My Haters To Be My Wife

My Haters To Be My Wife
HW 57. Stay Halal



Zanita yang awalnya terkejut akan apa yang Andra katakan mengenai izin cuti yang dimintakan dari sang bos untuk dirinya itu kini bisa mengerti. Suaminya itu rupanya benar-benar ingin membawa nya berlibur. Dan ini tidak ada kaitannya dengan pekerjaan.


Keduanya sudah berada di pesawat dan siap menuju ke tempat tujuan. Andra sungguh senang bisa membawa Zanita pergi berlibur. Sekitar seminggu mereka akan menghabiskan waktu bersama tanpa ada yang mengganggu.


" Apa sudah menyiapkan stamina?"


Zanita mengerutkan kedua alisnya, ia tidak mengerti apa yang dikatakan oleh sang suami. Andra yang melihat wajah kebingungan Zanita tentu merasa gemas. Ia lalu mendekatkan bibirnya ke telinga Zanita dan membisikkan sesuatu yang membuat gadis itu kesusahan menelan saliva nya sendiri.


Astaga, pria ini benar-benar sudah tidak sabar. Habis aku pasti nanti.


Zanita menggeleng pelan membayangkan apa yang akan terjadi nanti. Sedangkan Andra, senyum lebar itu tidak luntur dari bibirnya.


Jika Zanita tengah deg-deg an menunggu sampai ke tujuan liburannya karena ada misi tersembunyi dari sang suami maka Vanka saat ini sedang kebingungan membereskan barang-barangnya. Ia harus segera cepat menuju lokasi syuting Mendadak Traveling selanjutnya. Dimana lokasi tersebut adalah tempat lokasi syuting terakhir. Ternyata ada scene tambahan yang mengharuskan semua talent untuk datang.


" Sial, Tia benar-benar tidak membantuku."


" Kenapa Van."


" Raff bisa kah kau membantuku hari ini ke loksyut. Aku nggak lagi punya asisten sekarang."


Raffan tentu terkejut dengan ucapan Vanka. Yang Raffan tahu Vanka memiliki asisten bernama Tia. Lalu dimana Tia berada sampai-sampai Vanka membutuhkan bantuannya.


" Aku kan harus bekerja Van. Aku tidak bisa mendadak izin. Lah emangnya Tia kemana? Bukannya dia yang biasa membantu mu?"


Vanka tidak menjawab. Ia hanya mendengus kesal mendengar ucapan Raffan sambil berusaha membereskan apa yang ia perlukan di loksyut nanti.


" Aku berangkat dulu."


Vanka berpamitan kepada Raffan. Biasanya ia akan membawa barang banyak, ini tidak. Vanka memilih membawa barang secukupnya.


Raffan hanya mengangguk saat istrinya berpamitan. Seketika Raffan berpikir, apa ia harus meminta untuk Vanka bisa di rumah saja. Tapi sepertinya tidak bisa. Menjadi artis adalah cita-cita wanita itu.


Rupanya membina rumah tangga yang indah mungkin akan sedikit sulit bagi Raffan. Selama menikah bahkan tidak pernah sekalipun Vanka melayani Raffan kecuali di ranjang. Untuk sekedar membuatkan minum saja tidak.


" Yo wes, tinggal dinikmati aja. Itu kan pilih-pilihanmu sendiri. Percuma juga ngeluh."


Raffan membuang nafasnya kasar lalu ikut keluar dari apartemen untuk menuju ke tempat kerja. Sepertinya ia memutuskan untuk menerima apa yang terjadi dalam hidupnya. Mungkin ini adalah balasan dari kesalahannya, itulah yang ia pikirkan saat ini.


*


*


*


Sampai di lokasi syuting, Vanka mulai menurunkan barang-barangnya. Ia semakin terlihat kesal saat melihat Riana dikerumuni oleh beberapa orang.


" Huh dasar anak baru aja belagu," ucap Vanka dengan nada kesal.


Vanka berjalan acuh menuju tempat istirahat. Mau tidak mau ia harus menyiapkan dirinya sendiri sebelum melakukan shooting. Meskipun sedikit kerepotan tapi ia lumayan berhasil melakukannya.


" Jun, lo nggak keberatan kan gue minta ke sini. Maksud gue lo nggak sibuk kan?"


" Kagak mas tenang aja si Bos kan lagi liburan jadi ane free lah."


Hunang tersenyum, ia akan akan mengorek informasi dari Juned mengenai Andra. Hunang tidak tahu saja kalau Juned itu benar-benar loyal kepada sang Bos. Informasi apapun tidak akan pernah bocor dari mulut Juned.


Riana yang baru selesai mengambil take adegan untuk perannya sedikit terkejut melihat keberadaan Juned di lokasi shooting. Ia pun segera menemui Juned yang terlihat sendirian setelah berbicara dengan Hunang.


