
Hari Senin selepas subuh Andra dan Zanita mulai sibuk di dapur, tak lama Juned pun datang untuk membantu Andra membuat kimbab.
" Ini seriusan mau dibikin semua?"
Juned terkejut melihat meja dapur yang banyak terdapat bahan untuk membuat kimbap. Ia yakin bila sudah dipotong dan di jumlah ada kali seratusan lebih.
Tapi Juned seketika terdiam saat melihat Andra yang menatapnya tajam. Juned tentu langsung tahu bahwa hal tersebut adalah peringatan untuknya agar segera bekerja dan bukan hanya berkomentar.
" Jadi apakah akan menginap bang?"
" Kurang tahu Za, nanti abang kabari ya. Kalau seandainya abang nginep kamu pulang aja ke rumah bapak sama ibu. Jangan balik ke apartemen sendiri."
Zanita menjawab dengan senyuman dan anggukan. Pemandangan tersebut tidak lepas dari pandangan Juned. Ia pun berspekulasi bahwa hubungan bang Bos dan nyonya Bos ini berkembang dengan sangat baik.
Aku ikut senang Bang jika Abang bahagia.
Juned berucap dengan tulus. Ikut Andra beberapa tahun tentu ia tahu bahwa Andra adalah orang yang baik. Dia bahkan tahu Andra tidak pernah berhubungan dengan wanita manapun sebelum mengenal Zanita. Hal ini yang ingin Juned ikuti. Dia tidak mau istilahnya pacaran, jika memang yakin ya sudah ayo menikah.
Akan tetapi sepertinya tidak mudah meskipun ia selalu menghindari Riana, Juned sebenarnya memiliki rasa untuk gadis itu. Meskipun demikian Juned cukup sadar diri dengan kondisinya yang bukan siapa-siapa.
Haaaah
Juned membuang nafasnya kasar. Hal tersebut tentu tidak luput dari pengelihatan Andra dan Zanita. Keduanya saling pandang lalu menatap ke Juned bersama-sama.
" Kenapa Ned?" tanya Andra tiba-tiba.
" Eh, nggak ada apa-apa bang bos."
Andra mengerutkan keningnya. Ia tidak terlalu yakin bahwa Juned tidak ada hal yang dirasakan. Wajah pemuda itu terlihat begitu kusut saat ini.
" Ada apa Ned? Ngomong aja, gue tahu pikiran lo lagi nggak di sini."
" Huuft, Juned lagi dikejar-kejar sama cewe bang. Dia sebenarnya adik kelas Juned saat masa SMA dulu. Kita temenan baik. Tapi tiba-tiba bilang suka. Laah kan kaget. Sampe sekarang masih ngejar mulu."
" Lo nya nggak suka ma tu cewek?"
Juned terdiam, jika mengatakan tidak suka sebenarnya dia suka. Tapi ya itu tadi, ia sadar bahwa dirinya bukanlah siapa-siapa jika dibandingkan status Riana.
" Lo diem, berarti lo ngakuin kalau lo suka. Terus apa masalahnya?"
" Riani Jiliian Adhicandra, itu masalahnya bang. Putri tunggal Fusena Adhicandra yang sekarang ikut terjun di dunia entertainment. Jauh bang, jauh banget dengan gue. Gue mah apa atuh, cuma remahan rengginan jika dibandingkan dengan dia."
Zanita yang mendengar ucapan Juned tentu paham apa yang dirasakan oleh Juned saat ini. Kemarin dia benar-benar tahu bagaimana diposisi itu. Bersyukur keluarga Andra adalah keluarga yang humble dan tidak memetingkan status sosial. Namun Zanita pun tidak berani untuk mengeluarkan pendapatnya. Ia memilih diam dan melanjutkan pekerjaannya.
" Lo punya cinta. Kalau memang lo tulus mencintai Riana, gue yakin semua bisa dihadapi Ned."
" Tapi hidup realistis bang. Orang tua mana yang mau memberikan anak gadisnya pada pria yang status sosialnya lebih rendah. Yang penghasilannya lebih rendah."
" Ya sudah kalau gitu, berarti case close. Udah, kalau lo udah punya pikiran begitu ya nggak usah dipikirin lagi. Tapi inget jangan nyesel. Wes sekarang bantuin lagi. kita kudu berangkat jam 6."
Juned mengangguk. Ia pun kembali berkutat dengn bahan-bahan kimbab yang ada di depannya dan siap mulai menggulung rumput laut yang sudah diberi nasi dan isian yang lain.
Sekitar 30 menit kemudian semuanya selesai. Mereka tersenyumpuas. Satu ciuman mendarat di kening Zanita dari Andra.
