
Doa sejoli itu pulang kembali ke hotel selepas magrib. Zanita meminta Andra menjalankan kewajiban 3 rakaat dulu sebelum kembali ke hotel agar tidak kehabisan waktu. Sesampainya di depan hotel Zanita oleh Andra disuruh masuk terlebih dahulu baru dia akan masuk setelah jeda beberapa menit. Akan tetapi sepertinya itu percuma pasalnya seluruh tim TCD sudah ada di loby menunggu kedatangan mereka.
" Za dari mana, Andra mana?"
Glek
Pertanyaan Bian seakan-akan tahu kalau dirinya bersama Andra sore itu. Ia tentu sedikit gelapagapn saat menjawab. Dilihatnya satu persatu wajah rekan kerjanya. Banyak sekali pertanyaan di sorot mata mereka. Hanya satu orang saja yang tidak ada di sana, Juned. Entah kema orang itu pergi. Di situasi genting begini, Juned sama sekali tidak tampak. Padahal dia bisa dijadikan alasan oleh Zanita.
" Wuidiih, ada apa nih kumpul-kumpul di sini? Udah pada makan belum, makan yuk."
Hening
Andra yang baru saja masuk pun ditatap tajam oleh semua orang. Bahkan ajakan makannya diacuhkan. Andra tentu heran dengan apa yang terjadi sekarang. Ia bersitatap dangan Zanita. Seakan bisa bahasa hati, Andra bertanya ada apa dan Zanita menggeleng kecil.
" Kalian berdua ikut kami, ada yang ingin kami tanyakan."
Bian menggiring semua orang masuk ke ruang rapat yang dimiliki hotel tersebut. Saat menerima laporan dari orang nya tadi Bian langsung mengambil tindakan menyewa ruang rapat untuk menginterogasi Zanita dan Andra.
" Oke kalian bisa duduk. Sebelumnya mohon maaf kalau ini menyangkut ranah pribadi Zanita dan Andra. Tapi kami di sini ingin meluruskan sesuatu. Kami tidak ingin ada skandal dalam acara kami. Dan kami tidak ingin TCD ini menjadi acara yang merusak hubungan kalian masing-masing di real life."
Andra dan Zanita hanya plonga-plongo. Asli mereka tidak tahu apa yang sedang Bian bicarakan hingga Dio memberikan foto yang ia berhasil ambil. Ya, rupanya yang memergoki Zanita dan Andra tadi sore adalah Dio. Dio pun langsung lari balik ke hotel dan memberitahukan semua yang ia lihat kepada Bian. Bian dan Liam pun semakin yakin dengan anggapan mereka selama ini sehingga mereka memutuskan untuk bertanya langsung kepada Zanita dan Andra.
" Owalah ini to," jawab Andra enteng. Di bawah meja tangan Zanita mengeplak paha Andra.
"An, kok santai gitu. Lo mau jadi pebinor. Astaga An, emang kagak ada lagi apa gadis yang masih single. Di luar sana masih banyak An. Lo nggak harus ngrebut Zanita dari suaminya. Inget Zanita udah nikah. Dan Za, kamu kan udah punya suami, kok ya mau digombali sama Andra."
Liam bebicara menggebu-gebu dan terkesan marah. Tapi bukannya marah baik Zanita maupun Andra malah tersenyum. Zanita sungguh senang, rekan kerjanya itu perhatian kepada dirinya. Ia seperti menemukan keluarga baru di TCD sedangkan Andra ia terkekeh geli, terang saja dia sedang merayu istrinya malah dianggap pebinor.
" An, kok malah diem aja sih. Coba jelasin ini. Kalau kalian masih begini, gue bakal stop acara TCD. Gue nggak mau acara gue ngerusak rumah tangga orang."
" Bang Bian, acara lo bukannya ngerusak rumah tangga orang kok. Malah semakin menambah harmonis rumah tangga orang."
Andra malah mencium pipi Zanita di depan semua kru. Terang saja semua orang terlihat marah kepada pria itu. Mereka sungguh tidak menyangka Andra orang seperti itu.
" Tck, bang udah dong jangan bercanda mulu. Kita emang harus jelasin deh."
