
Setelah beberapa kali berhenti akhirnya rombongan Andra sampai juga di kota M. Kota yang memiliki destinasi wisata terkenal itu tentu menarik perhatian semua tim TCD dan Juned yang belum pernah menginjakkan kakinya di sana.
Salah satu Destinasi wisata favorit adalah Gunung Bromo dan Gunung Semeru. Kedua tempat tersebut pernah dijadikan lokasi syuting film. Pasir berbisik gunung Bromo menjadi tujuan para wisatawan. Gunung Bromo juga sering dijadikan tempat untuk melakukan foto prewedding.
Semua menuju penginapan yang sebelumnya sudah di reservasi oleh Andra. Adzan magrib berkumandang. Mereka yang menjalankan segera membersihkan tubuh dan segera melaksanakan kewajiban mereka.
Andra memang cerdik. Ia menempatkan Zanita tepat disebelah kamarnya dan yang lain berada di kamar lebih jauh. Tentu saja dia punya rencana cadangan dalam rangka mendekatkan diri kepada sang istri. Bahkan biasanya jika keluar kota Amdra akan memesan satu kamar yang ia tempati dengan Juned, kali ini pun tidak. Juned malah di jadikan satu kamar dengan Dio.
Tok tok tok
Cekleek
" Bang, ngapain kesini."
" Sttt, diem."
Andra benar-benar menjalankan rencananya. Ia langsung mengetuk kamar Zanita dan menerobos masuk saat malam hari. Zanita tentu tidak menyangka Andra akan melakukan hal tersebut.
" Nanti kalau ada yang lihat gimana?"
" Tenang, ini udah jam 9 malam, mereka pasti udah istirahat. Ayook tidur."
Andra menarik tubuh Zanita ke atas ranjang dan menyuruh istrinya itu untuk tidur. Zanita yang memang merasa lelah pun langsung memejamkan matanya. Andra melihat wajah sang istri dengan seksama. Ia benar-benar harus berusaha selama berada di luar kota kali ini.
Tring
Ponsel Andra berbunyi. Notifikasi pesan tersebut sengaja dia buat berbeda dari yang lain. Pesna tersebut rupanya dari Hunang, sutradara film Mendadak Traveling.
" An, lo bisa akan ya jadi spesial guest. Gue udah pasang poster lo lho saat acara casting tadi."
" Bodo amat, gue belum nge iya in lo dah maen pasang poster aja. Gue lagi di kota M. Gue mau tidur, bye."
" An, please jangan gitu dong. An gue kasih tiket ke Maldives deh."
" Gue bisa beli sendiri."
Andra mengakhiri chat nya dengan Hunang dan memilih mematikan ponselnya. Bermain film, meskipun itu hanya sebagai cameo atau guest star tentu saja wajahnya akan muncul di layar lebar. Andra kembali melirik sang istri. Pelan tapi pasti Andra menarik tubuh Zanita, membawa nya ke pelukannya. Terlihat istrinya itu menggeliat pelan semakin mendekatkan diri ke tubuh Andra.
" Pasti dingin kan. Haish, gue harus tanya dulu nih sama ibu negara boleh nggak tampil di film. Kalau dia bilang nggak gue juga nggak akan terima. Tidurlah istriku."
Andra mencium pucuk kepala Zanita dan membenarkan selimut yang menutupi tubuh keduanya. Udara malam di kota M terlebih yang berada disekitaran gunung Bromo memanglah dingin. Bahkan tanpa pendingin ruangan hawa dingin itu tetap memenuhi kamar.
*
*
*
Usut punya usut, Hunang dan temannya memang suka bertraveling dulu sejak sekolah menengah atas. Ide yang ia dapat itu juga karena sang teman.
Bukan hanya Vanka yang senang, Tia, Gibson, dan Restu pun ikut senang melihat keberhasilan vanka kaliini.
