My Haters To Be My Wife

My Haters To Be My Wife
HW 54. Ulah Andra



Syuting kembali di mulai. Kali ini adalah adegan dimana Andra akan berperan. Dalam film ini Andra akan berperan sebagai seorang guide pendakian. Ia akan menjelaskan mengenai bagaimana menjadi seorang pendaki yang baik. Apa yang boleh dilakukan dan tidak boleh dilakukan selama pendakian.


Bagaiaman cara menyiapakan peralatan dan perlengkapan, dan yang tak kalah penting bagaimana cara mengatur ti saat mendaki.


Hunang sungguh puas dengan apa yang dityampilkan oleh ANdra. Sekali take saja Andra dapat melakukannya dengan baik. Hunang jadi bernostalgia saat mereka masih sering naik gunung dulu. Andra selalu menyiapkan segala hal sesempurna mungkin agar tidak ada miss saat melakukan pendakian.


" Intinya, mendaki gunung itu masih merupakan olahraga ekstrim. Bukan hanya perlengkapan saja yang kita siapkan melainkan juga mental. Dan jadilah pendaki yang cerdas, jangan hanya asal-asalan hobi tapi mengesampingkan keselamatan."


" OK CUT. PERFECT!"


Riuh tepuk tangan membahana di tempat itu. Semua terpukau dengan kemampuan akting Andra. Tak terkecuali Vanka. Setiap apa yang diucapkan Andra seperti sebuah magnet yang menarik baginya.


" Asli, ganteng banget sih nih orang. Andai dia bisa jadi milik gue. Eh bisa kali gue deketin dia."


Vanka bergumam lirih, wanita itu benar-benar terpesona dengan ketampanan Andra. Ia pun dengan berani mendekati Andra dan berusaha memulai obrolan.


" Maaf Bang Andra. Boleh minta tanda tangannya nggak? Aku salah satu pemeran di film ini. Aku ngefans banget sama abang dari dulu."


Andra menoleh ke sumber suara. Ia tersenyum simpul aku dan melihat dengan seksama siapa yang berbicara kepadanya.


Woaaah, ini bukannya teman Zanita yang menjadi istri mantan tunangan Zanita. Gue kerjain juga nih.


Andra tidak suka dengan tingkah Vanka yang kegenitan tersebut. Terlihat sekali dia ingin menggodanya.


" Ooh boleh. Mana kertas dan pena nya."


Vanka tersenyum lebar. Ia langsung berlari untuk mencari kertas dan pulpen. Ia tidak akan melewatkan kesempatan itu.


Disaat Vanka mengambil apa yang diminta Andra. Pria itu menghampiri Hunang dan mengatakan sesuatu. Ia memiliki ide untuk ditambahkan dalam adegan di film milik sang teman tersebut. Hunang tentu menyambut gembira hal. Jarang sekali sang teman ini mau berkontribusi lebih. Biasanya jika sudah selesai dalam setiap acara ia akan langsung cabut.


" Oh iya An, pas premiere film ini bisa kan lo datang."


Andra terdiam sesaat. Premiere film berarti akan banyak orang yang datang dan tentunya awak media. Andra punya ide tersendiri untuk itu.


" Oke, gue akan datang."


Hunang tentu terkejut. Semudah itu Andra meng iya kan permintaannya. Biasanya akan ada tradisi mohon-mohon dulu jika berkaitan dengan para awak media. Hunang jadi curiga kepada temannya itu. Tapi ia acuh, yang penting Andra mau, itu sudah cukup. Ada apa dibalik itu semua, Hunang tidak akan ikut campur.


" Bang ini pena sama kertasnya."


Andra menerima apa yang diberikan oleh Vanka lalu mencoretkan tanda tangan miliknya. Tak lupa ia menuliskan sebaris kalimat disana. Setelah selesai ia mengembalikan dua benda itu kepada Vanka. Vanka tentu sangat senang. Ia merasa sudah berhasil satu langkah lebih dekat dengan Andra.


Vanka melenggang pergi setelah mengucapkan terimakasih. Saat duduk untuk menyiapkan adegan selanjutnya tak lupa Vanka melihat tanda tangan Andra. Matanya membelalak seketika saat ia membaca sebaris kalimat yang ditulis Andra.


" Semoga berbahagia dengan suamimu dan jangan lama-lama ya sedihnya karena keguguran."


Vanka sangat terkejut membaca itu. Mengapa seorang Andra Suma tahu bahwa ia sudah menikah dan pernah keguguran, ya walaupun kegugurannya hanya akting sih. Tapi tetap saja Vanka terkejut.


