My Haters To Be My Wife

My Haters To Be My Wife
HW 31. Istriku



Andra merasa begitu marah melihat Za ditatap sinis oleh dua orang tersebut. Tapi Andra membiarkannya saja. Tadi ia pikir Za akan menangis, rupanya tidak. Gadis itu bisa menghadapi mantan tunangan dan istrinya itu dengan sangat baik.


Andra hanya mengikuti dari kejauhan kemana Za pergi tanpa mau untuk mendekat. Ia tahu Za pasti butuh waktu. Andra juga menggunakan motor saat mengikuti Za agar tidak ketahuan oleh istrinya tersebut.


Setelah keluar dari kawasan apartemen milik Raffan Za terlihat melajukan motornya ke sebuah tempat dimana banyak orang menjual makanan. Seperti tempat kuliner. Gadis itu memarkirkan motornya, dan Andra juga melakukan hal yang sama.


Beruntung ia menggunakan jaket topi dan masker sehingga orang pasti tidak akan mudah mengenalinya. Hanya saja ia lupa membawa kacamata hitamnya karena terburu-buru saat mengikuti Za tadi.


" Buset, itu bocah jajan apa aja. Itu bukannya pedes banget ya."


Andra bergumam saat melihat Zanita membeli macam-macam makanan yang mempunyai level pedas. Diantaranya, seblak, toppoki, ceker mercon dan ayam pedas. Andra terus mengikuti Zanita hingga gadis itu memilih duduk di rumput dan mulai memakan satu demi satu makanan yang dia beli.


Andra meringis setiap kali makanan pedas itu masuk ke mulut Zanita. Andra juga penggemar makanan pedas namun melihat Zanita memakan semua itu membuat Andra tidak habis pikir.


" Gitu kali ya kalo cewek lagi skait hati, larinya ke makan."


Andra bermonolog sambil terus memperhatikan Zanita. Takut tiba-tiba bocah itu sakit perut.


" Hah hah hah, gilaa ini pedes banget ternyata. Aduuk mana lupa nggak beli minum lagi."


Zanita tampak kepedasan setelah habis memakan semua makanan pedas yang dia beli. Ia merutuki kebodohannya yang lupa membeli minuman. Gadis itu tampak kebingungan. Pedas yang tadi tidak terasa karena emosi jiwa yang meledak kini baru terasa membakar mulutnya.


" Makanya kalau beli makanan jangan lupa beli minum. Nih minum dulu."


" Abang, kok bisa di sini."


" Tck, nanti aja pertanyaannya. Dah buruan minum dulu."


Andra yang tidak tega melihat Zanita yang kepedasan langsung menghampiri dan mengulurkan sebotol air mineral. Zanita meminum air mineral itu hingga habis tak bersisa. Andra hanya mendengus menyaksikan kelakuan sang istri.


" Sudah yang emosi, ayo pulang. Awas jangan sampai nanti sakit perut lo ya."


Zanita memanyunkan bibirnya. Ia seperti bocah kecil yang sedang dimarahi karena melakukan sebuah kesalahan. Tapi Za patuh, ia mengekor Andra pulang ke apartemen. Meskipun begitu, ia sedikit merasa puas karena bisa meluapkan kekesalannya tersebut.


" Apa kau yakin bahwa wanita itu benar-benar hamil?"


" Tidak, dia tidak hamil. Aku rasa dia membohongi Raffan."


" Seandainya kau tahu lebih dulu sebelum mereka menikah, apakah kamu tetap akan menerima Raffan?"


" Tidak, meskipun Vanka tidak hamil aku tetap tidak akan menerima Raffan. Dia sudah mengkhianati ku jauh sebelumnya dan tidak ada tempat bagi seorang pengkhianat."


Jawaban tegas Zanita membuat Andra tersenyum. Senyum yang tidak diketahui oleh Zanita karena tertutup oleh masker. Baginya apa yang dikatakan Zanita sudah cukup membuktikan bahwa gadis yang kini berjalan beriringan dengannya itu sudah benar-benar tidak memikirkan mantan tunangannya yang brengsek itu.


*


*


*


Tok tok tok


" Za, makan malam dulu."


Andra mengetuk pintu kamar Zanita. Semenjak pulang tadi gadis itu sama sekali tidak keluar dari kamarnya. Andra tentu sedikit khawatir apa lagi tadi Zanita makan makanan pedas dalam jumlah banyak.


