My Haters To Be My Wife

My Haters To Be My Wife
HW 59. Stalker



" Oke guys, thank you buat semuanya. Kalian sungguh luar biasa. Semoga film kita bisa diterima di masyarakat. Terlebih bagi mereka yang suka traveling. Selamat beristirahat dan sampai ketemu di premiere Mendadak Traveling."


Sebuah speech singkat Hunang sampaikan ke seluruh kru dan artis untuk mengakhiri shooting mereka. Riuh tepuk tangan mengikuti kalimat terakhir yang sang sutradara sampaikan. Semua saling berjabat tangan dan mengucapkan terimakasih.


Disana tampak Restu yang sedang menemui Juned. Setelah menyatakan jadian akhirnya Juned menunggui Riana yang tengah shooting. Restu menanyakan kemana Andra dan mengapa ia di tempat itu sendirian.


" Oh bang bos lagi liburan Mas Res. Gue kesini diminta tuh sama Pak Sut. Katanya ada yang mau ditanyain."


" Ohh gitu. Tapi kok kamu nggak ikut Jun liburannya. Biasanya kan kalau liburan kamu diajak."


" Eeh, ini ... anu, ehmm Bang Bos pengen liburan sendiri. Hehehe."


Restu mengerutkan keningnya. Ia menangkap seperti ada yang disembunyikan oleh Juned. Tapi Restu tidak ingin ikut campur lebih bagaimanapun ia sudah tidak bekerja dengan Andra. Jadi dia tidak boleh kepo dengan urusan Andra.


" Lho Bang Juned sama Kak Restu saling kenal."


Sebuah suara mendekat ke arah kedua pria itu. Ya Riana dengan Tia menghampiri Juned dan Restu. Restu pun menjelaskan bahwa mereka dulu pernah bekerja bersama. Riana tentu terkejut rupanya dunia ini sangat sempit. Ternyata Restu sudah lama mengenal Juned.


" Jadi dia yang kamu maksud kemarin Ri. Terus sekarang?"


" Aman kak. Lancar jaya."


Restu terkekeh geli. Ia tentu paham maksud Riana. Restu ikut senang, akhirnya apa yang jadi keinginan Riana terkabul juga. Mereka berempat pun terlibat obrolan seru. Mereka saling bercanda dan tertawa. Karena memang shooting hari ini sudah selesai. Maka tentu mereka bebas melakukan apa saja.


Satu pasang mata melihat mereka dengan pandangan tidak suka. Siapa lagi kalo bukan Vanka. Dirinya yang tengah kerepotan membereskan barang-barangny itu berbanding terbalik dengan mereka yang terlihat santai berbicara tanpa ada beban.


" Arghhh nyebelin banget sih. Untung udah selesai. Eh bukannya itu manager Andra? Kok akrab banget. Apa mereka saling kenal ya? Aaah bodo amat. Aku nggak peduli."


Vanja duduk sebentar untuk menghalau rasa lelahnya. Ia meringis, merasakan sebuah nyeri dibawah perutnya. Ia lalu teringat akan Raffan. Vanka mengambil ponselnya dan menghubungi suaminya itu.


" Raff, bisakah kau menjemputku. Aku sungguh sangat lelah."


" Maaf Van, aku harus lembur malam ini. CEO meminta karyawan menyelesaikan laporan untuk akhir bulan ini. Dan punyaku masih sangat banyak. Maaf ya."


" Brengsek, percuma aku menikah dengan mu kau sungguh tidak bisa diandalkan."


Vanka menutup panggilannya setelah memaki suaminya. Ia benar-benar dalam mood yang tidak baik. Mau tidak mau, ia pun membawa barangnya sendiri ke mobil dan bergegas untuk pulang. Apa yang ia harapkan sungguh tidak sesuai dnegan apa yang ia dapatkan.


Meskipun begitu Vanka tetap tidak belajar dari keslahaan. Andaikan dia mau sedikit saja belajar dari kesalahan yang dia buat pasti dia tidak akan sendirian begitu.


" Kak Res, Mbak Tia, bukankah itu Kak Vanka. Kak Restu beneran nggak ngasih dia asisten. Kasihan tahu kak," ucap Riani yang iba melihat Vanka berjalan dengan sedikit kerepotan.


" Ri, bukannya nggak mau ngasih. Aku cuma mau membuat dia belajar menghargai orang lain," jawab Restu dengan membuang nafasnya kasar.


Restu tentu ingin Vanka belajar tapi sepertinya Vanka tidak mau belajar. Sungguh Restu sedikit pusing dengan kelakuan artisnya yang satu itu.


