My Haters To Be My Wife

My Haters To Be My Wife
HW 21. Kasih Kucing



" Bang, bisa minta tolong."


Sepertinya Zanita sudah gila meminta pertolongan kepada pria yang dia benci. Tapi entah mengapa hanya pria itu yang saat ini terlintas dalam pikirannya.


Andra yang mendapatkan pesan dari Zanita tentu langsung saja pergi bahkan saat Juned masih tertidur di sebelahnya.


" Andraaaa mau kemanaaa!"


" Pergi, ke rumah temen ada yang pentiiing!!!"


Andra tak kalah kerasnya menjawab teriakan bunda nya yang melengking pagi itu. Bahkan Aryo sang ayah hanya menggelengkan kepalanya pelan melihat tingkah istri dan anaknya.


" Apa sih bund."


" Itu anak, baru tadi pagi pulang udah mau kabur aja. Entah mau kemana itu bocah."


" Udah biarin aja, ada Juned kan. Tanya aja, dia pasti tahu apa yang dilakukan Andra."


Sekar menghela nafasnya. Benar juga kata suaminya, Juned bagai satu kesatuan dengan Andra. Dimana ada Andra maka akan ada Juned juga.


Andra langsung mempercepat laju kendaraannya agar sampai di tempat Zanita sesegera mungkin. Ia sudah memprediksi bahwa Zanita pasti akan menghubunginya. Maka dari itu selepas subuh tadi Andra tidak lagi tidur. Ia memilih terjaga dengan berkali-kali melihat ke arah ponselnya.


" Gue udah gila kali ya, semangat banget nemenin calon bini orang nyiapin pernikahan."


Andra menggelengkan kepalanya pelan. Ia benar-benar tidak habis pikir dengan dirinya sendiri. Namun seketika dia mengacuhkan pikirannya itu. Ia kembali fokus mengemudi untuk segera sampai di lokasi.


Andra memarkirkan mobilnya tepat di depan jalan rumah Zanita. Ia yang hendak turun dari mobil tidak jadi saat Zanita sudah keluar dari pekarangan rumah. Gadis itu langsung masuk ke dalam mobil Andra.


" Apa tidak membiarkan ku mengucapkan salam kepada kedua ornag tua mu."


Mata Zanita membulat sempurna mendengar ucapan Andra. Ia tahu pria disampingnya itu pasti akan melakukan hal yang diluar nalar jika bertemu dengan kedua orang tuanya.


" Jangan aneh-aneh. Ayo jalan."


" Eh buseeet. Galak bener deh, disini bukannya dia yang minbta tolong. berasa jadi supir gue."


Zanita acuh dengan gerutuan Andra. Gadis itu benar-benar tidak menganggap bahwa disebelahnya adalah seorang bintang yang banyak dielukkan para wanita. Yang Zanita lihat ke Andra adalah seorang pria yang saat ini ia mintai tolong mencari catering untuk hari pernikahannya nanti. Zanita benar-benar tidak peduli status selebritis Andra sat ini.


" Bawa masker, topi dan kaca mata nggak?"


" Untuk?"


" Aku tidak ingin semua histeris melihat abang. Yang ada bukannya abang nolongin aku nyari catering tapi malah aku yang nemenin abang jumpa fans."


Tawa Andra seketika meledak. Ia melirik sekejap ke arah gadis itu. Cantik seperti biasanya, apalgi bare face nya Zanita malah terkadang membuat Andra salah fokus.


" Nyertir aja yang bener bang, jangan meleng."


" Ya ampun, galak bener deh. Gua kekepin juga lo nanti ya."


Andra bergumam pelan yang tidak bisa di dengar oleh Zanita karena gadis itu tengah sibuk dengan ponselnya. Ya, Zanita tengah berkomunikasi dengan Raffan mengenai tamu yang akan mereka undang. Dalam pesannya Raffan mengatakan bahwa tidak akan banyak mengundang orng paling sekitar 100-200 orang saja. Zanita terliat mengehembuskan nafasnya. Ada sedikit rasa lega karena tidak akan banyak tamu dalam acara pernikahannya nanti.


