My Haters To Be My Wife

My Haters To Be My Wife
HW 51. Raffan Diganti Raffandra



Sore itu rumah kedua orang tua Zanita sungguh ramai. Kedatangan kedua orang tua Andra disambut baik oleh Wawan dan Milah. Rupanya Sekar datang kesana sambil membawa beberapa barang untuk Zanita. Kata Sekar itu adalah seserahan yang tertunda. Berkali-kali Sekar meminta maaf atas keterlambatan mereka datang ke rumah tersebut.


Wawan dan Milah malah merasa tidak enak atas kebaikan keluarga besannya. Kedua orang tua Zanita itu merasa bahwa pernikahan kemarin adalah sesuatu yang dadakan dan sebenarnya tidak harus terjadi.


" Jangan bicara begitu pak, buk. Semua ini adalah takdir Allaah. Mungkin ini memang jalan takdir jodoh Andra bisa menikahi putri ibu dan bapak."


Kata-kata Sekar sungguh membuat hati kedua orang tua Zanita menghangat. Sebenarnya baik Wawan dan Milah sedikit terkejut saat mengetahui bahwa ayah mertua Zanita adalah pemilik kampus dimana Zanita berkuliah. Keduanya tidak menyangka bahwa keluarga suami putrinya merupakan keluarga orang terpandang.


Kedua keluarga tersebut sangat cepat sekali akrabnya. Bahkan saat ini para wanita sedang berada di dapur untuk memasak dan para pria tengah bermain catur.


Di luar kediaman Zanita tampak sebuah mobil masuk ke pekarangan rumah. Mobil tersebut berhenti tepat di sebelah mobil milik Andra.


Si empunya mobil sedikit terkejut saat melihat dua mobil mewah berjajar di depan rumah Zanita. Dia berpikir kira-kira siapa tamu yang datang.


" Apa sedang ada acara di sini? Siapa tamu Zanita. Melihat mobilnya mereka sepertinya bukan orang yang sembarangan."


Orang tersebut Lalu membuka pintu mobilnya dan turun dari sana. Sejenak dia berhenti di depan pintu rumah mengambil nafasnya dalam-dalam dan membuangnya perlahan.


Tok tok tok


Orang itu mengetuk pintu rumah. Meskipun dadanya berdebar hebat tapi dia tetap harus melakukannya. Raffan, pria itu lah yang datang. Ia mengingat ucapan papa dan Mamanya untuk segera menemui keluarga Zanita dan minta maaf.


" Semoga mereka masih mau menerima permintaan maafku," gumam Raffan lirih.


Cekleek


Pintu rumah Zanita dibuka oleh seseorang yang membuat Raffan terkejut. Seorang pria yang pernah ia lihat. Ya pria itu adalah orang yang waktu itu menemani Zanita di hari pernikahan.


" Kau, bukankah orang yang waktu itu?" tanya Raffan dengan terbata.


" Aaah Tuan Rafan. Silakan masuk atau Anda mau duduk di teras saja."


Raffan memutuskan untuk duduk di teras sedangkan Andra ia kembali masuk dan memanggil tuan rumah.


" Siapa An?" Tanya Aryo dan Wawan yang dijawab dengan kode oleh Andra dengan menyilangkan kedua tangannya. Tentu saja baik Aryo ataupun Wawan tidak mengerti apa yang dilakukan oleh Andra. Hingga sang ayah mendengus kesal dan bertanya lagi kepada Andra barulah Andra mengatakan siapa yang datang.


Raut wajah Wawan seketika berubah. Ia tentu masih ingat apa yang pemuda itu lakukan kepada sang putri. Aryo dan Andra bisa melihat ekspresi wajah Wawan yang tidak suka. Tapi satu hal hebat yang dilakukan Wawan yakni Ia tetap mau menemui Raffan di luar.


" Nak Raffan."


" Pak, saya minta maaf pak. Saya sungguh minta maaf."


Raffan langsung bangkit dari duduknya dan meraih tangan Wawan. Hati wawan yang tadinya marah pun kini melemah saat Raffan menangis di depannya. Terlihat penyesalan yang begitu dalam di mata mantan calon menantu nya itu.


" Sudahlah, semuanya sudah berkahir. Kamu sudah menikah dan Zanita juga sudah menikah. Kalian sudah punya hidup masing-masing sekarang. Jalani hidupmu dengan baik bersama istrimu."


