
" Dit, i want say something."
Adit mengerutkan alis nya. Tidak biasanya Andra mencarinya di jam kantor begini. Beberapa hari terakhir ini ia sering melihat Andra mendatangi perusahaannya tapi tidak sekalipun bocah itu mampir menemuinya. Dan anehnya lagi di luar juga sepi. biasanya setiap Andra datang ke JDA depan gedung pasti dipenuhi oleh para wanita pemuja si pria tampan tersebut.
" Elah lagu lo, ada apa emangnya. Kayaknya penting gitu."
" Gue mau minta izin buat Zanita. Eh minta cuti buat dia. Sekitar seminggu deh."
Adit membulatkan matanya mendengar permintaan Andra. Zanita? Kenapa jadi dia yang harus minta izin. Apa hubungan Andra dengan Zanita. Pertanyaan itu berputar di kepala Adit. Dan satu lagi, Zanita ini anak baru, mana bisa mengajukan cuti selama itu, mana tiba-tiba pula.
" Wait, what the meaning of maksud. cuti? Zanita? kenapa harus lo yang minta."
" Dia istri gue, kan ada cuti menikah bukannya di perusahaan lo. Jadi gue mau lo ngasih cuti buat Za. Gue mau ngajak doi bulan madu."
Krik ... krik ... krik
Adit menganga tanpa berkata apapun. Ia tentu tidak percaya pada ucapan sang teman. Menikah? Yang benar saja. Dengan Zanita? Gila kali si Andra.
" Woii jangan bengong."
" Kampret, lo nge prank gue yak."
Andra membuka sling bag nya dan mengeluarkan buku nikah miliknya lalu menyerahkan kepada Adit. Adit langsung buru-buru mengambilnya dan membuka.
" Gila, lo beneran nikah sama Zanita. kok lo nggak ngabarin gue sih. Sialan."
" Emang lo pas nikah sama Lia juga ngabarin gue, enggak kan?"
Adit seketika menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia mana mengabari orang-orang. Bahkan ayahnya dan masnya saja tidak tahu dia menikah saat itu.
Ini dua sahabat mungkin sehati, pernikahan mereka berdua membuat banyak orang terkejut. Adit lalu menceritakan bagaimana Andra dan Zanita bisa menikah. Cerita pun mengalir dari mulut Andra dari awal sampai akhir.
" Hahahah, kok hampir mirip ya cerita kita. Haish, lo di bejek dong sama bunda."
" Ya gitu, jadi gimana nih boleh nggak nih gue bawa kabur bini gue barang seminggu."
" Sebenarnya cuti nikah ada sih tapi cuma 4 hari, tapi ya udah deh gue acc. Itung-itung kado dari gue itu."
Andra tersenyum lebar. Ia mengucapkan terimakasih kepada temannya itu. Doa tulus Adit sampaikan kepada Andra agar pernikahannya sakinah, mawadah, dan warohmah.
Andra keluar dari ruangan Adit dengan wajah yang sangat berseri. Ia pun berjalan menuju ke ruangan Tim TCD. Hari ini ia akan menunggui istrinya kerja. Sungguh kurang kerjaan, tapi ya begitulah yang terjadi saat ini.
Bian tentu tidak masalah dengan adanya Andra. Malah bagus, Andra bisa memberi masukan untuk editing video-video yang akan di upload ke youtube TCD.
" Oh iya Bang Bi, Za nya seminggu ke depan mau aku culik."
Bian seketika menoleh ke arah Andra begitu juga dengan Liam dan Zanita yang saat ini sedang sibuk di depan laptop. Zanita mengerutkan keningnya, ia tentu belkum tahu maksud sang suami.
" Mau dibawa kemana."
" Honeymoo."
Satu ruangan bersorak saat itu. Ternag saja Zanita langsung malu. Wajahnya bersemu merah di cengin seisi ruangan. Meskipun itu hanya tim TCD tapi tetap saja Zanita salah tingkah.
" Oke lah, gass ye. Pulang-pulang kita ada kabar punya ponakan. Eh betewe, lo nggak akan ngelarang Za kerja kan An."
