
Beberapa hari terlewati begitu saja. Semua kembali dengan aktivitasnya masing-masing. Meskipun canggung, Zanita berusaha untuk bersikap biasa saja saat berada di apartemen.
Hari ini akan diadakan syuting TCD kembali setelah terkahir mereka syuting di Dieng.
Zanita sejenak merasa aneh. Dia berangkat dari apartemen Andra dan kini kembali lagi ke apartemen tersebut meskipun beda tempat. Ia sesekali menyentuh dadanya dan menepuk pelan. Ada rasa berdebar di sana. Zanita takut identitas mereka diketahui oleh Liam. Zanita tahu, Liam itu sedikit sensitif dengan hal sekitar.
" Aku harus bisa bersikap biasa saja," gumam Zanita pelan.
" Za, siap."
Zanita mengangguk, mereka akan langsung mengambil gambar mulai dari pintu. Sebelumnya Zanita sudah memberitahu tentang hal tersebut kepada Andra agar pria itu bersiap melihat kamera yang sudah on.
" Hallo guys, ketemu lagi di TCD. Masih pagi nih lihat baru jam 7, kita mau lihat bang Andra ngapain aja ya jam segini. Yuk ikutin terus TCD bareng aku Za."
Andra yang sedang membuat sarapan tersenyum cerah melihat ke arah kamera. Pagi itu dia membuat nasi goreng. Lagi, Andra menyendok nasi goreng dan menyuapkan kepada Zanita. Tadinya Zanita menolak tapi melihat tatapan tajam Andra ia pun mau membuka mulutnya.
Liam melihat ada yang lain dari kedua orang tersebut. Tapi seketika di menepisnya mengingat Zanita yang sudah menikah.
" Bang Liam matiin dulu aja kameranya. Yook sarapan bareng."
" Siaap, oh iya. Hari ini kegiatannya apa nih. Kemarin kan udah tuh beres-beres rumah, hari ini jangan dong."
Andra terdiam, ia sedang berpikir akan melakukan apa. Hingga sebuah ide terbit di otaknya.
" Belanja, ayo kita belanja tapi di pasar. Mak-mak pasar pasti nggak akan ngenalin gue bang. Jadi nggak akan bikin kehebohan."
Liam mengangguk setuju. Itu adalah ide yang bagus. Sebenarnya ide itu merupakna trik Andra ingin mengisi bahan makanan dia yang sudah habis. Andra tentu belum tahu apa yang Zanita suka maka dari itu ide belanja bisa dijadikan cara untuk mengetahui apa yang diinginkan Zanita yang Andra baru tahu kalau istrinya itu suka memasak.
Di Pasar
Dengan kameranya Liam merekam setiap momen Andra dan Zanita. Terlihat keduanya seperti sepasang kekasih yang sedang berbelanja. Andra beberapa kali menanyakan kepada Zanita mau membeli apa dan Zanita dengan lincah membeli apa yang dibutuhkan.
Belanjaan mereka benar-benar komplit. Mulai dari daging, ayam, sayuran dan bumbu dapur. Bahkan peralatan kebersihan sekalian saja dibeli di pasar agar tidak perlu belanja di supermarket lagi.
" Nah itu tadi kegiatan kita berbelanja guys, ternyata belanja di pasar tradisional itu seru banget lho. Malahan lebih komplit dari pada supermarket. So, stay tune di TCD ya bareng aku Za dan Andra Suma. See yaaa."
" Ok Done! Wuihhh keren kamu Za. Kayak udah biasa aja belanja di pasar."
" Orang tua aku punya kios kak di pasar, jadi pasar ibarat rumah kedua aku. Aku sering bantuin ibu sama bapak juga."
Liam mengangguk mengerti pun dengan Andra. Andra juga baru tahu jika bapak dan ibu Zanita pedagang di pasar. Pantas saja Zanita sama sekali tidak merasa kikuk berada di tempat itu.
Raffan baru saja pulang kerja tapi di tidak menjumpai Vanka ada di rumah. Pria itu kemudian membersihkan tubuhnya terlebih dulu sebelum melakukan aktifitas yang lain.
