My Haters To Be My Wife

My Haters To Be My Wife
HW 23. Saya Terima Nikahnya ...



Raffan dan Vanka sudah sampai di gedung. Jam sudah menunjukkan pukul 07.00 tapi penghulu belum sampai. Raffan tampak gelisah. Rupanya apa yang ia rencanakan tidak lah berjalan mulus. Terlihat Raffan menggerakkan kakinya. Sedangkan Vanka tersenyum, ia beranggapan bahwa Raffan sudah tidak sabar untuk menikah dengannya.


" See, lihatlah Za. Bahkan pria mu sudah tak sabar menikah denganku. Setelah ini kau akan menangis darah Zanita Yufarani. Kebahagiaan itu hanya akan jadi milikku."


Vanka bermonolog daam hati sambil senyum cerah mengembang di bibirnya. Bahkan dia tidak peduli dengan ketidak hadiran kedua orang tua Raffan di sana. Yang terpenting kedua orang tuanya ada, terlebih ayahnya untuk datang menikahkannya.


*


*


*


Zanita terlihat begitu gugup. Ia yang duduk di dalam rumah itu berkali-kali melihat jam di ponsel miliknya. Sudah jam 07.30 tapi raffan belum juga sampai. Padahal penghulu sudah siap di meja akad.


Andra yang baru saja memarkirkan mobilnya dan turun dari sana pun langsung mendapat perhatian banyak orang. Semua berbisik pelan.


" Eh itu mantennya?"


" Ganteng bener, mana gagah lagi."


" Iya kayak artis ya."


Juned tersenyum lebar. Apa yang dia katakan benar-benar terjadi. Semua salah fokus dengan datangnya Andra. Mereka menganggap Andra sebagi mempelai pria.


" Maaf apakah belum mulai acaranya, dimana pengantin wanitanya?"


" Belum mas, oh Zanita di dalam."


Andra langsung menerobos masuk ke dalam rumah Zanita. Ia sedikit tertegun melihat tampilan Zanita saat ini. Cantik, bahkan sangat cantik. Andra benar-benar terpesona dengan Zanita yang mengenakan gaun pengantin tersebut.


" Bang eling, calon bini orang."


" Astagfirullah."


Andra langsung tersadar saat mendengar ucapan Juned. Ia kembali ke mode tenang lalu berjalan mendekat ke arah Zanita.


" Za!"


" Bang bawa mobil kan, ayo antarkan aku."


" Kemana?"


Zanita tidak menjawab. Ia hanya berjalan ke luar. Namun lebih dulu meminta izin kepada Wawan dan Milah untuk keluar sejenak.


" Tapi nduk,ini?"


" Pak, buk, percaya saja pada Za ya."


Wawan dan Milah hanya bisa mengangguk. Beberapa sanak saudara sedikit agak bingung dengan apa yang terjadi tapi mereka memilih diam dan menunggu kejelasan dari si tuan rumah. Sedangkan Andra meminta Juned untuk mengurus penghulu yang sepertinya sudah tampak kalut menanyakan mana pengantintnya.


" Pak penghulu, hari ini free kan setelah ini. Tenang dulu ya, tunggu di sini. Nanti akan ada rewards buat bapak karena sudah menunggu oke."


Begitu lah cara Juned membuat pak penghulu itu kembali duduk dengan tenang. Tampak raut wajah kebingungan sebenarnya dari penghulu tersebut. Baru kali ini acara nikahan tapi pengantinnya malah pergi.


" Kemana Za?"


" Ke alamat ini bang."


Andra mengemudikan mobilnya dengan cepat. Zanita meminta Andra menuju ke kediaman Raffan. Ia ingin tahu mengapa sampai pada waktunya calon suaminya itu belum juga datang.


Ckiiittt


Andra menghentikan mobilnya tepat di depan rumah Raffan sesuai petunjuk Zanita. Gadis itu langsung turun dari mobil dan sedikit berlari menuju pintu lalu mengetuk pintu itu dengan keras.


" Lho Zanita, mengapa kamu pakai baju pengantin?"


" Apa maksud tante dan Om."


Orang tua rRaffan langsung menjelaskan apa yang terjadi sebelumnya. Mereka sungguh minta maaf dnegan kelakuan Raffan yang sangat tidak tahu diri. Mereka pikir Raffan sudah membatalkan pernikahannya dengan Zanita, tapi dari apa yang mereka lihat sepertinya anak mereka tidak melakukan itu.


