My Haters To Be My Wife

My Haters To Be My Wife
HW 38. Rencana Andra



Rasanya Zanita ingin lari saat melihat Raffan yang sudah berdiri di samping mobilnya. Pria itu tampaknya sudah dari tadi menunggu di depan gedung JDA. Tapi akhirnya Zanita memilih untuk tetap berjalan masuk gedung dengan tenang. Ia juga tidak bisa terus- terusan menghindar. Zanita ingin semuanya selesai dan bisa melanjutkan hidupnya tanpa bayang-bayang masa lalu.


" Za!"


" 5 menit. Waktu mu hanya 5 menit untuk bicara."


Raffan mengambil nafasnya dalam dan membuangnya perlahan. 5 menit bukanlah waktu yang cukup untuk bicara. Tapi setidaknya 5 menit waktu itu cukup untuk mengutarakan kata maaf.


" Za, maafkan aku. Aku sungguh minta maaf sudah membuat kacau hati dan hidupmu. Seharusnya aku membatalkan pernikahan kita secara baik- baik dan bukannya membuat mu dan keluarga mu malu. Aku sungguh minta maaf sudah bermain di belakang mu. Dan untuk keguguran Vanka, sumpah demi apapun aku tidak menyalahkan mu."


Zanita memutar bola matanya jengah, tidak menyalahkan dia bilang? Zanita tentu masih ingat bagaimana Raffan menatapnya saat Vanka terjatuh. Ia bisa melihat tatapan tidak menyangka Raffan terhadap dirinya. Seolah-olah mengatakan, kenapa kau bisa berbuat begitu kejam.


" Tck, whatever. Yang jelas apapun urusan kalian aku tidak lagi mau peduli. Kita sudah tidak punya hubungan apapun jadi berhentilah menemui ku dan see, aku sudah menikah," ucap Zanita memperlihatkan cincin di tangannya yang Raffan tahu persis itu bukan cincin pemberiannya.


" Apa! Bagaiman bisa kamu menikah, terus dengan siapa? Za, tunggu. Jangan masuk dulu."


Zanita acuh, ia terus melenggang masuk ke dalam perusahaan bahkan sambil menutup kedua telinganya dengan tangan. Raffan yang masih berdiri di luar ingin menyusul masuk tapi dihadang oleh security karena tidak memiliki tanda pengenal.


" Sial, nikah? Za? Dengan siapa? Kenapa bisa?"


Raffan penasaran setengah mati. Dia merasa bingung, mengapa Zanita bisa menikah. Otak Raffan berusaha mencerna, ia akhirnya mengingat kedatangan Zanita ke venue saat ia selesai akad dengan Vanka. Zanita saat itu datang dengan seorang pria bertuksedo hitam.


" Apa pria itu yang menikahi Zanita? Jika benar, apa pernikahan mereka sah atau hanya sekedar untuk menutupi rasa malu keluarga Za? Aku harus segera mencari tahu."


Raffan segera pergi dari kantor JDA tapi dia sepertinya harus segera menuju ke Star Building. Ada rapat dadakan dari perusahaan tempatnya bekerja. Arjuna Dewantara rupanya meminta seluruh kepala staf untuk rapat hari itu. Raffan pun akhirnya harus menunda keinginannya untuk mencari tahu apa yang terjadi saat haru pernikahan. Dia tidak mungkin bolos dari kerjaannya, bisa-bisa reputasi sebagai karyawan yang berdedikasi tinggi terhadap perusahaan diragukan.


Zanita yang baru saja masuk ke ruang TCD langsung mendapat pertanyaan bertubi dari Bian dan Liam. Mereka rupanya khawatir saat Zanita mengatakan bahwa ia skait.


" Maaf bang, kak, sebenarnya salah aku sih. Aku kebanyakan makan makanan pedas hari itu. Nggak kontrol."


" Nggak usah minta maaf, kan kita nggak tahu juga kalau bakalan jadi sakit. Yang penting sekarang lebih menjaga aja. Ngeri banget tahu sakit perut tuh. Gue bener-bener tahu gimana rasanya."


Selanjutnya Bian malah bercerita pengalamannya saat ia mengalami hal yang sama dengan apa yang dialami oleh Zanita. Sampai ia lupa bahwa ada hal penting lainnya yang harus disampaikan.