Deg


Raffan berdebar saat mendengar setiap ucapan yang keluar dari mulut Wawan. Wawan mungkin marah tapi pria paruh baya itu tidak menampilkannya. Ia tetap dengan tenang menghadapi Raffan. Bahkan doa baik diucapkan oleh Wawan. Hal kedua, dan mungkin ini sudah pasti bahwa Zanita sudah menikah. Tak lama Zanita pun keluar bersama Andra dengan tangan saling bertaut.


Merasa ada hal yang harus diselesaikan, Wawan pun kembali masuk ke dalam rumah setelah mengatakan kepada Raffan bahwa dia sudah memaafkan perbuatan pria itu.


" Iya, Bang Andra namanya."


" Hallo kenalkan, aku Andra."


Raffan melihat wajah Andra dengan seksama. Ia merasa familiar dengan wajah suami Zanita itu. Raffan pernah melihat wajah Andra tapi dimana ia lupa, hingga ia ingat sebuah video yang pernah viral waktu itu.


Bukankah dia Andra Suma, pria yang menjadi BA NO. Salah satu produk dari Star building. Astaga, dia benar-benar bukan orang sembarangan. Siapa yang tidak tahu mengenai keluarganya.


Za, kau sungguh mendapatkan pria yang baik.


Raffan bermonolog dalam hati. Ia benar-benar kalah. Tapi setidaknya Zanita mendapatkan orang yang baik.


" Za, aku kemari untuk minta maaf dan selamat atas pernikahanmu."


" Terimakasih, seperti apa yang sudah dikatakan bapak bahwa kita punya hidup masing-masing sekarang maka dari itu mari membuat hidup kita menadi bahagia. Aku akan melupakan masa lalu dan menatap lurus ke depan. Aku harap kau dan Vanka juga bisa menjalani hidup yang bahagia."


Raffan mengangguk. Apa yang dikatakan Zanita tentu benar adanya. Mereka kini memiliki kehidupan masing-masing. Sudah saatnya melepaskan masa lalu dan melanjutkan hidup. Raffan sudah lega sekarang, ia juga harus mengubur rasanya kepada Zanita dan menggantinya dengan nama sang istri sekarang.


Pria itu pun bangkit dan pamit. Untuk terlahir kali ia menjabat tangan Zanita. Mengucapkan perpisahan dan sekali lagi meminta maaf atas kesalahan yang ia perbuat.


Raffan pergi dari rumah Zanita, dan juga pergi dari kehidupan Zanita. Kini dalam hidup Zanita tidak ada lagi nama Raffan. Ia mengganti nama Raffan dengan nama Raffandra. Sungguh sebuah takdir yang unik.


" Apakah sekarang sudah lega? Apakah mulai bisa berdamai dengan hatimu?"


" Ya, sekarang semuanya sudah baik-baik saja. Ada sesuatu di hati yang lepas. Bukan kehilangan tapi melegakan. Terimakasih sudah mendukungku bang."


" Sama-sama istriku, jadi apakah sudah bisa minta jatah."


Zanita menepuk keningnya pelan. Ia benar-benar tak habis pikir. Andra selalu absurd di setiap kesempatan. tingkah suaminya itu kadang membuat Zanita kesulitan mencerna nya.


" Sabar bang masih beberapa hari lagi."


" Alamaak lama kali. Baru kali ini ada penganten baru malah puasa lama."


Plak ! Kali ini Zanita yang memukul lengan sang suami. Ucapan Andra sungguh frontal. bagaimana bisa ia berkata seperti itu saat di dalam rumah sedang ada orang tua meeka.


" Jangan ngomong kayak gitu keras-keras. Malu kedengaran."


" Kalau gitu ke kamar aja yuk. Biar nggak kedengaran."


" Tau ah."


Zanita melenggang masuk ke dalam rumah namun tidak dengan Andra. Ia memilih duduk di teras. Andra tersenyum melihat Zanita yang memanyunkan bibirnya setiap kali kesal. Tapi Andra bersyukur, Zanita sekarang lebih ekspresif ketimbang dulu awal-awal mereka bertemu.


" Aku akan membuat mu selalu bisa mengungkapkan apa yang kamu rasakan Za. Aku tahu selama ini kamu memendam semua rasamu sendiri. Dan aku harap kamu bisa membaginya denganku."


TBC