" Terimakasih sayang untuk bantuannya."
Bluss
Wajah Zanita bersemu merah. Belum pernah mendengar Andra memanggilnya dengan sebutan sayang membuat ia merasa begitu malu. Apalagi disitu masih ada Juned.
" Kamu berangkat sendiri nggak masalah?"
Andra mengangguk. Setelah berganti pakaian ia pun langsung menuju ke lokasi syuting yang sudah ditentukan oleh Hunang si Sutradara. Ternyata lokasi nya masih sama seperti yang kemarin.
Setelah Andra berangkat ke lokasi syuting Zanita pun bergegas untuk bersiap ke JDA. Ia mengambil nafasnya dalam-dalam dan membuangnya. Sejenak mereview mengenai apa yang terjadi dalam hidupnya akhir-akhir ini.
Zanita tersenyum, semua yang dialaminya adalah takdir yang diberikan Tuhan kepadanya. Masa lalu nya sudah ia buang jauh dan masa depannya kini sedang ia jalani bersama sang suami. Ya suami, Zanita benar-benar memutuskan untuk menerima Andra. Tidak patut dia membenci Andra yang memang benar tidak pernah berbuat salah kepadannya.
" Sepertinya aku memang harus berdamai dengan diriku. Artis, tidak ada yang buruk dengan profesi itu. yang buruk adalah personalnya. Tidak semua orang yang bekecimpung di dunia itu seperti Vanka. Aku rasa masih banyak yang benar-benar memiliki attitude yang baik."
Zanita memakai helmnya lalu menyalakan motor. Ia mengendarai motornya tersebut menuju tempat kerjanya. Satu hal lagi, siap-siap dia akan di cengin oleh rekan-rekan kerjanya.
*
*
*
Andra dan Juned sampai juga di lokasi syuting. Terlihat kru film Mendadak Traveling sedang take adegan. Andra tersenyum ke arah semuanya. Ya, Andra memang ramah dan begitu humble. Maka dari itu dia dijuluki Tuan Magicom oleh Zanita karena pembawaannya yang hangat.
" CUT, elah. Lo lagi lo lagi. ya kali setiap adegan lebih dari 3x take nya. Serius dong."
" Maaf mas."
Vanka upanya masih membuat ulah. Restu yang kala itu ikut datang ke lokasi syuting langsung menarik Vanka. Ia tentu tahu, jika terus berlanjut seperti ini maka bisa saja Vanka akan diganti. Itu hal yang mudah bagi seorang Hunang.
" Van, kalau kamu masih seperti ini aku yakin kamu bakalan diganti. Fokus, katanya kamu adalah orang yang berbakat di dunia akting. Tunjukkan itu jangan hanya sekedar omong besar."
Duaaar
Kata-kata Restu bagai sambaran petir bagi Vanka. Ia benar-benar tidak tahu jika restu bisa bicara sesuatu yang menyakitkan. Sakit hati? rupanya wanita itu bisa merasakannya.
" Hei Bro, elah galak bener sih."
Suara Andra yang menyapa Hunang langsung membuat semua perhatian orang yang ada di sana tak terkecuali Vanka dan Restu tertuju kepadanya. Jika Vanka berdiri mematung melihat ketampanan Andra tentu tidak dengan Restu. Restu langung berlari untuk menemui Andra.
" Woooah lihat siapa yang datang. guest star kita. Thanks banget lo udah mau datang."
" kampret, jangan thanks theenks aje, mana naskah gue. Gue tunggu dari kemarin nggak juga lo kasih."
Hunang hanya nyengir kuda. Ia pun meminta Toni sang astrada untuk mengambilkan naskah yang akan Andra adegankan.
" Ned, bagiin ke semuanya. Nang, biar semua orang break dulu. Gue bikin kimbab nih."
" Waah makasih banget. Wooi semua break. Andra Suma bawain kimbab nih. Kalian makan dulu. Lo sesempet itu bikin beginian."
" Ada seseorang yang bantuin gue."
Andra tersenyum lebar membuat Hunang sedikit curiga dengan ulah sang teman. Yak berselang lama Restu menyapa Andra, ia pun pamit sejenak kepada Hunang untuk berbicara dengan Restu.
" Ndra, makasih banget udah nolongin waktu itu."
" Nggak usah dipikirin. Gimana kabar Ibu?"
" Alhamdulilaah baik Ndra dan semua berkat kamu."
Andra menepuk pelan bahu Restu. ia mengangguk pelan. Sungguh Restu adalah orang yang sangat baik dan cerdas. Andra pun senang bisa membantu Restu yang pernah bekerja selama 3 tahun untuknya itu.
TBC