
Setiawan terlihat marah dan Milah menangis tersedu setelah Zanita menceritakan apa yang terjadi. Pesta di rumah Zanita telah usai sebelum zuhur tadi. Para tamu dan sanak saudara sudah pulang. Kini mereka tengah ada di dalam rumah. Tentunya di sana ada Juned juga Sella. Kedua orang itu juga mendengarkan cerita Zanita.
Sella rasanya ingin menjambak rambut Raffan saat ini. Gadis itu terlihat kesal. Ia meremass gelas mineral yang ada ditangannya.
" Tenang, jangan esmoni eh emosi. Percuma juga orangnya nggak ada di sini," bisik Juned di sebelah Sella.
Sella hanya memutar bola matanya jengah dengan apa yang diucapkan Juned. Entah sejak kapan mereka berdua saling kenal yang jelas selama acara tadi keduanya paling sigap menyambut dan menemani tamu.
Tidak ada yang 'ngeh' bahwa Andra adalah seorang publik figure. Termasuk Wawan dan Milah. Kedua orang tua itu bingung bagaimana sekarang. Bagaimana nasib pernikahan putrinya. Wawan tahu pemuda di depannya itu melakukan pernikahan dengan sang putri untuk menyelamatkan keluarga mereka dari rasa malu.
" Terimakasih nak Andra sudah menolong kami. Setelah ini~"
" Setelah ini saya akan mendaftarkan pernikahan saya dan Zanita ke KUA. Saya akan mendapatkan buku nikah untuk kami berdua."
Semua orang tentu terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Andra. Zanita pun langsung menarik tangan Andra dan membawa pria itu masuk ke kamarnya untuk bicara empat mata. Andra hanya patuh, ia ingin tahu apa yang akan dibicarakan oleh Zanita. Tapi Andra sedikit salah fokus saat sadar bahwa Zanita membawa nya ke kamar. Jiwa isengnya tentu mulai meronta ingin segera memulai aksi.
Andra bahkan menaik turunkan alisnya saat keduanya saling bertatapan. Zanita yang belum mengerti terlihat acuh.
" Apa kamu sungguh tidak sabar untuk memulai malam pertama sehingga membawaku masuk ke kamar. Padahal ini belum malam, masing siang dan sangat panas."
Zanita melihat sekeliling. Ia kemudian menepuk keningnya pelan saat ia menyadari satu hal yang salah.
" Tck, jangan membuat aku hilang fokus. Katakan apa maksudmu berbicara seperti itu pada kedua orang tuaku. Mengambil buku nikah di KUA. Bukannya tadi bilang hanya mau menolongku agar keluargaku tidak malu."
" Yups benar, aku memang mau menolong mu dan ini lah pertolonganku yakni dengan menikahi mu. Aku tidak pernah main-main dengan pernikahan, aku akan menjadikanmu satu selamanya untuk hidupku. Dalam prinsipku tidak akan pernah ada kata pisah. Jadi selamat nyonya Raffandra, anda adalah istri sah dari seorang Andra Suma saat ini, besok, dan seterusnya."
Duaaar
Kata-kata Andra benar-benar membuat Zanita seperti disambar petir. Tidak, ini lebih hebat dari sambaran petir. Mungkin ini seperti bom yang meledak. Bagaimana bisa menikah dengan pria yang dia benci itu. Hidup bersama dengan pria yang selalu menjahilinya, tidak Zanita sungguh tidak bisa membayangkan.
" Abang serius mengatakan hal itu?"
" Sangat serius."
Zanita tertunduk lesu. Rasanya ia ingin menangis sekeras-kerasnya sekarang. Bagaimana bisa ada dua hal besar yang terjadi didalam hidupnya di dalam satu waktu. Dikhianati oleh calon suaminya dan menikah dengan pria yang dia benci.
" Huaaaa."
Zanita benar-benar menangis. Andra tentu panik dengan tangisan Zanita yang semakin keras itu.
" Za, stop, entar dikiranya aku ngapa-ngapain kamu. Ntar dikira KDRT lagi. Stop ya nangisnya."
