
Kring
Ponsel Andra berdering. Andra yang tidur sambil memeluk Zanita itu sungguh enggan sekali untuk mengambil ponselnya yang ada di nakas. Terlebih dia merasa baru saja tertidur.
Kring
Lagi, ponsel Andra berbunyi. Pria itu sungguh kesal. Tidurnya benar-benar terganggu. Akhirnya ia pun menggeser Zanita pelan agar bisa segera mengangkat panggilan teleponnya tersebut.
" Kampret emang si Hunang. Ganggu orang bae."
Rupanya yang menelpon Andra adalah Hunang. Sang sutradara yang ternyata adalah temannya. Pria itu benar-benar kesal dibuat oleh sutradara film yang katanya terbaik itu. Terlebih saat melihat jam di ponselnya baru menunjukkan pukul 02.00 dini hari.
" Eh kampreeet, njiiiir sialan banget sih lo Nang. Lo kagak tahu emang ini jma berapa. Buset deh, ganggu bener orang istirahat tahu. Gue sleding juga lo."
" Bang Andra Suma yang terdebes, maap ye bang maap banget ganggu waktu istirahat abang. Tapi please An gue butuh kepastian lo. Besok gua udah mau proses syuting, lo mau ya jadi guest star nya. Please An."
Andra terdiam sesaat lalu tersenyum. Ia ingat kemarin temannya itu mau memberinya tiket untuk liburan. Ia pun akan menagih janji sang teman. Pasalnya Zanita juga sudah membolehkan Andra untuk jadi bintang tamu di film yang akan dibuat tersebut.
" Gue bisa, tapi gue mau tiket ke Maldives nya dua. Gimana."
" Ah elaaah kecil itu mah. Berati fix ya lo mau. Yes! Thanks brother. Oke, selamat istirahat kembali Bang Andra. Oh iya An, untuk jadwal kapan lo syutingnya nanti gue kabari."
Andra lalu mematikan ponselnya dan kembali menaruhnya di atas nakas. Ia kembali merebahkan tubuhnya di samping sang istri. Terlihat Zanita meringkuk kedinginan meskipun sudah memakai selimut.
" Alhamdulillah kamu mau menerimaku, meskipun aku tahu masih banyak sejuta ragu di hatimu. Aku akan berusaha Za, berusaha untuk menjadi pelipur lara mu. Aku akan menunggu kamu benar-benar membuka lebar pintu hatimu untukku."
Andra mendekatkan wajahnya ke wajah Zanita dan mencium kening Zanita sekilas. Ia kemudian memeluk istrinya itu kembali agar istrinya merasa lebih hangat.
" Hehehe, enak juga ya nikah. Nih bisa meluk gini hadeeh Jon lu sabar ye Jon. Kalau hati Za belum dapat, lu juga bakalan belum dapat jatah nya."
Andra terkekeh geli dengan ucapannya sendiri. Beruntung Zanita tidak bangun akibat suaranya.
🍀🍀🍀
Di tempat lain sepasang suami istri tengah tidur bersama. Namun hingga dini hari itu mata sang suami tak kunjung bisa terpejam. Ia masih terpikirkan mengenai kata-kata sang mantan yang mengatakan sudah menikah.
Terbesit rasa tidak rela dalam diri Raffan saat Zanita mengatakan hal tersebut. Egois? Mungkin bisa dikatakan begitu. Raffan merasa sedikit sesal mengapa Zanita harus cepat menikahnya. Sungguh pikiran aneh. Dia saja bebas menikahi wanita lain saat sang calon istri sudah menunggunya. Lah ini wanita yang sudah jelas-jelas ia tinggalkan kok dia merasa tidak rela.
" Bagaimana aku harus mencari tahu."
Raffan berdiri di balkon kamarnya. Ia meninggalkan Vanka yang terlelap di atas ranjang. Entah mengapa, semenjak Vanka keguguran ia merasa Vanka berubah. Vanka terlihat lebih sibuk. Akan tetapi Raffan bisa memaklumi, mungkin itu adalah caranya Vanka untuk melebur rasa sedih di hatinya kehilangan buah hati.
