
Zanita bersama Andra sudah sampai di apartemen. Sesuai apa yang dikatakan Andra bahwa dia akan membawa Zanita untuk pulang ke apartemennya pagi tadi.
Kedua orang tua Zanita melepas putrinya itu dengan sedikit berat. Tapi Andra meyakinkan bahwa dia akan menjaga Zanita dengan sangat baik. Andra juga mengatakan bahwa ia akan segera membawa kedua orang tuanya untuk menemui Wawan dan Milah.
" Lohh bukannya apartemen abang yang di sana ya. Kok ini?"
" Masuk aja dulu, yang di sana punyaku juga. Tapi ini adalah punyaku yang sesungguhnya."
Zanita memicingkan matanya saat mendengar penuturan dari Andra. Dia bisa langsung tahu bahwa untuk syuting TCD itu bukanlah apartemen pribadi Andra yang sebenarnya.
" Ihhh abang bohong ya?"
" Mana ada aku bohong. Kan konsep TCD tempat tinggal, nah itu juga tempat tinggal ku. Nggak ada yang salah dong kau punya dua apartemen, nah yang satunya buat syuting. Lagian kalau di sini buat syuting takut ketahuan kan kalau kita udah merried waah repot nanti jadinya."
" Eeh bener juga ya."
Andra terkekeh geli melihat wajah Zanita yang hanya mengangguk-angguk dengan setiap ucapannya. Zanita memindai seluruh isi apartemen milik Andra yang sebenarnya. Tampak apartemen tersebut lebih lengkap dan seperti rumah pada umunya. Zanita pun hendak masuk ke kamar yang ia yakin bahwa itu bukanlah kamar Andra. Terlihat ada dua kamar yang satunya besar dan yang satunya lebih kecil.
" Eh mau kemana, itu kamar Juned."
" Laaah, terus aku tidur dimana? Aku nggak mau ya tidur di sofa depan tivi."
Tawa Andra seketika pecah mendengar ucapan Zanita. Bagaimana bisa gadis itu berpikir seperti itu. Mana tega dia membiarkan sang istri untuk tidur di sofa depan tivi. Andra benar-benar tak habis pikir dengan jalan pikirannya Zanita.
" Kamu ya tidur dikamar itu lah, tidur bersamaku. Hei ingat kita sudah menikah bukan?"
Glek
Zanita menelan saliva nya dengan susah payah. Ia baru ingat akan hal itu. Ia lupa bahwa dirinya dan pria yang saat ini berdiri di depannya itu adalah sepasang suami istri.
Mampus,bagaimana kalau dia beneran meminta hak nya. Gilaaa, gue belum sanggup untuk itu.
Zanita menggelengkan kepalanya dengan cepat. Andra lagi-lagi terkekeh. Sungguh istri nya itu merupakan hiburan untuknya, selalu ada saja tingkah Zanita yang membuatnya gemas.
" Apa yang kau pikirkan hmm?
" Tidak ada, aku tidak memikirkan apapun?"
Zanita sedikit kikuk saat Andra menatapnya dengan sangat intens, bahkan pria itu semakin mendekat membuat dirinya tersudut. Reaksi tubuh Zanita terlihat panik, Andra bisa mengetahui hal tersebut. Pria itu lalu membuang nafasnya kasar. Ia lalu meminta Zanita untuk masuk ke kamar yang ia katakan kamar Juned tadi.
" Lho katanya ini kamar Kak Juned?"
" Ya udah kalau kamu nggak mau, ayo kita tidur di satu kamar."
Gadis itu menggeleng lalu berjalan cepat masuk ke kamar yang satunya lagi lalu menutup pintu dengan sedikit keras.
Brakk
Zanita bersandar di pintu kamar sambil memegang dadanya. Ia merasa debaran jantungnya begitu terasa saat Andra tadi berjalan mendekatinya.
" Tenang, tenang, aku yakin si magicom itu nggak akan ngapa-ngapain."
Zanita berbicara pada dirinya sendiri. Selanjutnya gadis itu sudah mulai berkutat dengan kamarnya. Menata semua baju yang ia bawa dan beberapa pelengkapan lain.