" Bang," panggil Riana pelan yang membuat Juned seketika melihat ke arah gadis itu.


" Ri, kok kamu di sini?" tanya Juned yang sedikit terkejut dengan kehadiran Riana di sana. Apa mungkin ini yang namanya takdir, sekeras apapun Juned berusaha menghindari Riana pada akhirnya mereka akan bertemu juga.


" Aku jadi bagian dalam film ini bang. Apakah bisa bicara sebentar?"


Juned mengangguk memenuhi keinginan Riana. Ia tidak mungkin terus menerus menghindari gadis itu. Dan mungkin semuanya memang perlu dibicarakan baik-baik. Juned akhirnya membawa Riana menuju ke mobilnya. Di sana lebih nyaman untuk berbicara.


" Apakah shooting nya sudah selesai?"


Riana mengangguk. Suasana menjadi canggung baik Juned maupun Riana malah sama-sama diam dan menunduk. Hingga keduanya saling memanggil satu sama lain dengan bersamaan.


" Ladies first," ucap Juned sambil melihat ke arah Riana. Cantik itulah yang bisa Juned katakan. Sebagai putri seorang konglomerat Riana sebenarnya adalah gadis yang sederhana. Terjunnya di dunia entertainmen pun hanya karena gadis itu ingin dan sekedar menyalurkan hobi.


" Bang Juned apakah sama sekali nggak ada rasa sama aku? Aku tahu, mungkin aku keterlaluan selama ini ngejar abang. Aku juga tahu apa yang abang pandang tentang aku dan keluarga ku. Tapi bang, daddy sama mommy tuh bukan orang yang suka mandang status sosial. Tapi percuma juga aku ngomong gini kalau abang sama sekali nggak ada rasa sama aku. Mungkin aku harus stop buat mencintai abang."


Riana sepertinya benar-benar pasrah dengan diamnya Juned. Ia merasa perasaannya hanya bertepuk sebelah tangan. Sedangkan Juned, pria itu diam seribu bahasa. Lebih tepatnya dia sangat merasa bingung. Memiliki Riana dalam hidupnya bukan perkara yang mudah. Banyak hal yang akan ia hadapi.


Saat Juned tengah berpikir Riana yang merasa tidak ada tanggapan pun membuka pintu mobil dan hendak keluar. Namun tangan Juned tiba-tiba menariknya dan membawa tubuh gadis itu dalam pelukannya. Riana tentu terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Juned.


" Maaf Ri, jika boleh jujur sungguh aku pun menyukaimu. Tapi aku terlalu takut dengan bayanganku sendiri. Aku takut dengan banyak spekulasi yang hadir dalam pikiranku."


" Jadi, maksud abang. Abang juga suka sama aku?'


Riana tersenyum lebar. Juned pun mengurai pelukannya terhadap gadis itu. Mata Riana berbinar saat mengetahui bahwa cinta nya bersambut. Meski demikian dia tahu Juned masih banyak menyimpan ragu. Riana pun meraih tangan Juned dan menggenggamnya.


" Bang mari hadapi bareng-bareng. Setelah film ini selesai. Aku akan berhenti. Aku akan kembali ke kampus untuk selesaikan kuliah. Jadi apakah aku boleh mengatakan bahwa kita jadian?"


Juned mengangguk. Senang? Pasti, setidaknya saat ini biarlah di merasakan cinta nya. Untuk masalah yang akan datang bisa dipikirkan nanti. Riana yang mendapat jawaban dari Juned tentu begitu senang, gadis itu bahkan hampir mencium Juned.


" Wohooo, no Ri. Stay halal. Aku nggak mau kita pacaran melewati batas oke, setan banyak bertebaran Ri. Ngeri. Untuk pelukan tadi pun aku minta maaf karena reflek. Jujur jika memang sudah siap aku akan memintamu kepada orang tuamu. Jadi status pacaran kita aku anggap hanya untuk menegaskan bahwa aku memang mencintaimu dan juga sebaliknya. Apa kamu keberatan?"


" Tidak bang. Aku sama sekali nggak keberatan. Aku setuju dengan Abang."


Juned tersenyum, ada rasa lega dalam hatinya. Terlebih saat Riana mengatakan akan kembali ke kampus. Dunia entertainment itu sungguh kejam, jujur Juned tidak bisa melihat Riana ada di dalamnya. Namun dia juga tidak akan memaksa gadis itu untuk meninggalkannya. Akan tetapi Juned tidak menyangka bahwa rupanya Riana sendiri yang mengatakan untuk berhenti setelah film ini selesai. Bahkan untuk series yang kemarin pun sudah diselesaikan oleh Riana.


" Semoga keputusanku tidak salah."


TBC