Raffan duduk termenung menatap ke deretan bangunan yang menjulang tinggi di hadapannya. Ia terus berpikir dengan siapa Zanita menikah.
" Kenapa sih, kenapa aku segini kalutnya. Bukankah bagus dia sudah menikah. Dengan begitu ada yang menjaga hati dan dirinya."
" Raf,"
Vanka rupanya bangun dan memanggil Raffan. Wanita itu mengenakan baju tidur tali spaghetti berbahan satin yang hanya sebatas paha. Vanka berjalan mendekati Raffan dan langsung duduk di pangkuan Raffan lalu mencium pipi sang suami.
" Raff, aku mau."
" Tapi Van, bukannya kamu baru saja keguguran ya. Apa tidak apa-apa melakukan itu."
" Tidak, aku sudah konsultasi kepada dokter, dan semuanya baik-baik saja."
Bohong, tentu saja Vanka tidak pergi ke dokter. Untuk apa dia melakukan itu. Orang dia baik-baik saja.
Vanka terus menyerang Raffan. Sebulan lebih dia tidak mendapatkan sentuhan dari pria itu membuat Vanka begitu menginginkannya. Sedangkan Raffan, seketika itu langsung menyambut setiap belaian dari Vanka. Ia bahkan langsung menggendong Vanka dan menjatuhkannya ke atas tempat tidur.
Hilang sudah pikirannya tentang Zanita. Yang awalnya ia berusaha mencari tahu siapa yang jadi suami sang mantan, kini tidak lagi saat tubuh mulus nan seksi Vanka berada di bawah kungkungannya.
Desahaan dan erangaan menggema di ruangan tersebut. Baik Raffan maupun Vanka mendapatkan pelepasannya masing-masing. Bahkan kini mereka mengulang kembali sesi panas tersebut. Keduanya benar-benar menikmatinya. Tidak melakukannya dalam waktu lama membuang Raffan dan Vanka sama-sama tidak puas jika melakukan hanya sekali.
*
*
*
" Sial, pinggangku seperti mau patah. Padahal pagi ini mau syuting hari pertama. Pria itu benar-benar."
Vanka mengomel sepanjang perjalanan menuju lokasi syuting. Aneh, padahal dia duluan yang menggoda Raffan sampai mereka melakukannya hingga pagi.
Hari ini tim produksi film yang Vanka dapat akan melakukan syuting di daerah kota B. Sekitar 3 hari mereka akan syuting di sana. Meskipun Vanka adalah peran pendukung, dia harus tetap berada di lokasi selama syuting berlangsung.
Akan tetapi sebelum syuting di lakukan, tim produksi lebih dulu akan melakukan potong tumpeng. Kabar yang beredar, Andra Suma akan datang. Vanka sungguh sangat antusias.
" Kamu tahu dari mana Ti kalau Andra suma akan datang."
" Mereka yang bilang. Ini aku udah di lokasi. Semua orang di lokasi mengatakan itu."
Rupanya Tia sudah lebih dulu datang ke sana. Hak tersebut Tia lakukan katena Vanka terlambat dari jam janjian mereka. Mala dari itu Tia memilih berangkat sendiri. Menghindari tatapan tidak suka dari para pemain yang lain. Beberapa orang yang Tia tahu, mereka tidak suka dengan sikap angkuh Vanka.
" Woaaah ini benar-benar rejeki nomplok buat aku. Ketemu Andra Suma, sungguh hal yang akan membuat semua orang iri terhadapku. Meskipun bukan artis kepopuleran Andra Suma mengalahkan aktor film sekalipun. Wajah tampannya itu, ya ampun sungguh membuat hati melting."
Vanka rupanya sedang menyusun rencana. Ia ingin mendekati Andra Suma untuk panjat sosial. Ia merasa bahwa seorang Andra Suma pasti akan terpikat oleh dirinya. Benar-benar memiliki star sindrom.
TBC