My Haters To Be My Wife

My Haters To Be My Wife
HW 52. Menu Pembuka



Malam ini ternyata Zanita dan Andra tidak jadi menginap dirumah Wawan dan Milah. Sekar membawa menantu barunya itu ke kediaman Dwilaga. Tentu saja Zanita tidak bisa menolak. Melihat antusiasme sang ibu mertua membuat Zanita memilih pasrah untuk ikut ke rumah kedua orang tua Andra tersebut.


Sampai di kediaman Dwilaga, Zanita langsung diminta istirahat. Pasalnya mereka baru sampai rumah setelah habis isya.


" Mau mandi dulu nggak?" tawar Andra kepada sang istri.


" Boleh deh bang. Nah kan akunya lupa. Aku nggak bawa baju ganti. Tapi nggak apa-apa sih. Lagian ini siang baru ganti juga."


Zanita lalu masuk ke kamar mandi yang ada di dalam kamar tersebut. Sedangkan Andra, ia memilih untuk ke dapur mengambil minun. Tampak bunda nya keluar dari kamar dan memberikan paper bag kepada sang putra.


" Ini, buat menantu bunda."


Andra menerima paper bag tersebut tanpa banyak tanya dan curiga sama sekali. Andra pun kembali ke kamar dengan membawa paper bag dan minum untuk Zanita. Sekar terkekeh geli melihat punggung Andra yang semakin menjauh.


" Bund, apa yang bunda kasih ke Andra? Kayaknya bunda ngerjain Andra ya."


" Hahaha, biar tahu rasa tuh bocah. Dia kan paling hobi iseng. Nah sekarang gantian dia yang ngerasain gimana diisengin."


Aryo menggeleng pelan. Kini dia tau dari mana jiwa iseng Andra berasal. Siapa lagi kalau bukan dari sang istri. Sekar benar-benar sebelas dua belas dengan putra ketiga nya tersebut.


" Za, masih di kamar mandi? Ini dikasih sesuatu sama bunda. Kayaknya baju ganti deh. Aku gantungin di handle pintu kamar mandi ya."


" Makasih bang."


Zanita membuka pintu kamar mandi pelan. Ia lalu mengambil paper bag tersebut dan membukanya. Di sana ada 2 set pakaian dalaam. Yang satu berwarna merah maroon dan yang satu berwarna hitam. Ditambah lagi sebuah kemeja putih yang menurutnya lumayan besar. Mungkin itu kemeja over size. Tanpa berpikir banyak, ia pun memakai kemeja tersebut dnegan pakaian dalamm yang berwarna merah.


Glek


Andra menelan salivanya dengan susah payah saat melihat tampilan Zanita yang baru saja keluar dari kamar mandi. Kemeja putih dengan panjang hanya sebatas paha tersebut membuat Andra tidak berhenti berkedip melihat sang istri. Terlebih pakaian dalam yang berwarna merah itu terlihat jelas dari balik kemeja putih yang transparan.


" Bang kalau mau mandi gantian."


" Za, apa kamu nggak ngerti apa yang sekarang kamu pake?"


Zanita melihat dirinya sendiri. Tidak ada yang aneh di sana. Ia hanya kebetulan memakai baju yang kebesaran. Itulah yang dipikirkan gadis berusia 23 tahun itu, tanpa tahu bahwa apa yang dipakainya itu sungguh sangat menggoda bagi mata Andra. ( Inget guys, doi masih gadis heheheh)


" Nggak ada yang aneh kok bang. Baju abang ya ini, gede bener."


Andra hanya menepuk kening nya pelan. Pusing? Pasti. Sepertinya sang bunda sengaja melakukan ini untuk mengerjainya.


Saat Andra pusing atas bawah, Zanita dengan santai naik ke ranjang untuk tidur. Beruntung gadis itu langsung membalut tubuhnya dengan selimut jadi mata Andra terhalang sempurna sekarang.


" Haish, itu tanggal merah kapan habis sih," gumam Andra sambil menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


15 menit berlalu Andra kembali ke kamar. Betapa terkejutnya Andra saat melihat Zanita. Bukan karena sang istri sudah tertidur pulas tapi karena selimut yang tadi membalut tubuh Zanita sudah tersingkap. Paha putih nan mulus itu benar- benar terpampang nyata di mata Andra. Jangan lupakan bagian atas baju yang sedikit terbuka membuat pakaian dalaam yang berwarna merah itu terlihat juga isinya sedikit menyembul di sana.