" Om dan tante sungguh minta maaf."


" Baiklah om dan tante, ini bukan salah Anda berdua."


" Ada apa Za."


" Kita ke gedung ini?"


Andra benar-benar jadi supir yang penurut hari itu. Dia mengikuti kemanapun Zanita minta. Andra kembali melajukan mobilnya menuju gedung tempat Raffan menikah hari ini. Andra tentu belum tahu yang terjadi hingga dia sampai di gedung terebut.


" Siapa yang nikah ini Za."


" Calon suamiku."


" Apa!"


Andra pun ikut turun, bahkan kali ini Zanita menarik tangan Andra agar ikut masuk ke dalam gedung tersebut.


" Saya terima nikahnya dan kawinnya Yovanka ...."


Kalimat ijab qabul jelas tegas diucapkan Raffan. Seketika tubuh Zanita limbung. Air matanya mengalir, bagaimanapun rasa sakit itu benar-benar terasa saat mendengar pria yang pernah mengisi hatinya itu mengucapkan akad untuk wanita lain.


" Ternyata sakit, aku pikir akan baik-baik saja."


Andra menahan tubuh Zanita yang hampir jatuih. Pria itu tidak banyak berkata, ia hanya menemani Zanita saat itu dengan memilih diam. Ia tahu gadis yang ada bersamanya itu tengah tidak baik-baik saja. Ditinggal nikah di hari pernikahannya bukanlah hal yang sederhana.


" Apakah akan masuk atau pulang?"


" Masuk!"


Andra mengangguk paham. Ia menggenggam erat tangan Zanita dan membawa gadis itu masuk ke venue. Raffan tentu sangat terkejut dengan kedatangan Zanita yang lengkap dengan baju pernikahannya. Terlihat Zanita tersenyum sinis ke arah Raffan.


" Selamat menempuh hidup baru mantan calon suami."


Setelah mengetakan hal tersebut Zanita menarik tangan Andra dan keluar dari venue. Raffan hendak berteriak dan berlari memanggil Zanita tapi tangannya dicekal oleh Vanya. Wanita itu tersenyum penuh kemenangan.


" Rasakan kau!"


Di dalam mobil Zanita masih menangis. Rasanya memang sesakit itu, dikhianati yang ternyata sudah lama. Bahkan sampai si wanita hamil. Terlebih wanita itu adalah mantan sahabat dekatnya.


" Ya Allaah takdir apa yang kau berikan padaku."


" Za, semua sudah digariskan takdir. Sekarang apa kau mau menyelamatkan keluargamu dan juga dirimu? membuat pernikahan ini tidak gagal?"


" Apa maskudmu bang."


Andra tidak banyak berbicara. Ia kembali membawa Zanita untuk pulang ke rumah. Sampai di rumah suasana masih sedikit kacau karena Penghulu terus menanyakan kapan pengantinnya datang.


" Nah itu datang."


Seseroang dari mereka menunjuk kedatangan Zanita dan Andra. Sella dan Milah pun manghampiri Zanita dan mencoba untuk me touch up make up Zanita yang sudaha luntur.


" Nak dimana nak Raffan."


" Saya Raffan bu, tepatnya Raffandra Suma Dwilaga. Pak apakah sudah siap menikahkan putri bapak."


" Bang, ini bukan main-main."


" Aku tidak pernah main-main."


Sella menganga lebar saat Andra mengatakan hal tersebut. Sedangkan Wawan dan Milah hanya saling tatap. Belum sempat mereka berpikir penghulu sudah menarik tangan Wawan untuk segera duduk di meja akad dimana Andra sudah duduk di sana. Sebelumnya Andra sudah membisikkan sesuatu di telinga sang penghulu membuat pak penghulu tersebut mengangguk mengerti.


" Silakan pak Setiawan menjabat tangan nak Raffandra. Apa mas kawin yang akan kamu berikan kepada istrimu nak." Raffan mengambil dompetnya dan mengeluarkan uang tunai yang ada di dalamnya.


" Baiklah mari kita mulai. Silahkan Pak Setiwan."


" Saudara Raffandra Suma Dwilaga saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan putri kandungku Zanita Yufarani dengan mas kawin uang sebesar satu juta dua ratus lima puluh ribu rupiah dibayar tunai."


" Saya terima nikah dan kawinnya Zanita Yufarani binti Setiawan dengan mas kawin tersebut dibayar tunai."


" SAH!!!!"


TBC