" Kok Andra Suma tahu tentang pernikahan gue dan tentang keguguran itu? Bagaimana dia tahu? Terus kalau dia nanti share ke semua orang bagaimana? mampuss gue."


Vanka mengacak rambutnya dengan frustasi. Hal tersebut tak lepas dari pandangan Andra. Andra hanya menyeringai di tempat duduknya.


" Makanya jangan keganjenan. Masih berani deketin gue, gue bikin lo nyesel se nyesel-nyeselnya. Gara-gara lo kampret bini gue benci artis. Gue juga awal-awal kena imbasnya. Untung aja sekarang dah luluh tuh ibu negara. Eh betewe gue kangen ama istri. Telpon ah."


Andra seketika mengingat Zanita. Ia pun mengambil ponselnya dan menelpon sang istri. Andra sedikit menepi ke tempat yang tidak ada orang di sana.


" Assalamualaikum udah makan siang belum."


" Udah juga, oh iya kayaknya abang pulang agak larut deh. Kamu pulang ke rumah bapak ibu aja ya."


" Iya bang gampang soal itu."


Obrolan singkat pun terjadi pada pengantin baru tersebut. Lagi-lagi Hunang yang memergoki Andra tengah berbicara di telepon dengan ekspresi sangat bahagia itu merasa curiga. Ada apa dengan sang teman, mengapa sungguh berbeda. Baiasanya Andra tidak akan pernah mau melakukan pembicaraan telepon selama itu. Dia aja kalau telepon jarang sekali di jawab oleh Andra.


" Siapa gerangan yang ada di seberang sana yang bisa membuat Andra Suma cengar-cengir begitu. hebat kali orang itu."


*


*


*


Setelah Magrib, syuting kembali dilakukan. Awalnya mau dilakukan besok, tapi Andra maunya sekarang. Momentnya dapat, karena memang mengambil adegan malam hari.


Ini adalah adegan tambahan yang diusulkan Andra kepada Hunang. yakni adegan mendirikan tenda. Tentu saja Hunang menyambut baik. Dan adegan ini dibuat Andra untuk mengerjai Vanka.


Ya, selama pengambilan gambar mendirikan Tenda. Andra tidak ingin Vanka ada dialog. Dia dijadikan orang yang paling semangat dalam adegan tersebut yakni dengan membuat Vanka sibuk mendirikan tenda. Vanka dibuat sebagai orang yang paling antusias maka dari itu bahkan semuanya dilakukan oleh Vanka sendiri.


" Gue kayaknya dikerjai," ucap Vanka dalam hati.


" Eh ayo kalian tidak boleh membiarkan teman kalian bekerja sendiri. Ingat dalam sebuah tim kerja sama harus nomor satu. kalian tidak boleh hanya mengandalkan satu orang. Kalau situasi tenang begini sih aman. Tapi kalau hujan, kalian harus secepatnya bisa mendirikan tenda."


Sungguh cerdas, saat Vanka terlihat benar-benar kelelahan, Andra mengeluarkan dialog improvisasi yang menurut Hunang sungguh luar biasa.


Syuting dilanjutkan hingga take adegan Andra selesai. Riuh tepuk tangan mengakhiri syuting malam itu.


" Terimakasih banyak atas kerja kerasnnya."


Anda mendapat ucapan banayak terimakasih baik dari kru maupun dari pemeran yang lainnya.mereka sungguh takjub dengan kemampuan Andra berakting. Semua terlihat natural bagi pria tersebut.


" Thaks bro. Tiket ke maldives nya gue kirim besok ya."


" Siap, sama-sama. Semoga film lo sukses."


" Amiin."


Ingin segera cepat pulang Andra pun segera bergegas menuju mobil. Semua barangnya sudah dibereskan oleh Juned dan bahkan Juned sudah menunggunya di mobil. Tapi langkah Andra harus berhenti saat mendengar Vanka memanggilnya. Andra mendengus kesal.


" Ada apa?"


Vanka terkejut saat mendengar nada dingin pada suara Andra. Sungguh sangat berbeda dengan tadi.


" Apakah bisa berbicara sebentar? Apa yang abang tahu tentangku?"


" Tck, jangan kepedan jadi cewek. Aku nggak tahu apa-apa tentang kamu dan aku nggak mau tahu. Tapi perlu ku ingetin, nggak semua laki-laki seperti suami mu yang gampang kegoda sampai harus berkhianat."


Brak


Andra langsung masuk ke dalam mobilnya dan menutupnya dengan keras. Ia sungguh enggan berlama-lama bicara dengan Vanka. Wanita yang sudah berkali-kali menyakiti hati sang istri.


TBC