
" Oke done, thanks buat 2 hari ini. Sekarang kalian boleh break. Kalau mau pulang dulu juga nggak apa-apa senin kita akan lanjut. Andra akan datang pas hari senin nanti untuk ambil adegan."
Semua orang bersorak senang. Kekecewaannya pas hari pertama syuting akhirnya bisa diobati. Ya, semua orang kemarin sangat menunggu kedatangan Andra Suma tapi mereka kecewa karena Andra tidak datang ternyata. Tapi kali ini sepertinya sang sutradara yakin kalau Andra akan datang senin besok.
" Aku udah nggak sabar buat ketemu Andra Suma. Ya Ampun, pasti dia ganteng banget."
Vanka bergumam pelan, ia sepertinya begitu mengidolakan Andra. Tia yang mendengar apa yang dikatakan oleh Andra hanya menggelengkan kepalanya pelan. Ia juga mengidolakan Andra tapi masih dalam tahap wajar.
" Van, kamu mau pulang atau stay di sini aja."
Vanka terdiam, ini hari week end pasti Raffan juga di rumah. Tiba-tiba dia merasa malas bertemu dengan Raffan. Sejenak ia membandingkan Raffan dengan Andra, sungguh sangat jauh.
" Semalam Bang Raffan telpon lho nanyain kamu."
" Hufft, ya udah kita balik dulu."
Akhirnya Vanka memutuskan untuk pulang. Bagaimana pun Ia sudah meninggalkan Raffan selama dua hari. Terbesit sedikit takut kalau Raffan akan menduakannya. Naluriah, itu adalah hal yang dirasakan oleh seorang wanita. Terlebih dia mendapatkan Raffan dengan cara yang tidak baik, maka ia pun khawatir jika Raffan akan terpikat oleh wanita lain.
Vanka dan Tia bejalan menuju ke mobil. Tapi langkah mereka ketika terhenti saat seseorang datang menghampiri. Seorang pria tinggi berkulit putih dan pastinya tampan.
" Ada yang bisa saya bantu?"
" Lo bukannya Vanka ya, temannya Zanita?"
Vanka memicingkan matanya, siapa pria tersebut mengapa mengenalnya dan Zanita. Vanka berusaha untuk mengingat pria tersebut hingga ia menemukan sebuah nama.
" Preet, lo Toni kan? kita sekelas bukan?"
Pria yang bernama Toni itu mengangguk dan tersenyum. Tapi satu hal yang membuat Vanka bertanya. Kenapa Toni ada di sana.
" Kok lo disini Ton?"
" Ohh, gue kan salah satu kru di film ini. Gue astrada (asisten sutradara). Sekitaran 3 tahun gue ikut Mas Hunang."
Vanka tersenyum, lalu ia mengangguk paham. Terbesit sebuah ide di benak Vanka. Ia akan mendekati Toni agar bisa meraih hati Hunang. Siapa tahu dia akan dipakai terus dalam setiap film yang dibuat.
" Oh iya Van, gimana kabar Za?"
Seketika senyum Vanka hilang saat Toni menanyakan Zanita. Ia tentu tidak lupa bahwa Zanita adalah salah satu siswa populer dulu. Bahkan kepopuleran Zanita melebihi Vanka yang saat itu sudah terjun di dunia entertainment. Vanka pun berusaha untuk tetap tersenyum agar Toni beranggapan bahwa dirinya dan Zanita masih berteman baik hingga saat ini.
" Oh Za, baik kok. Kabar dia baik. Lo habis ini mau kemana? nongrong dulu yuk."
" Waah sorry Van, next time lah ya. Gue ada janji ma anak and bini gue. mereka ikut ke loksyut ( Lokasi Syuting). Mereka ikut gue karena emang week end Mas Hunang bilang mau free."
" Ooh gitu, oke."
Toni pun pergi dari hadapan Vanka, dan wanita itu langsung merasa sangat kesal. Rupanya tergetnya kali ini sudah berkeluarga. Yang tadinya ia akan memanfaatkan Toni untuk memuluskan jalannya sepertinya gagal.
" Sialan, ternyata dia udah punya anak bini."
" Kenapa Van?"
Vanka hanya diam saja membuat Tia mendengus kesal. Kesabaran gadis itu benar-benar luar biasa. Tapi percayalah. Jika seperti itu terus maka Tia pun pasti memilih undur diri dari posisi asistennya Vanka.
*
*
*
Jarum panjang menujuk di angka 6 dan jarum pendek di angka 12.
" Astagfirullah, udah siang. Kita belum makan lagi."
Andra bangkit dari posisi tidurnya menuju ke kamar mandi dan membasuh muka. Tak lupa sekalian mengambil air wudhu untuk menjalankan kewajiban 4 rakaat.
