My Haters To Be My Wife

My Haters To Be My Wife
HW 37. Jangan Sok Ngartis



Eitsss, 4 bab nih. Mau dikasih apa nih Othor heheh


Happy reading readers kezayengan. Happy week end


...****************...


Zanita merasa tubuhnya sudah baik-baik saja. Lebih tepatnya perutnya, ia sudah tidak lagi merasa sakit. Sedikit merasa bersalah karena nekat memakan makanan yang sangat pedas tanpa kontrol.


Zanita berjalan keluar kamar. Ia tidak melihat adanya Andra di sana. tapi di meja udah ada semangkuk bubur dan ada sebuah notes. Zanita membaca notes tersebut dengan senyum mengembang.


Pagi istri ku yang cantik. Maaf aku keluar dulu ya ada sedikit urusan. Dimakan buburnya jangan lupa minum obat. Sampai ketemu nanti. See you.


Zanita sungguh tidak menyangka jika Andra begitu romantis. Ia pun mengingat ciumannya kemarin, sungguh ia tidak menyangka akan melakukan itu dengan Andra. Sesaat Zanita merasa bahwa mereka benar-benar adalah suami istri. Akan tetapi saat mengingat status Andra, Zanita kembali tersenyum kecut. Ia sungguh merasa sangat jauh jika dibandingkan dengan Andra. Minder? Pasti. Siapa yang tidak minder dengan status keluarga Andra yang hebat itu.


Zanita membuang nafasnya dengan kasar. Ia nampaknya akan kembali mempertimbangkan pernikahannya. Ia lalu duduk dan memakan bubur tersebut hingga habis, dan secepatnya berangkat ke JDA.


Di sisi lain Andra sudah berada di rumahnya. Tampak ia duduk sambil menunduk dalam. Di depan terdapat ayah dan Bundanya. Sekar menatap putra ketiganya itu dengan sangat tajam dengan tangan yang dilipat di depan dada. Sedangkan Aryo, pria paruh baya itu terlihat lebih tenang dari pada sang istri.


" Jelaskan sekarang, kenapa Jeng Rahayu bisa mengatakan bahwa kamu menikah minggu kemarin. Kamu pesen catering di Jeng rahayu kan?"


Deg


Andra memaki dirinya sendiri. Andra benar-benar lupa. Catering yang kemarin ia datangi bersama Zanita itu adalah catering langganan bunda nya. Ia berpikir bunda nya tidak akan berinteraksi dengan pemilik catering tersebut, tanpa Andra tahu bahwa pemilik catering tersebut adalah teman arisan sang bunda.


" Selamat ya Jeng sekar, ya ampun jeng menantunya cantik banget."


" Lha emang Silvya sama Hasna cantik to jeng, kayak baru lihat aja."


" Lha kalau Silvya sama Hasna mah saya udah tahu. Ini lho istrinya Andra. ya ampun bu, cantik, imut. Kemarin pas datang buat pesen catering saya lihat langsung anaknya. Jeng Sekar benar-benar beruntung menantunya semuanya cantik-cantik."


Duaaaar


Bagai dilempar bom Sekar mendengar ucapan dari rekan arisannya tersebut. Andra menikah? Kapan? Mengapa dia dan keluarga tidak tahu. Murka lah Sekar malam itu sepulang dari arisan. Ia langsung menghubungi Andra namun tidak dijawab oleh si bontot tidak jadi itu.


" An, apakah yang dikatakan temen bunda itu benar?" tanya Aryo dengan intonasi lebih tenang."


" Ya jelas benar to yah, lha Wong anak buah jeng Rahayu kan ada di TKP. Nih aku aja dapat fotonya kok. Tapi emang cantik sih itu ceweknya. Ealaaah malah salah fokus. Andra jelasin sebelum bunda kurung kamu di rumah!"


Suara Sekar benar-benar menggelegar hingga menggema di kediaman Dwilaga yang lumayan besar itu. Bahkan Aryo harus sedikit menjauhkan telinganya dari sang istri.


Andra masih dalam mode tutup mulut. Ia saat ini benar-benar nge-lag, bingung mau menjelaskan bagaimana. Padahal rencana Andra akan memberitahukan pernikahannya kepada ayah dan bunda nya saat Zanita sudah mulai menerimanya. Tapi sepertinya takdir berkata lain.