" Bi, bukannya mau ada yang mau lo omongin ke kita and nunggu Za biar nggak ngulang ya."


" Laaah gue lupa. Sorry. Gini- gini, kita meeting dadakan ya. Kemarin gue udang ngebahas soal ini ke Andra. Ini soal viewer kita yang banyak saat trip ke Dieng. Nah kita mau bikin tayangan traveling Andra, doi bilang mau trip ke Jawa Timur dan sekitarnya. Gue udah bilang ke Big Bos dan beliau Acc. Nah Za, kamu gimana oke nggak?"


Kok dia nggak bilang sih punya rencana trip.


Zanita bermonolog dalam hati. Jika membicarakan soal pekerjaan begini siap tidak siap ya dia harus siap. Ia pun mengangguk setuju atas pertanyaan Bian. Hanya saja mengapa Andra tidak memberitahukannya terlebih dahulu saat di apartemen.


Bang, kok nggak bilang mau ada planning trip ke Jatim? ( Za)


^^^Maaf, kemarin msu bilang kamu sakit, terus Restu dateng juga jadi lupa. (Andra)^^^


Oh oke deh. (Za)


Zanita menghembuskan nafasnya lega. Entah mengapa ia merasa perlu mengonfirmasi kedatangan Raffan ke JDA tadi melalui pesan. Sudah mengetik beberapa kata tapi oleh Zanita dihapus kembali.


Jangan lewat chat, lebih baik nanti ngomong langsung aja.


" Maaf bang, terus kita berangkat kapan ya?"


" Besok."


" He!"


Zanita tentu terkejut mengetahui bahwa besok keberangkatan trip ke Jatim adalah besok. Bukan hanya Zanita, tapi Liam dan Dio pun terkejut.


" Yang bener aja Bang Bi, kenapa besok. Kita belum siap-siap lho ini," protes Dio.


" Maka dari sekarang go beres-beres. Go go go!"


Semua orang yang ada di tim tersebut mendengus kesal. Bian memang begitu, jika dia antusias terhadap sesuatu pasti langsung memutuskan sendiri tanpa pemberitahuan terlebih dulu.


" Pantes suka kena omel big bos," ucap Liam.


" Ho oh, untuk Big Bos Adit masih suka ngasih toleransi. Haish prod kita emang lain. Agak-agak dia," tukas Dio.


Zanita hanya mengulum senyum melihat Liam dan Dio ngedumel sambil menyiapkan peralatan masing-masing.


*


*


*


Andra dan Juned sedang berada di toko NO saat mendatangi sebuah mall. Karena mempunyai tujuan untuk ke Bromo saat trip Jatim nanti maka Andra sekarang sedang mencarikan jaket dan lain sebagainya untuk outif di sana. Bukan untuknya tapi untuk Zanita.


Andra ingat saat di Papandayan Zanita tidak mengenakan jaket yang tebal. Dia tentu tidak tega melihat sang istri kedinginan begitu.


" Apa beliin buat Za bang bos?"


" Iya. Jaket dia kurang tebel buat ke daerah dingin."


" Juned curiga ma bang bos. Jangan-jangan ini akal-akalan bang bos buat bulan madu terselubung ye?"


Andra seketika meledakkan tawanya. Mengikuti Andra selama beberapa tahun rupanya membuat Juned pintar menebak pikirannya. Sedangkan Juned melihat tawa Andra yang sangat renyah itu seketika mendengus pelan. Tidak perlu jawaban dari Andra pun dia sudah tahu jawabannya terlebih dahulu.


" Bakalan jadi nyamuk dong Juned."


" Gue juga nggak bisa ngapa-ngapain dia juga. Ntar ketahuan sama kru lagi. Kecuali~"


Seketika Andra memiliki ide untuk besok. Ia tidak akan melewatkan momen trip kali ini. Ia kan membuat dirinya dan Zanita semakin dekat besok.


" Ya, gue harus bisa nih besok nyulik Za. Ya kali jauh-jauh ke provinsi sebrang gue nggak bisa deketin Za sama sekali, hahahha gue yakin gue punya kesempatan untuk itu."


TBC