
Raffan kembali ke apartemen dengan tertunduk lesu. Kedua orang tuanya terlanjur kecewa dengan apa yang ia sudah lakukan. Tapi satu hal yang ia dapat, dari pembicaraannya dengan papa dan mamanya ia bisa mengetahui bahwa Zanita menikah dengan seorang pria yang baik. Setidaknya itu lah yang dikatakan kedua orang tuanya.
" Tapi siapa pria itu. Bukan orang sembarangan?"
Raffan kembali mengingat pria yang bersama dengan Zanita sata hari itu. Tapi semakin diingat Raffan semakin tidak tahu wajah pria yang bersama dengan Zanita.
" Jika kamu memang bahagia, mungkin aku akan memulai kehidupan dengan Vanka. Kamu tetaplah orang yang tersimpan rapi dalam cerita hidupku Za."
Beda Raffan beda pula Zanita. Jika Raffan menganggap Zanita sebagai seseorang yang tidak bisa ia lupakan maka Zanita menganggap Raffan adalah orang yang harus ia hapus namanya dari cerita hidupnya.
Gadis itu saat ini tengah bersandar di pundak sang suami, tidur lebih tepatnya.
Tampak wajah lelah Zanita setelah seharian tadi menghabiskan hari untuk pengambilan gambar di tempat wisata yang mereka datangi. Andra nampak tersenyum melihat wajah lucu dan menggemaskan istrinya yang tertidur itu.
Setelah mengetahui hubungan keduanya, tim benar-benar memberikan waktu untu Zanita dan Andra menikmati trip kali ini. Zanita yang awalnya malu dan kaku akhirnya bisa terlihat senang dengan setiap apa yang mereka lakukan.
" Ned, kapan kita akan ikut syuting Mendadak Traveling?"
" Siap bang bos, Mas Hunang minta waktu week end ini."
" Elaah kok week end sih. Kampret bener si Hunang."
Andra sedikit kesal. Weekend dia selalu tidak mau diganggu dengan urusan pekerjaan. Kemarin saat masih lanjang aja dia ogah untuk bekerja saat week end lhaa ini ditambah punya istri, tambah malas saja lah dia keluar apartemen.
" Ned, bilang ke dia gue nggak mau syuting pas week end. Kalau dia kukuh, bilang aja gue nggak jadi bantuin dia."
" Siap bang bos, Juned laksanakan."
Juned langsung mengambil ponselnya untuk menghubungi Hunang. Tapi baru saja ia ingin mencari kontak nama Hunang, panggilan dari orang yang Juned sangat tidak ingin di terima malah masuk.
Pria itu membuang nafasnya kasar. Bolak-balik ia menolak tetap saja orang tersebut sangat kukuh. Juned Bergumam pelan, " Ri, apa sih yang lo mau dari gue. Gue ini lho cuma pria biasa. Banyak yang ngejar elo kenapa juga lo malah ngejar gue."
Tidak dijawab, Juned sungguh enggan menerima panggilan tersebut. Ia cukup sadar diri dengan posisinya. Ia tidak mau dianggap punguk merindukan bulan, atau malah disebut beauty and the beast.
Akhirnya panggilan tersebut pun berhenti. Juned lalu mencari nama sang sutradara dan menuliskan keinginan Andra.
" Ya oke, bos mu itu emang bener-bener ya Jun. Okelah. Dia syuting senin aja ye Jun kalau gitu."
" Siap mas. Nanti Juned sampaikan ya."
Mudah sekali si sutradara menyetujui keinginan Andra. Bukan tanpa sebab, seperti yang pernah Andra katakan bahwa Hunang dan Andra adalah teman dekat saat masih SMA. Keduanya adalah teman bermain bersama hingga kuliah. Meskipun mengambil jurusan yang berbeda namun baik Andra pun Hunang masih sering bertemu dan pergi traveling bersama.
Hanya saja setelah Hunang sibuk menjadi sutradara dan producer mereka jadi jarang bertemu. Film yang Hunang buat ini sebenarnya film yang mengingatkannya akan masa-masa saat ia dan Andra bertraveling bersama. Ibaratnya adalah film ini merupakan pengingat dirinya akan kegiatan bertraveling bersama sang sahabat.