*


*


*


" Bik, dimana Fetisia?"


" Maaf tuan, non Feti nya di kamar dari kemarin nggak mau keluar. Saya sedikit khawatir. Udah saya gedor-gedor nggak jawab."


Pria itu mengangguk paham. Ia menepuk pelan bahu ART nya agar tenang dan tidak perlu khawatir. Lalu pria tersebut berjalan menuju lantai 2 dimana kamar adiknya berada.


" Fet, Fetisia buka pintunya. Kata bibi kamu dari kemarin nggak ke luar. Fetisia!"


Nihil tidak ada jawaban. Pria itu mencoba untuk memanggil sekali lagi tapi tetap saja tidak ada jawaban dari sang adik. Ia kemudian turun dan mencari kunci serep kamar Fetisia tapi tidak juga ia temukan.


" Bik, kunci serep kamar Fetisia nggak ada ya?'


" Tuan Gibson, beberapa hari lalu nona Fetisia mencari kunci serep tersebut. Katanya kunci kamarnya hilang."


" Sial!"


Gibson kemudian berlari menuju kamar sang adik. Ya, Fetisia adalah adik kandung Gibson. Pria itu seketika merasa khawatir dengan Fetisia. Ia kembali memanggil adiknya itu tapi tetap tidak ada jawaban. Gibson pun akhirnya membuka paksa pintu kamar Fetisia dengan mendobraknya.


Betapa terkejutnya Gibson melihat kamar Fetisia yang suram. Gorden kamar gadis itu tidak dibuka. Lampu yang ada di sana juga tidak dinyalakan. Hanya sebuah lampu remang-remang saja yang menyala. Dan yang membuat Gibson terkejut adalah dinding kamar tersebut dipenuhi oleh foto Andra Suma.


" Andra? Apa yang dilkaukan Fetisia?"


Gibson memeriksa setiap foto Andra. Di sana banyak sekali foto Andra dari segala sisi dan segala situasi. Dalam setiap foto pasti ada tanda bibir. Gibson pun bergidik ngeri melihat semua itu.


" Apa Fetisia adalah stalker Andra. Ini sakit, ini obsesi. Ya Tuhan Fet, kenapa begini."


Gibson baru ingat ia tidak menemukan adiknya di kamar itu. Ia pun berlari menuju kamar mandi. Dilihatnya Fetisia berada di sana. Entah pingsan entah tidur. Gibson lalu mengangkat tubuh Fetisia. Ia mencoba membangunkan Fetisia namun tidak berhasil.


" Tidak, ada yang salah dengan anak ini."


Gibson langsung mengangkat tubuh Fetisia lalu berjalan menuruni tangga. Ia berteriak kepada salah satu ART nya untuk memanggil sopir dan menyiapkan mobil. Para ART yang melihat Fetisia tak sadarkan diri pun terkejut. Satu diantaranya langsung mencari sopir.


" Tuan, Non Feti nya kenapa."


" Pingsan bi, aku akan membawanya ke rumah sakit."


Terlihat raut khawatir dari ART tersebut. Fetisia adalah gadis yang baik sebenarnya. Tapi entah mengapa tiba-tiba dia bisa berubah jadi pemarah begitu.


" Fet, kau ini kenapa. Kau dulu tidak seperti ini."


Gibson membelai lembut wajah sang adik dan mencium pucuk keplaa Fetisa. Sayang, pasti. Gibson sangat menyayangi adiknya itu.


" Adik anda mengalami ketergantungan dengan obat tidur tuan. Ini harus segera dicegah. Jika tidak hal ini bisa merusak tubuh adik anda."


Gibson lalu mengatakan semuanya yang ia temui di kamar sang adik kepada dokter. Dokter tersebut menyarankan agar Fetisia dibawa ke psikiater akan ditangani dengan lebih baik lagi. Jika tidak apa yang dia lakukan tersebut bisa membahayakan orang lain.


Gibson mengangguk paham. Ia tadi sempat melihat juga sebuah kata-kata kejam yang ditunjukan Fetisia pada sebuah foto seorang gadis. Ini benar-benar menakutkan. Beruntung Gibson menemukan Fetisia terlebih dulu. Jika tidak entah hal apa yang akan dilakukan gadis itu nanti.


" Fet, jangan bertindak bodoh. Itu bukan cinta. Itu obsesi. Kamu tidak akan bahagia dengan obsesimu itu. Kakak harap kamu bisa mengerti itu. Maaf sepertinya kamu memang harus ditangani oleh ahli kejiwaan. Tapi tenang saja. Kakak akan selalu mendampingi mu."


TBC