" Oooh nggak mau jawab. Ya sudah hari ini kamu di rumah aja, bukan ding bukan hanya hari ini. Udah kamu nggak usah balik ke apartemen. tinggal di rumah saja."


Sekar berdiri dari duduknya dan mendekat ke arah sang putra. " Auccchhh sakit bund." Andra berteriak saat tangan sang bunda menarik telinganya hingga kemerahan.


" Rasain, salah sendiri berulah. Kau menyakiti anak orang?"


Andra menggeleng pelan, ia pun menjelaskan mengapa Zanita bisa sakit. Setelah mendengar penjelasan Andra barulah sekar melepaskan tangannya dari telinga sang putra. Andra pun mulai menejelaskan juga mengenai pernikahan yang terjadi daro awal hingga akhir. bagaiman mereka bertemu dan bagaimana bisa Andra sampai bisa menikahi Andra.


" Berarti kamu dari awal udah punya rasa dong sama Zanita?"


" Entah Andra juga nggak tahu."


Sekar menepuk keningnya pelan. Ia pikir hanya putra pertama dan keduanya saja yang tidak mengerti akan perasaannya sendiri terhadap wanita, rupanya putra ketiganya tidak jauh beda. Sekar menyandarkan punggungnya di sofa, ia lalu melihat sang suami yang ada di sebelahnya.


" Mas."


" Hmm."


" Anak kita kok aneh-aneh ya ketemu jodohnya. Dika nikah sama Silvya karena digrebek warga. Radi mau dijodohin malah pura-pura pacaran sama Hasna yang sebenarnya wanita yang bakalan kita jodohin. Lha ini Andra, jadi pengantin pengganti karena Zanita nya diselingkuhi. Haishh, nggak ada yang lebih tragis lagi apa."


Sekar benar-benar tidak habis pikir dengan putra-putra mereka. Terlebih sang putri bungsu, semakin aneh saja dia. Tapi apapun itu terlihat semuanya berjalan baik-baik saja. Yang paling utama mereka semu bukannya menjadi pengganggu dalam hubungan orang lain.


" lalu,kapan kamu mau membawa Zanita ke rumah?"


Pertanyaan Sekar seketika membuat Andra membuang nafasnya kasar. Sekar dan Aryo bisa melihat bahwa putranya tampaknya sedang mengalami kesulitan.


" Kenapa An, istrimu nggak mau ketemu kami."


" Bukan begitu yah, Zanita adalah gadis yang baik tapi ada satu hal yang belum Andra kasih tahu ke ayah dan bunda. Zanita sangat membenci profesi artis, dan itu berimbas dengan Andra. Zanita belum sepenuhnya menerima pernikahan ini. Bahkan kemarin saat mengetahui keluarga kita semakin menambah Zanita ingin lepas dari Andra. Dia merasa minder."


Bukannya bersimpati terhadap cerita sang putra Sekar malah tertawa terbahak-bahak membuat Andra sedikit bingung dengan ulah sang ibu.


" Rasain, makanya jangan sok ngartis. tengil sih, emang enak nggak disukai istri sendiri. Selamat berjuang mendapatkan cinta istrimu anakku."


Sekar melenggang pergi menuju ke dapur. Andra hanya menatap sebal ke arah bundanya tersebut.


" Berari itu tugasmu An untuk bisa meluluhkan hati istrimu. Dari ceritamu ayah bisa melihat bahwa dia sangat sakit. Sakit dikhianati itu benar-benar tak mudah. Zanita, gadis itu cerdas dan berbakat. Ayah tentu sedikit banyak tahu, di kampus dia menjadi idola juga. baik, cerdas, ramah, dan santun anaknya. Jangan sampai lepas. Meskipun dia tidak memiliki materi seperti kedua kakak iparmu tapi ayah tahu hatinya begitu kaya. Setiap orang pasti memiliki kelebihannya. Jangan sampai lepas, itu saja saran ayah."


Andra mengangguk paham setiap apa yang dikatakan oleh sang ayah. dalam hati kecilnya berkata bahwa dia juga tidak akan melepaskan sang istri. Ia akan berusaha untuk bisa meluluhkan kerasnya hati Zanita yang terluka karena banyaknya pengkhianatan di hidupnya.


TBC