
" Kemana kita hari ini penganten baru? Aih, berasa ngawal mereka honeymoon nggak sih?"
Liam mulai menggoda pasangan baru tersebut. Wajah Zanita langsung memerah. Ia sudah menduga hal seperti ini akan terjadi. Mereka pasti akan menggodanya habis-habisan.
" Jangan begitu Liam, lihat wajah Za udah merah gitu. Gimana Bang An, udah gol belum. Eh belum ya kan masih palang merah."
Jiaaah
Sama saja rupanya. Dipikir Bian akan memperingatkan Lian. Tapi rupanya Bian malah lebih parah menggoda pasangan baru itu. Bian yang waktu itu tahu Zanita sedangkan berhalangan langsung menjadikan hal tersebut bahan untuk menggoda Andra.
" Belum bang, bentar lagi. Biar langsung mlendung."
" Balon kali An mlendung."
Sudah lah, trip kali ini benar-benar akan tambah ramai. Tak henti-hentinya mereka menggoda Zanita. Meskipun begitu sebenarnya baik Liam maupun Bian sedikit iba dengan alasan keduanya menikah. Tapi dalam hati mereka berdoa tulus untuk pernikahan Zanita dan Andra.
" Amaaan aku jadinya Bang Bi."
" Kenapa Ned."
" Aku nggak jadi obat nyamuk sendirian."
Meledak lah tawa semua orang hingga Andra menghentikan mereka dan menjelaskan kemana akan pergi selanjutnya. Mereka sekalian jumping menginap di sekitaran kota M agar mudah untuk pergi ke Jatim Park 1,2 dan 3.
" Berarti kita check out sekarang An?"
" Iya Bang Bi, kita keluar hotel sekarang dan nanti cari hotel di sekitaran sana aja biar mobile nya gampang."
" Ok, kalau gitu kita semua kembali ke kamar dan beberes."
Sekitar 30 menit kemudian mereka sudah siap di dalam mobil untuk menuju tempat wisata yang dituju. Sepertinya nanti malam mereka nanti sore akan kembali ke kota J. Wisata di kota M bisa dijangkau semuanya hari ini.
" Jadi kapan syutingnya?"
Andra tersenyum, ia tentu senang Zanita mah bertanya tentang apa yang akan dia kerjakan. Tandanya sang istri mulai ada perhatian.
" 2 atau 3 hari lagi. Aku kan hanya bintang tamu. Si Hunang minta aku untuk sekedar muncul. Skripnya aja aku belum dikasih sama tuh orang. Kampret emang."
Zanita menaikkan satu alisnya melihat Andra yang memaki sutradara terkenal tersebut. Ia tentu heran kenapa Andra sepertinya terlihat dekat dengan sutradara penghasil banyak film bagus itu.
" Haish, jangan melihatku begitu. Hunang tuh temenku dari SMA. Kita suka jalan bareng juga."
" Ooh pantesan."
Zanita mengangguk paham. Ternyata pria yang duduk disebelahnya ini benar-benar bukan pria sembarangan. Circle pertemanannya sungguh di luar jangkauan.
Juned di belang Zanita dan Andra tampak sibuk dengan ponselnya. Dari semalem anak itu tidak kelihatan batang hidungnya. Entah pergi kemana Juned tidak memberitahu Andra.
Saat ada panggilan masuk ke ponselnya, Juned langsung mematikannya. Ia kemudian menuliskan pesan.
" Jangan menelpon di sini. Aku tidak bisa menjawab panggilan mu."
" Oke, nanti kalau sudah sampai kabari ya. Aku mau bicara."
Juned membuang nafasnya kasar. Sungguh dia tidak ingin berhubungan dengan orang itu tapi sepertinya orang tersebut terus mengejarnya. Juned mengacak rambutnya kasar. Berbagai alasan ia sampaikan tapi orang tersebut sungguh tidak peduli.
" Mau lo apa sih!" gumam Juned pelan sambil menggenggam erat ponsel nya.
🍀🍀🍀
" Itu siapa namanya, kenapa kaku banget sih. Masa adegan jatuh aja lo nggak bisa. Kemarin lo nggak gitu deh pas casting. Ini udah 10x take ya. Kalau lo nggak bisa juga gue ganti. Asli lo bikin kerjaan kita tambah lama."
Hunang sang sutradara berteriak kesal kepada salah satu artis yang saat ini sedang take adegan. Waktu sudah menunjukkan pukul 17.00 dan mereka belum selesai juga.
Ya, orang yang sedang diteriakin oleh Hunang sang sutradara adalah Vanka. Vanka terlihat benar-benar kaku sata di kamera. Entah efek dis yang sudah lama tidak terjun di dunia akting atau memnag dia seperti.