" Waah Kak Vanka selamat ya, aku ikut seneng kakak bisa jadi bagian film itu. gilaa sutradaranya Hunang itu sekelas best sutradara, sering dapat banyak penghargaan tuh film nya."
Riana berucap tulus, gadis itu memang baik dan supel. Ia juga pribadi yang rendah hati. Melihat rekan se agensi nya mendapatkan pekerjaan yang luar biasa menurutnya membuat Riana pun ikut senang.
" See, aku mampu membuktikan bahwa aku itu memang lebih baik. Kalian saja yang terlalu meremehkan ku. Aku yakin setelah ini akan banyak sutradara menginginkan ku berakting di film mereka," ucap Vanka angkuh.
" Buktikan saja dulu, jangan tong kosong berbunyi nyaring. Jika kau berhasil tampil bagus di film ini aku berjanji akan mencarikan mu project peran utama utama itu di series, sinetron, atau film sekalipun. Tapi jika tidak, maka peran apapun harus kamu ambil mekipun itu figuran sekalipun."
Kicep
Kata-kata yang Restu sampaikan berhasil membuat Vanka diam seribu bahasa. Gibson menarik sudut bibirnya, Restu memang memiliki power tersembunyi. Setiap kata yng terlontar memiliki kekuatan di dalam nya. Gibson merasa Restu ini bukanlah sesederhana yang terlihat. Aura kepemimpinan jelas terpancar dari diri pria tersebut.
Anak ini sungguh luar biasa, selama ini Vanka yang tak terkontrol bisa dengan mudah dibuat diam oleh Restu. Kita lihat, kira-kira sejauh mana sepak terjang Restu. Benar-benar berlian, aku akan mempertahankan Restu bagaimanapun caranya, aah aku sungguh merasa bersalah tidak membantunya kemarin.
Gibson bermonolog dalam hati. Sedikit penyesalan dirasakan oleh pria tersebut. Ia terlalu naif menilai seseorang. Saat Resetu meminjam uang, Gibson sempat berpikiran buruk terhadap pria tersebut. Dia benar-benar merasa bersalah. Gibson pun lalu mengambil ponselnya dan mengetik sesuatu.
Tring
Tak lama ponsel Restu berbunyi, pria itu langsung melihatnya. Ia sungguh terkejut saat melihat isi pesan tersebut. Pandangannya langsung beralih kepada Gibson dan gibson hanya mengangguk kecil
" Bos, apaan nih."
" Sorry kemarin gue nggak bisa bantu lo, Gue harap itu bisa buat nambahi keperluan perawatan nyokap lo. Sorry cuma dikit. lo tenang aja, itu gue kasih ikhlas dan dari dana pribadi gue."
Restu hampir menangis. Ia secepatnya mengusap sudut matanya yang sudah basah. Betapa bersyukurnya dia dikelilingi banyak orang baik.
" Thanks bos, aku akan bekerja lebih baik lagi."
Gibson tersenyum. Mungkin baginya uang 10 juta itu tidak banyak. tapi lihatlah bagi Restu, itu sudah luar biasa banyaknya. Gibson mendapat sebuah pembelajaran baru dari Restu. Kebahagiaan orang tenyata beda-beda dan sesuai porsinya.
Tapi tidak berlaku bagi Vanka. Wanita itu benar-benar tidak puas terhadap sesuatu yang di dapatnya. Ia masih terus ingin lebih dan lebih. Sepanjang jalan menuju pulang ke apartemen. ia terus menggerutu karena merasa dipermalukan oleh Restu di depan junior-juniornya.
" Awas kau Restu, lihat saja nanti kalau gue bener-bener bisa naik setelah film ini gue nggak sudi punya manager kayak elo. Dan juga Gibson, gue bakal keluar dari agensi lo."
Tak tertolong, mungkin ungkapan itu lah yang pas ditujukan kepada Vanka. Dia sungguh lupa saat memohon kepada Gibson untuk tidak mengeluarkannya dari agensi waktu itu.
TBC