Andra sebenarnya masih ingin mengerjai Bian dan kawan-kawannya itu tapi ucapan Zanita langsung diikuti olehnya. Andra menaruh tas nya di atas meja dan mengeluarkan sesuatu dari sana. Ia lalu menyerahkannya kepada Bian.
" He?? Ini?"
" Iya, Itu kami. Aku dan Zanita udah menikah. Zanita adalah istriku, aku bukan lah pebinor."
Seketika Bian, Liam, dan Dio terdiam karena saking terkejutnya. Mereka berebut ingin melihat buku nikah yang diberikan oleh Andra tersebut.
" Sejak kapan bawa-bawa buku nikah?"
" Sejak mau pergi kesini. Khawatir kita di grebek. Dikiranya pasangan mesumm."
Zanita mengerti, pasalnya ktp nya juga belum dirubah statusnya. Jadi buku nikah yang dibawa oleh Andra itu benar-benar akan menolong mereka jika situasi seperti saat ini terjadi.
Andra oun menceritakan kapan, dimana dan mengapa ia menikah dnegan Zanita. Semua orang mendengarkan dengan serius. Mereka tidak melewatkan satu pun.
" Trus kalian masih mau menyembunyikan pernikahan ini? Sampai kapan?" tanya Liam terlihat khawatir.
Bian dan semua tim mengangguk mengerti. Ini tentu adalah privasi keduanya. Meskipun mereka sungguh tidak menyangka bahwa Zanita dan Andra adalah suami istri tapi sejujurnya itu pun bukan urusan mereka.
" Ya sudah kalian kalau mau istirahat. Maafkan kami ya."
" Nggak Kak Liam, Bang Bian dan semuanya. Kalian semua nggak salah. Ini kami yang salah karena tidak jujur kepada kalian. Maaf sudah membuat kalian semua khawatir."
Akhirnya drama kecurigaan dna tuduhan pebinor itu selesai juga. Andra pun secara terang-terangan memindahkan koper nya ke kamar Zanita. Ia tak lagi harus kucing-kucingan saat ingin tidur bersama Zanita.
" Za!"
" Hmmm."
" Ada yang ingin aku tanyakan."
Zanita yang masih sibuk dengan ponselnya pun meletakkanmya di atas nakas. Ia lalu menghadap ke arah Andra.
" Ada apa?"
" Aku diminta jadi guest star di film buatan temanku. Apakah aku harus mengambilnya apa tidak?"
" Bang, menolong orang itu insyaaAllaah banyak pahalanya."
Greb
Andra langsung memeluk Zanita dengan erat. Ia tahu bahwa Zanita pasti memiliki jawaban yang bijak. " Terimakasih," ucap Andra. Gadis itu hanya mengangguk.
Saat Andra melepaskan pelukannya Zanita ingin kembali mengambil ponselnya. Tapi tubuhnya ditahan oleh Andra. Pria itu langsung memcium dan melumatt bibir Zanita yang sudah sejak tadi menggodanya. Keduanya menikmati ciumann yang semkain dalam itu hingga tangan Andra mulai menerobos masuk ke dalam baju tidur Zanita. Merasa ini akan panjang, Zanita lalu menahan tangan sang suami.
" Kenapa? Apakah belum siap."
" Aku sedang tanggal merah."
Zanita tentu paham apa yang jadi keinginan Andra. Ia tahu itu adalah hak Andra terhadpa dirinya. Tapi saat ini selain belun siap, Zanita juga memang sedang kedatangan tamu. Lumayan, alasan klasik tapi memang fakta yang bisa ia gunakan untuk sedikit menunda nya.
" Aku tahu, aku juga tidak akan terburu-buru kok."
" Lalu?"
" Nyicil."
Zanita langsung membulatkan matanya. Ia menjatuhkan tubuhnya di kasur dan kembali membungkusnya dengan selimut. Andra terkekeh geli. Ia ikut membaringkan tubuhnya dan memeluk selimut yang terdapat Zanita di dalamnya.
" Apa kau tahu, aku sungguh gemes melihatmu begitu. Semakin aku ingin memakan mu."
" Bang."
" Hahahha, haish, iya-iya. Seperti yang ku bilang. Aku akan menunggumu. Pulang dari sini ke rumah bunda ya."
Zanita masih diam, sungguh dia sangat belum siap. Ia terlalu minder untuk bertemu keluarga Andra yang baginya sungguh super tersebut.
TBC