" Nggak kok bang, dia suka bekerja ya biarin aja dia kerja."
" Cakeep, gue udah cocok banget sama Za. Gue lagi mikir mau bikin progam lagi dan Za yang akan impin progam itu."
Kini semua orang menatap kearah Bian. Mereka tidak tahu jika Bian punya rencana baru. Jangan sampai saja kejadian TCD terulang lagi. Nanti bisa ngamuk si bos kalau progam yang dibuat dadakan tapi belum siap.
" Sttt, ini rahasia. Jika udah mateng gue bakalan share ke kalian."
'' Yaaah."
Semua orang tampak kecewa dengan apa yang dikatakan Bian. Pasalnya mereka terlanjur penasaran.
Sejenak pandangan Andra tertuju ke pintu masuk ruangan TCD. Sudut matanya melihat seseorang tadi berdiri di sana. Tapi saat menoleh ke arah pintu, orang itu langsung pergi.
" Tadi kayaknya ada orang, apa cuma perasaanku saja."
Andra bergumam pelan. Sebenarnya bukan kali pertama ini ia merasa diperhatikan oleh seseorang. Sudah beberapa waktu saat ia datang ke JDA seperti ada orang yang mengintainya. Akan tetapi Andra tidak terlalu memperhatikannya. Atau bisa dibilang ia sangat cuek dengan hal itu. Andra beranggapan mungin itu adalah salah seorang karyawan JDA yang kebetulan lewat.
Di tempat lain tampak seseorang berjalan dengan cepat. Ia keluar dari pintu belakang JDA. orang itu berjalan sedikit lebih jauh ke luar pekarangan gedung TCD. Di sana ia memasuki mobilnya melepaskan baju yang biasa digunakan cleaning service JDA dan mengganti bajunya dengan baju biasa.
Ia terlihat marah. Sambil mencengkeram setir mobilnya, orang itu menekan pedal gas nya dalam-dalam.
Brummmm
Mobil mini cooper berwarna kuning itu melaju dengan cepat. Seakan tak peduli dengan beberapa pengguna jalan yang menyalakan klakson kepadanya, orang itu terus melaju.
" Sialan, gue nggak bisa biarin. 1 tahun gue nunggu Andra. Gue rela-relain jadi CS di JDA cuma buat lihat dan dekat dengan Andra dan apa, dia nikah gitu aja sama cewek kampungan. Gue bakal buat perhitungan. Andra, kamu cuma akan jadi milikku sayang. Tidak akan ada orang lain yang bisa memilikimu selain aku."
Mobil itu melaju dengan begitu cepat dan masuk ke sebuah pekarangan rumah yang memiliki halaman lumayan luas. Ia langsung menepikan mobilnya dan masuk ke dalam rumah.
"Non, kok tumben sudah pulang."
" Berisik, aku mau jus alpukat tanpa gula. Bawa ke kamar ku segera. Seperti biasa. Taruh saja di depan pintu."
Seorang pelayan bergidik setiap kali berhadapan dengan nona nya. Wanita tersebut berjalan cepat lalu masuk ke kamarnya. Ia berjalan menuju salah satu dinding di sudut kamarnya. Senyuman terbit dari bibir wanita itu saat melihat sebuah foto ukuran besar yang ada di sana. Ia menyentuhnya pelan sambil menempelkan satu foto kecil lagi yang ia ambil dari dalam tasnya.
" Waaah mau dilihat dari sudut manapun kau memang tampan sayangku Andra. Aku yakin kau pasti hanya terpaksa menikahi wanita itu bukan? Tenang saja aku akan menyelamatkanmu dari wanita jahat itu. Tunggu aku sayang. Setelah aku menyingkirkan wanita itu kita akan hidup bahagia bersama selamanya."
" Non, Non Fetisa minumnya bibi taruh depan ya."
Fetisa berdecak kesal. Sang ART mengganggu kesenangannya. Fetisa pun berjalan menuju pintu lalu membukanya dan mengambil apa yang ia minta tadi. Ia lalu kembali masuk dan menutup pintunya rapat.
" Maaf sayang, obrolan kita terganggu. Mari kita lanjutkan lagi."
TBC