Raffan pergi ke dapur, ia tidak menjumpai adanya makanan.
Dengan gerak cepat, pria itu membuka lemari pendinginnya dan mengolah bahan makanan menjadi masakan sesuai dengan yang di inginkan. Raffan duduk di dapur dan memakan sendiri makanannya. Ia memindai seisi apartemen. Sunyi dan sepi. Pria itu membuang nafasnya kasar.
" Kehidupan pernikahan yang kuinginkan bukanlah seperti ini. Aku ingi bercengkerama dengan istriku ketika aku pulang bekerja. Tapi rupanya itu tidak akan terjadi. Vanka, aku tidak tahu jam kerjanya seperti apa. Dia bisa saja pulang pagi untuk menyelesaikan syutingnya."
Raffan menggerutu pelan. Ia yang tadinya ingin masuk ke kamar urung dan memilih menyalakan tivi. Tapi sama saja pikirannya saat ini tengah melalang buana. Matanya memang menatap ke layar kaca tersebut tapi pikirannya tertuju kepada Zanita.
Memang benar, jika sudah kehilangan baru terasa bahwa orang yang selama ini ia tipu itu begitu berarti dalam hidupnya. Ya, Raffan mengakui dia memang menipu Zanita. Gadis baik itu dengan tega ia khianati cinta nya hanya karena sebatas nafsu saja.
" Haaah, menyesal pun percuma. Terlebih selama beberapa hari ini aku hendak meminta maaf kepada Za juga tidak bisa dia sama sekali tidak ingin menemui ku."
Cekleeek
" Malam sayang, maaf aku pulang telat dan tidak memberi mu kabar."
Vanka baru saja pulang. Ia mencium pipi Raffan sekilas lalu berlalu ke kamar untuk mandi dna berganti pakaian. Tak lama wanita itu keluar dari kamar dan duduk di sebelah Raffan. Vanka bergelayut manja di dada bidang sang suami.
" Bagiamana kehamilan mu akhir-akhir ini. Aku lihat kamu sudah tidak pernah menginginkan makanan ini itu lagi."
" Dia baik sayang, iya aku sudah tidak mengidam, semuanya juga baik. Tadi aku juga baru aja cek ke dokter."
" Lain kali kalau ke dokter bilang, aku akan menemanimu. Perusahaan tempatku bekerja begitu perhatian dengan karyawannya. Jika ada istrinya yang hamil perusahaan akan memberikan toleransi untuk suaminya mengantarkan istri periksa kandungan."
Vanka mengangguk mengerti. Ia hanya tersenyum singkat lalu mengusap perutnya. Wanita itu tiba-tiba sedikit kalut dengan sikap Raffan yang begitu perhatian atas kehamilannya.
Mampus aku gimana kalau Raffan benar-benar mau menemani ke dokter. Kehamilan ini kan palsu. Selama ini aku memakai alat kontrasepsi saat berhubungan dnegan Raffan. Gila aja, aku nggak mau karirku anjlok jim aku hamil. Terus wanita hamil kan semakin gede perutnya, ini gimana bisa membuat perut ku semakin gede nanti?
Pikiran Vanka berkecamuk. Wanita itu benar-benar licik. Dia memakai kehamilan palsu untuk mengikat Raffan disampingnya. Bahkan Vanka juga membuat laporan laboratorium palsu untuk meyakinkan drama yang ia mainkan itu.
Kini wanita itu bingung harus bagaimana. Ia benar-benar takut Raffan akan meninggalkannya jika ketahuan bahwa kehamilannya adalah sebuah kebohongan. Vanka terus berpikir hingga ia mencetuskan ide. Sebuah drama lain akan ia buat untuk membuat semuanya itu terlihat lebih real. Ia bahkan bisa menyeringai saat menemukan cara membuat Raffan membenci Zanita.
" Satu dayung dua pulau terlampaui. Aku akan melakukan itu. Aku yakin Raffan akan membenci Zanita juga. Dna Zanita, wanita itu akan semakin tersiksa dnegan sikap Raffan ke dia nanti. Hahaha aku benar-benar cerdas. Lihat saja Za, ini benar-benar baru permulaan."
TBC