" Ya Allaah, ini halal tapi belum bisa gue sentuh. Cobaan-cobaan haish. Za, Za, kamu buat si Joni puyeng Za. By the way, ngicip dikit kayak yang udah-udah boleh lah ya."


Andra menyeringai, ia langsung sedikit berlari menuju ke ranjang dan naik. Masih dengan bertelanjang dada pria itu mulai membelai lembut wajah sang istri. Tanpa Andra sangka Zanita terbangun.


" Bang, butuh sesuatu?"


Zanita yang baru sadar bahwa sang suami tengah bertelanjangg dada itu langsung membulatkan matanya. Baru mau melancarkan protes Andra sudah membungkam mulut Zanita dengan bibirnya dan mengungkung istrinya tersebut.


Zanita yang awalnya terkejut nyatanya ikut larut dalam ciuman yang Andra berikan. Keduanya sama-sama menikmati permainan lidah itu. Tangan Andra mulai menyentuh bagian yang ingin dia sentuh sejak tadi.


" Bang, aku masih~"


" Aku tahu, tapi apakah boleh menu pembuka nya saja dulu."


Zanita mengangguk pelan. Bagaimanapun ini adalah kewajibannya untuk melayani sang suami. Terlebih Andra sudah lumayan menunggu dirinya.


Mendapat lampu hijau dari Zanita, Andra mulai bergerilya sekarang. Bukan hanya bibir Zanita saja yang ia sentuh dengan bibirnya melainkan bagian-bagian yang lain. Mulai dari leher hingga merembet terus ke bawah. Suara lenguhan akhirnya keluar juga dari bibir Zanita yang membuat Andra tersenyum.


Rupanya malam itu terjadi makanan pembuka bagi Andra sebelum menuju ke menu utama. Keduanya menikmati momen intim tersebut. Sama-sama amatiran bukan berarti mereka tidak bisa melakukannya dengan baik terbukti di tubuh keduanya sama-sama memiliki bekas merah-merah disana. Zanita sangat malu saat melihat ke arah cermin pagi hari ini. Betapa banyak tanda merah itu di leher dan dadanya.


" Ya ampun, apa dia seorang vampir," gumam Zanita lirih sambil terus berusaha menutupi tanda merah di bagian leher tersebut dengan concealer.


" Jangan mengatai ku. Memangnya kamu nggak melakukan hal itu kepadaku. Nih lihat."


Zanita langsung menutup matanya. Ia sungguh malu, apa yang ada di dada Andra itu adalah ulah dirinya. Ia pun menarik Andra lalu membubuhkan concealer di leher Andra. Beruntung hanya ada satu dan ini masih hari minggu.


Andra sungguh gemas melihat Zanita yang serius. Ia pun mencuri kesempatan untuk mencium bibir istrinya.


" Bang, udah deh. Bentar lagi aku mau keluar kamar nih."


Bukannya berhenti, Andra malah meriah pinggang Zanita dan kembali melummat bibir sang istri yang sudah jadi candu baginya. Zanita akhirnya hanya pasrah dengan ulah Andra. Ia mau meronta pun urung, tenaganya juah lebih kecil dari pada Andra.


" Besok bolehkan minta tolong?"


" Apa itu."


" Membuat kimbab, aku mau bawa untuk kru di lokasi syuting."


" Berarti kita harus ke supermarket."


Andra mengangguk. Andra memang berencana untuk itu. Setelah sarapan ia akan segera membawa pulang Zanita ke apartemen. Di rumah sang bunda sungguh tidak aman karena dikhawatirkan bunda nya akan berbuat hal-hal iseng lainnya.


Zanita pun paham dengan penjelasan Andra. Ia pun ingin segera merapikan kamar. Namun Andra masih belum juga melepaskan pelukannya.


" Bang, lepas. Ini mau beberes dulu."


" Rasanya aku nggak mau melepas mu."


" Tuan Magicom yang terhormat. Saya harus segera beberes agar kita bisa cepat belanja untuk keperluan besok."


Andra membuang nafasnya pelan. Ia pun melepaskan Zanita. Namun sebelumnya Andra masih bisa mencium kembali bibir sang istri.


" Abaaang."


TBC