" Gimana? Mau nggak dia?"
" Mau bang bos. Senin bang bos syutingnya."
Andra tersenyum dan mengangguk kecil. Week end ini dia benar-benar tidak ingin di ganggu. Ia ingin ada di rumah saja menghabiskan waktu bersama sang istri.
🍀🍀🍀
Diseberang sana seorang gadis tengah terduduk lesu di teras gedung CA. Panggilan yang ia lakukan sejak siang selalu diacuhkan oleh orang itu. Bahkan ia menghapus sudut matanya. Menangis? Mungkin, ia merasa kesal dengan dirinya sendiri.
" Lho Ri, kenapa? Kok sendirian di sini. Belum pulang juga. Kamu kan udah selesai syutingnya, kenapa nggak langsung pulang aja."
" Eh Kak Restu. Ia, ehmm aku lagi males mau pulang ke rumah kak."
Restu tersenyum simpul. Di CA ini satu-satu nya yang memanggil Restu dengan sebutan kak hanya Riana. Gadis berusia 20 tahun itu terlihat berbeda sekarang. Biasanya Riana selalu ceria, tapi saat ini gadis tersebut terlihat sangat lesu.
" Sudah makan belum?"
Riana menggeleng, Restu paham. Sepertinya gadis di depannya ini sedang dalam mood yang tidak baik.
" Makan sama kakak yuk, kebetulan kakak juga belum makan," ucap Restu yang langsung dijawab dengan anggukan kepala oleh Riana.
Restu membawa Riana ke sebuah rumah makan. Bukan restoran mewah tapi tempat tersebut sangat ramai karena makanannya banyak disukai oleh pengunjung.
" Tidak apa-apa kan makan di tempat ini."
" Ya nggak apa-apa lah kak. Aku kadang sama mommy dan daddy ku malah makan di pinggir jalan gitu yang warung tenda. Makanannya nggak kalah enak kok sama di resto."
Restu tersenyum, rupanya selain ceria Riana sebenarnya asik untuk diajak berbicara. Pembawaan gadis itu supel kepada setiap orang.
" Kenapa tadi kok merenung sendiri?"
" Huftt, aku tuh suka sama cowo kak. Tapi cowo itu kayaknya nggak suka sama aku deh. Kita udah temenan sejak SMA. Aku pernah bilang suka sama dia, eh dia nya malah kabur. Apa aku salah kak karena ngomong duluan."
Restu kini paham. Untuk gadis seusia Riana, cinta begini itu sedang dirasakan. Restu bahkan mengagumi keberanian Riana mengungkapkan perasaannya kepada lawan jenis terlebih dulu. Biasanya wanita akan menunggu tapi Riana tidak.
" Apa dia mengatakan alasannya kenapa kabur dari mu."
" Dia selalu bilang kalau kita nggak pantes. Dia ngomong kalau aku terlalu jauh digapai buat dia. Padahal mah aku biasa aja tahu kak."
" Ooh dia minder gitu."
Riana mengangguk. Ya pria yang ia suka selalu menghindarinya dengan alasan bahwa mereka tidak sama. Bagai bumi dan langit begitulah istilahnya.
Riana Jillian Adhicandra, putri dari Fusena Adhicandra seorang pengusaha yang memiliki banyak SPBU yang tersebar di beberapa daerah. Namanya diperhitungkan di dunia bisnis. Pantas saja jika pria yang disukai oleh Riana minder dengan gadis itu.
" Berikan dia waktu Ri. Jangan mendesaknya. Saat ini mungkin dia sedang berpikir."
" Iya kak, aku ngerti kok."
Riana mengangguk paham. Gadis itu tidak menyangka jika Restu yang biasanya tegas saat bekerja kini terlihat lembut. Riana menemukan kenyamanan saat berbicara kepada Restu. Meskipun dia gadis yang supel dan ceria, Riana tidak sembarang berbicara mengenai kehidupan pribadinya kepada orang lain. Dan entah mengapa kali ini dia bisa bicara lancar dengan Restu.
TBC