My Haters To Be My Wife

My Haters To Be My Wife
HW 58. Muat Nggak Tuh?




Pict by. Pinterest


Maldives sungguh elok dipandang mata. Tujuan destinasi wisata yang banyak diminati oleh para pasangan baru untuk acara honeymoon mereka. Keindahan alam laut benar-benar membuat mata dan hati begitu fresh dan juga bahagia.


Itu pula yang dirasakan oleh Zanita. Ia benar-benar tidak menyangka bahwa akan ada di tempat ini sekarang. Sebuah resort yang berdiri di atas air itu tampak seperti rumah pribadi yang hanya ada mereka di sana.


Zanita melihat ke arah laut lalu sejenak memejamkan matanya menikmati hembusan angin. Damai, itulah yang ia rasakan. Seperti melepaskan semua beban yang selama ini ada dalam hati dan pikirannya, ia pun mengambil nafas dalam-dalam dan membuangnya perlahan.


" Apakah bahagia, hmm?"


Pelukan yang Andra lakukan dari belakang membuat Zanita sedikit terkejut namun setelah itu ia pun tersenyum dan mengangguk. Tuan Magicom nya ini benar-benar pria yang hangat dan pandai membuat hatinya bahagia. Sebuah ciuman melesat di bahu Zanita yang saat itu mengenakan dress putih bermotif bunga-bunga model sabrina. Dimana dress tersebut memperlihatkan pundak mulus Zanita yang saat ini sudah jadi sasaran bibir Andra.


Andra tentu tidak akan menyia-nyiakan kesempatan bulan madu kali ini. Misinya adalah menambah cucu untuk sang bunda dan mencarikan teman bermain baru bagi Yasa dan Nataya.


Zanita mulia mendesis saat Andra membuat gigitan-gigitan kecil yang disertai sesapan di pundak dan leher. Zanita benar-benar merasa dirinya akan habis kali ini. Buka hanya kali ini tapi mungkin selama di sini.


" Bang,"


" Hmmm."


" Ini masih siang lho."


" Terus kenapa. Siang atau malam sama aja. Jika siang bisa, kenapa harus tunggu malam. Tidak akan ada orang yang ganggu. Ini resort privat."


Zanita pasrah, ia kalah telak. Suaminya tentu sudah tahu akan hal tersebut. Dan mungkin ini adalah waktunya untuk dia jadi istri Andra seutuhnya.


Andra yang sudah memulai aksinya dari tadi kini membalikkan tubuh istrinya agar menghadap ke arahnya. Ia mencium pucuk kepala istrinya, mengucapkan sebaris doa lalu beralih mencium kening dan terakhir bibir Zanita. Tentu saja di bagian itu sedikit lebih lama.


Baru beberapa kali melakukannya tampak Andra sekarang sudah pro. Keduanya mulai berbelit lidah dan bertukar saliva. Tangan Andra mulai menurunkan dress sang istri dan bergerilya mencari sesuatu yang bisa ia pegang. Sebuah lenguhan keluar dari bibir Zanita saat bibir Andra mulai merembet turun dari leher dan bersarang di bagian yang mana sangat sensitif oleh sentuhan.


Sepertinya suasana semakin panas. Andra langsung menggendong tubuh sang istri yang hampir polos itu ke ranjang. Malu, ini yang dirasakan Zanita saat mendapati dirinya sudah tidka mengenakan pakaian dan apa itu, ia sedikit terkejut melihat tampilan Andra yang polos.


Astaga, itu gede banget. Yakin muat nggak tuh.


Zanita menelan saliva nga dengan susah payah sambil meringis membayangkan akan seperti apa sakitnya jika benda itu masuk ke dalam miliknya. Andra tersenyum simpul melihat ekspresi Zanita. Ia lalu menarik selimut untuk menutupi tubuh polos keduanya.


" Jangan takut, dia jinak kok sama kamu. Apa bisa mulai lagi."


Zanita mengangguk ia benar-benar harus menyiapkan mental nya. Namun semua bayangan kengerian itu hilang saat Andra mulai menciumnya lagi. Andra tahu Zanita merasa tegang dalam acara siang pertama pernikahan mereka. Ya, ini adalah saat siang dan bukan malam. Jadi namanya siang pertama bukanya malam pertama.


