My Haters To Be My Wife

My Haters To Be My Wife
HW 29. Menemui Mbak Kunti



Weekend adalah hari yang menyenangkan bagi setiap orang. Terlebih yang selama sepekan sudah beraktivitas padat, weekend menjadi salah satu sarana untuk beristirahat.


Seperti yang dilakukan Zanita. Gadis yang sah agama dan negara menjadi istri Rafandra Suma Dwilaga tersebut sedang berkutat di dapur. Weekend kali ini ia gunakan untuk membuat macam-macam makanan kesukaannya.


Mulai dari bolu pisang kukus, balado telor, rica-rica ayam, tumis kangkung dan bacem tahu tempe. Zanita memandang masakan yang sudah tersaji di meja dapur itu dengan rona kepuasan.


Andra yang baru saja keluar kamar sangat takjub melihat makanan yang dimasak oleh Zanita tersebut. Ia pun langsung menarik kursi di dapur dan duduk menghadap meja makan.


" Wuidiih, tiap hari begini terus bisa gemuk nih aku. Harus rajin olah raga lagi nih."


" Eits, panggil Kak Juned buat ikut makan. Ini semua bukan buat abang. Aku menag suka masak jadi jangan berpikiran aku masak khusus buat abang."


" Terserah kamu Za, menurutku ini semua khusu buat ku. Haish, Juned nanti aja lah kalau kita dah kelar makan."


Satu tatapan tajam dilayangkan Zanita kepada Andra berhasil membuat pria itu bangkit dari duduknya untuk mengambil ponsel dan menghubungi Juned. Andra sedikit kesal, pasalnya ia ingin makan berdua saja dengan Zanita tapi rupanya keberadaan Juned menjadi salah satu penghalang.


" Lain kali Juned bakal gue ungsiin jauh dari gedung ini. Biar nggak ngeganggu."


Andra menatap tajam ke arah Juned yang masuk dengan wajah cerah karena tahu mendapat undangan makan. Namun seketika itu juga Juned merasa merinding sekujur tubuh saat menyadari sang bos melihat dirinya.


Ampun deh, gue salah apa coba. Tatapan mata si bos kek air es yang buat badan gue kedinginan.


Juned bermonolog dalam hati. Ia merasa berada di situasi yang tidak tepat. Tapi suara Zanita yang mempersilahkan dirinya makan membuat pria itu kembali merasa ada energi hangat yang menjalar dalam tubuhnya.


" Maaf ya kak kalau nggak enak."


" Waah jangan merendah Za, ini enak banget. Khas masakan rumahan. Bikin kangen rumah kalau makan begini."


" Kalau kangen rumah pulang aja Ned. Gue kasih cuti deh seminggu, lo puas-puasin buat makan di rumah lo."


Glek


Juned seketika kesusahan menelan nasi beserta lauk pauknya yang baru saja ia kunyah itu. Ia menangkap sesuatu dalam diri bosnya.


Jangan-jangan nih bos mulai bucin, nggak suka kalau ada orang lain muji bininya. Kampreet, berasa telur diujung tanduk nih kalau begini. Muji salah nggak muji dikiranya nggak menghargai. Aduh deh repot kalo gini ceritanya.


Zanita hanya menggelengkan kepala pelan melihat Andra dan Juned yang tengah seperti perang dingin tersebut. Ia berpikir kenapa tiba-tiba si tuan magicom itu jadi sensi. Tapi Zanita mengacuhkan pikirannya, ia pun melanjutkan makan pagi nya dengan tenang tanpa mempedulikan tatapan Andra kepadanya.


Kring


Ponsel Zanita bergetar. Gadis itu melihatnya sekilas lalu melanjutkan makannya tanpa mempedulikan ponsel miliknya tersebut. Lagi, ponsel milik Zanita bergetar kembali, tapi Zanita masih enggan untuk menjawab panggilan yang masuk.


" Za, kok nggak diangkat? Siapa emang?"


" Vanka, entah mau apa dia."


Andra kemudian mengambil ponsel Zanita dan mematikan. Ia lalu memandang Zanita yang seketika menunduk.


" Apa gara-gara orang itu kamu membenciku?"