Seusai melakukan hal tersebut, Andra berjalan ke luar kamar menuju dapur. ia membuka lemari es nya dan tersenyum. Disana banyak sekali bahan makanan, makan ada makanan matang yang ada di freezer. Siapa lagi kalau bukan bunda nya yang mengisi lemari es nya tersebut
" Bunda emang the best."
Andra lalu memasak nasi terlebih dahulu, menghangatkan rendang yang ada di frezer dan memasak beberapa sayuran. Andra tentu bisa melakukan semua itu. Tinggal terpisah dengan rumah dari masa kuliah membuat Andra bisa melakukan pekerjaan rumah dengan baik. Walaupun kalau di rumah bunda nya jug asama saja malas. Tapi saat di apartemen dia melakukan semuanya sendiri.
Sekitar pukul 13.30 Andra selesai dengan kegiatannya di dapur. Ia kembali masuk ke kamar dan menuju ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang terasa sangat lengket. Ia melirik sekilas ke arah sang istri. Zanita masih terlihat tidur dengan lelap. Sepertinya istrinya itu sangat lelah dengan trip kemarin.
Andra menyalakan shower nya. Sejenak membiarkan tubuhnya di guyur air dingin. Ia kembali mengingat kejadian dalam hidupnya selama sebulan lebih ini. Tidak ada yang pernah menyangka dia akan menikah dalam waktu yang begitu dekat. Tidak terbesit sedikit pun dalam dirinya akan menikah bahkan dengan wanita yang belum pernah ia kenal sebelumnya.
Apakah ini jodoh?
Entah, hanya Tuhan yang tahu. Jika ini benar dikatakan jodoh, semoga pernikahannya berjalan dengan indah. Itulah harapan Andra dengan pernikahannya.
" Aaaaaah Abaaaang, kenapa nggak di kunci sih kamar mandinya."
Andra terkejut mendengar teriakan Zanita. Ia memang tidak pernah mengunci kamar mandi, dengan dalih ini kan kamarnya sendiri. Bukannya segera menutup tubuhnya Andra malah tekekh geli melihat Zanita yang lari terbirit-birit.
Sesaat kemudian Andra keluar dari kamar hanya mengenakan handuknya. Tubuh kekar berotot dengan perut yang berkotak-kotak itu terpampang nyata di hadapan mata Zanita. Sebagai seroang gadis Zanita tentu sangat terkejut dengan tampilan Andra. Jiwa iseng Andra kembali bangkit. Ia terus mendekat ke arah Zanita yang amsih menutup matanya.
" Abaaang pakai baju dulu."
" Seberapa banyak yang kamu lihat tadi hmmm?
" Nggak ada, nggak banyak cuma yang atas."
Tawa Andra meledak saat mendengar jawaban polos Zanita. Ia pun duduk di atas ranjang tepat disebelah Zanita.
" Yakin nggak mau lihat. Gratis lho ini. di luaran sana pada penasaran banget nih sama perut ku."
" Nggak. Aku nggak mau lihat!"
Andra terkekeh geli, Zanita benar-benar tidak mau membuka matanya. Ia pun semakin mendekatkan tubuhnya pada sang istri. Zanita tentu kesal terhadap ulah suaminya tersebut, terlebih Andra terdengar cekikikan.
Sial, aku dikerjai.
Zanita bergumam pelan. Tidak mau terus-terusan dikerjai Zanita pun memberanikan diri membuka matanya. Ia lalu menarik sudut bibirnya dan berkata, " Bener juga, gratis, sayang banget kalau nggak dinikmati ya kan."
Andra membulatkan matanya saat tangan Zanita mulai menyentuh dadanya dan merembaet turun ke otot perutnya. Zanita bahkan dengan berani mencium leher Andra.
Glek, Andra kesusahan menelan saliva nya sendiri. Terlebih Joni tampaknya mulai bangun. Ia tidak menyangka jika Zanita berani melakukan hal tersebut. Andra pun memegang tangan Zanita dan kembali berlari ke kamar mandi sebelum si Joni benar-benar bangun dengan sempurna.
" Sial, niatnya ngerjain malah aku yang kena. Kampreeet!!!"
Di luar kamar Zanita tertawa puas. Akhirnya dia bisa membalas keisengan Andra. Tapi sedetik kemudian Zanita bergidik saat mengingat tangannya yang menyentuh dada dan otot perut Andra.
" Astaga, apa yang aku lakukan. Buset deh tapi badannya abang emang bagus bener," ucap Zanita pelan sambil berlari ke kamar yang satunya lagi untuk mandi.
TBC