Di luar kamar, Andra menghembuskan nafasnya lega. Sebelum pulang ia meminta Juned untuk pindah ke apartemen sebelah. Andra tentu tidak akan memaksa Zanta untuk tidur satu kamar denannya. Hubungan mereka bukanlah hubungan suami istri pada umumnya. Mereka menikah karena suatu hal. Andra harus pelan-pelan untuk membuat hubungan mereka menjadi normal.
" Aku kan mnyembuhkan luka mu Za. Aku janji itu."
Andra tahu, meskipun Zanita diluar tampak biasa saja tapi hati gadis itu pasti sangat sakit. Terlebih yang mengkhianatinya adalah orang yang dulu pernah dekat dengannya.
Andra langsung mencari tahu siapa Vanka, wanita yang menjadi istri dari Raffan. Andra sedikit terkejut saat tahu Vanka ini adalah Yovanka Whietney. Yovanka Whietney adalah salah satu artis juga dan fakta yang ia temukan adalah Vanka ini dulunya sahabat baik Zanita. Bahkan mereka sekolah dari SMP dan SMA yang sama.
" Sebentar-sebentar apa ini yang membuat dia sanagt benci pada profesi artis. Ia begitu anti dengan itu. Waah nggak bener nih, nggak bisa dibiarin. Gara-gara Vanka ini gue yang nggak ngerti apa-apa juga ikut dibenci sama dia. Okelah Za, aku akan membuatmu tidak membenciku."
Setelah berkutat dengan pikirannya sendiri Andra masuk ke kamar. Ia ingin mandi karena merasa tubuhnya sudah sanagt lengket.
Di sisi lain Zanita keluar dari kamar dengan mengendap-endap. Sambil melihat ke kanan dan ke kiri mencoba memastikan bahwa Andra tidak ada di sana. Gadis itu menghela nafasnya lega saat tidak melihat Andra. ia kemudian berjalan ke dapur. Setelah pulang kerja tadi dia belum makan apapun.
Gadis itu melihat ke dalam kulkas. Ia menemukan bebrapa bahan makanan yang bisa dimasak. Zanita mulai menggulung rambutnya ke atas, memakai apron yang ada di dapur dan mulai memasak.
Suara perlatan dapur beradu. Andra yang ada di kamar selesai mandi pun keluar. Hanya mengenakan boxer dan dada tak berbalut baju, pria itu tersenyum melihat tingkah Zanita yang sedang memasak.
" Pemandangan yang indah," gumam Andra lirih. Ia melipat tangannya di depan dada dan bersandar pada pintu kamar sambil terus memperhatikan Zanita yang sedang memasak.
Penasaran dengan apa yang dimasak gadis itu, ia pun memutuskan berjalan mendekat.
" Bikin apa Za?"
" Ayam teriyaki, aaaaaa!"
Zanita seketika menutup matanya dengan kedua tangan saat melihat tampilan Andra yang topless. Namun rupanya Andra tidak sadar dengan tampilannya sendiri yang hanya mengenakan boxer tanpa memakai kaos nya.
" Kamu kenapa sih Za."
" Abaang, pakee baju napaaa!"
" Astaga, sorry kebiasaan. Tapi Za, serius nih nggak mau lihat. Mubazir lho."
" Aku lempar wajan kalau abang nggak segera pakai baju."
Andra tertawa terbahak-bahak sambil melenggang pergi masuk ke kamarnya. Ia mengambil kaos oblong lalu memakainya. Kebiasannya saat di rumah emang begitu. Ia benar-benar lupa bahwa di apartemennya itu ada makhluk yang namanya perempuan. Mana makhluk ini sepertinya masih sangat polos lagi.
" Za!"
" Abang udah pake baju belum."
" Udah Za."
" Awas kalau bohong."
Zanita kemudian berbalik, benar Andra sudah memakai bajunya. Gadis itu menghembuskan nafasnya dengan penuh kelegaan. Ia kemudian menata hasil masakannya ke dalam piring dan mulai mengambilkan nasi untuk Andra.
" Maaf membuat dapur mu berantakan."
" Pergunakan sesukamu. Apa yang jadi milikku maka akan jadi milikmu juga. Kau nyonya di rumah ini maka kau bebas melakukan apapun yang kamu suka."
Blusssh
TBC