Andra pun memberanikan diri untuk mendekat dan meraih tubuh Zanita lalu membawanya ke pelukannya. Gadis itu memberontak, memukul dada Andra dengan kedua tangannya.
" Menangislah, aku tahu kamu marah, sedih, dan sakit hati. Kamu pasti merasa dipermainkan. Menangislah sepuasnya Za."
" Huhuhu, kenapa dia jahat banget sama aku. Kenapa dia tega sama aku. Salah aku apa ke dia. Wanita itu juga kenapa dia begitu jahat, padahal dulu kita temenan baik. Hu hu hu. Kenapa semua jadi kayak gini, dan kenapa aku malah jadi nikah sama tuan magicom."
Pada awalnya Andra simpati atas uneg-uneg yang Zanita keluarkan tapi tiba-tiba ia merasa terkejut dengan kata terakhir gadis itu. Andra pun mengurai pelukannya dan menatap tajam ke arah Zanita yang masih berlinang air mata.
" Tuan Magicom? Aku?"
" Ya abang, siapa lagi. Ya sudah mari kita keluar. Silahkan abang ke KUA tapi inget ya bang. Aku masih benci abang."
Andra menepuk keningnya pelan. Ia melihat sisi lain Zanita yang mungkin ke kanak-kanakan. Rupanya rasa benci Zanita ke dirinya masih akan berlanjut dan mungkin tambah besar sekarang. Tapi dia sudah berprinsip bahwa menikah hanya akan ada sekali seumur hidup. Ia akan menjadikan Zanita satu-satunya dalam hidupnya.
Keduanya keluar bersama dari kamar. Andra menyampaikan apa yang ia tadi sudah katakan bahwa akan mengurus buku nikah keduanya. Semua yang ada di sana bernafas lega terlebih Wawan dan Milah. Kedua orang tua itu tidak pernah menyangka bahwa putrinya akan menikah dengan pria pengganti. Mana nama depan keduanya pria itu hampir sama lagi, Raffan dan Raffandra.
" Bapak sama ibu istirahat aja dulu. Za masih ada yang mau diomongin sama mereka."
Wawan dan Milah mengangguk, mereka memang terlihat lelah. Setelah kedua orang tua Zanita itu masuk ke kamar untuk istirahat, Zanita melayangkan tatapannya ke arah Juned dan Sella.
" Inget ya, ini jangan sampai ada yang tahu. Kalau kesebar berarti Kak Juned dan Sella yang tanggung jawab."
" Bos?"
" Ikuti kata nyonya."
Juned mengangguk paham. Pun dengan Sella. Identitas Andra yang sebagai publik figure akan jadi heboh jika tahu peristiwa ini. Sella pun pamit undur diri, sedangkan Juned diminta oleh Andra untuk pulang ke apartemen mengambil baju ganti. Dia akan menginap di rumah Zanita malam ini.
Tadinya Zanita protes tapi akhirnya gadis itu pasrah juga dengan keinginan Andra. Dengan dalih takut masih ada tamu datang, Zanita mau tidak mau menyetujui ide menginap Andra.
" Sudah jam 2, belum luhuran kan? Ayo sholat dulu."
Ajakan Andra diiyakan oleh Zanita. Bergantian mengambil air wudhu di kamar mandi, gadis itu sudah membentangkan dua sajadah di kamarnya. Ini adalah kali pertama Zanita sholat dengan di imami pria secara langsung. Dengan Raffan ia tidak pernah melakukannya. Dan saat di papandayan, mereka melakukannya dengan banyak orang.
" Siap. Bismillaah."
Takbiratul ikhram di ucapkan oleh Andra sebagai tanda ibadah itu dimulai. Keduanya terlihat khusyu dalam menjalankan kewajiban mereka hingga 4 rakaat berakhir. Baik Andra dan Zanita memanjatkan doa masing-masing. Tapi satu hal yang begitu jelas bahwa keduanya sama-sama tidak menyangka mereka akan menikah. Persiapan pernikahan kemarin yang Andra lakukan bersama Zanita seolah sebagai tanda bahwa keduanya lah pasangan pengantin yang sesungguhnya.
TBC