My Haters To Be My Wife

My Haters To Be My Wife
HW 48. Lingerie vs Piyama



Andra membawa barang-barang mereka saat sampai di apartemen. Terlihat keduanya masih sangat mengantuk. Perjalanan yang membutuhkan waktu kurang lebih 11 jam itu cukup membuat tubuh keduanya pegal-pegal.


Juned yang berada di belakang mereka tadi langsung bergegas masuk ke apartemen Andra yang satunya lagi. Apartemen yang khusus buat konten TCD.


" Kak Juned aku lihat kok kayak lagi mikirin sesuatu gitu dari kemarin wajahnya lesu amat."


Andra memicingkan matanya saat Zanita mengatakan hal itu. Ia lalu mendekatkan wajahnya ke wajah sang istri membuat Zanita terkejut.


" Jangan mengkhawatirkan pria lain. Aku tidak suka."


" Laah, ini kan Kak Juned."


" Juned itu pria."


Zanita membuang nafasnya kasar dan langsung masuk ke apartemen. Ia tak habis pikir dengan ulah tuan magicom yang menurutnya absurd itu. Zanita pun masuk ke kamarnya. Sampai di sana ia sungguh terkejut saat mendapati kamarnya kosong. Wajah Zanita tampak bingung saat tidak menemukan barang-barangnya. Ia pun bergegas keluar dari kamar dan mencari Andra yang ternyata sudah masuk ke kamar.


" Bang, kok barang-barang ku nggak ada semua."


Andra terkekeh geli melihat raut wajah Zanita yang kebingungan. Ia pun menunjuk sebuah lemari di kamarnya dan meminta Zanita membukanya.


" Lah kenapa bisa sampai di sini."


" Semua barang mu sudah ku pindahkan ke sini saat kita memutuskan untuk tidur sekamar."


Glek


Zanita menelan saliva nya dengan susah payah. Dalam hatinya berbicara bahwa pria ini benar-benar bergerak cepat. Ia sungguh tidak menyangka bahwa Andra akan memindahkan seluruh barang di kamarnya ke kamar ini.


" Baju-baju mu juga ada di walk in closet sebelah sana. "


Zanita langsung berlari dari hadapan Andra. Pria itu berdiri sangat dekat dengannya membuat tubuh Zanita merinding. Apalagi hembusan nafas Andra yang mengenai telinganya membuat bulu kuduk Zanita berdiri.


Sampai di walk in closet gadis itu langsung mencari di mana letak bajunya. Ia sedikit terkejut saat menemui baju wanita yang lumayan banyak dimana ia yakini itu bukan bajunya. Tapi anehnya ukurannya sangat pas.


Zanita lalu meneruskan melihat yang lain. Matanya terkunci pada beberapa baju yang menurutnya aneh. Ia mengambil satu diantaranya yang berwarna hitam. Mata nya membelalak sempurna saat melihat baju yang menurutnya sangat kurang bahan dan transparan.


" Ya ampun, kenapa ada baju seperti ini. Mana lumayan banyak lagi. Ini sungguh diluar nalar. Siapa juga yang mau pakai baju kayak gitu. Masuk angin yang ada. Mana kurang bahan, tipis lagi."


Zanita segera mengembalikan baju tersebut ke tempatnya sambil bergidik. Ada beberapa model dan warna di sana. Ia seketika mengingat sesuatu.


" Jangan-jangan."


Firasat buruk, Zanita menyadari akan sesuatu. Baju kurang bahan itu adalah lingerie atau baju tidur. Ia merasa ada sesuatu yang tidak beres. Zanita pun mencari baju tidur nya yang berupa piyama tapi tidak menemukannya sama sekali. Semua baju tidurnya hilang tak berbekas.


" Abaaaaang!!!!"


Andra yang baru saja membuat teh panas langsung berlari saat mendengar teriakan Zanita. Tapi wajah paniknya seketika hilang saat melihat Zanita yang terlihat kesal. Gadis itu memanyunkan bibirnya membuat Andra sangat gemas.


" Ya Allaah Za, kupikir kenapa kamu teriak. Ada apa emangnya."


" Baju tidurku nggak ada. Adanya baju kurang bahan dan tipis kayak gini."