" Lo bisa nggak!"
" Bisa mas, saya bisa."
" Ok, semua ready. Camera rolling, action!"
Vanka kembali mengulang adegannya. Dimana adegan tersebut adalah karakter yang Vanka mainkan terjatuh ke sebuah tebing dan berusaha berteriak meminta tolong sambil berpegangan pada akar pohon yang menjalar.
" Oke Cut. Naah tuh bisa. Kenapa nggak dari tadi sih. Oke semuanya kita break. Next besok kita mulai dari subuh. Thanks semuanya. Kalian boleh istirahat."
Vanka bernafas lega pun dengan yang lain. Tia langsung menghampiri Vanka dan membawa wanita itu untuk menuju tempat istirahat.
" Gila, Mas Hunang ternyata serem banget."
" Bukan serem Van, dia tegas."
Vanka membuang nafasnya kasar. Tubuhnya benar-benar seperti remuk kali ini. Apa yang dia pikirkan ternyata tidak semudah apa yang dia lakukan. Vanka pun merebahkan tubuhnya di ranjang. Rasa lelah yang begitu terasa membuat panggilan telepon dari Raffan terabaikan.
" Van, ini mah belum seberapa. Jika cita-cita mu mau menjadi artis papan atas akan banyak hal yang akan kau hadapi kedepannya."
Tia bergumam pelan. Akhirnya Tia pun nekat menjawab panggilan yang terus menerus membuat ponsel Vanka berbunyi. Tia menghembuskan nafasnya berat.
" Hallo Bang Raffan ini Tia asistennya Vanka. Vanka nya udah tidur bang, dia kecapekan."
" Ooh gitu, apa kalian menginap?"
" Iya bang, kita nginep 3 hari. Apa Vanka tidak memberitahu abang?"
" Iya dia nggak ngomong cuma bilang mau syuting aja. Ya udah kalau gitu makasih ya Ti."
Tia kembali meletakkan ponsel Vanka di atas nakas. Mereka mendapatkan satu kamar sebagai tempat istirahat.
Sedangkan Raffan, pria itu kembali teringat akan pernikahan Zanita. Mungkin ini kesempatannya untuk mencari tahu.
Raffan pun mengambil kunci mobilnya dan pergi dari apartemen. Tujuannya adalah ke rumah kedua orang tuanya. Semenjak menikah Raffan belum berkunjung ke rumah orang tuanya. Ia cukup tahu bahwa papa dan mama nya marah serta kecewa terhadap dirinya.
Tok tok tok
Perjalanan dari apartemen ke rumah kedua orang tuanya hanya sekitar 30 menit. Raffan kini sudah berdiri di depan pintu menunggu papa atau mama nya membukakan pintu untuknya.
Ceklek
Tanpa kata apapun sang mama membukakan pintu untuk Raffan lalu melenggang masuk ke dalam rumah kembali. Raffan hanya membuang nafasnya dengan begitu berat. Tatapan mata mamanya benar-benar penuh kekecewaan.
" Ma, pa. Raffan tahu kalau Raffan salah. Tapi sampai kapan papa dan mama mau ngediemin Raffan kayak gini."
" Kamu benar-benar keterlaluan Raf. Hingga saat ini kamu belum menemui kedua orang tua Zanita untuk meminta maaf. Raf, dari dulu kami mengajarimu untuk jadi pria yang bertanggung jawab. Tapi, haisssh entah mengapa kamu bisa seperti ini sekarang. Papa malah bersyukur Zanita tidak jadi menikah dengan mu. Setidaknya dia mendapatkan laki-laki yang lebih baik dari mu."
Deg
Raffan benar-benar tertodong oleh fakta. Ia diam seribu bahasa. Bahkan kedua orang tuanya tahu Zanita sudah menikah. Papa dan mama nya Raffan rupanya mendatangi keluarga Zanita tempo hari untuk meminta maaf. Dengan membawa rasa malu dan bersalah kedua orang tua Raffan merasa begitu menyesal.
Beruntung baik Setiawan maupun Jamilah memang pribadi yang baik. Kedua orang itu menyambut papa dan mama Raffan dengan senyuman. Hal itu malah semakin menambah rasa bersalah mereka.
" Asal kamu tahu ya Fan. Pria yang menikahi Zanita itu bukan orang sembarangan. Mungkin ini benar-brnar takdir baik buat gadis itu. Mendapatkan berlian dibalik rasa sedih dan kecewanya. Seandainya mama punya anak perempuan, mama pun tidak sudi menikahkan anak perempuan mama kepada pria macam kamu itu. Haish, salah kita apa ya Allaah kenapa anak yang kita rawat dan besarkan dengan baik bisa menjadi pecundang seperti ini. Ingat Raf, karma berlaku."
TBC