" Za, kamu nggak apa-apa kan?"


Sunyi, tidak ada jawaban dari gadis itu. Andra yang semakin khawatir pun nekat masuk ke kamar. Betapa terkejutnya dia melihat Zanita yang terbaring meringis memegang perutnya. Wajah gadis itu basah karena keringat.


" Za, kamu kenapa?"


Andra tentu panik melihat Zanita yang meringis kesakitan. Ia mengambil handuk kecil untuk mengelap wajah Zanita yang basah karena keringat. Andra mengajak Zanita ke rumah sakit tapi gadis itu tidak mau. Malah Zanita terlihat takut saat Andra mengatakan akan membawanya ke rumah sakit.


" Mas Dika, aku harus menghubungi mas Dika." Andra berlari ke kamarnya untuk mengambil ponsel. Ia mencari nomor kontak sang kakak dan dengan cepat menekan tombol hijau.


" Hallo An."


" Mas, ke apartemen ku cepet. Ada yang sakit perut. Dia habis makan makanan pedes. Dia juga berkeringat dingin. Cepet nggak pake lama."


Di seberang sana Dika yang sedang makan malam dengan Silvya dan Nataya pun pamit kepada keluarga kecilnya itu.


" Papa nau temana?"


" Papa mau ke rumah om Andra. Kasian Om Andra sakit perut. Nataya lanjutin makan sama mama ya."


" Om Andla takit pelut? Temoga om Andla tepet tembuh ya. Talam buat om Andla ya pa."


Dika sungguh gemas dengan putranya tersebut. Nataya yang berusia 3,5 tahun itu memang sedang senang berceloteh. Ia pun mencium kepala Nataya dan Silvya bergantian.


" Hati-hati mas. Semoga Andra baik-baik saja."


Dika mengangguk. Ia pun segera menaiki mobilnya dengan membawa tas dokternya. Dika membuang nafasnya pelan, sang adik memang gemar sekali mengonsumsi makanan pedas hingga kadang lepas kendali. Padahal ia sering kali memperingati sang adik, tapi Andra memang sedikit bebal.


Ting tong


Sekitar setengah jam Dika sudah sampai di depan apartemen Andra. Dari dalam terdengar Andra berlari ke arah pintu dan membukanya.


" Alhmadulillah mas sudah datang. Ayo cepet."


" Lho, ku pikir kamu yang sakit. Tapi kamu baik-baik aja. Jadi siapa yang sakit? Juned?"


Dika yang bertanya hanya diacuhkan oleh Andra. Tubuh sang kakak di dorong untuk masuk ke kamar Za. Tatapan terkejut plus banyak pertanyaan hadir di wajah Dika melihat seorang gadis terbaring di atas ranjang. Ia melayangkan tatapan tajam ke arah sang adik meminta penjelasan.


" Andra!!!"


" Nanti saja tanya nya. Obati Za dulu. Kasian dia kesakitan."


Dika membuang nafasnya kasar. Ia pun meriksa gadis yang dipanggil Andra dengan Za tersebut. Beruntung Dika membawa sekantong infus yang langsung ia pasangkan kepada Zanita. Andra juga membuatkan resep yang langsung ditebus oleh Andra ke apotik.


" Za, minum dulu obatnya."


Zanita patuh, dengan tubuh yang masih lemah tersebut gadis itu berhasil meminum obat nya. Andra lalu keluar dari kamar Zanita. Di depan kamar sang kakak sudah menunggunya dengan mode macam hendak menerkam mangsa.


Mampus gue, abis gue malam ini. Ya Allaah lindungi Andra ya Allaah dari amukan Mas Dika.


" Duduk! Jelasin siapa gadis itu. Mengapa dia tinggal di sini? Dan sejak kapan? Apa hubungan kalian? Apa kalian kumpul keboo?"


" Astagfirullaah mas, mulut nya ih. Mana ada ya gue begitu. Aku lho masih perjaka ting ting."


Tuduhan sang kakak membuat Andra menggelengkan kepalanya cepat. Hidup di luar bukan berarti Andra memiliki pergaulan bebas. Dia tentu bisa menjaga dirinya sendiri dari hal-hal yang berbau maksiat.


" Lalu, dia siapa?"


" Istriku."


" Apa!"


TBC