Glek


Kali ini Andra yang kesusahan menelan saliva nya sendiri. Melihat Zanita menenteng sebuah lingerie berwarna merah membuat pria itu menjadi salah fokus. Nalurinya sebagai lelaki dewasa timbul. Sesaat ia membayangkan Zanita memakai pakaian itu. Tapi sedetik kemudian ia menggelengkan kepalanya pelan dan menepuk keningnya mencoba agar tetap waras. ( Pusing Ndra? Hahaha)


" Sepertinya bunda pengen cepet-cepet nambah cucu," ucap Andra mencoba tenang tapi sambil berjalan menghampiri Zanita. Ia meraih lingerie itu dan mengembalikannya ke tempat semula. Ketenangannya sungguh berbanding terbalik dengan hatinya. Rasanya Andra ingin meneriaki bundanya yang sesuka hati menaruh baju-baju dinas itu.


Sedangkan Zanita ia sedikit tidak paham dnegan apa yang dikatakan oleh Andra. Bunda? Apakah Andra yang meminta ibu nya untuk membereskan kamar dan membeli baju-baju tersebut lalu menyingkirkan semua piyamanya?


" Abang yang minta baju-baju kurang bahan itu ya."


" Eeeh, bukan ya. Itu inisiatif bunda kali. Aku cuma minta bunda buat beresin kamar. Tapi Za, boleh kali tuh baju dipakai."


Blusss


Wajah Zanita langsung bersemu merah. Dia tidak mungkin tidak tahu fungsi baju itu. Zanita menggelengkan kepalanya cepat saat bayangan dirinya memakai baju tersebut. Malu, itulah yang ia rasakan. Tubuhnya pasti akan terlihat sempurna.


" Abang jangan aneh-aneh ya."


" Laah siapa juga yang mau aneh-aneh."


Andra terus mendekati Zanita hingga tubuh Zanita terkunci diantara lemari dan tubuh kekar Andra. Ia bisa merasakan degup jantungnya yang semakin keras.


Bentar-bentar, dia mau apa.


Zanita sibuk dengan pikirannya sendiri. Sedangkan Andra, ia terus mendekatkan wajahnya ke wajah sang istri hingga hanya berjarak beberapa centi saja.


" Abang mau ap~"


Zanita tidak bisa menyelesaikan ucapannya saat bibir Andra sudah lebih dulu mendarat di bibirnya. Selanjutnya Andra mulai menyesap, pria itu menahan tengkuk sang istri agar bisa memperdalam ciumannya.


Zanita yang awalnya terkejut lambat laun mulai menikmati sesapan demi sesapan yang Andra berikan. Sesekali dia membalasnya.


Ciuman yang awalnya santai lambat laun mulai menuntut. Bibir Andra kini bahkan sudah merembet ke leher putih mulus istrinya yang membuat Zanita sedikit melenguh.


" Baiklah cukup, aku tidak ingin kebablasan."


Andra melepas ciumannya. Ia menangkup wajah Zanita dan mencium kening sang istri sedikit lebih lama. Zanita bisa merasakan ketulusan Andra di sana. Zanita kembali terkejut saat Nadra mengangkat tubuhnya.


" Bang,"


" Diem, ayo kita tidur lagi. Aku yakin kamu juga masih ngantuk dan capek bukan. Ayo sekarang kuta tidur."


Zanita hanya diam saat berada di gendongan Andra. Pria itu lalu menurunkan Zanita di atas tempat tidur dan membawanya tidur. Kini keduanya berbaring bersama. Andra memeluk Zanita dengan posesif.


" Maaf bang."


" Jangan dibahas. Aku sudah bilang, aku akan menunggu mu sampai siap. Nyicil-nyicil dulu aja," ucap Andra dengan terkekeh geli.


Zanita menatap wajah sang suami dengan seksama. Ada rasa bersalah dalam dirinya. Tapi ia sangat bersyukur Andra mau menunggunya.


Cup


Zanita mengecup pili Andra. Membuat pria itu sedikit terkejut. Ini adalah kali pertama Zanita inisiatif untuk menciumnya meskipun hanya di pipi.


" Terimakasih bang, terimakasih untuk sabar dan menungguku "


" Aku akan menunggu. Aku tidak akan memaksamu untuk itu. Jangan dijadikan beban. Kamu sudah belajar menerimaku itu adalah hal yang luar biasa. Mari kita tidur hari ini sepuasnya."


TBC