Zanita tidak menjawab. Gadis itu memilih mengakhiri makan paginya yang masih tersisa banyak di piring. Ia bangkit dari duduknya membawa piringnya ke wastafel lalu berjalan masuk ke kamarnya.


Brak


Gadis berusia 23 tahun itu menutup pintu kamar nya dengan sedikit keras hingga membuat Juned terjingkat. Juned bahkan sampai mengusap dadanya.


Andra merasa ia harus menghibur Zanita. Andra pun mencoba mengetuk pintu kamar gadis itu. Tapi nihil, Zanita sama sekali tidak merespon yang membuat Andra semakin khawatir.


" Za, buka pintunya atau aku dobrak! Aku hitung sampai tiga. Satu, dua, tiga!"


Bruk


Bukan pintu yang berhasil dirobohkan Andra tapi tubuh Andra yang jatuh tersungkur. Pasalnya Zanita sudah lebih dulu membuka pintu kamar ketimbang dobrakan tubuh Andra.


" Abang nggak apa-apa."


" Auchhh, sakit Za. Kamu mah."


" Lagian sok-sok an dobrak pintu. Orang aku nya nggak kenapa-napa."


Zanita membantu Andra untuk bangkit dan melihat apa ada luka di tubuh pria itu. Hal pertama yang dilihat Zanita adalah wajah Andra. Ia tentu tahu wajah Andra adalah aset, bagaimana tidak seorang public figure tentu wajah adalah bagian tubuh yang paling penting untuk dijaga.


Andra tersenyum senang saat tangan halus Zanita menyentuh wajahnya. Bahkan wajah keduanya sangat dekat sekarang. Andra bisa merasakan hembusan nafas Zanita saat gadis itu memeriksa kening Andra yang rupanya sedikit lebam karena terhantuk lantai.


" Sakit nggak, lumayan biru nih."


" Sakit."


Padahal sebenarnya tidak sakit, atau mungkin sakitnya tidak seberapa. Tapi kapan lagi Andra bisa mendapatkan perhatian dari Zanita yang cueknya minta ampun. Seminggu menikah benar-benar mereka di rumah seperti orang asing. Zanita selalu menghindari berpapasan dengan Andra. Terlebih lagi seminggu ini tidak ada jadwal syuting untuk TCD.


Berbicara mengenai TCD, tayangan yang digagas oleh Bian si produser itu benar-benar menarik animo masyarakat. Terlebih bagi para wanita. Namun tayangan yang paling banyak viewer dan like adalah saat trip mereka ke Dieng.


Bian pun menyampaikan kepada Andra jika ada waktu mungkin mereka harus memfokuskan membuah konten tentang traveling. Saat ini Andra masih membagikan kegiatan traveling nya melalui laman instagram saja dan sepertinya ide Bian itu cukup bagus.


Ini juga kesempatan untuk membawa Zanita berjalan-jalan. Fake bulan madu, gimana tidak fake wong Zanita belum sepenuhnya menerima pernikahan ini.


Meskipun begitu Andra akan sabar menunggu Zanita. Ia tahu menerima semua ini tidak serta merta mudah. Gadis itu benar-benar harus selesai dengan masa lalunya dan sembuh dari sakit hatinya.


" Mau ke dokter aja nggak?"


" Nggak perlu, begini saja aku sembuh kok."


Zanita mengernyitkan keningnya mendengar jawaban Andra. Ia seketika langsung memundurkan tubuhnya saat menyadari bahwa mereka begitu dekat. Zanita pun lalu mengambil obat lebam dan memberikan ke tangan Andra.


" Obati sendiri."


" Ya elah Za, nanggung banget sih. Obatin sekalian apa Za. Nggak kelihatan ini dimana yang lebam."


" Bisa ngaca. Nah obatin dah sambil lihat kaca."


Andra mendengus kesal, rupanya meluluhkan hati Zanita benar-benar tidak semudah yang ia pikirkan. Andra akhirnya benar-benar berdiri dan menuju kaca lalu mengoleskan gel dingin itu di luka lebamnya yang berada di kening.


" Oh iya Za, kamu mau kemana? Perlu aku temani nggak?"


" Menemui mbak kunti, nggak perlu bang. Aku bisa menghadapi kunti jadi-jadian ini sendiri. Aku pamit bang. Assalamualaikum."


" Waalaikumsalam."


TBC