Saat Zanita mulai rileks Andra mulai lah menuju menu utama. Main course yang sudah ia tunggu beberapa hari yang lalu akhirnya bisa juga dinikmati. Sedikit teriakan keluar dari mulut Zanita yang langsung Andra hentikan dengan bibirnya. Bukan hanya Zanita yang merasa sakit, Andra pun juga, saat punggungnya mendapat cakaran dari sang istri. Tapi itu sepadan dengan rasa nikmat yang didapat.


Andra mulai memacu tubuhnya hingga keduanya sama-sama mendapat pelepasan. Penyatuan pertama mereka akhirnya terjadi juga di tempat ini. Peluh keduanya bercucuran. Andra tersenyum menatap wajah sang istri. Ia mencium kening Zanita sejenak.


" Terimakasih sudah mau menungguku. Dan terimakasih sudah menyelamatkan hatiku, Tuan Magicom suamiku."


Keduanya saling melempar senyum. Andra kini sudah berada di samping Zanita dan memeluk istrinya dengan posesif. Keduanya masih sama-sama polos. Sesekali Andra mencium pundak istrinya itu.


" Apakah sakit sayang?"


" Lumayan bang. Nyeri gitu awal-awal."


" Tapi setelahnya enak kan?"


Wajah Zanita memerah saat ia mengingat apa yang mereka lakukan tadi. Mungkin inilah nikmat berpacaran setelah halal. Mereka bisa melakukan apa saja yang mana malah itu mendatangkan pahala. Hal ini tentu masih sangat baru baginya maupun Andra. Dan sungguh ia masih malu. Bahkan saat ini ia tidak berani melihat wajah Andra.


" Jadi, sudah siap untuk babak kedua?"


" Eeh?"


Tawa Andra lepas saat mendengar nada keterkejutan dari sang istri. Ia tentu hanya bercanda. Ia tidak akan melakukan babak kedua saat ini juga. Waktu mereka masih lama di sini untuk melakukan ibadah bersama itu. Jadi Andra tidak akan buru-buru.


" Nggak kok, aku cuma bercanda. Tidurlah. Masih ada waktu untuk istirahat sebelum zuhur datang."


Zanita mengangguk, ia memang merasa sangat lelah. Namun ada yang aneh dibawah sana. Ia merasakan milik suaminya itu menegang.


" Bang itu."


" Tidak apa-apa. Biarin aja. Nanti juga lemes sendiri. Si Joni emang gitu kalau deket-deket sama kamu. Maunya berdiri terus. Udah jangan dipikirin. Jon tahan dulu ye Jon, nanti lagi. Jangan maruk Jon."


Zanita terkekeh geli mendengar ucapan absurd suaminya. Bagaimana bisa pria itu berbicara seperti itu. Tapi lama kelamaan Zanita tahu juga tentang Andra. Pria tersebut emang seramai itu pembawaannya. Jadi ia mulai terbiasa dengan ucapan-ucapan absurd sang suami.


" Oh ya sayang satu lagi sebelum tidur. Kapan kamu wisudanya."


" Akhir bulan depan. Abang nggak rencana mau datang kan?"


" Lho ya harus datang lah. Gilaaa istri sendiri wisuda masa nggak datang."


" Tapi~"


Zanita yang hendak protes langsung dipeluk oleh Andra. Ia tahu apa yang dipikirkan oleh Zanita. Tapi ia tetap akan datang. Meskipun ia tahu, pasti kampus akan heboh dengan kemunculannya.


Tidak bisa, tidak akan ku biarkan semuanya menjadi rusuh. Za, kamu istriku. Tidak akan kubiarkan ada orang yang menyakitimu. Lagian kamu ini menantu pemilik universitas. Tidak kan ada yang berani macam-macam.


Andra berbicara dalam hati. Sepertinya tidak ada salahnya menggunakan kekuatan ayahnya untuk melindungi sang istri jika ada yang berani menyinggung Zanita nanti. Andra rasa ayah dan bunda nya juga tidak akan tinggal diam jika ada sesuatu dengan Zanita mengingat kedua orang tuanya begitu menyayangi menantu-menantunya.


TBC