" Za, aku heran deh. Bukannya meskipun gedungnya tidak jadi dipakai bukannya WO nya tetap jalan ya. Maksudku tinggal kalian bilang bahwa lokasinya diganti gitu."


" Entahlah bang, aku nggak tahu. Aku udah pusing buat tanya-tanya. Kata dia suruh cari ya udah lah aku cari aja. Aku nggak mau ribet. Jika bisa dikerjakan sekarang, ya kerjakan saja. Dah lah gitu."


Andra mengangguk mengerti. Ia kini tahu bahwa Zanita juga bukan tipe orang yang kebanyakan bertanya. Gadis itu lebih banyak actionnya.


" Yook turun."


" Abang nggak pake atribut."


Andra tersenyum. Catering yang ia datangin ini adalah salah satu langganan sang bunda. Tadi saat di rumah ia masih sempat bertanya kepada bundanya mengenai catering langganan sang bunda dan tempat ini adalah jawabannya.


" Waaah Mas Andra, selamat datang. Ada yang bisa saya bantu."


" Ini bu, saya mau nyari catering untuk hari minggu besok. untuk acara pernikahan."


" Mas Andra mau nikah, wah selamat ya. Ini calonnya, cantik. Cocok."


Dah lah, bear-benar salah fokus ibu pemilik catering ini. Ditambah Andra tidak mengelak juga tidak mengiyakan. Zanita lah yang bingung saat itu. Apa yang saat ini mereka lakukan benar-benar seperti seorang calon pengantin yang sedang mempersiapkan pernikahan bersama.


Candaan kecil dari ibu pemilik caterig pun hanya ditanggapi senyuman oleh Andra. Zanita tentu sedikit kesal, ingin sekali mulutnya itu mengatakan bahwa mereka bukanlah pasangan calon pengantin. Tapi melihat antusiasme sang ibu pemilik catering membuat Zanita urung.


" Biarkan saja lah, yang penting semuanya beres. Aku bisa tidur dengan nyenyak malam ini," gumam Zanita pelan.


Semuanya selesai dengan beberapa menu yang Andra mau. Heran kan malah jadi Andra yang memilih. Semua terjadi karena Zanita hanya mengatakan kata terserah. Yang nikah siapa yang ribet siapa, begitulah isi pikiran Andra.


" Ini kita nggak bisa tes food ya mas, mbak. Hari minggu pagi kita sudah akan ready di lokasi."


" Tidak apa-apa bu, saya yakin kalau masakan ibu mah dijamin joss."


" Mas Andra bisa saja."


Zanita menggeleng pelan. Pria disampingnya ini benar-benar bisa mengambil hati orang dan menyenangkan hati rang lain. Andra melakukan pembayaran dan memberikan alamat rumah Zanita yang membuat gadis itu protes saat mereka berjalan keluar dari tempat itu.


" Kok abang yang bayar sih. Sini kirim no rekening abang, nanti aku transfer semua total nya."


" Tck bawel, udah diem. Anggap saja itu kado dariku."


" Kado dari mana. Ya kali kado ngebiayain pernikahan orang. Dekor kemarin abang juga kan yang kirim, lalu ini catering juga. Nggak aku nggak mau."


" Nggak mau ya udah, kasih kucing kalau nggak mau."


Andra berjalan menuju mobil meninggalkan Zanita yang kesal setengah mati. Ia benar-benar tidak habis pikir mengapa orang yang ia begitu benci itu malah membantu persiapan pernikahan. Bukan hanya sekedar menemani tapi membayari juga. Andra hanya tertawa kecil melihat Zanita yang bersungut-sungut sambil beberapa kali menghentakkan kakinya. Wajah gadis itu terlihat sangat kesal. Pipinya menggembung bak ikan buntal.


" Hihihihi, lucu banget dah ah. Kalau lihat dia begitu tiap hari awet muda gue. Tapi dianya yang cepet tua soalnya kesel mulu sama gue."


TBC