar-benar sedih. Ia tak kuasa menahan air matanya melihat sang adik.
" Dokter, apakah Fetisia bisa sembuh?"
" Tenang saja, jika melihat keadaan adik Anda ini masih dalam tahap awal. Dengan perawatan rutin ia pasti akan sembuh. Yang penting harus ada seseorang yang selalu ada du sisi nya."
" Baik Dokter Jason terimakasih."
Sebenarnya sudah sejak tadi malam Fetisia dipindahkan dari RSMH ke rumah sakit yang ada di pinggiran kota. Rumah sakit yang biasa merawat pasien-pasien yang memiliki gangguan dengan kejiwaannya. Semua tersebut adalah hasil rekomendasi dari Dokter Dika.
" Saya memiliki kenalan seorang dokter yang hebat dalam menangani kasus seperti adik Anda. Saya berani jamin Dokter Jason bisa menyembuhkan adik Anda."
Tanpa pikir panjang, Gibson malam itu langsung menuju ke tempat yang direkomendasikan oleh Dokter Dika. Gibson tentu percaya karena reputasi Dika tidak perlu diragukan lagi.
*
*
*
Beberapa hari berlalu, Vanka pagi ini masih berada di tempat tidurnya. Ia belum juga bangkit dari tidurnya, padahal Raffan sudah mau bersiap untuk berangkat bekerja.
" Sayang, Van. Bangun, udah siang. Aku mau berangkat kerja. Sayang."
Tidak ada sahutan dari Vanka, wanita itu bahkan tidak bergerak sama sekali. Raffan mencoba menggoyangkan tubuh sang istri, namun Vanka sama sekali tidak bereaksi. Raffan menjadi sedikit khawatir. Ia merasa Vanka bukannya tidur tapi pingsan. Raffan memastikan hal tersebut dengan menepuk pipi Vanka dan benar saja Vanka tidak juga bangun. Raffan berdiri mengambil sebuah cardigan untuk Vanka dan memakaikannya lalu mengangkat tubuh Istrinya untuk dibawa ke rumah sakit.
Raffan berkali-kali melihat ke arah sang istri. Wajah Vanka terlihat begitu pucat, ada sedikit rasa takut jika terjadi apa-apa dengan vanka.
" Aku harap kamu nggak kenapa-napa Van. Ayo kita mulai hidup dengan baik. Berhentilah."
Raffan Semakin kencang melajukan mobilnya berharap agar cepat sampai. Di depan pintu ruangan IGD, Raffan langsung menggendong Vanka ke dalam. Tim medis tentu sangat cekatan, mereka mendorong brankar dan meminta Raffan untuk meletakkan Vanka di sana. Mereka pun langsung membawa Vanka ke dalam ruang tindakan dan meminta Raffan untuk menunggu di luar.
Di tengah pikiran kalut nya, ia masih ingat untuk menghubungi perusahan. Meminta izin hari ini tidak masuk karena sang istri sakit. Tentu saja izin Raffan langsung disetujui, terlebih Raffan sebenarnya memang seorang karyawan teladan. Ia sama sekali tidak pernah berbuat masalah di perusahaan.
Setelah beberapa saat dokter keluar dari ruangan, Ia lalu menemui Raffan dan menjelaskan apa yang terjadi kepada vanka. Tentu saja Raffan sedikit terkejut, Bagaimana bisa dan mengapa dia tidak tahu. Apa selama ini Vanka membohonginya?
Semua pertanyaan itu berputar di kepala Raffan. Namun untuk sesaat ia mengesampingkan hal tersebut. Ia mengikuti hospital bad yang dibawa oleh perawat menuju ruang rawat. Ya, Vanka dipindahlkan ke ruang rawat karena harus menjalani pemeriksaan lanjutan dan tentunya perawatan.
" Pasien mengalami ISK atau infeksi saluran kemih, hal tersebut terjadi karena istri anda menggunakan alat kontrasepsi diafragma. Alat kontrasepsi ini memang berpotensi menyebabkan ISK."
Penjelasan dokter tadi sungguh membuat Raffan tercengang. Ia harus menanyakan hal ini kepada Vanka. Ia kini benar-benar ragu mengenai kehamilan Vanka waktu itu. Akan tetapi hamil atau tidak hamil seharusnya Raffan tetap harus bertanggung jawab terhadap wanita yang sudah ia ambil kesuciannya.
Haaah
Raffan membuang nafasnya kasar. Sepertinya ini memang sudah menjadi jalan takdirnya. Dimana ia harus menerima. Percuma juga dia nanti marah atau kecewa terhadap Vanka, toh sebenarnya dia tak ubahnya dengan wanita itu.
" Apakah sudah merasa lebih baik?"
Vanka tidak menjawab pertanyaan Raffan, wanita itu malah terisak. Tampaknya ada rasa takut dalam diri Vanka saat ini. Ia tentu tahu apa yang terjadi pada dirinya. Di dalam ruang IGD dia mendengarkan dokter berbicara meski kondisinya lemah. Rasa takut itu semakin dalam saat dokter mengatakan bahwa ISK yang ia derita sudah dalam tahap membahayakan karena sudah mengenai ginjalnya.
" Maafkan aku Raff, aku sungguh minta maaf. Aku memang menjebak mu. Kehamilan dan keguguran itu adalah bohong belaka."
Raffan menarik nafasnya dalam-dalam dan membuang nya perlahan. Banyak rasa yang berkecamuk dalam hatinya. Namun ia kembali lagi menegaskan di hatinya bahwa ini semua adalah jalan takdir yang harus dihadapi.
" Maukah kau berhenti dN tinggal saja di rumah?"
Vanka terdiam, ia melihat wajah suaminya itu dengan seksama. Ia jelas melihat gurat kemarahan di sana tapi Raffan berhasil menahan itu semua.
" Baiklah tidak perlu dipikirkan. Untuk sekarang kamu sembuh dulu. Untuk yang lain kita bisa bicarakan nanti. Aku akan menghubungi manajer mu untuk menyampaikan kondisi mu saat ini."
TBC